Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga

Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga
Bab 74


__ADS_3

Janie sadar dan membuka matanya pada hari yang ketiga belas. "Sayang, kau sudah sadar" Charlie terlihat bahagia menatap mata istrinya yang kembali terbuka.


"Kak, apa yang terjadi? aku dimana?" Janie terlihat bingung dan tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Kau tunggu sebentar ya, aku akan panggilkan dokter jaga!" kata Charlie sambil menggenggam tangan Janie yang tidak diinfus.


Meskipun Charlie adalah dokter handal, namun untuk memastikan keadaan istrinya ia tetap menyiapkan tim medis terbaik yang ada di rumah sakit milik keluarganya.


"Kondisinya sudah sangat baik, mudah-mudahan bisa secepatnya kembali pulih!" kata dokter jaga yang menangani Janie.


"Terima kasih dok!" kata Charlie.


"Sama-sama dokter Charlie!" kata dokter itu kemudian pamit.


"Nak, bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya ibu yang juga selalu setia menunggu Janie di rumah sakit.


"Aku baik-baik saja Bu!" Janie tersenyum untuk membuktikan bahwa dirinya tidak apa-apa.


Sementara kedua saudara kembarnya dan Ayah berdiri di belakang ibu sambil tersenyum bahagia melihat perkembangan Janie.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Janie penasaran dengan kondisi yang sebenarnya.


"Kau tertabrak mobil saat menyebrang jalan sayang!" Charlie menceritakan garis besarnya tanpa memberitahu bahwa kecelakaan itu adalah percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Vicky.


"Oh iya ingat, aku tadi sedang menyebrang jalan dan tiba-tiba saja ada mobil yang melaju sangat cepat" Janie mengingat. "Berapa jam aku pingsan?" tanya Janie dengan polos.


"Kau pingsan sudah hampir dua Minggu!" Katie menyeletuk.

__ADS_1


"Benarkah?" Janie tidak percaya.


"Apa kau tidak lihat wajah ibu, ayah dan suamimu sangat lesu? mereka tidak pernah tidur dan makan dengan benar selama kau tidak sadarkan diri!" Marie menimpali.


"Sayang, jangan terlalu banyak pikiran, sekarang fokus saja pada proses pemulihanmu, aku akan menjagamu di sini!" Charlie membelai lembut rambut istrinya dan disambut oleh Janie yang mengangguk kepada suaminya tanda setuju.


"Ibu, ayah, pulanglah dan istirahat, ada kak Charlie disini, aku tidak apa-apa!" Janie tidak tega menatap wajah paruh baya ibu dan ayahnya yang sangat lelah.


"Iya nak, sebentar lagi kami akan pulang!" ibu tersenyum lembut.


..........


"Permisi!" seorang perawat memasuki ruang rawat Janie untuk mengganti botol infus yang hampir habis. "Dimana dokter Charlie? tumben sekali tidak ada?" tanya perawat itu kepada Janie.


"Dia sedang mandi!" kata Janie menunjuk ke arah pintu toilet.


"Ada hal penting yang perlu disampaikan kah?" Janie bertanya kepada perawat.


"Tidakkkk, saya hanya heran saja, baru kali ini saya melihat anda ditinggal sendiri. Karena selama anda pingsan dokter Charlie tidak pernah meninggalkan Anda sama sekali!" kata perawat memberi bocoran.


"Benarkah?" Janie tidak percaya.


"Sepertinya dokter Charlie sangat mencintai anda, dia bahkan terlihat sangat kacau di hari-hari pertama Anda mengalami kritis!" si perawat berbisik seperti sedang bergosip membuat Janie tersipu malu.


"Baiklah, saya pamit dulu!" perawat yang sudah menyelesaikan tugasnya sambil bergosip pun keluar ruangan saat melihat Charlie sudah selesai mandi.


"Terima kasih suster!" Janie tersenyum kepada sang perawat.

__ADS_1


"Apa kau butuh sesuatu?" Charlie yang tidak tau bahwa dirinya baru saja jadi bahan gosip oleh istrinya dan perawat berjalan keluar toilet dengan santai.


"Terima kasih sayang!" Janie mengulurkan tangannya saat Charlie berjalan mendekat.


"Untuk apa?" Charlie menyambut tangan istrinya.


"Karena sudah setia mendampingi ku selama sakit!" Janie bahagia.


"Ngomong-ngomong kau memanggilku apa barusan?" Charlie menggoda istrinya.


"Apa? aku lupa!" Janie yang biasanya memanggil Charlie dengan sebutan kakak masih belum mau mengakuinya karena malu.


"Sepertinya benturan keras di kepalamu cukup keras sampai lupa dalam waktu pendek ya?" goda Charlie lagi. "Kalau begitu aku akan memanggil dokter spesialis kejiwaan untuk memulihkan ingatanmu ya!?" Charlie tersenyum licik.


"Ahhhhhhhh tidak, jangan!!!" Janie malu.


"Kalau begitu ulangi lagi!" Charlie memaksa.


"Tidak mau!" Janie tetap malu.


"Ya sudah aku panggilkan!" Charlie berpura-pura membuka ponselnya.


"Baiklah,,, baiklahhhhh! Sayanggg" Akhirnya Janie menyerah.


"Nahhhh gitu donggg baru namanya istriku!" Charlie menguyel-uyel istrinya dengan gemas.


Mereka berdua pun larut dalam kebahagiaan. Janie yang sudah mulai pulih bahkan sama sekali tidak merasa bahwa dirinya masih sakit. Cinta diantara mereka seolah dengan cepat menyembuhkan luka-luka yang tersisa di tubuh Janie.

__ADS_1


__ADS_2