
Vicky yang merasa kesulitan menghubungi Charlie selama hampir satu minggu belakangan, akhirnya memutuskan untuk datang ke rumah sakit tempat kekasihnya itu bekerja.
"Sayang ada apa denganmu? kenapa telponku tidak pernah diangkat?" Vicky menatap kesal kepada Charlie.
"Vicky maafkan aku, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan lagi hubungan ini, aku sudah memutuskan untuk mempertahankan pernikahanku seperti yang diharapkan oleh kedua orang tuaku!" kata Charlie tanpa basa-basi.
"Tapi kenapa? apa gadis itu telah merebut hatimu? wanita pengganggu itu?" Vicky yang tidak terima langsung berteriak untuk meluapkan emosinya.
"Dengarkan aku, kau adalah wanita yang cantik, karirmu pun cemerlang, aku yakin diluar sana banyak pria yang mengejarmu, jadi aku mohon kita akhiri hubungan ini!" Charlie menenangkan Vicky.
"Tidak mau, sampai kapan pun kau tetap milikku, tidak ada satu orang pun yang bisa menghalangi cintaku!" Vicky semakin menjadi-jadi.
"Vicky aku mohon lepaskan aku, aku tidak bisa terus menunggumu dan hidup dalam kepura-puraan sampai kau siap!" Charlie mengingatkan Vicky bahwa semua ini juga terjadi karena kesalahannya yang menolak menikah dengannya karena alasan mengejar karir.
"Apa kau mau menyalahkan ku!?" Vicky tidak terima.
"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat lagi, saat ini yang aku mau kita hidup bahagia dengan tujuan dan cita-cita kita masing-masing!" Charlie sudah sampai pada keputusan finalnya.
"Kau jahat! aku tidak akan pernah melepaskanmu! kalau aku tidak bisa memilikimu, maka wanita manapun tidak akan pernah bisa memilikimu juga!" Vicky yang kesal langsung keluar ruang kerja Charlie dan membanting pintunya dengan keras.
..........
__ADS_1
"Sayang kau dimana?" tanya Charlie saat istrinya mengangkat telpon disebrang sana.
"Aku di mall bersama dengan Marie dan Katie, kami sedang janjian makan siang bertiga" Jawab Janie. "Ada apa?" tanya Janie kemudian.
"Tidak, aku hanya merindukanmu saja!" jawab Charlie berbohong.
Sesungguhnya dia agak sedikit khawatir mengingat kata-kata terakhir Vicky sebelum pergi tadi pagi dari ruang kerjanya. Vicky adalah gadis nekat yang akan melakukan segala cara demi bisa mencapai semua keinginannya. Bisa saja dia menyakiti Janie jika ia merasa Janie menjadi ancaman baginya.
"Ohhh, aku kira kau membutuhkan sesuatu" kata Janie.
"Jaga dirimu baik-baik ya, kalau ada apa-apa segera hubungi aku oke!?" Charlie benar-benar memberikan penekanan pada kata-katanya.
"Kalau begitu, selamat bersenang-senang, salam dariku untuk Katie dan Marie ya!" Charlie merasa sedikit lebih tenang karena sang istri bersama orang-orang yang dapat melindunginya bila terjadi sesuatu, meskipun belum yakin seratus persen.
"Oke, akan aku sampaikan!" Janie mengangguk meskipun tidak terlihat oleh Charlie.
"I love you" Charlie mengakhiri percakapannya.
"I love you too" jawab Janie sebelum menutup telponnya.
"Apa kak Charlie begitu merindukanmu?" goda Katie.
__ADS_1
"Sepertinya dia juga mencemaskanmu!" kata Marie lagi.
"Ishhhh kalian sok tau sekali!" Janie menyanggah.
"Sok tau dari mana? kami kan mendengarnya!" kata Marie.
"Iya, suara ponselmu sangat keras dan bocor!" Katie menimpali.
"Benarkah suaranya bocor?" Janie terkejut dan malu karena pembicaraannya didengar oleh kedua saudara kembarnya. "Untung saja hubungan kami sudah layaknya suami istri beneran!" batin Janie.
"Kenapa wajahmu jadi merah padam?" Marie menunjuk pipi Janie.
"Ishhhh apa sihhhh!!!" Janie malu.
"Ahhhh jangan pura-pura tidak tau!" Katie mengerlingkan mata.
"Sudah jangan reseh!" Janie benar-benar tersipu karena dua saudara kembarnya terus menggodanya.
"Hahahahahahaha..." akhirnya mereka berdua pun mentertawakan Janie.
Kebahagiaan terpancar dari ketiga wanita muda yang sudah beranjak dewasa dan menapaki rumah tangga mereka masing-masing ini. Meskipun saat ini mereka jauh dari orang tua yang tinggal Alexbad, namun dengan keberadaan satu sama lain yang saling berdekatan membuat mereka memiliki kekuatan tersendiri untuk bisa terus bertahan di lingkungan keluarga barunya masing-masing.
__ADS_1