
Katie yang sudah lelah karena gaun yang dipakainya cukup berat dan panjang, akhirnya memilih duduk di sudut ruangan ballroom "ajak istrimu masuk ke dalam kamar, dia terlihat sudah sangat lelah" perintah ayah James pada putranya tersebut. Setelah itu James langsung pamit undur dirinya dari seluruh keluarga yang tersisa di ballroom hotel dan mengajak Katie masuk ke kamar untuk beristirahat.
"Kenapa kau tidak ikut berkumpul bersama mereka?" tanya Katie kepada James. "aku lelah, ingin istirahat". Jawab James sambil merebahkan dirinya di atas kasur. "hey,, kenapa kau tidur di situ?" tanya Katie saat melihat James berbaring. "memangnya kenapa? inikan kamarku!" James bingung. "tapi ini juga kamarku!" Katie mengingatkan. "kalau begitu kita berbagi!" jawab James singkat kemudian memejamkan matanya. "ishhhh dasar kau ini!" Katie menggerutu sambil berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Katie memilih untuk tidur di sofa panjang yang bersebrangan dengan kasur. Karena sudah teramat lelah, Katie tidak mengenakan bantal dan selimut. Sementara James sudah terbaring di atas kasur dan bermimpi indah masih dengan berpakaian lengkap tuxedo.
__ADS_1
Di ballroom hotel, Ayah James, Ayah Katie dan Ibu Katie masih asik mengobrol dengan beberapa sahabat lama mereka yang sudah putus komunikasi selama lebih dari dua puluh tahun. Mereka dengan serunya menceritakan bagaimana dulu sering menyelinap pergi dari rumah masing-masing saat tengah malam dan janjian nongkrong di club sampai pagi.
"ngomong-ngomong August, putrimu itu sangat cantik, andaikan aku tidak kalah cepat dari Jeremy untuk bertemu kembali denganmu, mungkin saat ini kita yang menjadi besan" celetuk Prof. Cedric sambil mencibir ke arah Prof. Jeremy dan di sambut tawa oleh semua sahabatnya yang mendengar. "kak Ced, kau itu sudah tua, kenapa masih saja suka bersaing dengan kak Jerry!" ujar Rossie yang geli dengan sikap sahabat suaminya itu.
"ayah, ibu, aku pamit masuk kamar ya" Janie memotong pembicaraan ayahnya dan para sahabatnya karena sudah lelah dan ingin segera beristirahat di kamarnya. "pergilah istirahat nak, ayah dan ibu masih akan disini untuk mengobrol dengan sahabat kami" kata ibu mengijinkan anaknya untuk beristirahat. sementara Marie memilih untuk turun ke lobby dan menemui kekasihnya secara diam-diam.
__ADS_1
"apa dia putrimu? memangnya kau punya berapa Putri?" Cedric yang baru saja melihat putri August yang lainnya langsung sungguh-sungguh berniat melamarnya menjadi calon menantunya. "katanya kau sahabat yang baik, masa jumlah Putri sahabatmu sendiri saja kau sampai tidak tau?" cibir Jeremy kepada sahabatnya itu. "aku ini baru saja pulang dari luar negri dan baru hari ini bertemu dengan August, jadi wajar saja kalau aku tidak tau, kita kan sudah hilang kontak lebih dari dua puluh tahun!" gerutu Cedric kesal.
"kami punya tiga putri kak Ced, mereka kembar identik" jelas Rossie. "what?? jadi putrimu kembar tiga? apa yang menikah baru satu? atau sudah semua? atau masih ada yang lajang?" Cedric sangat penasaran. "baru Katie yang menikah, sementara Marie dan Janie masih belum menikah" jelas Rossie lagi. "sayang sepertinya kita punya calon menantu!" kemudian Cedric menatap ke arah istrinya dengan sorot mata yang bahagia dan dijawab anggukan oleh Calista istrinya.
"apa kalian serius?" August yang awalnya menganggap Cedric hanya bergurau langsung menatap intens ke arah sahabatnya itu. "tentu saja aku serius, apa pernah aku berkata bohong padamu?" Cedric mengingatkan August dengan karakternya yang serius dan tidak pernah ingkar janji. "siapa nama putrimu yang belum menikah?" Cedric menatap Rossie. "Marie dan Janie" Jawab Rossie. "lalu siapa yang kira-kira bisa menjadi menantuku?" tanya Cedric lagi. "aku tidak bisa berjanji, aku mau anak-anakku memilih jalan hidup mereka sendiri, tapi kalau memang kita berjodoh besanan aku akan sangat bahagia" August menjelaskan pendapatnya. "main-mainlah ke rumah kami agar kau lebih mengenal kedua putriku dan mencuri hati mereka" August menambahkan kembali.
__ADS_1