
...BAB 9...
...Salah Satu Haters...
"Berjanjilah padaku kau akan menceraikan wanita itu Dev, aku tidak mau kau duakan atau menjadi istri keduamu..." pinta Cathrine lantas ia memeluk erat pinggang Devan. Ada kekhawatiran di hatinya, jika suatu saat nanti Devan akan pergi meninggalkannya dan memilih Silvia. Setelah melihat keantusiasan Silvia tadi membuat nyali Cathrine menciut. Seolah karma akan datang menimpanya sebentar lagi.
"Cath, maafkan aku. Soal aku harus menceraikan Silvia, aku tidak bisa berjanji padamu. Karna aku sudah mengucap perjanjian sebelum kami menikah, bahwa aku tidak akan meninggalkannya begitu saja, pernikahan bukanlah main-main. Lagipula dia tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Aku harus bertanggung jawab padanya." ujar Devan pelan seraya mengusap lembut rambut kepala Cathrine, mencoba menenangkan kekasihnya tersebut. Devan tahu saat itu Cathrine tengah cemburu pada Silvia.
Cathrine melepas kasar pelukannya lalu menatap Devan dengan tajam. "Jadi kamu menganggap pernikahanmu itu dengannya adalah serius, Dev?!" Cathrine tersohok apa yang Devan katakan. Tak sangka Devan justru akan memberikan jawaban yang tak ingin dia dengar. Devan menggeleng cepat dengan gugup.
"Bu-Bukan begitu sayang! Jangan salah paham, aku hanya tak mau kalau aku di sebut lelaki yang tidak bertanggung jawab. Kamu jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Lagipula dia tak meminta haknya padaku. Dia hanya ingin aku nikahi saja, cuma itu. Percayalah cintaku hanya untukmu seorang. Aku menikahinya karna rasa kasihan saja dan tidak lebih dari itu..." jelasnya lagi, menatap lekat wajah Cathrine yang terlihat gelisah, pelan Devan menyelipkan helaian rambut kekasihnya itu ke belakang telinganya, lalu tersenyum menenangkannya dan kembali memeluknya erat.
"Benarkah, kau tidak akan punya perasaan padanya kan Dev?" cemas Cathrine.
Devan menggeleng lagi. "Tidak sayang, satu-satunya wanita yang bisa membuat hatiku jatuh hati hanyalah dirimu..." tegasnya, meyakinkan lagi.
Devan menghela nafas berat. Sebenarnya hatinya sangat bimbang dengan kehidupan yang di jalaninya saat ini. Keinginannya untuk menjadikan Cathrine satu-satunya istri hanyalah sebuah perumpamaan saja. Nyatanya, dia harus di pertemukan dengan wanita lain yang tak di harapkannya sama sekali. Walau Devan memang tidak mencintai Silvia, tapi Devan bukanlah Pria yang lepas tanggung jawab dan langsung menceraikannya begitu saja tanpa alasan.
Cathrine mengepal kencang tangannya. Hatinya masih bergejolak marah, tak terima keputusan Devan yang tetap akan mempertahankan Silvia menjadi istrinya. Biasanya Devan akan langsung menuruti semua yang ia mau. Tapi kali itu sepertinya dia sulit sekali untuk mengabulkan.
Brengsek, brengsek brengsek! Perjanjian apa sebenarnya yang mereka bicarakan? Sehingga Devan tidak mau menceraikan wanita itu! Aku tidak boleh meremehkan Silvia, dia benar-benar serius ingin membalaskan dendam padaku! geramnya di hati.
****
__ADS_1
Setelah Devan mengantarkan Cathrine pulang ke apartemennya lagi. Devan pun bergegas menemui Silvia di kamarnya.
"Apa sebenarnya yang sudah kamu katakan di meja makan bersama Cathrine tadi?" tanyanya setelah membuka pintu kamar yang tak di kunci Silvia, tanpa permisi Devan masuk seenaknya. Devan sangat kesal karna Silvia bertindak seenaknya juga lancang telah mengirimkan foto pernikahan mereka ke nomer Cathrine.
Silvia yang baru saja ingin membaringkan tubuh lelahnya di tempat tidur, kembali harus mendudukkan tubuhnya. "Pembicaraan? Aku tidak bicara apa-apa padanya. Dia saja yang terlalu sensitif. Belum bisa menerimamu kalau sudah menikahi aku." jawab Silvia sekenanya, lalu tersenyum miring.
Silvia tak peduli perasaan Cathrine, mau dia mengamuk sampai menghancurkan rumahnya juga Silvia tetap tak peduli. Justru itulah yang di tunggu-tunggu Silvia sejak lama. Akhirnya Cathrine dapat merasakan bagaimana rasa sakitnya ketika calon suaminya di rebut oleh wanita lain. Seperti yang pernah Silvia rasakan dulu. Itu cukup impas bukan?!
Devan menghembus kasar nafasnya lalu melangkah cepat mendekati Silvia yang menampakkan wajah tak bersalahnya. Devan pun menarik kasar selimutnya. "Aku ingin dengar penjelasanmu. Kenapa kau kirimkan foto pernikahan kita pada Cathrine? Bukankah aku sudah peringatkan sebelumnya jangan kau sebarkan pernikahan kita dalam bentuk apapun! Tapi kau tak menggubris perkataanku!" pekik Devan dengan nafas memburu, sebenarnya dia tak ingin memarahi Silvia. Marah bukanlah sifat aslinya. Devan selalu di didik baik oleh kedua orangtuanya, harus senantiasa bersikap sabar dalam menghadapi apapun. Hanya saja tingkah Silvia kali itu membuatnya bertambah kesal.
"Aku kan tidak pernah janji padamu, untuk tidak mengatakannya." acuhnya lagi, yang terkesan santai sekali. Devan berdecak seraya berkacak pinggang.
"Tapi kan tak seharusnya juga kau beritahukan ini pada Cathrine, kau tidak menghargaiku Silvia! Kau tahu, akibatnya Cathrine jadi shock berat saat tahu aku sudah menikahimu. Padahal semuanya sudah ku rencanakan untuk menutupinya. Aku tak ingin melukai perasaannya!" sungutnya lagi.
"Dengarkan aku. Sepintar-pintarnya tupai melompat, dia pasti jatuh juga. Serapat-rapatnya kebohongan yang kau sembunyikan pasti akan terbongkar juga. Aku tidak mau ya, kalau suamiku sampai terus-terusan membohongi orang." sindirnya, yang sukses membuat Devan terpana.
Devan menghela panjang nafasnya. "Katakan dengan jujur padaku, sebenarnya apa maumu ini? Apa kau sedang merencanakan sesuatu di belakangku? Atau jangan-jangan kau itu adalah salah satu hatersnya Cathrine?" sekarang Devan tampak menunjukkan kecurigaannya pada Silvia. Tatapannya berubah tajam mengintimidasinya.
Silvia menarik nafasnya dalam, sejenak ia memalingkan wajahnya dari Devan. Lalu menghembus nafasnya panjang dan kembali menatap Devan dengan tatapan seriusnya. "Suatu saat kamu pasti akan mengetahuinya, jika ku lakukan semua yang terbaik untukmu." ucapnya tersenyum menyungging, Devan menahan pundak Silvia kasar.
"Jangan bermain-main denganku Silvia, katakan padaku apa tujuanmu sebenarnya?!" gertaknya yang kembali kesal karena Silvia seolah memberinya teka-teki. Silvia melirik sekilas tangan Devan di pundaknya. Lalu beralih menatap lekat mata legam Devan.
"Kalau ku katakan sekarang, apa kau akan percaya padaku?" tanya Silvia seraya memincingkan matanya "Huh sudahlah lupakan saja. Aku ingin cepat-cepat tidur. Supaya besok pagi aku bisa menyiapkan makanan untukmu." Silvia mengambil lagi selimut yang di sibak Devan tadi, lalu mulai menyelimuti dirinya lagi.
__ADS_1
"Tidak perlu, kau tidak perlu lagi melakukan itu padaku! Aku khawatir kau akan menaruh racun di piring makananku." celetuk Devan dengan ketus. Devan pun berbalik ingin pergi tapi tangannya lekas di tahan oleh Silvia.
"Tunggu! Mana mungkin aku ingin merancunimu, dasar pria aneh!" gerutu Silvia tersinggung.
"Sudahlah berhenti bersandiwara di depanku Silvia!" sentak Devan seraya menepis kasar tangan Silvia, hingga Silvia terjatuh dari tempat tidur. Dan itu membuat kakinya bertambah sakit.
"Aahh, aww sakiiiit..." teriak Silvia meringis kesakitan.
Devan yang ingin pergi, mengurungkan langkahnya dan kembali berbalik cepat, mendengar kesakitan Silvia. "Tuh apa yang ku bilang? Makanya kau jangan main-main denganku!" sungutnya. Devan mendekati Silvia, namun dia agak ragu untuk memangku Silvia.
"Kenapa kau diam saja melihat aku terjatuh begini hah? Apa kau tega melihat istrimu kesakitan terus? Tadi kau begitu perhatian pada kekasihmu, padahal aku ini istrimu yang lebih penting darinya!" bentaknya. Silvia menangis kencang sambil mengusap-usap kakinya yang masih di perban.
"Sudah-sudah berhenti menangis, dasar wanita manja!" gerutunya gemas.
Tak ingin mendengar ocehan Silvia lagi, Devan lekas memangkunya dan membaringkannya di atas kasur, dengan sedikit membungkukkan punggungnya, namun Silvia malah sengaja mengeratkan pelukan tangannya di leher Devan. Sehingga Devan tersungkur ke depan dan tak sengaja menindih tubuh Silvia, memangkas kedua jarak di antara mereka. Sontak sepasang mata pun saling beradu tanpa berkedip. Hembusan nafas menerpa kulit keduanya. Dan saat itu juga, Silvia dapat merasakan debaran jantung di dadanya begitu cepat.
Lagi-lagi Silvia terpesona dengan ketampanan Devan, dan ini adalah pertama kalinya wajah mereka saling berdekatan. Tanpa permisi, Silvia pun mengecup kilat bibir Devan. Devan terkejut dan sontak melotot ke arahnya.
"Terimakasih banyak, suamiku..." ucap Silvia seraya mengulum senyumnya malu-malu.
Bersambung....
...****...
__ADS_1