
"apa kau yakin mau tetap kuliah dan bekerja dengan kondisi kakimu yang seperti ini? apa tidak sebaiknya menunggu sampai kau sehat dulu?" Monica bertanya menyelidik karena merasa kagum dengan Marie yang tidak pernah mau menyerah dengan keadaannya.
"Aku bisa jalan kak, ini kan hanya luka kecil, lagi pula kan di kampus aku hanya duduk, jadi tidak masalah" Marie meyakinkan kondisinya baik-baik saja.
"biar aku yang akan membantunya antar jemput setiap hari selama sakit" Mark kemudian menyodorkan diri, membuat yang lain tersenyum karena sikap Mark semakin intens membuktikan dirinya menyukai Marie dengan serius.
Akhirnya Marie, Mark, Monica, Katie dan James kembali ke Ibukota pada hari Senin pagi untuk beraktivitas seperti biasa.
"Nanti sore tunggu aku ya, aku akan menjemputmu sepulang dari kantor" kata Mark kepada Marie saat mengantarkannya ke kampus, yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Marie.
Setibanya di kampus, "Marie!" sebuah suara yang sudah familiar ditelinga Marie memanggil namanya saat ia sedang berjalan di lobby fakultas. "Reuben!?" Marie menoleh ke arah suara itu dan terkejut ketika melihat mantan kekasihnya itu datang menemuinya di kampus.
"Aku mau bicara denganmu" Reuben mencoba meraih tangan Marie namun Marie yang sadar akan gerakan tangan Reuben langsung menghindar. "ada apa kau kesini?" tanya Marie dengan ketus.
"maafkan aku Marie, aku khilaf, aku mau kita bersama lagi" Reuben berusaha kembali memegang tangan Marie. "semua sudah berakhir, jadi lupakanlah semuanya!" Marie membuang mukanya.
"tunggu, aku mohon dengarkan aku" Reuben menghalangi Marie yang hendak pergi. "aku ada kelas sebentar lagi, nanti bisa terlambat!" jawab Marie dengan suara agak meninggi.
__ADS_1
"kalau begitu aku akan menunggumu sampai selesai" kata Reuben. "terserah!" kemudian Marie pergi meninggalkan Reuben seorang diri.
Saat jam istirahat siang, "kau tidak mau ke kantin?" tanya Bianca teman baik Marie di kampus. "tidak, kaki ku masih sangat sakit bila dipakai untuk berjalan" Marie mencari alasan agar tidak perlu keluar dari kelas karena ingin menghindar dari Reuben.
"boleh aku titip donat dan coklat panas padamu?" Marie kemudian menitip jajanan untuk ia makan di dalam kelas. Marie tau persis bahwa Reuben adalah orang yang gigih, ia tidak akan menyerah dengan mudah sebelum apa yang diinginkannya tercapai.
Ketika jam perkuliahan sudah berakhir, mau tidak mau Marie harus keluar kelas "semoga saja si penghianat sudah tidak disini" doa Marie dalam hati karena sudah malas kalau harus menanggapi Reuben. Ia berjalan agak cepat di tengah kerumunan mahasiswa yang lain, berusaha berkamuflase dengan keberadaan teman-temannya sampai ia tiba di depan halaman gedung fakultas.
"Marie" suara yang tadi pagi memanggilnya terdengar lagi. Kini Marie tidak bisa menghindar dan mau tidak mau harus menghadapinya. "cepat katakan apa maumu?" Marie bertanya dengan ekspresi yang datar.
"Ayo kita balikan" Reuben memintanya kembali untuk berpacaran. "tidak mau!" Marie membuang mukanya.
"sudah cukup, aku mau pulang!" Marie kemudian melangkah menjauh dari Reuben, namun Reuben segera mencegahnya dan menarik tangan Katie sampai berada tepat di pelukannya.
"lepaskan aku!" Marie memberontak namun reuben menahannya dan memeluknya makin erat "lepaskan!" kini Marie berteriak dengan keras hingga seluruh mata tertuju pada mereka.
"tidak akan sampai kau memaafkanku" kata Reuben makin mempererat pelukannya tanpa peduli semua mata menatap padanya.
__ADS_1
BUKKKK... sebuah pukulan mendarat tepat dipipi kanan Reuben hingga membuatnya melepaskan pelukannya. "kak Mark?" Marie bahagia saat pria yang dia tunggu datang di saat yang tepat.
"Sudah ku katakan padamu waktu itu jangan pernah ganggu Marieku lagi, apa kau tuli?" Mark terlihat sangat emosi. Reuben yang kesal karena dipermalukan di depan umum, bangkit dan membalas pukulan Mark hingga sempat terjadi perkelahian sengit diantara mereka.
"hentikan!" tiba-tiba Marie menghadang Reuben yang ingin memukul Mark lagi. "sudah ku bilang aku tidak mau, kenapa kau terus membuat onar?" Marie berteriak kencang sambil menatap marah kepada Reuben.
"Marie, kau berubah, kau bukan Marie yang ku kenal dulu" Reuben terkejut ketika melihat tatapan membunuh yang disorotkan Marie kepada dirinya.
"kau yang membuat aku berubah!" Marie semakin menggila. "pergi kau dari sini!" kemudian Marie berbalik melihat keadaan Mark yang terluka di bagian pelipis. "ayo kak" Marie menggandeng tangan Mark untuk pergi menjauh.
"tunggu, apa kalian berpacaran?" Reuben meminta kepastian kepada Marie. "ya, dia pacarku, sebentar lagi kami akan segera menikah, jadi jangan pernah ganggu hidupku lagi!" kata Marie dengan tegas sebelum akhirnya membawa Mark menjauh dari Reuben yang terkejut dengan pernyataannya itu.
"maaf!" Marie meminta maaf kepada Mark saat mereka sudah berada di dalam mobil. "kalau kau mau menangis, menangislah!" Mark melirik ke arah Marie sambil tetap fokus menyetir.
"air mataku sudah kering kak, aku sudah tidak punya perasaan apapun kepadanya, yang aku rasakan sekarang hanya benci setengah mati!" ucap Marie mengeluarkan semua kekesalannya. "good girl!" kata Mark tersenyum sambil mengacak-acak rambut Marie.
"kak, kau membuat rambutku acak-acakan!" Marie menggerutu melihat rambutnya yang cantik jadi berantakan. "hahahahhahahah" Mark tertawa lepas melihat ekspresi Marie yang cemberut, "kakkkkkkk!" Marie memajukan bibirnya ketika Mark semakin gemas melihatnya kesal dan membuat rambutnya semakin berantakan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan mereka menghabiskan waktu dengan bercanda dan membuat suasana yang sempat tegang kembali cair.