
Lewat tengah malam, Marie yang terus saja gelisah memutuskan untuk mengambil minum ke dapur. Saat ia hendak masuk kembali ke dalam kamar, ia menangkap sosok pria berdiri di balkon ruang baca lantai dua.
"kak Mark!?" Marie kemudian menyapanya. "kau belum tidur?" tanya Mark saat melihat Marie ada di depan pintu kamar. "aku habis ambil minum di dapur" Marie menunjukkan gelas berisi air kepada Mark.
"kakak sendiri kenapa belum tidur?" tanya Marie menyelidik. "entahlah aku sedang merasa tidak enak hati!" Mark menjawab dengan gusar.
"apa yang membuat kakak tidak enak hati? ceritakanlah kak, mungkin aku bisa membantu?" tanya Marie sambil berjalan menuju balkon.
Sesaat kemudian Mark menatap wajah Marie yang sudah berdiri disebelahnya dan bersandar pada pagar balkon. Ia menarik Marie kedalam pelukannya dan mengecup bibirnya dengan lembut. Marie yang terkejut, sempat terlena dan mematung beberapa saat sebelum akhirnya tersadar kembali dan kemudian berusaha merenggangkan pelukan Mark. Ini kali kedua Mark menciumnya setelah waktu itu di sungai.
"kak Mark, lepaskan!" Marie berbisik supaya tidak membangunkan seisi rumah dan berusaha menjauhkan tubuhnya, namun justru membuat Mark semakin kuat memeluknya.
"kak ada apa denganmu?" Marie masih terus berusaha melepaskan pelukan Mark. "i love you" Mark spontan mengucapkan isi hatinya begitu saja. Ungkapan yang sebenarnya sudah sejak tadi siang ingin dia utarakan kepada Marie setibanya di Alexbad.
"kak becandamu tidak lucu!" Marie masih berusaha melepaskan pelukannya. "i'm not kidding!" Mark menatap Marie dengan serius, membuat Marie tidak bisa bernafas saking tegangnya.
__ADS_1
"sudah malam kak, lebih baik kita tidur!" Marie kemudian mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau terjebak dengan perasaan berbunga-bunga yang saat ini di rasakannya hanya karena pernyataan Mark. Ia terus mencoba memakai akal sehatnya dan berfikir bahwa Mark adalah pria bebas yang selalu mengeluarkan jurus rayuan mautnya kepada setiap wanita hanya untuk memuaskan nafsunya.
"Will you marry me?" Mark yang paham akan ketakutan Marie karena label playboy yang melekat di dirinya, akhirnya memberanikan diri untuk meminta Marie menikahinya sebagai tanda keseriusannya untuk berubah menjadi pria yang lebih baik dan setia.
"sudah malam, ayo kita tidur!" Marie yang sudah terlepas dari pelukan Mark kini berjalan menjauhi balkon menuju pintu kamarnya.
Mark yang ditinggalkan begitu saja merasa terpukul, karena dari sekian banyak wanita yang pernah dikencaninya, belum ada satupun yang menolaknya. Terlebih kali ini gadis yang menolaknya adalah gadis yang sangat dia cintai, gadis yang tidak mudah memberikan dirinya untuk pria manapun sebelum hatinya mantap, gadis yang dia anggap unik dan berkarakter.
Sementara Marie yang sudah berada di dalam kamar langsung menenggak habis air yang baru saja dibawanya karena mendadak merasakan kering di tenggorokan. "sadar Marie, kau tidak boleh termakan rayuan gombalnya!" Marie kemudian memperingatkan dirinya sendiri untuk tetap bersikap logis. Terlebih lagi baru beberapa bulan lalu ia di khianati oleh kekasihnya Reuben.
"Marie!" Janie yang melihat saudaranya tergelincir dari sebuah batu besar reflek berteriak kencang. Semua orang yang mendengarnya pun langsung berlari ke arah Marie.
"apa kau baik-baik saja?" Mark terlihat panik saat melihat darah mengucur deras dari lutut Marie. "aku tidak apa-apa, hanya sedikit sakit" Marie tertawa sambil meringis menahan sakit. Tanpa menunggu lama Mark langsung membalut lutut Marie yang berdarah dengan sapu tangannya.
"Biar aku gendong ya?" Mark menyodorkan diri untuk menggendong Marie saat perjalanan pulang. "Aku bisa jalan kak, tenang saja!" Marie berusaha berjalan sambil menahan rasa nyeri di kakinya.
__ADS_1
Setibanya di rumah, Marie langsung beristirahat di dalam kamar. Mark yang merasa khawatir terus saja menemani Marie. "Kak, aku tidak apa-apa, kau bisa melakukan kegiatan lain kalau mau!" kata Marie kepada Mark. "Tapi aku ingin menemanimu!" jawab Mark sambil mengelus pipi Marie dengan lembut dan membuat Marie merinding.
Sementara yang lain lebih memilih untuk berkumpul di halaman belakang rumah dan memberikan ruang bagi Mark yang terlihat sangat cemas saat melihat Marie terluka tadi.
"sepertinya sebentar lagi akan ada yang pacaran nih" seloroh Katie dan di jawab dengan anggukan oleh Janie.
"Aku yakin sebenarnya mereka itu saling mencintai, tapi mereka sama-sama belum yakin" kata James.
"Marie itu sengaja mengabaikan perasaan yang dia miliki karena status playboy yang melekat pada diri Mark" Monica menyadari bahwa tabiat adiknya lah penyebab Marie menutup diri.
"iya benar, apalagi sebelumnya Reuben pernah mengkhianatinya, pasti itu juga meninggalkan trauma yang dalam" ujar Janie.
"Semoga saja pelan-pelan Marie mau membuka hatinya" Katie mengungkapkan harapannya.
"Harus dimulai dari Mark yang berubah, selama Marie melihat Mark sebagai sosok playboy, maka ia tidak akan pernah membuka dirinya!" lagi-lagi Monica menyalahkan adiknya.
__ADS_1