Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga

Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga
Bab 62


__ADS_3

"Sayang apa kau tidak bisa datang ke pesta ulang tahun Marisa? dia kan sahabatku" rengek Vicky sambil bergelayut di lengan Charlie saat mereka sedang makan siang berdua di sebuah mall dekat rumah sakit tempat Charlie bekerja.


"Aku tidak bisa kalau harus pergi sendiri, kau tau kan ayahku?" Charlie mengutarakan situasi yang dihadapinya di rumah.


"Kalau begitu ajak saja istrimu, sekalian aku mau kenalan dengannya" Vicky membujuk Charlie.


"Baiklah, akan aku coba nanti" Charlie terpaksa mengikuti kemauan wanita yang ia cintai.


"Terima kasih sayang" Vicky memeluk pinggang Charlie.


Seperti yang sudah disepakati oleh Janie dan Charlie, meskipun mereka menikah, namun mereka akan tetap menghargai privasi masing-masing. Charlie tetap menjalin hubungan dengan Vicky meskipun secara sembunyi-sembunyi dari kedua orang tuanya maupun publik. Sementara Janie lebih suka menikmati masa kuliah bersama teman-temannya.


..........


"Janie, apa aku bisa minta bantuanmu?" tanya Charlie kepada Janie.


"Tentu saja, katakanlah!" Janie tersenyum.


"Besok temanku Marisa berulang tahun, apa kau bisa menemaniku ke acara pestanya di hotel?" tanya Charlie.


"Oke" Janie menjawab dengan cepat, ia yang belum pernah menghadiri perayaan ulang tahun di hotel merasa sangat antusias.


"Terima kasih sudah mau membantuku, besok aku akan mengirimkan beberapa potong gaun untuk kau pilih" kata Charlie.


"Tidak usah sungkan" jawab Janie sambil membayangkan dirinya besok akan berada di tengah pesta bersama dengan Charlie.


..........


"Kau tidak keberatan kan kalau aku mengajak Vicky?" Charlie yang sedang menyetir memberitahukan Janie secara mendadak bahwa akan ada Vicky yang ikut hadir ke acara pesta ulang tahun temannya. Ia sengaja tidak memberi tau terlebih dahulu, karena takut Janie menolak pergi kalau ada Vicky.


"Tentu saja tidak apa-apa" Janie berbohong, padahal dalam hatinya ia sangat kecewa dengan Charlie. "Kenapa kau tidak bilang dari awal kalau akan ada Vicky?" gerutunya dalam hati.


"Vicky sangat ingin berkenalan denganmu, ia sangat berterima kasih karena kau memahami hubungan kami" Charlie menjelaskan kepada Janie, sementara Janie hanya bisa menunjukkan senyum palsunya.


"Aku memang mengijinkanmu berhubungan dengan Vicky, tapi bukan berarti aku ingin terlibat ditengah kalian seperti ini, bikin tidak nyaman saja!" gerutunya lagi dalam hati.


..........


Setibanya di apartemen milik Vicky, Charlie mengajak Janie menunggu di lobby parkiran.


"Perkenalkan ini Vicky" Charlie memperkenalkan Janie kepada kekasihnya.

__ADS_1


"Janie" mengulurkan tangan dan menunjukkan senyum hangatnya.


"Vicky" menyambut tangan Janie sambil membalas senyumannya.


"Ayo kita berangkat!" Charlie mengajak dua gadis yang bersamanya masuk ke dalam mobil.


"Aku dibelakang saja kak" Janie yang sudah tidak mood datang ke pesta langsung sadar memposisikan dirinya.


"Maaf ya, kau jadi repot" Vicky berbasa-basi.


"Tidak apa-apa" kata Janie.


Sepanjang perjalanan menuju hotel, Vicky mengajak ngobrol Janie, meskipun situasinya terlihat tidak nyaman, tapi cukup kondusif untuk posisi masing-masing. Janie berusaha sebaik mungkin kepada Vicky.


Mereka bertiga tiba di hotel sebelum acara di mulai, hal ini membuat Vicky bisa mengobrol dengan Marisa terlebih dahulu.


"Terima kasih ya kalian berdua sudah mau datang" kata Marisa.


"Selamat ulang tahun ya cantik" Vicky memberikan ucapan selamat sambil mencium pipi Marisa.


"Ini siapa?" tanya Marisa saat melihat Janie berdiri dibelakang Vicky dan Charlie.


"Selamat ulang tahun, perkenalkan aku Janie" Janie mengucapkan selamat sambil memperkenalkan diri.


"Hai Janie, terima kasih atas ucapannya, jangan sungkan untuk menikmatinya ya" Marisa menyapa Janie.


"iya, terima kasih" kata Janie canggung karena hadir seperti orang yang tak diundang.


Janie lebih memilih keluar ruangan pesta ketika MC memulai acaranya. "Lebih baik aku keluar saja cari angin" katanya dalam hati sambil berjalan menuju pintu keluar.


..........


"Janie, kau disini?" Jack yang sedang duduk di lapangan parkir berbinar melihat Janie.


"Jack!?" Janie tidak percaya karena melihat Jack "sedang apa kau disini?" Tanya Janie penasaran.


"Aku menunggu bosku, dia sedang menghadiri pesta ulang tahun temannya, hari ini supirnya tidak masuk kerja, jadi terpaksa aku menjadi supir darurat hehehe" kata Jack.


"Apa maksudnya Marisa?" tanya Janie.


"Iya betul, kau juga datang ke pestanya?" menunjuk gaun yang dikenakan Janie.

__ADS_1


"He em" Jawab Janie dengan mengangguk.


"Lalu kenapa kau keluar? bukankah acaranya baru dimulai?" Jack bingung.


"Aku tidak nyaman berada di dalam, tidak ada satu orangpun yang ku kenal, jadi lebih baik aku keluar mencari udara segar" kata Janie dengan wajah murung.


"Apa pria pemilik rumah tempat kau tinggal yang mengajakmu kesini?" tanya Jack menyelidik.


"Iya, dia bersama dengan pacarnya, jadi aku seperti obat nyamuk diantara mereka hehehe" tawa Janie terasa sangat getir.


"Kau baik-baik saja kan?" Jack mengacak-acak rambut Janie yang diurai.


"ahhhhh Jack, kenapa sih kau senang sekali mengacak-acak rambutku?" gerutu Janie yang membuat Jack semakin gemas padanya.


"Hahahahahhaha, kau itu menggemaskan sekali!" Jack kemudian melingkarkan tangannya ke bahu Janie.


"Uhhhhh menyebalkan!" Janie pura-pura kesal sambil memanyunkan bibirnya.


Sementara tidak jauh dibelakang mereka Charlie mendengar percakapan Janie yang merasa tidak nyaman dan memilih keluar dari pesta. Ia merasa bersalah karena tidak memikirkan perasaan gadis itu terlebih dahulu hanya demi menuruti keinginan kekasihnya.


"Janie, ayo kita pulang!" Charlie menegur Janie yang sedang asik ngobrol dengan Jack.


"Kak? bukankah pestanya baru saja dimulai?" Janie kaget karena Charlie tiba-tiba berada dibelakangnya dan mengajak pulang.


"Ayo" tanpa aba-aba Charlie meraih tangan Janie dan menariknya mendekat.


"Jack aku pulang duluan ya" Janie kemudian berdiri berpamitan pada Jack yang dijawab hanya dengan anggukan karena Jack melihat air muka Charlie yang tidak menyenangkan.


..........


"Mana Vicky? tidak ikut pulang bersama kita?" Janie bertanya kepada Charlie.


"Tidak" jawab Charlie singkat.


"Apa dia akan baik-baik saja pulang sendiri?" Janie merasa khawatir dengan kondisi Vicky.


"Aku sudah mengirimkannya pesan singkat kepada supir pribadinya untuk menjemput" Jawab Charlie.


"Ohhh syukurlah kalau begitu" Janie lega.


Sepanjang perjalanan pulang Janie hanya diam membisu sambil menatap ke luar jendela mobil. Charlie yang ada disampingnya sesekali melirik memastikan kondisinya. Ia merasa bersalah karena telah memanfaatkan kebaikan gadis yang kini sudah berstatus menjadi istrinya.

__ADS_1


__ADS_2