Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga

Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga
Bab 69


__ADS_3

"Kami menunggumu di The Lunar Cafe ya!" Marie mengirim pesan kepada Janie.


"Kak Charlie juga disini bersama kami!" Katie menambahkan.


Janie yang sudah membereskan semua peralatan band langsung pamit undur diri dari semua anggota band dan juga crew.


"Kau tidak mau aku antar pulang?" tanya Jack.


"Tidak usah, aku sudah ditunggu oleh keluargaku di cafe depan!" Janie melambaikan tangannya.


"Kalau begitu hati-hati di jalan ya!" Jack membalas lambaian tangan Janie.


"Iya, terima kasih" Janie kemudian berjalan menjauh kearah The Lunar Cafe.


.........


"Kalian sudah lama menunggu ya?" Janie yang baru datang langsung duduk di kursi kosong di sebelah Charlie.


"Selamat ya Janie, kamu keren banget!" kata James.


"Terima kasih kak!" Janie merasa tersanjung.


"Seharusnya kau tadi lihat bagaimana ekspresi suamimu saat kau berada diatas panggung!" kata Mark mencibir Charlie.


"Cih, bisa-bisanya kau membicarakan aku di depan mataku!" Charlie merasa kesal.


"Memangnya kenapa kak?" Janie penasaran dan menatap Mark dengan antusias.


"Dia sama sekali tidak berkedip melihatmu bernyanyi, seperti remaja yang sedang kasmaran!" Mark menyunggingkan senyum jahilnya.

__ADS_1


"Kau percaya pada bajingan tengik ini?" Charlie memandang Janie dan menyanggah perkataan Mark.


"Sudah-sudah, kenapa kalian jadi ribut sih? kita kan mau merayakan keberhasilan Janie tampil!" Marie melerai keributan antara suaminya dan kakak iparnya itu.


"Ayo kita bersulang!" Katie mengangkat gelas diikuti oleh James dan yang lainnya.


"Bersulang!" mereka memulai pesta kecil untuk merayakan penampilan Janie.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kalau setelah makan kita menonton film di bioskop?" Katie memberi usul.


"Ide yang bagus, sepertinya akan sangat seru kalau kita melakukan triple midnight date!" Marie menyetujui ide Katie.


Setelah menghabiskan makanan, mereka bergegas menuju ke bioskop yang berada di lantai paling atas mall.


Charlie tiba-tiba menggenggam tangan Janie ketika mereka sedang berjalan menuju eskalator.


"Ada apa Janie?" Katie yang berjalan di depan bersama suaminya spontan menengok ke belakang.


"Ah tidak, aku hanya terkejut saja karena sedang melamun!" Janie salah tingkah, semetara Charlie yang melihat kelakuan istrinya hanya bisa tersenyum dan semakin mempererat menggenggam tangannya.


"Jangan besar kepala Janie, dia hanya menganggapmu sebagai adik saja, dia sudah punya kekasihnya yang jauh lebih dalam segala hal dibandingkan dirimu!" Janie mengingatkan dirinya sendiri.


..........


"Kak, terima kasih ya karena sudah datang malam ini" Janie mengucapkan terima kasihnya ketika mereka sudah tiba di rumah dan sama-sama sudah duduk diatas tempat tidur hendak beristirahat.


"Aku baru tau kalau kau ternyata sangat hebat dalam bermusik!" Charlie memuji.


"Kakak kan baru kenal denganku beberapa bulan belakangan ini, wajar saja kalau baru tau!" Janie memaklumi.

__ADS_1


"Benar juga ya, ternyata banyak hal yang belum aku tau darimu!" Charlie baru sadar bahwa selama ini dirinya tidak tau apa-apa tentang Janie.


"Tentu saja kakak tidak tau apa-apa, kakak kan selalu sibuk!" Janie berseloroh dengan santai.


"Kalau begitu ceritakanlah bagaimana dirimu yang sesungguhnya padaku!" kata Charlie kepada Janie.


"Emmmm bagaimana memulainya ya? sepertinya akan sangat sulit kak, karena aku ini banyak maunya Hahahahaha!" Janie bingung dan menggaruk-garuk kepalanya.


"Memang sudah terlihat sih kau ini banyak maunya!" Charlie kemudian menimpali ucapan Janie dengan wajah menggoda.


"Kakkkkkkk,, kau menghinaku ya?" Janie cemberut.


"Siapa yang menghina? kan kau sendiri yang mengatakannya barusan!" Charlie tersenyum jahil.


"Huh menyebalkan!" Janie memanyunkan bibirnya.


"Sudah jangan cemberut nanti wajah jelekmu jadi tambah terlihat lebih jelek lagi!" Charlie memasang wajah paling jahil.


"Issssshhhh,,, menyebalkan sekali!" Janie kemudian merosot dari duduknya dan membalikkan badan memunggungi Charlie.


"Selamat malam adik manis!" kata Charlie.


BRUK... CUP... Charlie kemudian memeluk Janie dari belakang dan mencium pipinya dengan lembut.


"Kakkkkkkk!?" Janie kaget dengan pelukan dan ciuman yang terjadi secara tiba-tiba.


"Tidurlah, sudah malam!" bisik Charlie ditelinga Janie yang membuatnya merasa merinding karena sensasi yang entah apa namanya.


"Apa-apaan ini? apa maksudnya? apakah dia mencoba memberikan harapan palsu padaku?" Janie bergumam dalam hati karena merasa bingung dengan sikap Charlie yang semakin membuatnya berada diatas angin. Namun demikian ia tidak memberontak, ia membiarkan Charlie terus memeluknya sepanjang malam hingga mereka berdua terlelap.

__ADS_1


__ADS_2