
"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Jeremy saat melihat August yang tidak bersemangat ketika mereka kembali berkumpul di cafe langganan mereka setelah sekian tahun August absen karena harus kuliah di luar negeri.
"Ayahku akan menjodohkanku dengan Barbara" jawab August dengan lesu.
"Hey, bukankah itu hal yang baik? dari kita berempat hanya tinggal kau yang belum menikah karena terlalu sibuk mengejar study ke luar negeri selama bertahun-tahun!" seloroh Marco.
"Aku mau menikah, tapi dengan gadis pilihanku sendiri, tidak dijodohkan seperti ini!" kata August dengan kesal karena Marco seolah membela ayahnya.
"Apa kau sudah memiliki calon?" selidik Cedric.
"Sebenarnya aku sudah menyukai seorang gadis, tapi aku belum menyatakan perasaanku padanya!" jawab August ragu.
"Kenapa?" tanya Cedric dan Jeremy berbarengan.
"Aku takut dia menolak ku!" kata August menerawang.
"Kau kan belum mencoba, lagi pula mana ada gadis di dunia ini yang menolak dilamar oleh seorang August Peteroy?" seloroh Marco sambil terkekeh.
"Dia ini unik, dia tidak pernah merespon perhatianku secara berlebihan seperti kebanyakan wanita!" August mengingat kembali ketika dirinya berusaha menggoda dan mencoba memuji-muji Rossie di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang, gadis itu hanya tersenyum mengucapkan terima kasih dengan wajah datar yang membuat August makin penasaran.
__ADS_1
"Kenalkan dia pada kami, biar kami coba membantumu untuk menilai perasaannya terhadapmu!" kata Cedric dan didukung dengan anggukan oleh Jeremy dan Marco.
"Lalu apa ayahmu tau tentang gadis ini dan juga perasaanmu padanya?" tanya Jeremy yang penasaran dengan reaksi ayah August.
"Dia tau aku menyukai seorang gadis, namun dia tidak tau siapa gadis yang aku maksud!" jawab August.
"Kalau begitu, bawa dia kepada ayahmu setelah kau menyatakan perasaanmu padanya!" Cedric menasehati.
"Aku ragu ayahku akan menerimanya!" August menarik nafas dengan sangat berat.
"Kenapa?" mereka bertiga kompak.
"Hey, jangan berkecil hati, kau belum mencobanya sobat!" Jeremy memberi dukungan dengan menepuk bahu sahabatnya itu.
"Kalau kau butuh bantuan kami akan siap membantumu!" kata Marco dengan sungguh-sungguh dan didukung anggukan oleh kedua sahabat yang lain.
"Terima kasih, kalian memang sahabatku yang paling baik!" August terharu dengan solidaritas yang ditunjukkan oleh teman-temannya kepada dirinya.
"Jangan sungkan, kami pasti akan membantu jika memang kami bisa membantumu!" Cedric mendorong bahu sahabatnya dengan bahunya sendiri sambil menyodorkan segelas minuman ringan.
__ADS_1
..........
"Rossie, apa kau sudah tidur?" August mengirimkan pesan singkat kepada Rossie pada pukul delapan malam.
"Belum tuan muda, saya sedang mempersiapkan bahan di dapur untuk memasak besok" jawab Rossie.
"Apa bisa kita bertemu setelah nanti kau selesai bekerja?" August bertanya.
"Ada sesuatukah yang tuan perlukan?" tanya Rossie bingung karena tuannya tiba-tiba minta bertemu.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu!" jawab August.
"Tentang apa tuan?" Rossie merasa curiga karena August menghubunginya melalui pesan singkat. Meskipun dalam hatinya senang karena bisa dekat dengan August, namun ia tetap sadar bahwa dengan posisinya yang hanya seorang pelayan ia tidak boleh melewati batas dan memiliki kedekatan personal dengan majikannya.
"Aku tidak bisa mengutarakannya melalui pesan singkat, bisakah kita bertemu?" August sedikit memaksa.
"Bagaimana kalau besok saja tuan? kebetulan setelah memasak kudapan pagi, saya mendapatkan jadwal bebas tugas!" kata Rossie menjelaskan.
"Wah kebetulan, baiklah kalau begitu, besok aku akan mengabarimu lagi ya untuk menentukan waktu dan tempatnya!" August membalas dengan senyum terkembang di wajahnya mengingat besok dia akan memiliki banyak waktu luang bersama gadis yang mulai mencuri hatinya itu.
__ADS_1
"Baik tuan" Rossie menjawab singkat.