
Hari, Minggu, Bulan pun berganti, kini August lebih intens mendekati Rossie meskipun ia belum yakin akan perasaannya. Namun setiap kali berada di dekat Rossie hatinya sangat nyaman, entah magnet apa yang menariknya hingga ingin terus berada di dekat pelayan di keluarganya itu.
"Rossie!" August memanggil gadis yang sedang berkutat di depan kompor, membuat sang pemilik nama terlonjak kaget.
"Tuan muda sedang apa di dapur? apakah anda membutuhkan sesuatu?" tanya Rossie setelah rasa kagetnya hilang.
"Kau masak apa?" tanya August penasaran sambil melirik ke arah wajan yang ada di depan gadis itu.
"Oh ini, saya sedang membuat kudapan sore" Rossie membalik gorengan yang sudah setengah matang di dalam minyak panas.
"Apa ada yang sudah matang? aku mau mencicipinya" August mengedarkan pandangannya ke sekitar kompor.
"Sebentar lagi matang tuan, Anda tunggu di depan saja, nanti biar saya antarkan" kata Rossie dengan sopan.
"Aku tunggu di sini saja, sambil ngobrol denganmu" August bersandar di kulkas di samping pintu dapur sambil menatap Rossie dengan lekat.
"Tuan kenapa Anda melihat saya seperti itu? apakah ada yang aneh dengan saya?" Rossie merasa kikuk saat memergoki August menatapnya tanpa kedip.
"Kau sangat membuatku penasaran" August menunjukkan senyum yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Ehemmm" tiba-tiba seorang pelayan senior datang.
"Kalau begitu aku menunggu yang sudah matang di taman belakang ya Rossie, segera antarkan kalau sudah selesai memasak!" August bergegas pergi dari dapur karena merasa sungkan dengan pelayan senior yang menatap tajam padanya.
"Baik tuan muda" Rossie menganggukan kepalanya.
"Jaga sikapmu Rossie, dia adalah bos, kau tidak boleh bermimpi terlalu tinggi!" pelayan senior mengingatkan Rossie untuk menjaga jarak dengan August.
"Iya kak, maafkan aku" Rossie merasa tidak enak hati.
"Berikan padaku yang sudah matang, biar aku yang antarkan kepada tuan muda!" perintah pelayan senior lagi.
"Dad, aku belum siap!" August protes atas rencana perjodohan yang akan dilakukan ayahnya saat mereka sedang makan malam bersama.
"Apalagi yang kau tunggu? Kuliahmu sudah selesai, kau juga sudah mulai bekerja di kantorku, kini saatnya kau mulai memikirkan kehidupan pribadimu!" tuan besar Peteroy berbicara dengan tegas dan menatap tajam pada putra sulungnya.
"Mom, katakan pada dad kalau aku tidak menyukai Babara!" August meminta dukungan dari sang ibu.
Kedua orang tua August memang memiliki perbedaan prinsip dalam hal perjodohan anak mereka. Ayahnya yang seorang pengusaha kaya, selalu berambisi menikahkan anaknya dengan anak dari rekan bisnisnya yang kelak bisa menopang bisnis mereka di masa yang akan datang. Sementara ibunya selalu membebaskan August untuk memilih sendiri gadis yang dicintai oleh putranya tersebut.
__ADS_1
"Akapah kau sudah memiliki calon?" tanya sang ibu dengan lembut kepada August.
"Tentu saja, aku sudah punya kekasih!" August berbohong, namun demikian saat menjawab pertanyaan dari sang ibu terbersit wajah Rossie di pikirannya, gadis yang sudah mulai mencuri hatinya.
"Siapa dia? kenapa kau tidak memperkenalkannya kepada kami?" tanya sang ibu lagi.
"Emmmm, nanti akan aku kenalkan kalau sudah waktunya" jawab August.
"Bawa dia, aku ingin mengenalnya, apakah dia memang pantas bersanding denganmu?" tatap ayahnya dengan tajam.
"Dad, apakah tolak ukur pantas dan tidak pantas itu selalu tentang materi?" August paham betul karakter sang ayah.
"Tentu saja, kau itu putraku, penerus garis keturunan Peteroy, kau harus mendapatkan gadis yang sederajat denganmu!" Ayah menekankan ucapannya.
"Bagaimana kalau gadis yang aku cintai adalah gadis sederhana?" August menunggu reaksi ayahnya.
"Jangan harap aku akan merestuinya!" ketus ayah.
"Tapi aku mencintainya!" August kini terlihat lebih berani.
__ADS_1
"Kalau begitu bersiaplah untuk keluar dari rumah ini dan kehilangan hakmu sebagai ahli waris Peteroy!" kata Ayah yang kemudian berlalu meninggalkan istri dan anaknya yang masih duduk di meja makan.