
"Kak? kau sudah bangun?" Janie terkejut karena tiba-tiba Charlie memeluk pinggangnya dari belakang saat ia berdiri memandang halaman depan rumah dari balkon kamar.
"Apa tidurmu nyenyak?" Charlie berbicara di telinga Janie dengan lembut.
"Apa? eh iya!" jawab Janie gelagepan. "kenapa sih kau jadi bersikap aneh gini?" Janie berbicara dalam hati.
"Kau hari ini tidak pergi kemana-manakan?" Charlie meletakkan dagunya di bahu Janie.
"Tidak, memangnya kenapa kak?" tanya Janie.
"Temani aku ya hari ini!" Charlie kemudian membenamkan wajahnya dileher Janie.
"Kak jangan begini!" Janie yang merasa geli dengan setiap sentuhan lembut wajah Charlie di lehernya mencoba melepaskan diri.
"Aku ingin mengenalmu lebih baik lagi! bolehkan?" Charlie menyibak rambut Janie yang menutupi tengkuknya dan kemudian mengecup bagian belakang leher istrinya itu.
"Kak kau kenapa?" Janie benar-benar bingung harus berbuat apa. Disatu sisi ia sangat menikmati setiap perbuatan yang dilakukan suaminya. Namun disisi lain dia sadar bahwa statusnya hanyalah istri pura-pura yang bisa diceraikan kapan saja.
"Ayo kita mulai lagi dari awal!" Charlie mempererat pelukannya.
Semalaman ia berfikir keras tentang perasaan yang dirasakannya selama ini terhadap Janie. Bagaimana saat dia merasa cemburu dengan Jack yang membonceng Janie dengan motor. Bagaimana perasaan hangat dihatinya mulai tumbuh saat melihat Janie yang begitu menyayangi dan menghormati kedua orangtuanya meskipun hanya dalam status menantu pura-pura. Bagaimana perasaan bahagia saat ia berada di tengah keluarga Peteroy. Dan yang paling terpenting adalah ia mulai sadar bahwa rasa cintanya sudah pudar terhadap Vicky.
"kak!?" Janie kehabisan kata-kata saat Charlie menarik tubuhnya untuk berputar dan membuat mereka berdiri saling berhadapan.
"Kau mau kan memberikan aku kesempatan?" Charlie membelai lembut pipi Janie dan tersenyum penuh harap.
"Kak aku..." Janie belum sempat melanjutkan kalimatnya saat bibir Charlie sudah mengecup bibirnya. Rasa panik, takut dan bahagia menyeruak jadi satu membuat gadis itu tidak sanggup menggerakkan tubuhnya sama sekali karena sangat lemas, bahkan mungkin dia bisa jatuh kalau saja tangan Charlie tidak memeluknya dengan erat. Kecupan Charlie yang begitu dalam membuat Janie terlena meskipun ia tidak sanggup untuk membalasnya. Ia hanya pasrah menerima semua perlakuan suaminya itu.
Dering ponsel Charlie membuyarkan keromantisan yang sedang terjadi di balkon kamar mereka.
"Halo!?" Charlie menerima telpon dengan tetap melingkarkan satu tangannya di pinggang Janie, membuat wajah gadis itu terbenam di dadanya yang bidang.
__ADS_1
"Sayang, kau dimana? bisakan kau antarkan aku ke butik untuk membeli gaun?" Vicky langsung menyerbu Charlie dengan pertanyaan saat telponnya diangkat.
"Vicky maafkan aku, tapi aku sudah ada janji lain!" Charlie menolak permohonan kekasihnya.
"Memangnya kau mau kemana?" tanya Vicky penasaran.
"Aku ada urusan penting dengan Janie!" kata Charlie jujur.
"Apa kau sudah mulai menyukai gadis itu?" Vicky tersulut emosi cemburu.
"Sudahlah Vicky, jangan memancing pertengkaran lagi!" Charlie malas meladeni.
"Tapi aku..." belum sempat Vicky melanjutkan kalimatnya, Charlie sudah terlebih dulu menutup telpon. "Sialan!" umpat Vicky kesal.
"Kak kenapa kau bersikap seperti itu?" Janie penasaran saat melihat reaksi Charlie yang tidak ramah terhadap Vicky saat gadis itu menelponnya.
"Entahlah, aku merasa kalau sebenarnya dia tidak sungguh-sungguh mencintaiku. Dia sangat manja dan egois, selalu ingin didengar tanpa mau mendengarkan orang lain. Dia seperti memanfaatkan ku untuk memenuhi semua keinginannya!" Charlie menceritakan dengan jujur semua perasaan yang selama ini ia pendam.
"Janie, kita jangan bahas ini lagi ya? aku tidak ingin hatiku goyah lagi, aku mohon beri aku kesempatan!?" Charlie kembali mempererat pelukannya dan menatap wajah istrinya dengan intens.
"Apa boleh aku minta sesuatu sebelum kita memulai dari awal?" Janie menunjukkan sikap seriusnya.
"Apa itu?" tanya Charlie.
"Selesaikan dulu semua masalah yang terjadi antara kakak dan Vicky, aku mau kita memulainya dengan awal yang baik, bukan muncul ditengah-tengah hubunganmu dengan Vicky seperti saat ini!" kata Janie.
"Baiklah, aku janji akan segera menyelesaikan semuanya ini! tapi kau juga harus janji satu hal padaku!?" Charlie menatap istrinya tajam.
"Apa?" tanya Janie.
"Jauhi Jack, aku tidak suka kau terlalu dekat dengannya!" Charlie menunjukkan wajah kesalnya.
__ADS_1
"Apa kakak sedang cemburu?" tanya Janie dengan wajah penasaran.
"Tentu saja aku cemburu, suami mana yang rela istrinya dibonceng oleh pria lain?" gerutu Charlie.
"Astagaaaaaa,, jadi selama ini kakak cemburu? ahahahahah" Janie tertawa bahagia mendengar pernyataan suaminya itu. Ia bahkan tidak pernah membayangkan kalau Charlie akan mengakui perasaan cemburunya terhadap Jack, mengingat betapa mesranya hubungan Charlie dengan Vicky selama ini.
"Apa kau bahagia melihat aku cemburu?" tanya Charlie penasaran.
"Lebih tepatnya aku terkejut, aku pikir selama ini kakak cuek-cuek saja!" Janie tersipu malu.
"Jadi kau mau kan denganku?" tangan Charlie kini sudah mulai bergerilya menyusuri punggung Janie.
"Kakkkkkkk, kondisikan tanganmu!" Janie meronta karena malu.
"Memangnya kenapa? kaukan istri sah ku, apa kau lupa?" Charlie mulai mengendus pipi Janie dengan hidungnya.
"Issshhh kau ini!" Janie memasang wajah kesal yang dibikin-bikin, membuat Charlie semakin gemas padanya.
"Hap!!" Charlie menggendong Janie seperti layaknya pengantin baru yang hendak bulan madu.
"Kak kau mau apa?" Janie bergeliat minta diturunkan, namun Charlie tak bergeming dan tetap membawanya ke atas tempat tidur serta menghimpitnya dibawah tubuhnya yang kekar.
"Kak, kau membuatku malu!" wajah Janie sudah merah seperti kepiting rebus.
"Can i?" Charlie menatap istrinya dengan penuh cinta.
Janie yang tidak bisa berkata-kata saking malunya hanya bisa mengangguk pelan.
"Terima kasih sayang!" bisik Charlie ditelinga Janie yang membuat gadis itu benar-benar merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Ahhhh kakkk!!!" Janie mengerang saat Charlie menyentuh titik-titik sensitifnya. Ia bekerja dengan sangat baik saat mengemban tanggung jawabnya sebagai suami yang memberi nafkah batin untuk istrinya.
__ADS_1
Hari itu mereka habiskan untuk bermesraan berdua di dalam kamar sepanjang hari dengan perasaan penuh cinta yang berbunga-bunga.