Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Ayo Kita Bercerai


__ADS_3

Sebelum membaca Bab ini... author mau ngasih tahu dulu, ada banyak kalimat atau kata yang author revisi lagi di bab sebelumnya. Banyak kata dan kalimat yang kurang/salah. Karena slalu keganggu sama bocah-bocahku. Jadi kadang nulis juga gak konsen 🥺🤧 mohon maaf atas kekurangan author ya... Semuanya terimakasih banyak yang masih setia baca dan juga menunggu kelanjutan ceritanya 🥰🥰🥰 Semoga tidak bosan untuk selalu menunggu kisah Silvia...


...BAB 54...


...Ayo Kita Bercerai...


"Untuk hari ini dan seterusnya, aku meminta pada kalian berdua, jangan keluar rumah tanpa seijinku lebih dulu..." ucap Devan menatap serius kedua istrinya, di saat tengah-tengah makan malam mereka bertiga.


"Atau lebih baik kalian diam saja di dalam rumah tanpa pergi kemana pun dan tak ada lagi yang boleh bekerja diluar rumah. Karena urusan untuk mencari nafkah adalah tanggunganku sepenuhnya!" lanjutnya lagi dengan tegas. "Kalian berdua mengerti?!"


Silvia dan Cathrine mendongak, menghentikan makan mereka. Menatap Devan dengan perasaan yang tak tentu.


Dalam an-Nisa ayat 34 Allah berfirman, 


"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)."


Dalam surah al-Ahzab ayat 33 Allah berfirman, 


"Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul- Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."


Sebenarnya Devan juga tak ingin mengekang kebebasan kedua istrinya. Hanya saja ia tidak ingin ada sesuatu hal yang buruk terjadi pada mereka berdua terutama pada Silvia, istri pertamanya.


Sebelumnya Dani sudah berpesan padanya untuk selalu menjaganya. Devan khawatir suatu saat Andy dan teman wanitanya akan mencelakai Silvia tanpa sepengetahuannya dan akan lebih aman jika Silvia memang diam di rumah saja. Silvia sendiri bahkan tak tahu soal ini, bahwa dirinya tengah dalam bahaya.


Makanya kenapa, tadi siang Devan begitu sangat marah saat tahu Silvia bekerja diam-diam tanpa meminta ijinnya dan membicarakannya lebih dulu dengannya.


Tak hanya itu saja, Devan juga sudah terlanjur sayang dan cinta mati pada Silvia. Sehingga rasa cemburunya yang begitu besar membuatnya menjadi manusia yang egois. Dan Devan sadar akan hal itu, bahwa dirinya memang bersalah.


Devan telah meminta maaf atas kekasarannya tadi pada Silvia, ia sama sekali tak bermaksud ingin menyakitinya. Tapi ia lakukan demi untuk kebaikan istrinya sendiri.


Selain itu, Devan juga tengah mencurigai Catherine, istri keduanya mungkinkah bermain api di belakangnya. Hanya saja dia belum memergokinya secara langsung. Jika terlihat bukti nyata bahwa Cathrine memang berselingkuh maka Devan pun tak kan segan-segan untuk menceraikannya. Devan tak suka di khianati dan juga di bohongi. Meski dirinya pun telah menduakan cinta Cathrine dengan Silvia.


Memikirkan masalah Cathrine yang tak ada ujungnya, bertambah lagi saat itu melihat Silvia yang tengah asyik berbincang dengan pria lain. Kemarahan yang tadi terpendam pun semakin menjadi-jadi. Makanya, Silvia lah yang menjadi korban pelampiasan atas semua kemarahannya siang tadi.


Devan berharap semoga itu hanya perasaannya saja. Catherine akan menjaga kehormatannya, sebagai istrinya Devan. Karena sebelum mencintai Silvia, Cathrine lah yang ia cinta dan ia puja. Tapi sekarang cinta Devan pada kedua istrinya sama besarnya. Devan pun tak mengerti kenapa dirinya bisa mencintai dua wanita sekaligus? Inginnya dia menjadi pria yang setia pada satu wanita saja. Tapi pada akhirnya dia malah tergoda dengan wanita lainnya. Dan Silvia adalah wanita yang membuat hatinya goyah. Untungnya saat itu Silvia adalah istri sahnya sendiri. Maka halal baginya untuk memiliki semua darinya.


"Apa alasannya kami harus meminta ijinmu dulu, Mas?" protes Cathrine, yang kini wajahnya berubah muram. Cathrine tak terima kalau terus saja di kekang di dalam rumah.


Mendadak ia jadi tak selera makan. Baginya, Devan sudah sangat keterlaluan. Membiarkan istri-istrinya berdiam diri di rumah sebesar ini sepanjang hari. Apa itu tidak akan membuat mereka berdua kejenuhan? Pastinya bagi seorang wanita tipe seperti Cathrine sendiri yang tak pernah biasa untuk melakukan hal yang sudah fitrahnya wanita yang memang seharusnya tinggal di dalam rumah.


"Aku tidak bisa memberitahu alasannya. Aku cuma bilang jika kalian ingin keluar kalian harus minta ijinku dulu. Dan biar nanti supir pribadi saja yang akan mengantarmu pergi-pergian Cath! Kalian sudah paham kan maksudku?!" tegasnya lagi seraya menatap kedua istrinya secara bergantian. "Dan untukmu Silvia, jika ingin pergi. Kau harus pergi bersamaku..." perintahnya yang kini menatap dalam pada mata bulat Silvia.


Cathrine mengernyit marah, wajahnya bertambah muram. Tentunya ini sangat tak adil baginya. Devan menyuruhnya untuk di antarkan oleh supir. Sementara pada Silvia, Devan yang akan mengantarkannya sendiri.


Devan tak mungkin memberi tahu alasannya, walau mungkin Cathrine sudah tahu apa alasan yang sebenarnya.


Kedua orangtuanya tak mau bila semua orang tahu putranya telah menikah lagi, dan terpaksa Devan harus menyembunyikan status istri keduanya demi untuk berbakti kepada orangtuanya. Sementara semua orang sudah tahu jika Silvia memang adalah istrinya.


Di luar sana semua pasti akan bertanya-tanya jika ada yang tahu tentang kehamilan Cathrine makanya itu Devan membatasi Cathrine untuk keluar rumah. Sementara setiap waktu, usia kandungan Catherine akan bertambah, dan otomatis perutnya juga akan semakin terlihat membuncit.


"Oh aku tahu alasannya, kenapa kau melarangku pergi keluar karna kau tak ingin ada orang yang tahu kalau sebenarnya aku juga istrimu, iya kan?!" Cathrine melempar kasar sendok ke atas piringnya, tak terima. Lalu beranjak dan menatap tajam pada suaminya. "Aku benci padamu Mas, padahal sebelum menikah semua orang sudah tahu jika kita berdua ini adalah sepasang kekasih. Seharusnya kau lebih memperdulikan aku. Karena aku sedang hamil anakmu sekarang! Aku yang seharusnya kau pentingkan bukannya dia!" Cathrine menunjuk kasar Silvia yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


Cathrine menggeram kesal, tangannya terkepal kuat, lantas ia pergi keluar halaman belakang rumah. Matanya memerah perih. Hatinya benar-benar sakit di perlakukan seperti itu oleh Devan dan orangtuanya.


"Cath, Cathrineee.... Sayaang!!" teriaknya memanggil. Namun Catherine tak mengindahkan panggilan suaminya.


Devan pun berlari menyusulnya setelah ia memandang Silvia yang hanya diam seribu bahasa.


Silvia menatap getir pada suaminya yang berlari keluar menyusul Cathrine. Silvia pun sudah tahu jika kedua orangtua Devan memang tak ingin jika suaminya itu membocorkan pernikahannya bersama Cathrine.


"Lepaskan aku!" Cathrine memberontak, dan meraung. Melepaskan dirinya dari Devan yang terus membujuknya agar mengerti. "Pergilah, aku benar-benar kesal padamu!!" makinya. "Aku tahu kau tidak benar-benar serius mencintaiku!!"


"Tolonglah mengertilah Cath... Aku juga tidak ingin seperti ini!" teriaknya


Devan menarik tubuh Cathrine dan mendekapnya dengan erat. Buliran air mata membasahi kedua pipinya. "Sekali lagi aku meminta maaf telah membuatmu menderita seperti ini, karena aku yang tak bisa menentang kedua orangtuaku..." Devan pun menangkup dua belah pipi Cathrine lalu menatapnya dalam dan hangat.


"Sejak dulu aku selalu mencintaimu... Jadi jangan berpikiran kalau aku tak serius menikahimu." Devan mendekati wajahnya dan menempelkan kening mereka.


"Maaf-maafkan aku..." lirihnya, lalu perlahan Devan mengecup lembut dan dalam bibir merah istri keduanya. Bibir yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Cathrine pun mendesah dan terhanyut dengan buaian lembut bibir suaminya.


Di balik jendela, Silvia memandang nanar pasangan yang saling bercumbu itu. Terbesit rasa bersalah pun muncul di hatinya. Jika saja dulu dirinya tak memaksa Devan untuk menikahinya. Mungkin mereka tak akan menderita seperti ini.


Silvia benar-benar menyesal. Dendam telah menutupi hati lembutnya. Seharusnya ia menjadi pemaaf dan biarkan Cathrine hidup bahagia bersama Devan. Walau ia juga mencintai Devan tapi tak seharusnya ia merebut kekasih mantan sahabatnya dulu.


...~Flashback on~...


"Bi Tuti, Cathrinenya ada?" Silvia menengok di balik pagar besi, memanggil Bi Tuti yang sedang sibuk menyapu halaman rumah majikannya yang sudah di penuhi oleh dedaunan kering.


Silvia tersenyum lebar lalu memarkirkan motornya di depan halaman rumah sahabatnya dan membuka helmnya. Rambut panjang hitamnya selalu ia ikat ekor kuda. Silvia dulu memang selalu berpenampilan cuek dan santai.


Pembantu rumah tangga itu lekas membuka pagar dan menyilakan Silvia untuk masuk ke dalam rumah. Saat itu tampak jelas raut kesedihan di wajah Bi Tuti.


"Ada apa Bi? Cathrine kenapa lagi?" tanya Silvia yang sudah hafal jika Bibi Tuti menangis maka pasti ada apa-apa dengan Cathrine.


"Non Cathrine ada di dalam kamarnya. Ayo masuk saja Non..." titahnya


Silvia mengangguk dan bergegas ke kamar Cathrine. "Non Cathrine... Ini Non ada Non Silvia.." seru Bi Tuti di balik pintu kamar Cathrine sambil mengetuk-ngetuk pintunya.


Cathrine tak menyahutinya, namun terdengar suara putaran kunci dan tak lama pintu kamarnya terbuka.


Silvia menatap sendu wajah sahabatnya yang sudah kacau, matanya sembab karena terus menangis sepanjang malam.


"Kenapa kamu tak masuk kuliah Cath?" tanya Silvia karena sudah tiga hari ini Cathrine tak masuk. Membuat Silvia jadi mencemaskannya.


Cathrine kembali masuk ke kamarnya dengan langkah lunglai, tanpa menjawab pertanyaan Silvia. Ia kembali berbaring miring menutupi wajahnya dengan bantal membelakangi Silvia yang masih berdiri di samping kasurnya.


Bi Tuti tak ingin mengganggu dua sahabat itu. Ia pun lekas pergi setelah menutup lagi pintu kamar anak majikannya dengan rapat.


"Cath..." Silvia mengusap lembut bahu Cathrine yang terlihat bergetar menahan rasa sakit dan sedih di hatinya.


"Kenapa aku di lahirkan bila akhirnya aku akan di abaikan Sil... Kenapa? Kenapa aku tidak ikut mati saja bersama Mamaku..." lirihnya terisak kencang dan dalam.

__ADS_1


"Kamu jangan berkata begitu Cath, kan masih ada aku yang masih menyayangimu disini..." timpal Silvia pelan.


"Papa tega padaku, dia hanya bisanya bersenang-senang dengan istri barunya. Dia bahkan tak ingat ada aku yang lebih membutuhkan kasih sayang dan juga biayaku untuk kuliah..."


"Cath..." Silvia memeluk Cathrine di belakang tubuhnya, mengecup keningnya dengan sayang.


"Aku mengerti perasaanmu. Kan aku udah bilang kamu tak perlu memikirkan soal itu. Ayahku akan bantu kamu.. Kamu tak perlu memikirkan biaya kuliahmu lagi. Ayahku pasti mengerti..."


"Tapi aku tidak mau terus di bantu olehmu, aku malu sama Ayahmu Sil..." tukasnya.


"Kamu tuh kayak siapa saja sih sama aku?! Kita sudah tiga tahun saling mengenal harusnya kamu sudah tahu sifatku dan Ayahku dong..." ucap Silvia matanya ikut berkaca-kaca sedih. Cathrine menangis terharu lantas ia duduk dan memeluk erat Silvia.


"Silvia terimakasih banyak karena kau selalu ada untukku..." ucapnya lirih.


...~Flashback of~...


Jika mengingat itu lagi. Rasanya hatinya kembali perih. Tak seharusnya ia juga merebut kebahagiaan Cathrine sekarang. Walau memang dulu Cathrine sempat merebut kebahagiaannya.


Silvia mengusap air matanya yang sudah berjatuhan. Lantas ia pun berbalik pergi dari sana.


Sekilas Devan pun melihat sosok bayang Silvia di balik jendela. Lekas ia melepas pagutan bibirnya dari Cathrine.


"Ayo kita masuk ke dalam. Di luar sangat dingin. Aku tidak ingin kamu jadi sakit..." titah Devan mengajak Cathrine masuk ke dalam rumah. Cathrine pun mengangguk setuju.


****


Menangis dan emosi membuat fisik Cathrine menjadi lemah, Devan pun menemani Cathrine hingga terlelap tidur.


Setelah yakin Cathrine tertidur. Devan beranjak dari tempat tidur lalu keluar kamar dengan pelan dan masuk ke kamarnya bersama Silvia.


Devan pikir Silvia juga sudah tertidur namun dia masih terpekur memainkan ponselnya di sofa.


"Kenapa belum tidur juga? ini sudah larut malam." tanya Devan mengernyit heran.


Silvia mendongak, menatap datar wajah suaminya yang tampak kuyu karena banyak pikiran. "Aku belum ngantuk, kau tidur saja duluan?" jawabnya dan kembali memainkan ponselnya dengan acuh.


"Tidurlah Silvia... Jangan membuat aku marah lagi."


"Aku tidak bisa tidur kalau belum ngantuk. Kalau aku membuatmu terganggu. Kenapa kau tak tidur saja di kamarnya Cathrine?" ketusnya.


"Dia kelelahan, kehamilan membuat fisiknya lemah. Aku takut dengkuranku malah akan mengganggunya tidur." alasannya, yang padahal Devan memang ingin tidur bersama Silvia.


Devan pun duduk di samping Silvia dan menunduk resah, sambil mere-mas kedua tangannya di depan lutut.


Silvia mematikan ponselnya dan menggenggamnya di atas pa ha, lantas ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Menatap nanar di depannya.


"Mas Devan. Ayo kita bercerai..." ucapnya dingin. Sontak Devan menoleh terkejut mendengar ucapan Silvia padanya.


Bersambung...


...****...

__ADS_1


__ADS_2