
Dua hari setelah kepulangan tuan muda August ke rumah, suasana rumah yang beberapa tahun belakangan selalu sepi berubah seratus delapan puluh derajat menjadi hidup kembali seperti sebelum kepergiannya ke luar negeri. August yang periang dan ramah, selalu membuat para pelayan senang melayaninya. Beberapa diantaranya bahkan diajak bermain catur atau bola di lapangan belakang. Ia menuruni sifat periang dan ramah dari sang ibu dan tidak pernah memandang status orang lain dari pekerjaan mereka.
"Didikan nyonya itu sangat bagus!" kata seorang pelayan senior saat melihat tuan mudanya dan beberapa orang pelayan sedang berkejar-kejaran di lapangan memperebutkan sebuah bola untuk digiring ke gawang lawan.
"Doaku semoga kelak tuan muda mendapatkan seorang istri yang memiliki sifat seperti nyonya besar!" kata Fredy penuh harap.
"Tuan Fredy, ini camilan yang Anda minta untuk tuan muda" Rossie menyodorkan sepiring besar camilan sore yang baru saja matang untuk disajikan kepada tuan mudanya.
"Terima kasih Rossie, taruhlah di meja sana!" Fredy menunjuk sebuah meja di tengah teras belakang, dekat dengan lapangan.
"Sama-sama tuan!" jawab Rossie.
"Tuan muda, istirahatlah sebentar, pelayan sudah membawakan makanan untuk Anda" Fredy memberitahu majikannya dengan suara yang agak keras karena jarak antara mereka cukup jauh.
"Terima kasih Fred!" jawab August sambil berlari menghampiri Fredy serta melambaikan tangannya kepada para pelayan yang sedang bermain dengannya sebagai kode untuk beristirahat dan makan camilan bersama.
"Ini tuan" Fredy menyodorkan segelas air putih untuk menghilangkan dahaga sebelum August menyantap camilannya.
"Ini enak, aku suka sekali, siapa yang membuatnya?" August baru pertama kali mencoba.
"Pelayan Rossie yang membuatnya tuan muda" jawab Fredy memberitahu.
__ADS_1
"Sepertinya Aku akan menjadikan ini sebagai salah satu menu camilan favorit!" katanya jujur.
"Saya senang jika Anda menyukainya" Fredy menyunggingkan senyum puas karena sudah bisa membuat tuan mudanya senang.
"Kalian makanlah, ayo cicipi!" August memerintahkan semua pelayan yang berada di dekatnya tanpa ada rasa risih dengan status mereka sebagai pelayan rendah.
"Terima kasih tuan, Anda baik sekali" kata salah satu pelayan yang menerima sodoran piring dari tangan August.
"Jangan sungkan, ini hanya camilan, kalau kalian suka, nanti aku akan minta tolong Rossie membuatkannya lagi!" kata August dengan santai.
"Anda mengenal pelayan Rossie?" Fredy kaget karena setau dirinya August tidak tau siapa itu Rossie.
"Benar tuan, Anda memang sangat perhatian pada semua orang, bahkan terhadap kami para pelayan!" Fredy semakin senang karena tuannya benar-benar memperlakukan para pelayan dengan sikap yang baik.
Fredy dan Keluarganya adalah salah satu keluarga pelayan yang sudah mengabdi kepada keluarga Peteroy secara turun temurun. Kesetiaan keluarga Fredy sudah tidak diragukan lagi. Fredy sebagai keturunan ke empat, sudah disumpah oleh ayah serta kakeknya untuk setia kepada keluarga Peteroy, terutama kepada tuan muda August yang kelak akan menjadi tanggung jawabnya sampai ia sudah tidak mampu lagi bekerja.
..........
Sore harinya, selepas menyelesaikan tugas membuat kudapan sore, Rossie ijin keluar rumah untuk membeli beberapa keperluan yang akan dikirimkan kepada neneknya di kampung halamannya di Alexbad.
Ia berjalan menyusuri lorong pertokoan mencari beberapa obat yang dipesan oleh pamannya untuk nenek. Setelah selesai, ia pun langsung menuju ke pusat jasa pengiriman barang untuk mengirimkan barangnya tersebut ke Alexbad.
__ADS_1
"Rossie? kau sedang apa di sini?" tanya August yang kebetulan juga sedang berada di sekitar pertokoan.
"Tuan muda? saya habis mengantarkan barang untuk nenek di kampung" jawab Rossie dengan sopan. "Tuan muda sedang apa di sini?" ia memberanikan diri untuk bertanya kepada majikannya itu meskipun gugup dan salah tingkah karena tidak pernah menyangka akan ketemu dengannya di sini.
"Aku sedang jalan-jalan santai, sudah lama sekali rasanya tidak pernah ke sini, sejak aku kuliah dulu!" August menjawab santai sambil mengingat kapan terakhir kalinya dia ke tempat ini.
Meskipun August adalah anak dari seorang pengusaha yang kaya raya dan berkedudukan tinggi di negeri ini, namun ia tidak pernah sungkan pergi ke tempat-tempat yang dianggap kelas bawah atau bahkan kumuh. Baginya di manapun ia berada, asalkan bersama dengan orang-orang baik, maka ia akan tetap merasa nyaman.
"Oh ya, apa kau sudah selesai?" tanya August lagi.
"Sudah tuan, saya sudah mengirimkannya" kata Rossie sambil menunjuk ke tempat jasa pengiriman barang tersebut.
"Lalu kau mau kemana lagi?" tanya August antusias.
"Saya akan kembali ke rumah Anda untuk melanjutkan pekerjaan saya tuan muda" jawab Rossie tanpa berani menatap tuannya.
"Emmmm bagaimana kalau kau temani aku jalan-jalan dan makan malam dulu? anggap saja ini bagian dari pekerjaanmu melayaniku!?" August mengajak gadis dihadapannya dengan alasan yang masuk akal supaya gadis itu tidak bisa menolak.
"Jika Anda membutuhkan pelayanan saya, maka saya dengan senang hati melayani anda" Rossie mengembangkan senyum sebagai simbol baktinya.
"Oke, ayo kita jalan!!" August menggandeng tangan Rossie, membuat gadis itu semakin salah tingkah dan kikuk.
__ADS_1