
...BAB 24...
...Kembalinya Mantan...
"Hahaha bagus-bagus! Akhirnya kalian menurut juga padaku. Sekarang, keluarkan barang berharga kalian dan serahkan semuanya padaku!" pintanya lagi.
"Kami tak punya barang berharga lainnya selain ponselku ini. Ambillah ini, setelah itu pergilah dari sini!" Silvia menyerahkan ponsel seharga tiga jutaan itu kepadanya. Lalu mengusirnya dengan halus.
"Heh, jangan main-main denganku! Emangnya aku bakalan ketipu? Kalian pasti memiliki uang tabungan! Cepat serahkan seluruh uangmu atau aku cincang satu-persatu tubuh kalian menjadi sepuluh bagian!" ancamnya lagi, dengan mengangkat celurit di atas tangannya.
Penjahat itu terus memberi ancaman dan melangkah mendekati Silvia, begitu pun Silvia yang memundurkan langkahnya ke belakang berusaha untuk tak tegang menghadapi bandit itu di depannya. Ekor mata Silvia melirik pada Bibi Sari yang masih berada di belakang penjahat itu, memberikan kode dengan sekali kedipan matanya. Bibi Sari pun mengangguk mengerti. Pelan-pelan Art itu mengeluarkan teplon yang sejak tadi dia sembunyikan di belakang tubuh gembulnya.
"Rasakan ini!!" teriaknya.
Plang
Plang
Plang
Beberapa kali Bibi Sari memukul kencang kepala si bandit itu dengan pantat teplonnya, hingga dia mengerang kesakitan
"Aahh heeh hehh!" teriaknya. "Hentikan br*ngsek!" makinya.
"Ayo Non, ayo cepat kita pergi dari sini!" teriak Bibi Sari menyuruh Silvia agar cepat-cepat pergi dari sana. Setelah bandit itu tersungkur ke lantai tak berdaya karna merasakan pusing yang teramat di kepalanya.
Silvia mengangguk dan berjalan melewati bandit yang sudah terkapar di lantai sambil memegangi kepalanya yang mungkin sudah banyak benjolan karena ulah Bibi Sari. Namun saat ingin melangkah, dengan cekatan bandit itu menahan salah satu kaki Silvia, sehingga Silvia kehilangan keseimbangannya dan akhirnya terjatuh.
"Aaaahhh!!" jerit Silvia.
"Non Silviaa!!!" Bibi Sari yang sudah di dekat pintu keluar, pun terkejut melihat Silvia yang malah terjatuh di sana.
"Pergi saja Bi, sudah jangan pedulikan aku. Cepat Bibi cari bantuaaan!!" perintah Silvia berteriak kencang, agar Bibi Sari meninggalkannya dan menyelamatkan dirinya sendiri.
"Tapi Non_!"
"Sudah cepat pergi Bi!"
Bibi Sari agak ragu, tapi akhirnya ia melenggang pergi meninggalkan Silvia. Di tengah guyuran air hujan dia berlari cepat keluar Villa sambil berteriak meminta tolong pada siapapun yang ia lihat di jalan raya. Pada mobil dan truk yang hendak melewatinya
Sementara Silvia kakinya yang ditahan oleh lelaki jahat itu. Berusaha untuk melepaskan dirinya. Tetapi bandit itu tetap tak mau melepaskannya.
"Kurang ajar, berani sekali kalian berdua bersekongkol menipuku, hem!!" geramnya. "Ingin cari mati denganku ya, hah!" Bandit itu tak main-main, ia hendak menghajar Silvia, namun tak sangka justru bandit itu malah terpental jauh membentur dinding rumah, saat ada tendangan keras mengenai wajahnya.
Silvia terkejut, lantas ia menoleh ke samping atasnya. Karena posisi Silvia dalam keadaan duduk di lantai. Sosok Pria berjaket kulit hitam sudah berada berdiri di belakangnya. Sayangnya, wajah Pria itu tak terlihat jelas karna tertutupi oleh masker dan kacamata hitam. Pria itu pun beralih memandang keseluruhan tubuh Silvia. Dari kaki hingga kepala.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya seraya berjongkok di depan Silvia. Ketika Silvia ingin menjawab pertanyaan pria itu, Silvia tercengang melihat bandit itu sudah berdiri lagi di belakang pria yang menolongnya.
"Awasss di belakangmu!" teriak Silvia membelalakkan matanya ketika bandit itu hendak menyerang balik pria itu lagi.
Ketika tangan bandit itu melayangkan benda tajamnya, Silvia menutup rapat-rapat matanya. Pria itu hendak menghindar namun terlambat si bandit berhasil menebas sisi lengannya. Darah segar pun merembes keluar dari jaketnya. Silvia yang tadi menutup matanya lekas membuka lagi matanya, sesaat merasakan kedua kakinya tertindih sesuatu yang berat. Matanya kembali terbelalak lebar mendapati pria itu yang pingsan di atas pangkuannya.
"Ya Tuhan!! Kamu tidak apa-apa. Hei bangunlah..." Silvia menggoyangkan tubuhnya, histeris.
"Inilah balasannya karna berani menghajarku. Hahahaha...!" Bandit itu tertawa kencang dan puas karena berhasil melukainya. Namun tak lama terdengar suara orang berdatangan bersama Bibi Sari.
"Itu Pak orangnya!" teriak Bibi Sari, seraya menunjuki wajah si bandit.
Bandit itu sangat panik, dan ingin melarikan diri namun sayangnya ia dalam posisi terpojok dan para warga berhasil ramai-ramai menangkapnya.
"Akhirnya kau tertangkap juga, dasar pencuri!Jadi selama ini kaulah yang sering menggegerkan warga kampung sini, Tono! Ayo ikut kami ke kantor polisi!" perintah Pak RT, bandit yang bernama Tono itu pun berteriak meminta ampun. Tetapi para warga tak ada yang mendengarnya. Mereka malah dengan gemas menghajarnya secara bergantian. Lalu Tono akhirnya di giring oleh masa ke kantor polisi terdekat.
"Non, Non Silvia tidak apa-apa kan?" tanya Bibi Sari yang sedari tadi mencemaskan majikannya itu. Silvia menggeleng cepat, masih dengan raut paniknya.
"Aku baik-baik saja Bi, tapi lelaki ini terluka parah, tolong Bibi panggilkan ambulance sekarang juga!" titah Silvia seraya memberikan ponselnya pada Bibi Sari, yang lekas ART nya itu menghubungi rumah sakit.
Silvia menoleh mendengar rintihan pria yang masih tergeletak di pangkuannya. "Syukurlah kamu sudah sadar? Terimakasih banyak sudah menyelamatkanku tadi. Aku benar-benar berhutang budi padamu... Bertahanlah, sebentar lagi ambulancenya segera datang kemari." ucap Silvia mencemaskan keadaannya.
Mata gelap pria itu menatap lekat pada wajah Silvia. Perlahan ia pun membuka kacamata hitamnya lalu masker yang menutupi sebagian wajahnya. Silvia membulatkan matanya lebar-lebar, saat tahu lelaki itu adalah Andy.
"A-Andy kau?!" pekik Silvia, menahan nafasnya sejenak.
"Andy heh, jangan pingsan dulu! Andyyy!"
...~Flashback on~...
Setelah melihat kondisi Cathrine yang agak membaik pagi itu. Devan berangkat ke perusahaannya. Karena ia tidak bisa sering meninggalkan pekerjaannya. Namun ia berjanji, sepulang dari bekerja ia akan mampir lagi ke apartemen kekasihnya, dan malamnya berniat untuk pulang ke Villa.
Cathrine pun mengantarkan Devan hingga pintu apartemennya, namun ketika ingin menutup pintu apartemennya lagi. Tiba-tiba Andy muncul dan menerobos masuk ke dalam apartemen Cathrine. Wajahnya memerah padam, memberitahukan bahwa ia tak suka dengan apa yang ia lihat barusan.
"Kenapa dia ada di sini? Apa semalaman dia tidur di apartemenmu?" deliknya dengan tatapan memincing tajam.
"Mau apalagi kau kemari, dan apa urusanmu jika memang Devan tidur di apartemenku?" tanya Catherine dengan nada ketus.
"Aku tidak suka melihatnya terus berada di dekatmu, Cath..." tukasnya dengan suara sedikit melembut.
Cathrine menyedekapkan tangannya dan berbalik membelakangi Andy. "Sudah ku katakan berulang kali padamu, hubungan kita ini sudah selesai Andy!" tegasnya.
"Aku masih mencintaimu, sungguh aku mengharapkan jika kita berdua bisa men_!"
"Stop, jangan ucapkan kata-kata itu lagi padaku!" Cathrine berbalik dan menunjuk wajah Andy dengan nyalang, memotong ucapannya. "Aku hanya ingin menikah dengan Devan kau mengerti! Dia itu lebih segala-galanya dari dirimu!" ucapnya, seraya meremehkan Andy.
__ADS_1
"Cathrine kamu jangan gila. Lelaki itu sudah menikahi Silvia. Bukankah kau sendiri yang menceritakan itu padaku kemarin. Sudahlah lupakan dia dan kembalilah padaku..."
"Tidak, aku tidak bisa kembali padamu, impianku hanya menjadi istri satu-satunya Devan! Dan sekarang aku tengah mengandung anaknya." celetuknya keceplosan. Andy membulatkan matanya terkejut.
"Kau hamil? Sejak kapan?" Andy kini mengernyitkan keningnya tak percaya.
"Em, em yaah aku sedang hamil dan aku baru tahu kemarin. Makanya itu aku harus merebut lagi Devan dari Silvia." ucapnya seraya memalingkan wajah gugupnya yang tak ingin di lihati oleh Andy.
Andy menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kencang. Lalu memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana. "Apa kau benar-benar yakin jika di dalam perutmu itu adalah anaknya?" Andy kembali memincingkan matanya, menatap curiga pada Catherine yang terlihat gugup sekali.
"Buat apa kau ingin tahu tentang anakku, itu tidak penting buatmu!" Cathrine membuang muka tak ingin jika gelagat kebohongannya di ketahui oleh Andy.
"Tentu saja itu sangat penting, dan aku harus tahu. Bukankah belum lama ini kita pernah melakukannya tanpa menggunakan pengaman, tak seperti biasa yang pernah kita lakukan di masalalu?" telak Andy dan berhasil membuat wajah Cathrine semakin pias. Ya, dahulu mereka memang sering melakukan hubungan intim itu namun keduanya rajin memakai pengaman karena Cathrine belum siap untuk di nikahi oleh Andy. Tapi saat mereka bertemu kembali, mereka melakukannya dan lupa tak memakai pengaman.
"Ini adalah anak Devan dan bukan anakmu! Jadi pergilah urusi hidupmu sendiri!" sangkalnya lagi yang bersikeras menganggap kehamilannya itu adalah anak kandung Devan bukan Andy.
Entah kenapa sikap Cathrine justru membuat Andy tambah yakin, bahwa Cathrine tengah berusaha menyembunyikan anaknya dalam kandungannya itu.
"Baiklah jika itu maumu Cath! Aku tidak akan memaksamu untuk berterus terang padaku. Tapi aku senang sekali mendengar kabar kalau kau sedang hamil. Memang sebaiknya kau segera menikahi pria itu. Secara langsung ia akan menjamin semua kebutuhan hidup calon anak kita... Ku akui hidupku sekarang memang tidak seperti dulu lagi..." keluh Andy, yang menyadari bahwa saat ini hidupnya tak lagi kaya seperti dulu.
Cathrine terkesiap dan menoleh lagi pada Andy. Matanya terharu menatap Andy. "Apa ucapanmu itu serius? Kau tak akan mengejarku lagi kan?" tanya Cathrine, Andy tersenyum kecut.
"Aku tidak janji soal itu. Karena benih dalam rahimmu adalah anakku. Jadi kita tetap memiliki hubungan yang spesial ini. Dan aku akan membantumu untuk menikahi pria kaya itu secepatnya. Tetapi dengan syarat..." Andy menggantung ucapannya seraya menatap lekat-lekat wajah Cathrine.
"Apa syaratmu?" Cathrine menatap antusias dia sangat senang, karena Andy menawarinya bantuan.
"Kau harus membagi dua harta Pria itu denganku." pinta Andy.
Cathrine sedikit tercengang, namun kemudian ia pun mengangguk menyetujui syaratnya Andy.
"Baiklah, aku setuju dengan syaratmu itu..."
ucap Cathrine yang kini dia tersenyum mendekati Andy.
Andy membalas senyum Cathrine sembari memeluk pinggang rampingnya.
"Oke sayang, sekarang tinggal katakan saja padaku. Dimana Silvia tinggal?" tanya Andy.
...~Flashback of~...
Bersambung....
...****...
Yuk mampir ke cerita temanku, di jamin seru kisahnya 😍
__ADS_1