
...BAB 46...
...Marahnya Papa Indra...
"Foto, foto apa?!" tanya Devan mengernyit heran, yang kini dia sudah berdiri di belakangnya Cathrine.
Sontak Cathrine pun menoleh ke belakang. Matanya melotot dan wajahnya kian memucat.
"Beb, ka-kamu_ Sejak kapan di belakangku?" tanyanya tersenyum gugup. Jantungnya seakan mau lepas dari tempatnya.
"Barusan. Aku mencarimu Cath, kupikir kamu masih di ruang makan. Ku dengar kalian berdua sedang membicarakan foto. Foto apa yang kau kirimkan pada Silvia?" tanya Devan yang masih penasaran dengan perbincangan akhir mereka yang tak sengaja ia dengar sendiri.
Devan pun menatap Cathrine dan Silvia secara bergantian meminta penjelasan pada mereka berdua.
Silvia menarik sudut bibirnya ke atas "Itu foto ka..."
"Ah ituuu... bukan apa-apa kok!" Secepat kilat Cathrine menyela Silvia dan mendekati Devan, mengapit tangannya dengan manja.
"Kami berdua hanya sedang mengobrol biasa kok! Oya Beb, bagaimana sekarang keadaan Mamamu? Apa beliau sudah sadar kembali?" tanyanya yang kini wajahnya berubah sendu, dan mencemaskan Dini untuk mengalihkan pertanyaan Devan padanya.
Mendengar itu, Silvia seketika jadi teringat akan tujuannya tadi. Lantas ia segera mengambil minyak angin di kotak barusan lalu bergegas ke kamar Dini. Melewati Devan dan Cathrine disana dan tanpa menoleh ke arah mereka. Namun tidak dengan Devan, ia terus memperhatikan Silvia dengan tatapan yang nanar.
"Dev, bagaimana dengan Mamamu?" tanya Cathrine lagi seraya menarik wajah Devan untuk melihat ke arahnya, karena sedari tadi ia lihat Devan terus saja memandangi Silvia.
"Em... Mamaku masih belum sadar, Cath..." jawab Devan yang kembali memasang wajah lesunya.
Cathrine menghela nafasnya dalam dan panjang lalu berpura-pura ikut sedih.
"Maafkan aku ya Beb, mungkinkah ini semua gara-garaku..." lirihnya, seraya mengusap air mata buayanya untuk menarik perhatian Devan bahwa dirinya juga sangat memperdulikan kesehatan Dini.
Devan merangkul bahu Cathrine lalu mengajaknya untuk duduk di sofa.
"Tidak, kamu tidak salah. Akulah yang bersalah disini Cath... Seandainya saja saat itu kepalaku tidak merasakan pusing dan aku tidak tidur lagi di apartemenmu. Mungkin saja aku tidak sampai menodaimu malam itu! Dan kamu tidak akan hamil..." tekannya penuh penyesalan.
Devan terduduk lalu meraup dan mengusap kasar wajahnya kembali gusar, bila mengingat kejadian yang sama sekali tidak ia sadari. Sungguh ia merutuki semua kebodohannya sendiri. "Kenapa aku sampai bisa tak sadar telah melakukan itu padamu... Aku benar-benar bodoh sekali!" rutuknya lagi.
"Jadi, kamu menyesal kalau sekarang aku mengandung anakmu?" Cathrine sedikit tersinggung dengan perkataan Devan, karena seolah ia tak menginginkan kehamilannya.
Bukankah Devan bilang kalau dirinya sangat mencintainya. Seharusnya Devan ikut senang karena kehamilannya justru akan mempermudah mereka untuk bersatu dalam pernikahan.
Cathrine merasa saat ini cinta Devan padanya berkurang. Apakah jangan-jangan saat ini Devan mulai mencintai Silvia? pikir Cathrine di hatinya, wajahnya seketika berubah keruh.
Devan sedikit menunduk. Lalu menggeleng dengan pelan.
"Bukan begitu Cath, aku sama sekali tidak menyalahkan kehamilanmu. Hanya saja nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi dan apa yang harus di sesali lagi? Kita hanya tinggal menunggu keputusan dari Mama..." ucapnya lirih. "Semoga dengan ini Mamaku dapat merestui hubungan kita berdua..." harapnya.
Silvia yang sebenarnya belum masuk ke kamar mertuanya, sengaja mendengar pembicaraan mereka lebih dulu di balik dinding ruang terpisah.
__ADS_1
Dahinya mengerut heran, merasa ada yang ganjil dengan perkataan yang di sampaikan oleh mereka berdua padanya. Ucapan Cathrine jelas sekali berbeda dengan ucapan Devan. Cathrine bilang kalau mereka melakukannya dengan saling suka berarti mereka memang melakukannya dalam keadaan sadar. Sementara Devan sendiri mengatakan bahwa ia melakukannya tanpa ia sadari.
Jadi sebenarnya perkataan siapakah yang harus Silvia percaya? Silvia jadi merasa bahwa ada yang tak beres dengan kehamilan Cathrine.
Apakah, Cathrine hanya berpura-pura saja sedang hamil untuk bisa menikah dengan Mas Devan? Silvia bermonolog dalam hatinya.
Sepertinya kecurigaannya terhadap Cathrine semakin besar saja.
Silvia melupakan sejenak masalah itu, lantas ia kembali ke kamar mertuanya. Disana Dini masih memenjamkan matanya. Silvia perlahan duduk di sisinya lalu mengoles minyak angin di bagian pelipis Mertua juga bagian perutnya. Tak lupa ia ulurkan jari telunjuknya di depan hidung Dini. Agar Dini bisa menghirup baunya yang mengandung aromateraphy itu.
Silvia tersenyum lega, setelah melihat Dini mengerutkan dahinya dan perlahan membuka matanya. Dini melihat pada Suaminya dan menantunya yang tengah memperhatikannya dengan wajah cemas.
"Alhamdulillah akhirnya Mama sadar juga..." ucap Silvia bersyukur.
"Silvia, Papa..." panggilnya lirih, lalu Dini mengambil tangan suaminya yang masih betah memijit lengannya.
"Istirahatlah sebentar. Jangan banyak bicara dulu. Biarkan nanti masalah ini Papa yang urus." ucap Indra tersenyum tipis.
Dini menggeleng dengan wajah sedih juga kecewanya jadi satu. Mengusap dadanya yang masih sesak di rasa.
"Mama tak nyangka jika anak itu akan berbuat begitu Pa... Ya Tuhan apa salah hamba selama ini? Padahal tak kurang apapun Mama selalu mendidik Devan dari kecil Pa..." isaknya sesenggukan. Air matanya deras membasahi pipi keriputnya dan lekas ia mengusutnya lagi dengan ujung selimut.
"Sudah Ma, sudah jangan terlalu di pikirkan lagi, nanti malah menambah penyakit. Ini mungkin teguran buat kita berdua, agar kita semakin tawakal dan mendekatkan diri pada Allah..." tanggap Indra seraya mengusap punggung lengan istrinya. Menenangkan hati istrinya agar tak berlarut dengan kekecewaan yang di berikan putra satu-satunya mereka.
"Mungkinkah Mama terlalu keras mengekangnya hingga dia berbuat nekad seperti ini Pa..?! Sekarang dia menghamili wanita lain! Astagfirullah..." Dini terus beristighfar dan menyalahkan dirinya atas perilaku anaknya. Tapi mau tak mau dia memang harus mempertanggungjawabkan perbuatan putranya terhadap Cathrine.
"Iya Pa..." angguk Silvia. Indra pun keluar menemui Devan dan Cathrine.
Lalu Silvia membantu Dini duduk dan memberikannya minum.
"Minum dulu ya Ma, biar perasaan Mama lebih tenang..." tawar Silvia tersenyum lembut. Dini pun mengangguk menuruti apa perkataan menantunya itu.
"Terimakasih sayang..." ucapnya
Setelah minum air. Dini pun beralih menatap Silvia seraya mengusap lembut pipi kirinya.
"Maafkan putra Mama ya, yang belum bisa membahagiakanmu... Kurang apa sebenarnya dirimu ini? Sehingga dia tertarik dengan penyanyi liar seperti Cathrine. Kenapa dia begitu bodohnya, tidak bisa melihat keanggunan dan kebaikan yang ada pada dirimu Silvia..."
Silvia tersenyum sendu mendengar ucapan Dini. Hatinya ikut perih melihat gurat kesedihan pada wajah setengah tuanya Dini.
****
Buugh
Buugh
Buugh
__ADS_1
"Dasar anak tak tahu malu, puas kau sudah buat malu Papa dan Mamamu, hah?!" bentaknya. "Papa kecewa sekali padamu Dev! Apa kata orang jika mendengar berita tentangmu? Selama ini kami sudah mendidikmu dengan cara baik! Tapi apa yang kau berikan sekarang pada kami, hah?! Menghamili wanita lain yang bukan istrimu sendiri! Apa kau tidak pikir-pikir dahulu sebelum melakukan perbuatan gilamu ini hah?!" makinya lagi.
Indra benar-benar tidak bisa mengontrol kemarahannya di ruangan itu, beberapa kali ia memukul putranya untuk meluapkan kekesalannya, yang sejak tadi ia memang tahan-tahan di depan istrinya juga menantunya. Karena khawatir istrinya pun bertambah shock melihat apa yang ia lakukan sekarang terhadap putranya.
Devan terus meminta ampun pada Papanya. Sedang Cathrine menjerit ketakutan, lantas ia pun membantu Devan untuk berdiri dengan keadaan wajahnya yang sudah babak belur karna ulah Papanya.
"Sudah Om, sudah... Jangan pukul lagi Devan. Ini semua salahku!" cegah Cathrine yang sok mencari perhatian mereka.
"Baguslah jika memang menyadarinya, tak seharusnya kau mendekati putraku dulu. Apa kalian tidak sadar dengan perbuatan kalian ini hah? Kalian sudah mencoreng nama baik keluarga ini!" tunjuk Indra pada Cathrine, yang sontak wajah Cathrine memerah padam, merasa tak terima jika ia di salahkan.
Tapi Cathrine pun tak bisa membantahnya. Ia hanya menunduk menyembunyikan rasa kesal dan takutnya kini pada sosok Indra yang ternyata benar-benar sangat keras. Berbeda sekali yang sering ia temui sebelumnya.
"Maafkan Cathrine Om..." ucapnya semakin menunduk takut.
"Cathrine tidak salah apa-apa Pa... Ini semua salahnya Devan. Devan berjanji akan bertanggung jawab padanya..." ujar Devan yang terus saja membela Cathrine.
"Hah, terserah katamu. Tapi jangan harap Papa dan Mama akan merestui pernikahan kalian. Karena bagi kami Silvia lah yang akan tetap menjadi menantu kami satu-satunya dan aku sarankan lebih baik kalian menikah secara agama saja. Huh, buat malu saja!" Indra memincingkan matanya geram. Dia sudah tak peduli lagi dengan keinginan Devan, lantas Indra pun pergi meninggalkan mereka di ruang tengah.
Cathrine tersohok kaku. "Apa itu artinya, Papamu Dev_!"
"Itu artinya Papa hanya ingin kita menikah siri saja. Maafkan aku Cath, lagi-lagi aku tidak bisa memenuhi janjimu..."
Di apartemen....
Cathrine melempar tas brandednya ke atas kasur dengan kasar, setelah beberapa menit lalu ia di antar pulang oleh Devan.
Dia benar-benar marah bagaikan kebakaran jenggot. Ternyata tak semudah itu dia untuk mengambil hati kedua orangtuanya Devan.
"Aaaahhh!!" sekuat tenaga Cathrine berteriak frustasi. Melampiaskan segala amarahnya dengan melempar semua peralatan makeupnya di meja rias miliknya. Hingga benda-benda kecantikan itu pecah berceceran di lantai kamarnya sendiri.
Cathrine terengah-engah dengan nafasnya yang memburu.
Tapi tak lama, Cathrine pun kembali tak menyerah. Ia lekas mengambil ponselnya dan menghubungi lagi Andy.
"Hallo sayang... bagaimana pertemuan dengan calon mertuamu malam ini, bagaimana reaksi mereka setelah tahu kau sedang hamil?" tanya Andy terkekeh nyaring meledeknya, setelah ia mengangkat telepon dari Cathrine.
Saat ini Andy tengah ada di sebuah bar. Menikmati minuman dan rokok seperti biasanya, yang selalu menemani setiap malam kesendiriannya.
Tanpa ia sadari bahwa selalu ada yang mengintai gerak-geriknya dan lagi lelaki itu menyalakan kamera ke arahnya. Merekam semua aktivitas Andy.
Bersambung....
...****...
Haloo ada lagi nih karya temenku yang hampir sama judulnya hehe yuk mampir siapa tau kalian suka... 🥰🥰🥰
__ADS_1