Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga

Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga
Bab 71


__ADS_3

Setelah sarapan, Charlie dan Janie langsung bersiap-siap berangkat bersama, yang membedakan kali ini adalah Charlie mengantarnya sampai depan kampus.


"Terima kasih" Janie tersenyum kepada suaminya.


"Kau tidak memberiku hadiah?" Charlie merengek seperti anak kecil.


"Hadiah apa?" Janie bingung dengan kata-kata Charlie.


"ini!!" sambil memajukan bibir dan menunjuknya dengan telunjuk.


"Ishhhh kau ini!" sambil protes namun tetap melakukan dengan suka rela.


Mereka berciuman sesaat sebelum berpisah, seperti tidak rela melepas satu sama lain.


"Sudah, nanti kau bisa terlambat!" Janie mendorong tubuh suaminya yang masih condong ke depan badannya untuk menjauh.


"Jangan macam-macam ya!!" Charlie membelai rambut istrinya yang dikuncir ke atas.


"Seharusnya itu kata-kataku, kan yang punya kekasih itu kamu, bukan aku!" Janie mendengus.


"Aku akan menyudahinya segera, percayalah!" kini tangannya mengelus pipi Janie yang mulus.


"Aku masuk kelas dulu ya!" Janie membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil.


"I love you sayang!" Charlie berkata dengan suara yang agak keras supaya istrinya yang sudah di luar mobil tetap mendengar.


"I love you too" Janie melambaikan tangan sebelum menjauh dari mobil menuju pintu gedung.


...


"Janie, apa kau tau kalau hari ini akan ada dosen tamu dari luar yang akan mengisi mata kuliah umum kita?" salah satu teman sekelas memberitahu Janie yang baru masuk.

__ADS_1


"Benarkah? kok aku baru tau?" Janie memicingkan matanya penasaran. Janie adalah salah satu mahasiswa yang paling teliti terhadap semua jadwal dan keperluan kuliah, dia tidak pernah melewatkan info apapun mengenai perkuliahan.


"Kita sudah disuruh ke aula oleh pak Dosen!" kata ketua angkatan kepada semua rekan mahasiswanya.


"Ayo!" tangan Janie digandeng dan ditarik menuju aula yang dimaksud.


"Woahhhhhh ganteng banget dosen tamunya!" celetuk salah satu temannya yang jomblo.


"Dia sudah menikah belum ya?" tanya yang lain.


"Siapa namanya? aku ingin follow media sosialnya ah!" kata yang lainnya lagi.


Sementara Janie hanya bisa melongo melihat kenyataan pria tampan yang berada di atas podium adalah Charlie Adams suaminya. "Bagaimana bisa aku kecolongan sampai dia menjadi dosen tamu tanpa sepengetahuanku!?" gerutunya kesal dalam hati.


Semua teman-temannya terus ribut seperti lebah ditelinga Janie membicarakan ketampanan suaminya dan bagaimana ia tampil menyajikan materi di depan aula dengan begitu kerennya.


"Pak dokter, apakah Anda sudah punya pacar atau istri?" tanya seorang mahasiswa angkatan atas saat sesi tanya jawab di mulai dan disambut sorak-sorai oleh sebagian besar mahasiswa yang mempertanyakan statusnya sejak awal berdiri di podium.


"JUJUR!!!!" seluruh aula membahana dengan jawaban yang sama.


"Kau benar-benar mau tebar pesona ya?" Janie menatap kesal ke arah suaminya. Pandangan mereka bertemu saat Charlie hendak mengatakan statusnya.


"Jawaban jujurnya adalah saya sudah menikah!" Charlie tetap tersenyum menebar pesonanya.


"Yahhhhhhhhh!!!!" suara lebah kembali terdengar.


"Pak apa anda mencintai istri Anda?" pertanyaan nyeleneh lagi-lagi terlontar dari mahasiswa yang penasaran.


"Apakah ini masuk dalam kategori pertanyaan berbobot?" Charlie bertanya balik pada sang penanya.


"Iyaaaa!" lagi-lagi paduan suara bergaung seantero aula membuat Charlie menatap moderator meminta persetujuan dan di jawab dengan anggukan. "Daripada aku diamuk massa" batin sang moderator.

__ADS_1


"Baiklah, saya akan jawab, tapi ini untuk yang terakhir kalinya saya menjawab pertanyaan pribadi ya!?" Charlie menatap istrinya yang sudah gelisah menunggu jawabannya di tengah kerumunan mahasiswa.


"Istri saya adalah gadis manis yang sangat sabar dan lemah lembut, dia selalu membuat saya nyaman berada di dekatnya, saya begitu mencintainya sepenuh hati!" jawaban Charlie sambil terus menatap ke arah Janie. Janie yang mendengar pernyataan suaminya di depan umum langsung tersenyum haru.


Suara lebah kini berganti menjadi gemuruh yang sulit ditaklukkan, sampai-sampai moderator harus bertindak untuk menenangkan mereka semua.


Sesi tanya jawab selesai sesaat sebelum makan siang. Charlie yang tiba-tiba menjadi selebriti dadakan diserbu banyak penggemar. Janie yang tau posisinya di kampus hanya seorang mahasiswa sengaja memberikan ruang untuk Charlie menanggapi para penggemarnya itu. Perubahan sikap Charlie dan pernyataannya di depan umum sudah cukup membuatnya bahagia untuk saat ini, meskipun ganjalan hubungan Vicky masih mengganggunya.


..........


"Hai, apa aku boleh bergabung?" Charlie menegur gerombolan mahasiswa di kantin yang sedang makan siang.


"Kak, kau sudah selesai?" Janie terkejut dengan keberadaan suaminya yang tiba-tiba muncul dibelakangnya.


"Silahkan duduk pak!" kata salah satu teman Janie menyodorkan kursi.


"Terima kasih" Charlie mengambil kursinya dan meletakkannya di dekat Janie.


"Kau sudah selesai? tidak kembali ke rumah sakit?" Janie masih penasaran.


"Sayang, kau pulang jam berapa hari?" Charlie bertanya balik sambil mengambil sendok yang ada di tangan istrinya dan menyendokkan nasi yang ada di piring Janie kedalam mulutnya.


"Aku pulang seperti biasa! lalu kakak kenapa masih disini? tidak kembali ke rumah sakit?" Janie menjawab sekenanya karena masih heran dengan keberadaan Charlie di kampusnya.


"Aku mau menunggumu saja, kita pulang bareng ya!?" jawab Charlie cuek sambil terus memakan menu makan siang Janie.


Sementara teman-teman satu meja Janie dan yang ada di kantin menatap mereka berdua dengan penuh tanda tanya.


"Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri ya? aku Charlie, suami Janie, gadis paling menggemaskan di seluruh dunia!" Charlie kemudian menjabat tangan semua teman Janie di meja kantin. Membuat satu kantin heboh mendengarnya.


"Issshhh kau ini drama sekali!" Janie berseloroh sambil berjalan menuju sebuah stand makanan untuk memesankan satu porsi lagi menu makan siang untuk suaminya tanpa diminta. Sesungguhnya Janie merasa tersanjung dengan cara Charlie yang heroik, namun ia malu dan memilih mengalihkannya dengan memesan makanan. Sementara Charlie dengan kebanggaan penuh memperkenalkan diri sebagai suami Janie.

__ADS_1


Akhirnya sesi tanya jawab seputar kehidupan pribadi Charlie dan Janie pun dibuka kembali di kantin. Mahasiswa lain yang awalnya duduk di meja lain spontan menarik bangku dan berkerumun di sekitar Charlie dan Janie untuk mendengar kisah cinta mereka dan berdecak kagum pada Janie yang sangat beruntung mendapatkan Charlie dengan paket komplit yang dimilikinya tanpa mengetahui betapa dramanya kehidupan awal pernikahan mereka dulu.


__ADS_2