Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga

Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga
Bab 64


__ADS_3

Hampir pukul dua belas malam, semua orang bersiap-siap dan mengendap-endap masuk ke dalam rumah Peteroy membawa semua keperluan yang akan dipakai untuk mengejutkan ibu. Mereka semua berbicara dengan berbisik agar ibu tidak terbangun dari tidurnya. Ayah sengaja tidak mengunci pintu masuk saat beranjak tidur tanpa sepengatahuan ibu supaya mereka bisa masuk tanpa membuat keributan saat membuka pintu.


Janie kebagian membawa kado yang besar sehingga cukup kerepotan. "Biar aku saja" Charlie mengambil kado dari tangan Janie dengan sigap.


"Terima kasih" kata Janie yang disambut senyum oleh Charlie.


"Taruh di situ saja" Marie memberikan instruksi kepada Mark suaminya untuk menaruh makanan dan minuman ringan yang sudah dibelinya tadi sore dan segera menyusunnya di meja.


"Ini ditaruh di mana?" tanya James kepada Katie yang masih sibuk menempel hiasan dinding bertuliskan selamat ulang tahun.


"Di situ saja!" tunjuk Katie kepada James.


Semua sibuk dengan tugasnya, sementara ayah memastikan ibu tidak terbangun karena aktivitas yang dilakukan oleh semua anak dan menantunya di ruang keluarga. Skenarionya adalah ayah akan tetap berada di dalam kamar menemani ibu sampai persiapan selesai dan kemudian memancing ibu turun ke ruang keluarga.


Sejak kemarin malam ibu sudah terlihat murung. Ini adalah kali pertamanya merayakan ulang tahun tanpa adanya anak-anak disampingnya. Seperti yang sudah direncanakan oleh triplet sebelumnya bahwa mereka akan berpura-pura tidak bisa datang ke Alexbad karena kesibukan masing-masing. "Mungkin memang begini rasanya kalau anak-anak sudah menikah semua dan memiliki kehidupan masing-masing" batin ibu sedih.


Setelah ayah mendapat kode bahwa semua sudah siap, ayah pun mulai melancarkan aksinya, Ia turun ke ruang keluarga dan menemui semua anak menantunya dalam kondisi ruangan yang gelap.


"Apa sudah beres?" tanya ayah


"sudah yah" jawab Marie didukung dengan anggukan oleh yang lainnya.


"baiklah, aku mulai sekarang ya?" tanya ayah antusias. Ini adalah kali pertama ayah melihat ibu sedih karena kehilangan anak-anaknya dimomen yang bahagia.


"AHHHHHHHH SAYANGGGG TOLONGGGGG AKUUUUU!" ayah berteriak keras memanggil yang masih tertidur di kamarnya.


"Sayang, kau dimana? sayang???" Tidak lama berselang ibu berlari menuju lantai bawah dan mencari keberadaan ayah dalam gelap, panik menyeruak hatinya saat tidak ada jawaban dari suaminya. "sayang????" ibu terus berusaha memanggil dan mencari.

__ADS_1


"SELAMAT ULANG TAHUN!!!!" semua berteriak mengucapkan selamat diiringi suara terompet berbunyi serta kue ulang tahun dengan lilin diatasnya disodorkan kehadapan ibu saat lampu dinyalakan.


Ibu terlihat syok, antara senang dan bingung, "seperti mimpi rasanya" batin ibu bahagia sambil menitikkan air mata tidak percaya.


sementara ayah langsung memeluk dan mencium pipi ibu dengan lembut sambil berbisik "selamat ulang tahun sayang".


Semua anak dan menantu mengucapkan selamat ulang tahun, tidak terkecuali Monica yang sudah ikut banyak andil dalam mensukseskan kejutan ini.


"Kenapa kalian mengerjai ibu?" tangis ibu bahagia melihat semua anak dan menantunya pulang secara diam-diam.


"Kami ingin memberikan kejutan untuk ibu" kini Janie memeluk ibunya.


"Sejak kapan kalian datang?" ibu penasaran.


"Kami sudah ada di villa kak Monica sejak siang bu" jawab Marie bergantian memeluk ibunya.


"Jahatnya kalian, ibu tidak diberitahu!" ibu sudah kehabisan kata-kata saking bahagianya.


"Ayah pun tidak kalah Jahatnya mengerjai ibu!" kata ibu sambil mencubit gemas suaminya itu, yang disambut gelak tawa oleh seisi rumah.


Ini adalah kali pertama Charlie bergabung dalam pesta keluarga sejak dirinya sudah berstatus sebagai menantu keluarga Peteroy. Entah perasaan apa yang merasukinya, tapi ia begitu nyaman berada di tengah keluarga barunya itu. Bahkan dia benar-benar menghayati perannya sebagai suami dengan membantu istrinya itu setiap kali Janie ngalami kendala dalam mempersiapkan pesta.


Kehangatan pesta sederhana ulang tahun ibu terasa begitu membahagiakan. Mereka larut dalam suka cita dan senda gurau bersama. Pesta berlangsung hingga hampir pukul tiga pagi. Setelah semuanya puas, akhirnya mereka beberes dan kemudian masuk ke dalam kamar masing-masing, termasuk Monica yang pulang ke villa bersama dua asisten rumah tangganya yang tadi diperbantukan untuk menyiapkan pesta.


..........


Charlie yang sudah berada di dalam kamar Janie menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan, ia kemudian menjatuhkan pandangan terakhirnya ke sebuah bingkai foto yang ada di atas meja belajar. Senyumnya langsung mengembang melihat foto tiga gadis kecil berwajah identik yang memakai pakaian seragam. "Bagaimana cara membedakan mereka dengan pakaian yang sama seperti ini ya?" gumam Charlie dalam hati sambil mencari perbedaan diantara ketiganya.

__ADS_1


"Kak kau sedang apa?" tanya Janie yang baru keluar dari dalam kamar mandi.


"Kenapa kalian sulit sekali dibedakan dalam foto ini?" Charlie menatap foto itu kembali setelah sesaat menengok istrinya yang baru selesai membersihkan diri.


"Kau itu orang yang ke sekian ratus ribu berkata begitu" seloroh Janie sambil mengeringkan rambutnya dengan santai.


Charlie yang sudah mengalihkan pandangannya dari foto kemudian sedikit tertegun melihat Janie dalam balutan baju tidur yang baru pertama kalinya ia lihat.


"Kak kau kenapa?" Janie melambaikan tangannya didepan wajah Charlie.


"Aku sepertinya belum pernah melihatmu memakai ini?" menunjuk daster mini dengan potongan agak sedikit terbuka di bagian dadanya.


"Ahhhh,, ini ya? tadi aku lupa membawa baju dari villa, jadi aku ambil saja pakaian lamaku yang sudah agak kekecilan di lemari" sambil menunjuk lemari bajunya yang berada di sudut ruangan tanpa merasa canggung karena dia menganggap Charlie tidak akan tertarik padanya meskipun ia berpakaian agak sedikit terbuka.


"Ohhhhh" jawab Charlie singkat, hatinya berkecamuk, entah mengapa melihat Janie dengan baju ini membuatnya ingin memeluk gadis itu. "kenapa aku seperti ini sih?" gerutu Charlie pada dirinya sendiri.


"Kakak tidak membersihkan diri?" Janie menatap suaminya lekat.


"eh iya, aku lupa" kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Janie sudah naik ke atas tempat tidur dan duduk sambil memainkan ponselnya saat Charlie keluar dari kamar mandi. Ia masih mengenakan pakaian yang sama karena semua pakaiannya ditinggal di villa Monica.


"Kak terima kasih ya sudah membantuku hari ini" kata Janie saat suaminya sudah duduk di kasur mensejajarkan diri dengannya.


CUP... Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di pipi Janie dan membuat gadis itu terkejut.


"Sama-sama adik kecilku yang manis" kata Charlie spontan untuk menutupi rasa malunya karena telah lancang mencium Janie. Entah kenapa Charlie reflek mencium gadis itu, rasanya seperti ada magnet yang tiba-tiba menariknya mendekati gadis disebelahnya. "ada apa denganmu wahai Charlie" ia mengutuki dirinya sendiri yang terlihat bodoh.

__ADS_1


"Ayo kita tidur, sebentar lagi sudah mau pagi" Janie berusaha mencairkan suasana kikuk yang terjadi. "tahan dirimu Janie, jangan terlalu girang, ingat, dia itu hanya menganggapmu adik kecilnya yang manis, tidak lebih!!" Janie memperingatkan dirinya sendiri.


Setelah lampu kamar dimatikan, mereka kemudian terdiam dan tenggelam dengan pikiran masing-masing sampai akhirnya terlarut dalam buaian mimpi.


__ADS_2