
Seperti janji Mark sebelumnya, pada akhir pekan ini ia akan meluangkan seluruh waktunya hanya untuk menemani Marie berkunjung ke rumah orang tuanya.
"kak Monica tidak ikut?" tanya Marie pada calon kakak iparnya itu.
"tidak, aku sudah ada janji dengan temanku untuk menghadiri pesta ulang tahun anaknya" jawab Monica.
"kalau begitu kami berangkat dulu ya kak" kata Marie sambil memeluk Monica.
"hati-hati di jalan ya, salam untuk seluruh keluargamu" kata Monica membalas pelukan Marie.
"iya kak, nanti aku sampaikan" Marie menganggukan kepala lalu berjalan ke arah pintu mobil.
Marie dan Mark yang sudah mengendarai mobilnya keluar dari halaman rumah kemudian menjemput James dan Katie yang tinggal tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Sebelumnya Mark dan James memang sudah janjian untuk berangkat bersama hanya dengan menggunakan satu mobil saja agar bisa lebih seru diperjalanan.
"Jadi kalian berdua sudah resmi berpacaran?" tanya James saat mereka melewati perbatasan ibukota.
"Tentu saja" Mark menjawab pertanyaan sahabatnya dengan penuh rasa bangga.
"Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" Katie bertanya dengan antusias.
"aku sih maunya secepat mungkin, tapi tergantung Marie saja" Mark kemudian menatap ke arah Marie melalui kaca spion.
"Saranku, lebih baik kalian tentukan tanggalnya, jika memang sudah yakin jangan ditunda lagi" James menasehati sahabatnya dan adik iparnya itu.
"iya Marie, jangan terlalu lama berfikir, segeralah mengambil keputusan" Katie menyetujui perkataan suaminya.
...........
__ADS_1
Setibanya di Alexbad, mereka langsung disambut oleh Ayah dan Ibu yang sudah berdiri di halaman rumah.
"bagaimana kabar kalian semua?" ibu memeluk anak-anaknya yang baru datang secara bergantian.
"Aku baik-baik saja Bu" jawab Katie.
"aku juga baik" Marie menimpali jawaban saudara kembarnya itu.
"Ayo masuk ke dalam" kemudian ibu mengajak mereka masuk ke ruang makan untuk menghidangkan kue kesukaan anak-anaknya itu.
Sementara ayah mengajak, James dan Mark duduk di ruang keluarga sambil mengobrol. Ayah tampak bahagia, karena sekarang ia tidak lagi menjadi satu-satunya laki-laki di dalam keluarga, setidaknya sekarang ada James yang bisa diajak ngobrol oleh ayah ketika ibu dan ketiga anaknya sedang bergosip.
"Bagaimana dengan pekerjaan kalian?" tanya ayah pada James dan Mark membuka obrolan.
"aku sedang sibuk dengan urusan perijinan relokasi warga ke rumah susun yah" kata James.
"iya betul yah. ngomong-ngomong aku permisi ke toilet dulu sebentar ya" jawab James sambil berjalan meninggalkan Ayah dan Mark.
Ia sengaja tidak memperpanjang topik tentang pekerjaannya supaya Mark memiliki waktu untuk mengutarakan isi hatinya kepada Ayah mertuanya. Karena beberapa hari sebelumnya Mark sempat bercerita kepada James dan Charlie untuk ingin segera melamar Marie.
"lalu bagaimana dengan kondisi DeModel.corp?" kini ayah bertanya kepada Mark.
"Kami sedang ada kontrak dengan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti yah, mereka menawarkan untuk membangun sebuah kawasan tempat tinggal sekaligus fasilitas hiburan di dalamnya yang berada di pinggiran kota dan belum banyak dihuni masyarakat. Ini juga sebagai terobosan program pemerataan penduduk bagi masyarakat. Jadi mereka yang berada di daerah pinggiran tidak perlu lagi untuk ke ibukota mencari peruntungan, mereka bisa mengembangkan kotanya masing-masing dengan tetap berada di dalamnya." jelas Mark panjang lebar.
"Wow, konsep yang luar biasa" ayah berdecak kagum dengan cerita yang disampaikan oleh Mark.
"oya, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada anda perihal hubungan saya dengan Marie" kata Mark membuka pembicaraan tentang niatnya menikahi Marie.
__ADS_1
"apa itu?" Ayah yang mendengar pernyataan Mark sangat penasaran, karena selama ini ayah dan ibu memang tidak tau kalau Mark menyukai Marie. Mereka hanya beranggapan bahwa Mark adalah bos anaknya sekaligus sahabat menantunya.
"saya ingin melamar Marie menjadi istri saya" Mark berbicara dengan yakin.
"apakah kau sudah berbicara langsung dengan Marie?" tanya ayah kembali.
"sudah, Marie sudah menerima saya, hanya saja belum yakin untuk segera menikah" jawab Mark.
"baiklah, nanti aku akan bicarakan lagi hal ini dengan istriku" kata ayah sambil menatap Mark yang menunjukkan keseriusannya.
"terima kasih ayah, bagiku restu dari Ayah dan Ibu adalah segalanya" Mark terlihat senang saat ayah memberikan lampu hijau bagi hubungannya dengan Marie.
"ini diminum" ibu yang keluar dari ruang makan menyuguhkan minum dan cemilan hangat.
"bu, duduklah" ayah meminta ibu duduk di sebelahnya.
"ada apa yah?" tanya ibu bingung saat melihat raut wajah ayah yang serius.
"baru saja Mark bilang kalau ingin melamar Marie dan segera menikah, bagaimana pendapat ibu?" tanya ayah kembali.
"benarkah? ibu sangat senang mendengarnya, lalu kapan kalian menikah?" tanya ibu dengan senang karena melihat anaknya dilamar seorang pria.
"Marie masih belum siap untuk menikah dalam waktu dekat Bu" jawab Mark.
"Anak itu seperti masih trauma dengan Reuben" ibu memahami putrinya. "biar nanti ibu yang bantu bicara" kata ibu menambahkan.
"terima kasih Bu" kata Mark dengan bahagia karena sudah mendapatkan dukungan penuh dari kedua calon mertuanya.
__ADS_1