
Sudah satu Minggu Marie bekerja di perusahaan DeModel.corp, Ia cukup mampu dengan mudah mengikuti ritme kerja presdir yang perfeksionis dan membuatnya mulai disayang oleh Monica. "Marie, hari Senin besok kita berangkat ke Bangkok ya, kita akan ada meeting penting dengan perusahaan fashion untuk acara award disana, jadi segera pesankan tiket pesawat dan kamar hotel untuk kegiatan ini selama tiga hari dua malam" Monica memberitahu anak buahnya itu untuk bersiap-siap. "hari Senin besok Bu? baik, saya akan siapkan segera" Marie pun bergegas mengerjakan perintah yang diberikan oleh bosnya.
"ishhhh kenapa sih telponnya tidak diangkat?" gerutu Marie saat dirinya menghubungi Reuben kekasihnya untuk minta jemput sepulang kerja nanti. "ya sudah lah, aku pulang naik bus saja seperti biasanya!" gumam Marie dalam hati karena beberapa kali telponnya tidak diangkat.
Setibanya di rumah, Marie langsung menceritakan tentang rencana perjalanannya ke Bangkok bersama bosnya kepada seluruh anggota keluarga. "ngomong-ngomong, bagaimana rasanya kerja dengan kak Monica? apa dia membuatmu susah?" tanya James pada adik iparnya. "emm tidak, dia baik, aku suka dengan cara kerjanya" Marie berkata jujur. "bukankah kak Monica sangat perfeksionis?" James penasaran kenapa Marie tidak merasa kesulitan. "jangan heran kak, Marie itu anaknya tidak kalah perfeksionis, makanya mungkin cocok dengan atasannya itu!" celetuk Janie dan disambut anggukan oleh Katie. "eemmm, bisa jadi kami cocok!" ujar Marie dengan cuek sambil menyantap kudapan sorenya yang dibuat oleh ibu.
__ADS_1
Marie dan Monica tiba di Bangkok pada sore hari, mereka langsung masuk ke dalam kamar dan beristirahat sejenak sebelum makan malam dan melakukan persiapan untuk pertemuan pada esok harinya. "pak Mark?" Marie terkejut ketika Mark bergabung di meja restoran bersama dirinya dan Monica. "Hallo Marie!" sapa Mark dengan ramah.
"Dari mana saja kau? jangan bilang kau habis berkencan dengan para waria disini!" Monica menatap adik sematawayangnya dengan sorotan curiga. "memangnya kenapa kalau iya? toh mereka sangat cantik dan tetap terlihat seperti wanita tulen" seloroh Mark yang membuat Marie dan Monica merasa jijik. "heyyyy,, aku hanya bercanda, mana mungkin pisang makan pisang hahahaha" Mark tertawa puas saat melihat dua wanita di depannya menunjukkan ekspresi wajah yang aneh. "dasar pria aneh, wajah boleh tampan, mulus dan glowing, tapi otaknya ternyata bopengan berjerawat semua!" batin Marie dalam hati.
Setelah makan malam, mereka bertiga mempersiapkan segala sesuatu yang harus dilakukan besok pagi. "Marie, jangan sampai ada berkas yang tertinggal ya, aku percayakan semuanya padamu" Monica mengingatkan Marie. "baik Bu presdir" kata Marie. "kau juga, jangan sampai telat besok!" Monica menunjuk kearah adiknya dengan ketus. "pasti kakakku yang manis seperti gula biang" jawab Mark sambil menggoda kakaknya yang dibals dengan tatapan mata ingin membunuh oleh sang kakak.
__ADS_1
Keesokan harinya Marie dan kedua bosnya melakukan meeting dan negosiasi sepanjang hari bersama calon klien mereka. "akhirnya selesai juga meetingnya, sangat melelahkan!" gerutu Mark. "dasar pemalas, bagaimana kau bisa jadi pengusaha sukses, kalau meeting seperti ini saja sudah bilang lelah!" Monica memarahi adiknya. "eh Marie, bagaimana dengan tawaranku semalam? kan meetingnya sudah selesai, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan melihat kehidupan kota di malam hari?" Mark kembali mengajak Marie untuk jalan-jalan. "tapi pak, emmmm sayaaaa" Marie ragu dan melihat ke arah presdirnya. "jangan pulang terlalu malam, besok pagi kita kembali ke kantor" Monica memberikan ijin karena ia tau Marie sungkan padanya. "baik Bu, terima kasih" jawab Marie.
Setelah berpisah dengan Monica, akhirnya Mark mengajak Marie untuk menyusuri Pattaya street. "pak kita mau apa kesini?" tanya Marie bingung ketika diajak masuk kedalam sebuah club. "mau berdoa, ya tentu saja mau nongkrong lahhh, ayo!!!" Mark menggandeng tangan Marie yang masih canggung karena ini kali pertamanya masuk ke tempat hiburan malam. Meskipun Marie berprofesi sebagai model dan selalu berpenampilan modis diantara ketiga saudara kembar itu, namun dirinya tetaplah gadis daerah yang lugu, ia selalu mengikuti semua ajaran ayah dan ibunya untuk menjaga kehormatan keluarga dengan tidak ikut terbawa pergaulan apalagi terjun ke dunia malam.
"Reuben?" Marie melihat ada sosok pria tampan yang sedang berkencan dengan gadis-gadis seksi di sebrang mejanya. "siapa dia?" tanya Mark saat menyadari raut wajah Marie berubah menjadi sedih melihat pria itu bersama dengan banyak wanita disekelilingnya. "dia pacarku pak!" Marie menahan tangisnya, namun suaranya sudah sangat bergetar. "kalau begitu datangi dia dan beri dia pelajaran!" Mark mengompori Marie untuk melabrak pacarnya dan kemudian Marie mengikuti sarannya untuk menghampiri meja Reuben. "wow, tontonan keren!" ujar Mark dengan seringai liciknya yang selalu suka dengan adegan-adegan ekstrim.
__ADS_1
"Marie!?" Reuben yang didatangi oleh Marie terkejut dan langsung melepaskan pelukan gadis-gadis yang disampingnya. "kita putus!" Marie menyatakan putus lalu berjalan menjauh dari Reuben. "wait, Marie beri aku waktu untuk menjelaskan!" Reuben mengejar Marie untuk membela diri. "lepaskan aku, jauhkan tangan kotormu itu dariku!" Marie menghardik Reuben yang berusaha untuk menghentikan langkahnya. "Marie, biar aku jelaskan!" Reuben memasang wajah melasnya. "apalagi yang kau mau jelaskan?" kini Marie teriak histeris karena sudah tidak tahan untuk memendam emosinya. "kau tau Marie, aku sangat mencintaimu, tapi aku juga butuh menyalurkan hasrat ku yang tidak pernah kau berikan!" ujar Reuben. "kau itu tidak mencintaiku, kau hanya bernafsu untuk menodaiku saja, sudah cukup, aku sudah lelah!" Marie kemudian berpaling.
"jangan pergi!" Reuben memeluk Marie dari belakang, namun sepersekian detik kemudian BUKKK, Reuben tumbang, Mark yang sejak awal memperhatikan mereka bertengkar akhirnya turun tangan memukul Reuben tak berdaya dengan sekali pukulan saja karena merasa kasihan pada Marie. "jangan pernah ganggu Marieku lagi, sekali kau sentuhkan tangan kotormu itu di kulit Marieku maka kau akan berhadapan denganku!" ujar Mark dengan tatapan membunuh, kemudian Mark memapah Marie yang masih syok menjauh dari Reuben.