Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Terpaksa Satu Kamar


__ADS_3

...BAB 27...


...Terpaksa Satu Kamar...


"Pagi Ma..." Devan mencium punggung tangan Mamanya dengan takzim, lalu duduk di sofa ber-sebrangan dengan mereka. Devan menunduk dan menautkan kedua tangannya di depan lutut, bersiap untuk mendapat serangan ceramah Mamanya pagi itu. Indra pun sama-sama duduk di sebelah istrinya.


Dini menggeleng kepala menatap putra satu-satunya itu. "Mama kecewa sekali padamu Devan, kalau kau berniat ingin menginap di kantormu. Seharusnya kau ajak Silvia tinggal di rumah Mama dan Papamu. Jangan malah kau tinggalkan seenaknya istrimu itu sendirian disana! Kalau terjadi sesuatu dengan istrimu bagaimana? Harusnya kau memikirkan itu, pentingkan keselamatan istrimu dahulu!" omel Dini seraya mengusap punggung Silvia, dengan nafasnya yang naik turun, beliau kembali meluapkan emosinya yang belum habis itu.


"Tapi kan, ada Bibi Sari juga Ma yang_" kilah Devan.


"Bibi Sari itu siapa Dev?! Dia juga sama-sama perempuan. Udah tua lagi! kalau nggak ada satupun pria dewasa dan kuat yang menjaga mereka. Sama saja, mau satu orang atau dua orang perempuan! Yang namanya perempuan tetap perempuan dan akan kalah di depan penjahat, Devan! Apalagi kaki Silvia yang masih belum sembuh total. Kau tahu, nyaris saja Silvia itu kehilangan nyawanya kalau tak ada yang nolongin dia. Mama benar-benar tidak habis pikir sama kamu, bukannya ngelindungin Silvia ini malah mentingin pekerjaanmu yang bisa saja pekerjaan itu kau bawa ke rumah!" cerocos Dini lagi, menyela ucapan putranya.


"Maaf Ma, Devan salah... Devan benar-benar menyesal..." ucapnya semakin menundukkan kepala. Lebih baik Devan mengakui saja kesalahannya dan cepat-cepat meminta maaf. Agar semua masalahnya selesai, dan Mamanya tak lagi mengomelinya.


"Minta maafnya sama istrimu bukan sama Mama!" timpalnya lagi ketus. Devan mendongak, lantas melirik pada Silvia yang sedang menunduk menahan senyumnya tanpa ekspresi. Dalam pikiran Devan, semakin hari Silvia terlihat semakin besar kepala saja karena kedua orangtuanya yang terus membelanya.


"Maaf, sudah meninggalkanmu sendirian di Villa..." ucapnya sedikit tertahan, yang nyaris suaranya tak terdengar.


"Ha, apa?!" Silvia mengangkat satu alisnya kurang dengar.


Devan berdecak kecil karna tahu Silvia hanya pura-pura saja tak mendengarnya. "Aku minta maaf padamu, karena sudah meninggalkanmu di Villa selama dua malam ini. Aku tak akan mengulanginya lagi..." jelasnya lagi dengan sedikit menekan bicaranya menahan kesal pada Silvia. Lantas Silvia pun tersenyum simpul dan mengangguk.


"Iya aku sudah maafkan, tapi janji ya tak akan keluyuran malam-malam lagi seperti kemarin..." sindirnya seraya memincingkan matanya menatap Devan.


Devan melotot ke arah Silvia, agak panik jika wanita yang terpaksa menjadi istrinya itu akan keceplosan bicara pada orangtuanya. "Aku tidak kelu_" gelagapnya.


"Iya aku tahu kamu sedang ada pekerjaan di kantormu." sela Silvia lagi sambil memiringkan bibirnya. Devan menghembus panjang nafasnya masih gugup. Lalu melirik pada Indra yang juga masih memantaunya, menunggu kejujuran darinya.


"Ya sudah, sekarang kamu ajak Silvia ke kamarmu. Tadi Mama sudah menyuruh pelayan untuk merapikan kamar kalian berdua, dan untuk saat ini hingga seterusnya Istrimu harus tinggal di rumah ini, dan otomatis kamu juga harus turut tinggal disini lagi, Dev!" perintah Dini pada Devan.


Sontak keduanya mendongak terkejut dan saling beradu pandang dengan wajah memias. Pasalnya selama di Villa mereka berdua belum pernah tinggal satu kamar. Dan kali ini terpaksa mereka berdua harus tidur di dalam kamar yang sama.


"Silvia, kamu istirahatlah dulu saja... Nanti Mama panggilkan kalau sarapannya sudah matang." titah Dini lagi tersenyum.


"Iya Mah..." Silvia mengangguk tersenyum. Lalu Dini pun beranjak dari kursi bersama Indra. Berjalan menuju ruangan lain.


Setelah kedua orangtuanya melenggang pergi dari ruang tamu, Devan kembali menatap tajam ke arah Silvia. "Ayo ke atas, kau bisa berdiri sendiri kan?" ketusnya sembari beranjak dari sofa.


Silvia lantas melihat kamar Devan yang berada di lantai atas. Selama di Villa ia hanya tidur di kamar bawah. Malas saja rasanya untuk menaiki tangga apalagi kakinya yang belum sembuh betul. "Nggak di Villa, nggak di rumah orangtuamu... Kamu senang banget ya tidur di lantai dua." celotehnya.

__ADS_1


"Nggak perlu banyak bicara, ikuti saja aku ke atas." Devan melangkah duluan menaiki anak tangga. Sedang Silvia menghela nafasnya kasar dan masih bergeming di tempatnya lalu matanya melirik pada kopernya di samping sofanya duduk.


Devan yang sudah melangkah naik pun kembali membalikkan badannya, melihat Silvia yang masih saja duduk di sofa. "Apa kau masih betah duduk disana?!" ketusnya lagi bertanya.


"Bagaimana caranya aku bisa naik ke atas dengan membawa koper seberat ini?!" sahutnya sambil menunjuk koper miliknya sendiri.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi!" sungut Devan, dan terpaksa ia pun kembali turun menghampiri Silvia. Mengambil koper milik istrinya itu.


"Kau saja yang tidak peka!" gerutunya pelan.


Silvia pun berdiri dan berjalan duluan ke arah tangga. Dengan susah payah dia berjalan ke atas yang masih memakai kruk dengan hati-hati, sambil tangan terus berpegangan pada penyangga tangga. Devan yang tak sabar berjalan menunggu di belakangnya lantas menaruh koper Silvia di pinggir tangga. Lalu sigap memangkunya dari belakang. Silvia yang merasa tubuhnya melayang pun terkejut hingga kruk di pegangannya mau lepas dan terjatuh.


"Dasar menyusahkan saja!" dumelnya pelan.


Silvia menatap tajam pada Devan, pendengarannya masih bagus walau Devan berkata sangat pelan "Apa katamu barusan? Aku menyusahkanmu? Ingat ya, siapa juga yang membuat aku menjadi begini?!" lantangnya dengan suara tak kalah pelan. Khawatir jika pertengkaran mereka akan terdengar oleh Dini dan Indra.


Devan menghembus kasar, lantas menaiki tangga dengan cepat seraya menggendong tubuh Silvia tanpa mendebat lagi perkataan Silvia. Karna memang dialah yang salah dan sudah membuat kakinya tak bisa berjalan baik. Namun itu pun tidak di kesengajaannya.


Setelah sampai di atas, Devan menurunkan lagi Silvia dan kembali ke bawah mengambil kopernya.


"Kamu, tidak bilang-bilang kan soal aku menemui Cathrine?" tanyanya setelah keduanya di dalam kamar dan pintunya di tutup. Devan menahan tangan Silvia yang ingin membuka kopernya di atas kasur.


Silvia mendelik, lalu menepis tangan suaminya dan kembali membuka kopernya tak acuh. "Buat apa aku harus menceritakan hal tak penting itu pada orangtuamu?! Biarkan saja mereka tahu sendiri kelakuanmu!" timpalnya cuek.


Semenjak Silvia mengirimkan foto pernikahannya itu pada Cathrine, semenjak itulah ia selalu menaruh kecurigaan terhadap Silvia. Firasat Devan mengatakan kalau Silvia adalah hatersnya Cathrine.


Silvia lantas tertawa kencang mendengar celotehan Devan yang mengiranya berbohong soal perampok semalam.


"Ya ampun, heh aku tuh nggak kayak kamu ya, tukang bohongin orang! Bilang sama Papamu lagi lembur di kantor, padahal lagi nginep di tempat wanita simpanannya!" sindirnya sambil mencebikkan bibir bawahnya. Devan menelan kasar ludahnya sendiri.


"Bisa saja kan kau juga bohongi kami!" sulut Devan.


"Tanyakan saja pada Bibi Sari jika kau tak percaya padaku. Apakah dia belum cukup bukti untuk jadikan saksi mata?!" Silvia memincingkan matanya, sangat kesal bisa-bisanya Devan menuduhnya me-rekayasa tentang perampokan itu.


"Lalu kenapa kau tak langsung menghubungiku? Dan kenapa kau malah cari perhatian pada orangtuaku?!"


Silvia tertawa sinis, lalu menyedekapkan kedua tangan di dadanya. "Semalam aku sudah menghubungimu hingga lima kali dan kau tahu aku kesal karena kau tak mengangkat teleponnya. Dan terakhir kali yang mengangkatnya adalah wanita simpananmu itu. Kau puas!"


Devan mengerutkan keningnya, lantas ia memeriksa ponselnya tapi tak satupun ada riwayat panggilan dari nomer Silvia. "Kau ingin membohongiku lagi? Jika memang kau menghubungiku semalam, pasti nomermu terpampang di log panggilan tadi malam!" Devan mengarahkan ponselnya ke arah Silvia. Menunjukkan bahwa tak ada panggilannya sama sekali.

__ADS_1


Lantas Silvia membuang muka seraya berdecak sinis. "Dasar wanita simpanan, rupanya simpananmu itu lihai juga ya," desisnya.


"Cathrine bukan wanita simpanan. Dia kekasihku!" tegas Devan tak terima sembari memasukkan lagi ponsel di saku celananya.


"Tapi tetap saja 'kan statusnya itu simpanan kalau tidak di nikahi dan di jadikan istri, lalu apa sebutan yang terbaik untuknya?!" timpal Silvia lagi.


"Hahaha apa kau sedang amnesia Silvia? dia seperti itu, karena gara-gara dirimu! Coba saja dulu kau tidak membongkar pernikahan kita padanya. Mungkin saat ini aku dan Cathrine sudah menikah!" sentak Devan, dadanya kembang kempis tak bisa lagi menahan kesabarannya.


Setelah keduanya puas saling beradu mulut. Silvia pun bungkam menatapi wajah Devan dengan pandangan yang nanar.


"Huh, sekarang kau tidak bisa lagi menjawabku 'kan Silvia?" sinisnya lagi. "Sebaiknya kau menyerah saja dan katakan padaku rencana apa yang sedang kau susun untuk menghancurkan hubungan kami ini?" hunusnya dengan tatapan mengintimidasi.


Silvia yang masih diam terpaku, membuat Devan semakin yakin jika Silvia memang memiliki tujuan tertentu untuk menjadikannya sebagai suaminya.


Dengan mimik yang tenang Silvia hanya mampu berbicara dalam hati.


Iya, aku memang tengah merencanakan sesuatu... Rencana untuk melindungimu dari kebusukan seseorang yang pernah menghancurkan hidupku dulu... batin Silvia. Aku ingin kau menyadari jika wanita itu tidaklah baik untukmu... Devan bukalah mata hatimu. Percayalah padaku...


Ingin rasanya Silvia bilang begitu. Tapi rasanya dia belum siap nyali, khawatir jika Devan akan semakin menyudutkannya, bahwa dirinya hanya mengada-ngada cerita saja. Silvia tak tahu sampai kapan ia akan terus menyembunyikan persoalan ini pada suaminya itu. Silvia menunduk dalam, matanya tiba-tiba saja mengembun. Tetesan air pun akhirnya lolos dan membasahi kedua pipinya.


"A_aku..." gagapnya.


Tok tok tok


Ucap Silvia terputus tatkala suara ketukan pintu terdengar dari luar. Keduanya pun menoleh ke arah pintu kamar.


"Permisi Tuan Devan. Sarapannya sudah siap..." sahut pelayan di rumah itu.


"Iya, sebentar lagi kami menyusul..." seru Devan.


"Baik Tuan..." Setelah pelayan perempuan itu pergi. Devan kembali menatap Silvia.


"Ingat, pembicaraan kita belum selesai. Kita akan lanjutkan lagi setelah sarapan."


"Setelah sarapan aku ingin istirahat." kilah Silvia yang lekas mengambil handuk kecil dari dalam koper lalu berdiri dan masuk ke kamar mandi, untuk menyembunyikan air matanya yang sudah menetes keluar dengan deras.


Bersambung...


...****...

__ADS_1


Yuk sambil nunggu kelanjutannya, boleh nih mampir kemari dulu teman-teman 😘



__ADS_2