
"Bu presdir, apa anda baik-baik saja?" Marie yang melihat bosnya murung sejak pagi hari, memberanikan diri untuk bertanya. "sebenarnya aku sedang tidak baik" jawab Monica dengan wajah sendu. "kalau boleh tau, apa penyebab ibu murung seharian ini?" Marie menatap dengan penuh selidik. "tanggal berapa sekarang?" tanya Monica. "dua puluh April Bu" jawab Marie.
"sepuluh tahun lalu, tepat ditanggal ini aku mengalami sebuah kecelakaan dan janin yang aku kandung meninggal dunia, dokter pun menyarankan rahimku diangkat karena mengalami masalah akibat kecelakaan yang terjadi, sejak saat itu suamiku meninggalkanku karena aku tidak akan pernah memberinya keturunan lagi" cerita Monica kepada Marie.
__ADS_1
"Bu presdir, jangan bersedih, percayalah pasti Tuhan mempunyai rencana indah untuk ibu" Marie yang berempati langsung memeluk Monica dan membelai punggungnya untuk memberi penguatan. "terima kasih Marie untuk dukunganmu" Monica merasa terharu melihat ketulusan Marie terhadap dirinya. Selama ini Monica yang terlihat kaku dan perfeksionis di kantor selalu disegani oleh semua anak buahnya. Baru Marie seorang yang berani dan tidak sungkan untuk memeluknya seperti layaknya seorang teman.
"Bu, bagaimana kalau sore ini ibu saya ajak ke suatu tempat? kalau saya sedang bersedih, biasanya saya akan datang kesana dan semua akan baik kembali!" Marie mencoba menghibur Monica. "dimana itu?" tanya Monica. "didekat rumah saya Bu" jawab Marie enteng. "maksudnya di Alexbad?" Monica terbelalak. "iya, apa kejauahan ya Bu?" Marie merasa tidak enak hati dengan usulnya. "tidak, bukan itu, hanya saja sejak kejadian kecelakaan itu aku jadi agak sedikit trauma kalau harus melakukan perjalanan panjang tengah malam" Monica menjelaskan supaya Marie tidak salah paham. "kalau begitu ibu menginap di rumah saya saja, ibu bisa pakai kamar saya, tapi mohon maaf kalau sempit Bu hehehehe" seloroh Marie apa adanya. "apa boleh aku menginap di rumahmu?" Monica seketika bersemangat ketika ditawari menginap di rumah Marie. "tentu saja boleh" Jawab Marie sumringah. "oke, ayo berangkat" Monica langsung mengajak Marie pergi.
__ADS_1
"Apa kau mau jika aku perpanjang kontraknya?" tanya Monica. "tapi saya kan masih kuliah Bu" Marie mengingatkan bosnya bahwa dia masih memiliki tanggung jawab di kampus. "bagaimana jika kau bekerja padaku setelah waktu kuliah selesai di sore hari? jadi kau akan menjadi asisten pribadiku saat berada di rumah" Monica memberikan penawaran. "tapi kalau saya harus bekerja malam hari, saya tidak akan bisa pulang ke Alexbad, karena bus yang ke arah Alexbad hanya akan ada sampai jam enam sore saja" Marie menjelaskan jadwal bus yang biasa di tumpanginya. "kalau begitu tinggallah di rumahku" Monica memberikan penawaran lagi agar Marie mau menerimanya. "bolehkah aku tanyakan dulu kepada orang tuaku Bu?" Marie tidak berani menjawab sebelum mendapat persetujuan dari orangtuanya. "oke, kalau begitu nanti malam sekalian saja kita bahas bersama orang tuamu" Monica bersemangat.
Bagi Monica, kehilangan Marie sama saja seperti dirinya harus kehilangan sosok teman baik yang baru ditemuinya. Posisinya sebagai seorang presdir membuatnya dijauhi oleh orang banyak karena sungkan. Itulah sebabnya ia sangat menyayangi Marie yang apa adanya dan tidak menjaga jarak meskipun secara posisi Monica adalah atasannya. Bahkan Monica sudah menganggap Marie seperti adiknya sendiri.
__ADS_1