Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga

Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga
Bab 40


__ADS_3

Sudah hampir satu hari satu malam Monica tidak sadarkan diri, Mark yang mencemaskan keadaan kakaknya hanya bisa menunggu dengan sabar di depan ruang ICU. "Kak Makanlah, sudah dari semalam kakak belum makan apapun" Marie menyodorkan sepotong roti kepada Mark. "Nanti saja, aku belum lapar" jawab Mark. "tapi kakak harus tetap makan, kalau tidak nanti bisa ikut sakit" Marie memaksa Mark untuk menerima roti yang disodorkannya dan membuat Mark terpaksa menerimanya.


"kalian berdua pulang lah, bukankan Kak James harus bekerja dan kau harus kuliah? biar aku yang menemani kak Mark menjaga kak Monica sampai sadar" Marie menghampiri Katie dan James yang setia menemani Mark sejak awal kejadian.


"apa kau yakin tidak apa-apa?" tanya Katie. "iya, aku akan berkabar jika ada perubahan" kata Marie lagi. "baiklah, nanti sepulang kuliah aku akan kesini lagi" Katie kemudian memeluk kembarannya dan dibalas dengan anggukan. "kabari kami ya kalau ada sesuatu" James menatap adik iparnya. "iya kak, pasti" Jawab Marie.

__ADS_1


Kini hanya tinggal Marie dan Mark yang ada di ruang tunggu ICU. "kak, tidurlah sejenak, biar aku yang jaga, nanti kita gantian" kata Marie sambil mengelus punggung Mark dengan lembut namun Mark tetap tidak bergeming. "kak??" Marie mengulangi lagi dan kali ini tiba-tiba Mark memeluknya dengan erat dan berbisik "aku takut" yang hanya bisa dibalas dengan usapan lembut untuk menenangkan.


"sini kak, rebahkan kepalamu di sini" Marie yang tidak tega melihat kondisi Mark memberanikan diri menyodorkan pahanya untuk bantalan kepala Mark. Mark yang sudah merebahkan kepalanya kemudian menggenggam tangan kiri Marie dengan erat dan menaruhnya di dadanya. Sementara tangan kanan Marie mengelus rambut Mark dengan lembut, memberikan ketenangan bagi Mark dan mampu membuatnya terlelap. "kasihan sekali" Marie menatap bosnya dengan wajah yang memelas.


Seminggu berlalu, Monica masih belum sadarkan diri, Mark yang masih setia menemani kakaknya terlihat kusut dan tidak ada gairah hidup lagi. Marie yang setiap hari menemaninya pun dengan sabar membujuknya untuk mau makan dan tidur. Sementara Katie dan James hanya bisa menemani berjaga di malam hari karena siang harinya mereka harus bekerja dan kuliah.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi kakakku?" Tanya Mark saat melihat Charlie keluar dari ruangan. "dia sudah siuman, hanya saja belum seratus persen sadar" Charlie menjelaskan. "Apa aku boleh masuk?" Mark bertanya dengan wajah berkaca-kaca. "Tentu saja" jawab Charlie sambil tersenyum.


"Kak!" Mark memanggil Monica dengan lirih menahan tangisnya. "Kenapa wajahmu sangat jelek?" Monica menatap adiknya yang sangat kusut. "kau ini, baru juga sadar sudah menghina orang!" gerutu Mark memasang wajah kesal yang dibuat-buat, membuat Monica tertawa kecil.


"Mark, mana Marie?" Monica menatap adiknya dengan wajah yang masih pucat. "Ada di luar kak" Mark menggenggam tangan kakaknya. "boleh aku bertemu dengannya?" Monica meminta bertemu dengan Marie. "sebentar, biar aku panggilkan" Mark kemudian keluar kamar dan memanggil Marie untuk menjenguk Monica.

__ADS_1


Beberapa waktu Monica mengajak Marie berbincang, Marie yang melihat perkembangan bosnya merasa sangat bersyukur karena sudah bisa melalui masa kritis dan tinggal menunggu pemulihan sampai seratus persen bisa kembali ke rumah. Sementara Mark di luar bersama kedua sahabatnya membahas hasil investigasi yang dilakukan pihak berwajib tentang kasus yang menimpa kakaknya tersebut.


__ADS_2