Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Melampiaskan Kekesalan


__ADS_3

...BAB 12...


...Melampiaskan Kekesalan...


"Tapi Ma_" bantah Devan lagi. Dia tak mungkin mengabulkan permintaan Mamanya, tersebut. Undangan pernikahannya bersama Cathrine sudah di sebarkan sebulan lalu. Mau di taruh dimana muka Devan jika ia mendadak harus membatalkan pernikahannya. Bukan hanya ratusan orang yang mereka undang tapi nyaris ribuan orang dari kalangan orang petinggi, bahkan Cathrine pun kerap mengundang sesama penyanyi dan artis terkenal agar pamornya semakin melejit.


"Tidak ada tapi-tapian Devan, Mama tidak akan pernah setuju bila kau tetap menikahi wanita itu. Batalkan saja, itu lebih baik untukmu! Sebelum semuanya terlambat!" tegasnya lagi penuh penekanan, seraya menunjuki jari telunjuknya di depan wajah putranya. "Besok putuskan secepatnya. Atau tidak Mama dan Papamu akan tarik kembali seluruh aset perusahaan dan juga lahan pertambangan yang sudah di berikan Papamu satu tahun lalu. Mama tak sudi mempunyai anak pembangkang sepertimu!" ancamnya lagi.


"Mah... Ku mohon jangan begitu... Mama, aku mencintai Cathrine!!" teriak Devan dengan wajah memelasnya seraya menahan lengan Dini. Memohon agar Mamanya tersebut mau mempertimbangkannya lagi, namun Dini segera menepisnya dengan kasar.


"Lepaskan Mama, ingat kau itu jangan serakah Devan! Enak sekali mau menikahi dua wanita. Cukup Silvia saja yang jadi istrimu, mengerti! Sekarang Mama mau pulang. Pak Muklis sudah menunggu Mama dari tadi di depan! Besok pagi-pagi sekali Mama tunggu di rumah. Jika tidak Mama tidak akan pernah menganggapmu lagi anak Mama! Pikirkan itu baik-baik, Dev!" Dini pun berbalik pergi setelah mengatakan ancaman mematikan terhadap putranya. Namun sebelumnya wanita anggun berusia 52 tahun itu memeluk Silvia.


"Mama pergi dulu ya sayang, nanti Mama akan sering mengunjungimu lagi kemari..." ucapnya dengan lembut.


"Iya, terimakasih banyak Ma..." jawab Silvia berbunga-bunga. Devan yang melihat keakraban Silvia dengan Mamanya hanya memalingkan wajah tak sukanya. Dini pun berjalan pergi melewati Devan tanpa menoleh lagi.


Setelah Dini benar-benar pergi dengan mobil pribadinya. Devan pun menoleh ke belakangnya, melihat sosok wanita yang masih betah berdiri di depan pintu Villa. Sedang menatapnya penuh dengan senyuman palsu.


Devan mendengus kasar dengan nafas saling memburu, ia melangkah cepat dan menghampiri Silvia. Lalu mencengkram bahunya Silvia dengan kasar. Bersiap marah.


"Puas! Puas kau sudah hancurkan hidupku Silvia!! Hahh!" semburnya emosi.


"Siapa juga yang ingin menghancurkan hidupmu? Justru aku ingin menyelamatkanmu, apa yang di katakan Mamamu itu benar. Kau jangan serakah Dev, sekarang hanya akulah istrimu." sanggah Silvia.


"Menyelamatkanku?! Hah menyelamatkan dari apa?!" becik Devan, matanya melotot terheran. "Kalau saja kau yang tak memaksaku untuk menikahimu, Silvia. Semua ini tak akan pernah terjadi! Justru ini keburukan buatku!" sungutnya lagi.


"Jika saja kau tidak menabrakku! Aku juga tidak mau menikah denganmu." celetuk Silvia membalas kekesalan Devan. Tak sangka jika pelanggan lelaki yang pernah ia kagumi dulu di toko sepatunya tempat Silvia bekerja, ternyata memiliki watak yang sangat keras.

__ADS_1


"Oh ya?! Lalu kenapa kau begitu antusias menganggap serius pernikahan ini, hmm? Kenapa juga kau repot-repot ingin melayaniku, dan bersikap sok manja ingin aku perhatikan?" telaknya, dan sindiran itu berhasil membuat Silvia bungkam.


"Em, i-itu karna_" Silvia sedikit kelabakan dengan pertanyaan Devan. Lidahnya mendadak kelu, dan tenggorokkannya mulai tercekat. Ia tak mungkin menceritakan masalahnya pada Devan. Silvia rasa itu belum waktunya dia ungkapkan. Silvia hanya ingin Devan mengetahuinya sendiri siapa Cathrine sebenarnya. Devan pun mencebik sinis pada Silvia.


"Huh, apa yang aku katakan barusan benar kan?! Rupanya kau memang sedang merencanakan sesuatu di belakangku Silvia? Ayo lebih baik kau berkata jujur saja padaku!" deliknya mendesak Silvia untuk berterus terang padanya. Silvia melepas tangan Devan dengan kasar, lalu menjauh menghindarinya.


"Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan? Lebih baik aku tidur saja daripada harus mendengar omong kosongmu itu!" elak Silvia yang enggan menjawab pertanyaan Devan.


Sebaik mungkin Silvia harus menyembunyikan rahasia itu dari Devan, sebelum semua terungkap sesuai harapannya sendiri. Saat ini Silvia hanya ingin bermain-main dahulu dengan Cathrine hingga wanita itu benar-benar terlihat menderita di depan matanya sendiri lalu menyesali akan perbuatannya. Barulah Silvia dapat merasakan kepuasan tersendiri dalam hatinya.


Silvia bergegas pergi masuk ke kamar tapi segera di hentikan oleh Devan. Dengan langkah cepat Devan lebih dulu menahan pintu kamar yang ingin di tutup Silvia.


"Kau mau apa?!" teriak Silvia ketakutan, karna kali ini Devan sungguh-sungguh marah kepadanya.


"Katakan padaku dulu, apa tujuanmu menikah denganku?!" tanyanya lagi memaksanya.


"Kalau kau tidak jujur padaku. Maka jangan salahkan jika aku berbuat kasar padamu!" ancamnya dingin. Lalu Devan menutup pintu dan menguncinya rapat setelah Silvia ia gendong.


"Eh, eh kamu mau ngapaiin??!" Silvia panik. Melihat Devan yang bertingkah aneh. Lantas Devan berjalan mendekati ranjang menurunkan tubuh Silvia agak kasar.


"Heeii... Apa yang ingin kamu lakukan padaku? Tidak lihatkah kalau kakiku ini masih sakit!!" rintih Silvia, kesal.


"Itu salahmu karena tak ingin berterus terang padaku! Ayo kita bermain-main dengan sandiwaramu!"


Devan pun lekas membuka pakaiannya dan melemparnya ke sembarang arah di depan Silvia. Memperlihatkan tubuh atletisnya dan dada bidangnya yang lebar, sehingga berhasil membuat mata Silvia membulat sempurna dengan mulut menganga.


"Kau, kau mau apa?" gelagapnya.

__ADS_1


"Bukankah aku suamimu? Bukankah ini yang kau mau Silvia?" ledeknya, perlahan Devan menaikkan satu lututnya ke atas kasur. Silvia pun lekas beringsut menjauhinya tapi dengan cepat kakinya di tahan oleh Devan.


"Heh, kau mau apa? Jangan sentuh aku!" teriak Silvia, mendadak wajahnya jadi ketakutan.


Devan tertawa mengejek. "Hei, bukankah kemarin kau sendiri berani mencium bibirku? Sekarang apa salahnya jika aku duluan yang memintamu?!"


Silvia menggeleng cepat kepalanya. "Jangan macam-macam ya_ Emmh!!" gerak cepat, Devan membungkam mulut Silvia dengan bibirnya.


Rasa sesal di hatinya ia lampiaskan semua pada Silvia. Saat Silvia ingin berontak untuk melepaskan diri, tapi Devan segera menahannya lagi. Mengunci kedua tangan Silvia di atas kasur, tanpa ampun Devan terus mencium paksa dan dalam bibir Silvia, bahkan menggigitnya kencang hingga Silvia mengerang kesakitan.


"Lepaaaskan akuu!!" jeritnya.


****


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Cathrine bergegas pulang setelah menghadiri acara ulangtahun Statsiun TV yang ke 18 tahun. Dan kebetulan dia menjadi bintang tamu acaranya tersebut.


Dia merogoh kartu akses pintu apartemennya. Setelah ia membuka pintu, seketika ia terkejut karna tiba-tiba seseorang menarik tangannya dengan cepat seraya membekap mulutnya, lalu berjalan masuk ke dalam kamar apartemen milik Cathrine.


"Eemmmmh, lepas!" teriak Cathrine yang masih dalam bekapan lelaki yang memakai jaket hitam yang posisi lelaki itu berada di belakang tubuh Cathrine. Setelah mengunci pintu dan melempar Cathrine ke sofa dengan kasar. Barulah lelaki itu membuka topi, kacamata dan juga masker hitamnya.


"Kau!!" pekik Cathrine terperangah. Matanya membulat sempurna.


"Akhirnya aku tahu juga tempat tinggalmu sekarang, Cath!" ucapnya dingin.


Bersambung...


...****...

__ADS_1


__ADS_2