Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga

Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga
Bab 39


__ADS_3

"Kak Mark, kau mau menginap disini kan?" tanya Katie kepada sahabat suaminya itu saat mereka baru tiba. "Aku tidak bawa baju ganti" Jawab Mark. "kau pakai saja pakaianku, aku bawa beberapa potong lebih" kata James kepada Mark. "iya betul, malam ini kami ingin mengadakan barbeque" ujar Katie lagi. "baiklah, kalau kalian memaksa" Mark mengembangkan senyumnya tanda setuju.


Malam itu James, Mark bersama dengan triplet menghabiskan malam dengan barbeque di taman belakang rumah. Sementara ayah dan ibu hanya duduk di teras karena tidak mau mengganggu mereka dan membuat canggung. James dan Mark sibuk mengipas agar bara apinya tidak padam, sementara triplet menyiapkan bahan makanan yang akan mereka panggang. Mereka larut dalam kebahagiaan dan kehangatan keluarga, termasuk Mark yang bukan bagian dari keluarga namun merasa dekat seperti sudah lama mengenal satu sama lain.


Ponsel Mark berbunyi saat mereka sedang merapikan peralatan memanggang karena acara sudah selesai. "apa katamu?" Mark berbicara setengah teriak saat mendengar kabar melalui ponselnya.


"ada apa?" tanya James menyelidik. "Kak Monica tertembak, aku harus pulang sekarang" Jawab Mark dengan wajah cemas setelah menutup ponselnya. "biar aku temani" Kata James. "aku ikut" kata Marie. "aku juga" Katie pun menimpali.

__ADS_1


"Kalian juga harus berhati-hati di jalan, ini sudah hampir tengah malam, tepian hutan Pinus pasti sangatlah sepi" kata ibu memperingatkan. "hubungi kami terus untuk perkembangannya ya" kata ayah saat mengantar mereka ke mobil.


Akhirnya mereka berempat berangkat menuju ibukota dengan mobil milik James. Sementara Janie memilih untuk tinggal di rumah menemani ayah dan ibu serta beberes sisa peralatan barbeque sambil menunggu kabar dari mereka.


"Tenanglah, kakakmu pasti akan baik-baik saja, dia itu wanita yang tangguh" kata James sambil menyetir untuk mencoba menghibur sahabatnya yang sedang cemas memikirkan Monica. "aku tau dia wanita tangguh, tapi kenapa dia bisa tertembak? siapa yang melakukannya? apa alasannya?" Mark tidak habis pikir dengan peristiwa yang menimpa kakaknya itu.


Selama proses operasi berlangsung, Mark terus saja berdiri dengan gelisah di depan kamar operasi. Marie yang tidak tega melihat Mark cemas akhirnya menghampiri dan memeluknya agar lebih tenang. "semua akan baik-baik saja kak, ayo duduklah" bisik Marie ditelinga Mark sambil kemudian memapahnya untuk duduk di kursi terdekat pintu kamar operasi dan menggenggam tangannya dengan erat sebagai tanda dukungan moral. Sementara James dan Katie hanya bisa menatap sahabatnya dengan penuh rasa kasihan.

__ADS_1


Setelah berjalan hampir enam jam sejak tengah malam hingga pagi, akhirnya Charlie keluar dari kamar operasi. "bagaimana keadaannya?" tanya Mark saat Charlie menghampiri mereka. "kita harus menunggu sampai kondisinya stabil, kami akan membawanya ke ruang ICU untuk memantau perkembangannya, bersabarlah sebentar" Charlie menepuk pundak sahabatnya itu untuk memberikan semangat.


"Anak buahku sedang bekerja sama dengan pihak berwajib untuk menyelidiki kasusnya, kau tenang saja, semua akan segera baik-baik saja!" James pun ikut memberi semangat kepada Mark.


"Terima kasih, karena kalian aku bisa menghadapi semua ini" Mark menatap secara bergantian kepada dua sahabatnya sambil tersenyum.


"Sayang, aku dan Marie ke kantin dulu ya untuk membelikan coklat hangat dan roti buat kak Mark" Katie memberitahu suaminya dan dijawab hanya dengan anggukan.

__ADS_1


__ADS_2