Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga

Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga
Bab 61


__ADS_3

Seperti hari-hari sebelumnya, rutinitas Charlie dipagi hari adalah mengantarkan Janie ke halte bus terdekat dari rumah sebelum berangkat kerja ke rumah sakit.


"kak aku turun di depan situ saja" menunjuk sebuah sudut di pertigaan jalan.


"tidak sampai halte?" tanya Charlie bingung.


"tidak usah, aku sudah janjian dengan temanku" jawab Janie sambil membuka sabuk pengamannya. "terima kasih kak" kemudian menutup pintu mobil dan berjalan kearah sudut yang tadi ditunjuknya.


Tidak berapa lama, ada sebuah motor berhenti tepat di depan Janie, menyapanya dan menyodorkan helm kepada gadis itu. Sementara Charlie yang awalnya hendak menjalankan mobil kemudian memilih untuk mengamati mereka sampai akhirnya pergi menghilang dari pandangan.


..........


"Siapa tadi yang mengantarmu?" Jack membuka obrolan mereka.


"Itu kak Charlie, putra pemilik rumah yang aku tinggali" jawab Janie.


"Sepertinya kalian sangat dekat ya?" Jack menyelidik lebih dalam.


"Kami sudah seperti kakak adik, ayahku menitipkan aku padanya dan orang tuanya" Janie enggan untuk menceritakan pernikahannya.


"ohhh" Jack kemudian kembali fokus mengendarai motornya.


Sepanjang perjalanan menuju kampus mereka mengobrol tentang kehidupan sehari-hari. Janie menceritakan semua kesibukannya di kampus dan juga di rumah barunya, kecuali tentang kehidupan pernikahannya dengan Charlie.


"Jadi kalau nanti kau sudah lulus, kau akan tinggal di ibukota atau kembali ke Alexbad?" tanya Jack.


"Entahlah, aku belum berfikir sejauh itu, saat ini aku hanya ingin fokus kuliah dan meraih cita-citaku" jawab Janie bingung.


"Lalu apa kau sudah punya pacar?" Jack bertanya dengan hati-hati.

__ADS_1


"eh, emmm belum" Janie salah tingkah, ia takut jika salah menjawab maka urusannya akan rumit.


"Berarti aku masih punya kesempatan ya?" seloroh Jack sambil bercanda.


"Hemmm, sayangnya aku tidak suka brondong seperti kau, aku lebih suka sugar daddy" Janie menimpali dengan candaan juga.


Setibanya di kampus "nanti sepulang kuliah aku jemput ya? aku mau mengajakmu ke suatu tempat" Jack berkata sambil mengambil helm dari tangan Janie.


"Baiklah, sampai nanti ya" Janie kemudian berjalan menjauh ke arah gedung fakultas kedokteran.


....


"Bagaimana kuliahmu hari ini?" Jack bertanya sambil menyalakan motornya yang sudah tua.


"menyenangkan, kami akan mengadakan observasi kelompok di rumah sakit" jawab Janie riang.


"wahhh pasti rasanya senang ya, seperti sudah menjadi dokter sesungguhnya" kata Jack sambil mengemudikan motornya.


"loh kenapa?" Jack penasaran.


"kami kan masih semester-semester awal, jadi belum diperbolehkan menangani pasien, kami hanya akan belajar dari para dokter yang sudah ahli dan berpengalaman" kata Janie menjelaskan.


"Andaikan ayahku memiliki banyak uang, pasti aku sudah mengambil jurusan kedokteran" Jack meratapi nasibnya.


"Jack, jangan bicara seperti itu, kau itu anak yang cerdas, tidak perlu jadi dokter untuk menjadi orang sukses, aku yakin setelah kau lulus kuliah pasti bisa bekerja di perusahaan besar dan menjadi orang yang bisa membanggakan orang tuamu!" Janie menghibur Jack.


"terima kasih Janie, kau membuatku semangat" inilah yang Jack suka dari Janie, meskipun Jack hanya anak seorang petani miskin, namun Janie tidak pernah pilih-pilih, ia mau tetap berteman dengan Jack yang secara finansial berada di bawahnya.


"sama-sama Jack! Oya, kita mau kemana ini?" Janie penasaran.

__ADS_1


"Sebentar lagi kau akan tau, lihat saja ke arah sebelah kanan, setelah bukit ini, kau akan lihat sesuatu yang keren" Jack menjelaskan.


"Woahhhhhh Jackkkk" tidak lama setelah Jack berbicara, Janie berteriak senang saat melihat pantai yang tepat berada di sisi kanannya.


"apa kau suka?" Jack menghentikan motornya dan menepi di bibir pantai.


"suka sekali, aku jarang pergi ke pantai" Janie kemudian berjalan mendekati air yang maju mundur di atas pasir akibat tertiup oleh angin laut.


"ayo Jack kesini!" Janie yang senang melihat pantai dan laut, berlarian mengikuti gerakan ombak seperti anak kecil yang mendapat hadiah mainan kesukaannya.


Mereka bermain di pantai sampai matahari terbenam. Janie merasa sangat bahagia, bahkan sampai tidak sadar bahwa waktu sudah hampir menunjukkan jam makan malam.


"kau dimana?" Charlie yang tidak melihat Janie di kamar saat pulang kerja kemudian menelpon Janie.


"Aku masih di jalan bersama temanku kak" Janie menjawab pertanyaan Charlie.


"Ayah dan Ibu menunggumu untuk makan malam" Charlie melanjutkan.


"Astaga, aku sampai lupa waktu!!! kak maaf, boleh titip pesankah sama ayah dan ibu? tolong katakan aku akan pulang malam, jadi makan saja duluan, tidak usah menungguku" Janie merasa tidak enak hari karena keasikan bermain.


"Baiklah, nanti aku sampaikan" jawab Charlie.


"Terima kasih kak" jawab Janie kemudian menutup telponnya.


"Jack ayo kita pulang, aku sudah di tunggu" Janie mengajak Jack pulang.


"Apa ayah dan ibumu ke sini?" Jack penasaran.


"tidak" jawab Janie singkat.

__ADS_1


"tapi kenapa tadi kau bilang ayah ibu makan duluan?" Jack bertanya kembali.


"Ohhhh itu, maksudnya ayah dan ibunya kak Charlie, karena mereka adalah sahabat ayah dan ibuku, maka aku pun memanggil mereka dengan sebutan ayah dan ibu" Janie berbohong.


__ADS_2