Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga

Kisah Cinta Si Gadis Kembar Tiga
Bab 73


__ADS_3

Tatapan benci dan penuh dendam terpancar dari seseorang yang duduk di belakang kemudi mobil saat melihat seorang gadis sedang berjalan menyebrangi jalan raya.


"Ini waktunya, hampir sebulan aku menanti saat ini!" kata sang pengemudi sambil melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi ke arah gadis yang sedang menyebrang itu.


"Aaaaaaaaaa!!!" teriakan nyaring terdengar saat orang-orang yang berada di dekat jalan raya melihat gadis itu terpental sesaat setelah tertabrak oleh mobil yang melaju dengan kecepatan penuh.


"Tolong dia!"


"Apa dia masih bernafas?"


"Telpon ambulan!"


"Hubungi polisi!"


Suara-suara panik terus bersahutan saat orang-orang mengerumuni gadis yang sudah tergeletak lemah tak berdaya bersimbah darah.


..........


Di dalam mobil, masih dengan kecepatan penuh, sang pengemudi yang masih syok tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukannya menangis histeris hingga tubuhnya terguncang hebat.


"Charlie adalah milikku, kalau sampai aku tidak bisa memilikinya, maka siapapun tidak akan boleh memilikinya juga termasuk gadis itu!!" sorot mata penuh kebencian dan dendam terpancar jelas bercampur dengan air matanya.


"Apakah dia sudah mati? bagaimana kalau dia tetap hidup?" Vicky bermonolog sambil terus mengemudikan mobilnya.


Rasa penyesalan karena sudah menolak memperjuangkan cintanya demi karir membuatnya gelap mata. Pikirnya ia tidak akan punya cara lain untuk dapat merebut hati kekasihnya kembali selain kematian sang istri. Penolakan yang ditunjukkan oleh kedua orang tua Charlie terhadap dirinya dan lebih memilih Janie sebagai menantu juga membuatnya semakin yakin bahwa jalan yang ia tempuh saat ini adalah jalan yang paling tepat.

__ADS_1


"Setelah kematian gadis itu aku akan bisa dengan leluasa memiliki Charlie kembali!" pikirnya.


..........


Sementara itu, di ruang ICU rumah sakit milik keluarga Adams terjadi kegemparan yang sangat luar biasa, karena menantu sang pemilik rumah sakit sekaligus istri dari Presiden direktur rumah sakit sedang dalam kondisi yang kritis.


Kecelakaan tabrak lari yang terjadi di jalan raya menyebabkan kondisi Janie kehabisan banyak darah dan harus di rawat secara intensif. Ibu berkali-kali pingsan saking cemasnya menghadapi kenyataan bahwa salah satu putri kesayangannya dalam bahaya. Marie dan Katie yang memiliki golongan darah yang sama dengan Janie juga sibuk melakukan serangkaian tindakan medis untuk mendonorkan darah mereka.


"Ini salahku! aku sangat bodoh! aku suami yang tidak berguna!" Charlie terus meraung sedih memaki dirinya sendiri karena menganggap dirinyalah sebagai penyebab kecelakaan yang terjadi.


"Nak, jangan salahkan dirimu sendiri, ini semua sudah kehendak Tuhan!" ibu Charlie menenangkan putranya.


"Maafkan aku bu, seharusnya dari awal aku tau kalau Vicky bisa bertindak nekad begini!" Charlie memeluk ibunya dan melepaskan semua rasa sedih dan bersalahnya.


Awalnya Charlie ingin ikut menangani istrinya, namun karena sikap panik dan frustasinya saat melihat kondisi istrinya yang sangat buruk membuat sang ayah mencegahnya masuk ke dalam ruang tindakan.


"Kau tunggulah di sini bersama ibu, biar ayah yang menangani!" begitu kata ayah sebelumnya.


"Kalau benar itu ulah Vicky, bisa dipastikan dia tidak akan bebas dari jeratan hukum!" James yang baru saja mendengar cerita Charlie tentang ancaman Vicky terhadap Janie geram dibuatnya.


"Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang?" Mark penasaran dengan tindakan yang akan di lakukan oleh James.


"Aku sudah meminta anak buahku berkordinasi dengan pihak berwajib, mencari data dari CCTV terdekat di TKP dan memantau keberadaan Vicky saat ini!" James masih mengepalkan tangannya.


..........

__ADS_1


Hari demi hari berganti, sudah sepuluh hari sejak kejadian itu berlangsung namun Janie masih belum sadar meskipun kondisinya sudah menunjukkan peningkatan.


"Kak, beristirahatlah sebentar, biar gantian aku yang menjaga Janie!" Katie membujuk Charlie yang tidak pernah bergeming dari tempatnya di samping Janie selama istrinya itu terbaring tak berdaya.


"Aku tidak apa-apa!" Charlie tersenyum getir memandang wajah adik iparnya yang sangat identik dengan wajah istrinya.


Katie bisa melihat begitu besar cinta Charlie terhadap saudara kembarnya. "Cinta memang sangat misterius, terkadang datang disaat yang tidak bisa dibayangkan!" ujar Katie dalam hati.


"Sayang, kau sudah kembali?" Katie menengok pintu ruang rawat yang terbuka dan melihat sosok suami berdiri di ambang pintu.


"Bagaimana kondisinya?" James menatap Janie.


"Sudah berangsur pulih, namun masih belum sadar juga!" Katie menjawab. "Lalu bagaimana dengan kasusnya?" Katie penasaran dengan berita yang di bawa James dari kantor polisi.


"Gadis itu mengalami gangguan psikis, managernya bilang sudah hampir enam bulan belakangan ini mentalnya tidak stabil karena ayahnya berselingkuh saat ibunya mengalami sakit keras!" James menjelaskan.


"Di mana dia sekarang?" tanya Charlie memastikan.


"Dia sudah dibawa ke rumah sakit jiwa untuk ditangani secara intensif!" James menjelaskan lagi.


"Apa dia akan terjerat hukum?" Katie penasaran.


"Kasusnya masih akan dikembangkan lagi, aku belum tau hasil akhirnya, tapi setidaknya kita sudah bisa bernafas lega karena pelakunya memang dia!" James berkata panjang lebar.


"Kalau begitu sekarang kita hanya perlu fokus merawat Janie sampai ia sembuh!" Katie mengelus tangan saudara kembarnya untuk memberikan support dan dijawab anggukan oleh James dan juga Charlie.

__ADS_1


__ADS_2