Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga

Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga
Bab 83


__ADS_3

"Tuan ada apa ingin bertemu dengan saya di sini?" Rossie bertanya saat mereka bertemu di restoran yang pernah mereka datangi sebelumnya.


"Rossie, aku ingin berbicara serius denganmu!" August menatap mata Rossie dengan lekat.


"Tuan kenapa?" Rossie terlihat bingung.


"Maukah kau menikah denganku?" August berbicara dengan gugup.


"Tuan becandaan Anda tidak lucu!" Rossie menanggapi August dengan tidak percaya.


"Aku serius, aku mencintaimu, maukah kau menikah denganku?" August meraih tangan Rossie yang ada di atas meja.


"Tapi tuan, itu tidak mungkin!" Rossie berusaha berfikir dengan akal sehat. Dilihat dari sudut pandangan manapun rasanya tetap saja mustahil.


"Dengarkan aku, mungkin ini terdengar seperti lelucon, tapi percayalah, sejak pertama aku mengenalmu aku sangat mengagumimu, semakin hari aku dekat denganmu, semakin bertambah rasa cintaku, aku tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau harus jauh darimu!" August mempererat genggaman tangannya.


"Tapi tuan..." Rossie ragu, meskipun sebenarnya Rossie memiliki perasaan yang sama namun ia sadar bahwa dirinya tidak pantas untuk August.


"Aku tau yang kau takutkan, tapi percayalah, apapun akan ku lakukan untuk memperjuangkan cintaku padamu!" August berkata sungguh-sungguh.


"Tuan aku..." Rossie kehilangan kata-kata.


"Ayahku sedang menjodohkanku dengan gadis pilihannya, tapi aku tidak mau menikah dengan wanita manapun selain denganmu, kalau kau menerima cintaku, aku akan memperjuangkan sekuat tenaga ku!" August menatap lekat wajah gadis yang dicintainya.


"Maukah kau menjadi pendamping ku sampai masa tuaku dan menjadi ibu dari anak-anakku?" buruknya lagi.


Rossie benar-benar tidak bisa berkata-kata, ia hanya bisa mengangguk walaupun masih ada sedikit ragu dihatinya.

__ADS_1


"Terima kasih!" August mencium tangan Rossie.


"Aku tau ini tidak akan mudah, akan sulit untuk menaklukan hati ayahku, tapi percayalah padaku, hanya dengarkan aku dan jangan pernah meragukan aku apalagi sampai pergi dari hidupku!" August meyakinkan cintanya.


Setelah mampu meyakinkan Rossie bahwa dirinya akan berjuang, August meminta Rossie untuk bersiap dengan segala kemungkinan terburuk termasuk kemungkinan bahwa mereka akan terusir dari rumah keluarga Peteroy.


..........


"Apa maksudmu?" Tuan besar Peteroy menggebrak meja kerjanya saat August membawa Rossie kehadapannya.


"Kami saling mencintai ayah!" August meyakinkan sang ayah.


"Aku tidak akan pernah merestui hubungan ini, lagi pula kau sudah kujodohkan dengan gadis yang lebih pantas!" Tuan besar Peteroy menatap Rossie dengan dingin.


"Aku tidak akan pernah mau!" August melawan.


"Aku tidak ingin hartamu ayah, aku hanya ingin restu darimu!" August memohon sambil berlutut.


"Kau membuktikan siapa dirimu, kau memang bukan darah dagingku, sekeras apapun aku membentukmu tetap saja kau tidak akan bisa menjadi Peteroy sejati!" Tuan besar menumpahkan semua kekesalannya.


"Ayah!!!!" Nyonya besar yang sedari tadi hanya diam langsung berteriak ketika suaminya sudah berbicara melewati batas.


"Kau masih mau membelanya? apa kau lupa kalau dia bukan anakmu?" Tuan besar berteriak dengan geramnya.


"Cukup! cukup!! selama ini aku diam karena aku menghargaimu sebagai seorang suami yang bisa merangkul meskipun kadang aku tidak sepaham denganmu! tapi tidak kali ini, kau sudah di luar batasmu tuan besar! aku sudah muak!" Nyonya besar histeris.


"Kau!!!!" Tuan besar sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi, ia kemudian berjalan keluar ruang kerjanya.

__ADS_1


"Ibu!?" August terkejut dengan sikap yang ditunjukkan ibunya.


"Pergilah nak, aku merestui kalian, jangan hiraukan ayahmu, hiduplah dengan bahagia!" Nyonya besar menyatukan genggaman tangan August dan Rossie.


"Nyonya!" Rossie sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.


"Aku titip putraku padamu, bahagiakan lah dia, jangan pernah membuatnya sedih, hiduplah dalam bahagia!" Ibu membelai rambut Rossie dan mengecup keningnya.


"Terima kasih ibu" August memeluk sang ibu dengan erat.


"Simpanlah ini baik-baik, ini adalah tanda restuku untuk kalian berdua!" Ibu melepas tiga buah gelang keroncong yang terbuat dari emas putih dari tangannya.


"Terima kasih nyonya, aku berjanji akan membahagiakan tuan muda" Rossie bersujud mengucapkan janjinya.


"Pergilah sekarang!" Ibu meneteskan air mata.


"Ayo!" August mengajak Rossie pergi.


"Tapi!?" Rossie menatap ibu yang menangis seorang diri.


"Ayo!!!" August menarik Rossie keluar.


Setibanya di dapur, August memeluk Rossie yang masih terguncang hingga tenang.


"Bereskan semua barangmu, kita pergi sekarang juga!" August memberikan instruksi.


"Kita mau kemana?" tanya Rossie.

__ADS_1


"Kau akan tau setelah ini!" August menyunggingkan senyumnya untuk menutupi rasa sedihnya.


__ADS_2