
Mark mulai mengerjakan semua yang biasa di kerjakan oleh kakaknya di kantor dengan bantuan dari sekretaris pribadi Monica. "Ah gila, kenapa kakakku bisa tahan dengan semua tekanan pekerjaan ini?" Mark menggerutu pada dirinya sendiri.
Sepulang dari kantor pada akhir pekan, Mark yang stress kemudian memutuskan untuk mampir ke tempat hiburan yang biasa dia datangi bersama teman-teman wanitanya.
"Mark, apa kabar?" sapa seorang gadis muda berwajah cantik dan seksi dengan rambut pirang di gerai. "Hai Jennifer" sapa Mark balik. Kemudian mereka mulai mengobrol dan Mark yang sudah lama tidak menyalurkan hasratnya kemudian mengajak Jennifer ke sebuah hotel untuk memadu kasih sepanjang malam hingga pagi.
"Sayang, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke mall?" Jennifer mengajak Mark pergi untuk belanja. Ia tau betul bahwa Mark tidak akan bisa menolak jika ada gadis yang memintanya membelikan sesuatu, apalagi bila gadis itu habis ditidurinya.
"Kak Mark?" suara Marie membuat Mark terkejut saat ia sedang duduk di sebuah butik menunggu Jennifer yang mencoba beberapa potong gaun. "Marie, sedang apa kau disini?" tanya Mark. "aku sedang melihat-lihat contoh gaun untuk menjadi inspirasi tugas merancang" kata Marie sumringah.
"Sayang, bagaimana dengan yang ini?" Jennifer yang keluar dari bilik ganti bertanya kepada Mark.
"Ohhhhhhh kakak sedang pacaran ya?" tanya Marie spontan dengan wajah kaget saat seorang gadis menyebut Mark dengan sayang.
"Sayang kau sedang bicara dengan siapa?" Jennifer menatap Marie dengat tatapan tidak suka sambil bergelayut manja di tangan Mark.
"Perkenalkan, ini Marie, asisten pribadi kakakku. Marie, ini Jennifer" Mark memperkenalkan Marie kepada Jennifer.
"Marie", "Jennifer", mereka saling memperkenalkan diri satu sama lain dengan canggung.
"Baiklah, kalau begitu aku akan berkeliling kembali" Marie melambaikan tangan dan berjalan menjauh dari Mark dan Jennifer.
"Kau ini kenapa Marie? dia itu pria bebas yang berhak melakukan apapun yang dia mau, kenapa kau jadi bersedih begitu?" Marie bertanya pada dirinya sendiri ketika sudah berada jauh dari Mark dan wanita yang dikencaninya.
__ADS_1
Sementara Mark yang masih bersama Jennifer merasa gelisah setelah Marie pergi. Entah perasaan apa yang menghinggapinya sampai ia tidak fokus lagi untuk berkencan dengan Jennifer. "apa sudah selesai? aku mau pulang untuk beristirahat" tanya Mark kepada Jennifer ketika mereka sudah berlalu dari kasir.
"Kau ini kenapa? sejak kita berjumpa dengan asisten kakakmu tadi, kau jadi berubah mood" tanya Jennifer. "tidak, aku baik-baik saja" jawab Mark. "apa kau menyukai gadis itu?" tanya Jennifer menyelidik.
Setibanya di rumah, Mark langsung mencari Marie "kau lihat di mana Marie?" tanya Mark kepada Stella saat membukakan pintu ruang tamu untuknya.
"Tadi pagi sebelum berangkat ke mall, Nona Marie bilang hari ini ia akan menginap di rumah orang tuanya sampai hari senin sore nanti" Stella menjelaskan kepada Mark.
Tanpa banyak komentar Mark langsung berjalan menuju mobilnya dan melajukannya dengan sangat kencang menuju Alexbad sambil terus berusaha menelpon Marie.
"Kenapa kau tidak angkat telpon dariku?" gerutu Mark karena Marie tidak juga menjawab telponnya.
Sementara Marie yang sudah tiba di rumah orang tuanya di alexbad, memang sengaja tidak mengangkat telponnya karena sedang tidak enak hati, ia tidak mau suasana hatinya semakin buruk ketika mendengar suara Mark.
"Kenapa telponnya tidak diangkat nak?" tanya ibu kepada Marie saat melihat putrinya hanya diam saja melihat ponselnya berdering selama hampir satu jam.
"Bukan telpon penting Bu" Kata Marie sambil menatap ibunya yang berlalu keluar dari ruang makan menuju halaman depan untuk mengantarkan kopi kepada Ayah.
"Apa itu dari pacarmu? kalian sedang bertengkar ya?" seloroh Janie menggoda kembarannya.
"Jadi kau sudah punya pacar? kenapa tidak cerita padaku?" Katie menimpali obrolan dua saudara kembarnya.
"Ishhh apa sih kalian, ini bukan pacarku, ini hanya orang iseng saja, lagi pula aku sedang ingin fokus kuliah dan bekerja, jadi tidak akan memikirkan pacaran dalam waktu dekat" Marie mengelak dengan tuduhan saudaranya.
__ADS_1
"Coba kulihat!" Janie merebut ponsel Marie dan memberikannya kepada Katie untuk mengecek siapa yang dari tadi menelponnya terus-menerus.
"Hei kembalikan!" Marie berusaha merebut kembali ponselnya namun gagal karena kalah cepat dengan tangan Katie.
"Woahhhhhh ini dari kak Mark!?" Katie terkejut karena ternyata yang dari tadi diabaikan oleh Marie adalah sahabat suaminya.
"Apa kau sedang bertengkar dengan Kak Mark?" tanya Janie menyelidik sambil menatap curiga pada saudaranya.
"Ahhhh sudahlah, sini berikan ponselnya padaku, kalian ini kepo sekali!" gerutu Marie sambil meraih kembali ponselnya dari tangan Katie.
"Ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Mark? lalu apa pendapatmu tentang dia?" James ikut berbicara dan menimpali saat melihat tingkah konyol sang istri dan kedua adik iparnya berebut ponsel di ruang makan.
"Pendapat? pendapat tentang apa?" Marie salah tingkah ketika mendengam nama Mark di sebut oleh kakak iparnya.
"Apa kau tidak punya perasaan terhadap dirinya? dia itu kan tampan dan kaya" James menyelidiki Marie dengan seksama seperti sedang menyelidiki musuhnya saat dipengadilan.
"Emmmm biasa saja, tidak ada yang spesial. Lagi pula Kak Mark itu pria bebas yang tidak suka terikat dengan wanita manapun" Marie berusaha menjawab sesantai mungkin untuk menutupi perasaan groginya.
"Tapi diakan tampan dan kaya!?" Katie mengulangi ucapan suaminya.
"Tampan dan kaya saja tidak cukup untuk bisa meluluhkan hatiku, bagiku kesetiaan dan komitmen adalah diatas segalanya" Marie mulai menjelaskan kriteria pria idamannya.
"uhhhh kakakku ini ternyata sangat cerdas dalam menentukan kriteria pria idamannya" Janie berkata sambil mencubit pipi saudara kembarnya dengan gemas dan membuat semuanya tertawa.
__ADS_1