
...BAB 35...
...Titik Awal Hubungan Baik Mereka...
"Yang ada, aku sangat membencinya. Kau tahu?" Silvia menoleh, bola matanya bergerak-gerak menatap lekat pada lelaki yang kini menjadi imamnya tersebut. Devan melihat ada kaca-kaca yang menumpuk keruh di bola mata indah Silvia.
"Dia_adalah orang yang menyebabkan Ayahku meninggal dunia. Dia dan sahabat baikku yang pernah aku sayangi. Mereka berdua tega sekali mengkhianatiku, dan menghancurkan nama baikku. Karena ulah mereka Ayahku mati dalam keadaan membenciku..." lirihnya dengan suara yang bergetar.
Bahunya berguncang kencang menahan rasa sesak di dada. Sungguh, Silvia tak kuat jika terus-menerus memendam kesedihan itu walau memang sudah lama terjadi. Tapi rasa pahit itu masih terasa dalam hidupnya. Tangisnya pecah seketika, membuat Devan seolah ikut merasakan getirnya hidup yang pernah Silvia alami dulu.
Devan tertegun matanya ikut berkaca-kaca, hatinya terenyuh setelah mendengar kepedihan yang di alami Silvia di masalalunya bersama mantannya itu. Lekas ia merogoh sapu tangannya di saku dalam jasnya, karna tak tega melihat air mata Silvia yang terus bercucuran keluar membasahi kedua pipi putih dan mulusnya.
"Pakailah ini..." titahnya, seraya memberikan sapu tangan itu pada Silvia. "Hapus air matamu. Jangan tangisi lagi yang sudah terjadi, dan untuk pria pencundang itu aku yakin suatu saat nanti dia pasti akan mendapat ganjarannya yang setimpal. Jangan pernah sia-siakan hidupmu dengan kesedihan yang hanya akan memperpuruk keadaanmu sendiri, Silvia... Bangkitlah dan minta maaflah pada Tuhan, juga meminta ampunan-lah untuk kedua orangtuamu yang lebih dulu pulang kembali padaNya..."
Devan tersenyum sendu dengan memberi sedikit suntikan semangat untuk Silvia. Sejak pertama kali bertemu dengan Silvia, jujur saja ini adalah pertama kalinya Devan melihatnya menangis tanpa di buat-buat. Itu karena ia seringkali melihat tingkah kekonyolan yang dimiliki Silvia, membuatnya berpikir jika wanita di sampingnya itu tak memiliki masalah yang berat dalam hidupnya. Tapi ternyata dugaannya itu salah besar. Silvia melakukan itu, hanya untuk menutupi semua rasa sedih juga luka yang terus bersemayam di hatinya.
"Terimakasih Mas..." ucapnya lirih, dengan masih mengeluarkan isakan kecil di bibirnya. Silvia lekas menyeka pipinya yang sudah basah itu dengan sapu tangan milik Devan.
"Sebenarnya, darimana kota asalmu?" tanyanya tiba-tiba, lantas Devan pun menutup rapat-rapat matanya untuk sejenak. Ah, malu rasanya ketika ia menanyakan itu pada wanita yang sudah menjadi sah sebagai istrinya.
Sudah hampir empat bulan lamanya hidup satu atap bersama wanita yang kini duduk di sampingnya, tapi satu pun dia belum pernah tahu atau bertanya tentang istrinya tersebut. Di mana kota asalnya lahir? Apakah Silvia masih punya sanak saudara? Devan merasa dirinya bukanlah suami yang baik untuk istrinya. Apa karena mungkin, Devan yang terlalu mementingkan hubungannya bersama Cathrine, sehingga dirinya takut akan kehilangan kekasih yang selama ini ia puja.
Devan lantas membodohi dirinya sendiri di dalam batin sembari mengetuk pelan keningnya dengan kepalan dua jari.
"Tempat kelahiranku di Bogor. Jika kamu ada waktu libur kerja. Maukah kamu temani aku kesana? Aku rindu sekali ingin melihat makam kedua orangtuaku. Juga rumah orangtuaku walau sekarang rumah itu bukan lagi milikku... Aku rindu masa-masa kecilku di sana..." ucap Silvia, yang masih betah menatap sendu ke depan kaca besar, pandangan matanya menerawang jauh ke langit biru nan cerah di pagi menjelang siang itu.
"Bogor?!" Devan mengerutkan keningnya sedikit terkejut.
Silvia mengangguk pelan. "Iya Bogor..." jawabnya lagi.
Bukankah Bogor juga tempat kelahiran Cathrine? gumam Devan dalam hatinya. Kenapa bisa kebetulan begini? Apa jangan-jangan_mereka berdua memang sudah saling mengenal? Ah itu tidak mungkin?! Lagi-lagi banyak praduga aneh yang bermunculan dalam benaknya Devan.
Silvia pun kini menoleh pada suaminya menunggu jawaban dari suaminya.
"Bagaimana, kamu mau kan temani aku ke kota asalku?" pinta Silvia lagi yang kini mata hitamnya menatap lekat wajah Devan yang sedikit menegang.
Devan mengangguk kikuk. "Ah iya iya, akan ku usahakan untuk mencari waktu agar bisa menemanimu kesana..." jawabnya tersenyum tipis.
"Terimakasih banyak Mas, atas pengertian dan perhatianmu padaku..." ucap Silvia dengan senyum yang semakin mengembang.
Devan mengangguk pelan seraya terus berpikir dan bertanya-tanya dalam hatinya, yang kini tatapannya kosong pada lantai ruangan itu. Lalu setengah mencondongkan tubuhnya ke depan, seraya mengepal dua telapak tangan di bawah dagunya dengan sikut yang ia letakkan diatas kedua pahanya.
Aku yakin sekali, saat ini Mas Devan tengah bertanya-tanya dalam pikirannya sendiri. Kenapa aku dan Cathrine bisa berasal dari kota yang sama? Ayo berpikirlah terus Mas, bukalah mata hatimu. Kamu harus tahu siapa Cathrine sebenarnya...? gumam Silvia dalam hatinya, berharap Devan akan tahu sendiri tanpa Silvia ungkapkan lagi.
Devan menghela nafasnya dalam. Lalu melirik jam di dinding ruangannya.
"Em, Silvia... Sepertinya, aku tidak bisa lama menemanimu disini. Setengah jam lagi aku ada meeting penting. Kamu tak apa kan kalau aku tinggalkan untuk beberapa jam lamanya?" tanya Devan sedikit khawatir karna harus meninggalkan istrinya sendirian di ruangan itu.
Silvia mengangguk tak masalah. "Tidak apa-apa. Aku sudah biasa sendiri kok."
__ADS_1
"Ya sudah, tapi ingat kamu jangan pergi kemana-mana! Selesai rapat biar aku saja yang antarkan kamu pulang ke rumah!" perintah Devan, hingga tercetak jelas ada raut kecemasan di wajahnya.
Silvia mengangguk lagi tersipu, tanpa harus ia yang meminta duluan. Tapi Devan sudah mengerti yang ia mau. Baguslah, itu artinya Silvia tak harus lagi di antarkan pulang oleh Andy.
"Oh ya, kalau kamu lapar kamu bisa pesan makanan sama Indri. Dia adalah sekretarisnya Papa disini. Ruangannya di luar pintu ruangan ini. Dia orangnya ramah. Nanti biar aku sampaikan padanya jika kau ingin membutuhkan sesuatu.." pesannya lagi.
Silvia mengulum senyumnya lagi, ini adalah pertama kalinya Devan memberikan perhatian lebih padanya. Mungkinkah ini adalah titik awal hubungan baik mereka.
"Iya Mas, kamu nggak usah khawatir mikirin aku. Ya udah, kamu cepetan pergi ke ruang rapat gih! Nanti ditungguin sama Papa lho disana..." sahut Silvia mengingatkan lagi.
Devan mengangguk ragu lalu beranjak dan mendekati pintu, tangannya meraih handle pintu namun sebelum membukanya, Devan kembali berbalik menatap istrinya.
"Tapi janji ya, kamu tidak akan pergi kemana-mana?!" pesannya, yang kembali mengingatkan. Devan benar-benar khawatir kalau-kalau Silvia akan bertemu lagi dengan Andy tanpa sepengetahuannya.
Silvia mendongakkan kepalanya menatap Devan di depan pintu. Lalu menggeleng kesal.
"Iya janji! Aku akan menunggumu disini hingga rapatmu selesai." sahutnya lagi meyakinkan Devan. Devan menyungging senyumnya tersipu.
"Baiklah aku pergi dulu..." sahutnya lagi. Lalu Devan benar-benar membuka pintu dan keluar dari ruangannya meninggalkan Silvia seorang diri di sana.
Awas saja kalau sampai aku tahu kau kelayapan pergi keluar dan diam-diam menemui pencundang gila itu lagi? Aku akan menghukummu, Silvia. Devan menggerutu gemas di hatinya. Entah kenapa dia tak menyukai jika supir baru itu terus mendekati Silvia.
Devan bergegas menuju ruang rapat. Namun sebelumnya, dia menelepon seseorang yang ia percaya untuk membantunya mencarikan informasi tentang Andy.
"Aku tunggu kabar darimu!" perintahnya dengan tegas.
Lalu menutup lagi sambungan teleponnya seraya menatap sinis pada Andy yang tak jauh darinya. Disana Andy tampak asyik berbincang dengan salah satu karyawan di perusahaan milik Papanya.
"Siang Pak..." ucap Andy, dan Devan hanya memasang wajah datarnya tanpa membalas sapaan Andy.
Setelah Devan masuk lift dan tak terlihat lagi. Andy mendengus dengan kasar.
Mungkin hidupmu sekarang berada di atasku jauh. Tapi kita tidak bisa menebak nasib seseorang di masa depan. Setelah kau menikahi Cathrine, maka aku pasti akan menguras habis semua kekayaanmu sedikit demi sedikit hingga kau tak lagi punya apapun dalam hidupmu, Devan Alvandra....
****
Selang beberapa jam kemudian. Akhirnya rapat pun telah selesai. Devan bergegas ke ruangan tadi menemui istrinya. Bersiap untuk mengajaknya pulang. Namun saat masuk, Ia sedikit terkejut melihat Silvia yang sudah tertidur pulas di sofa yang tadi ia duduki, sambil memeluk ponsel di tangannya di atas perut.
Lantas Devan melihat pada cemilan di atas meja yang sedikit berserakan bekas makan Silvia, lalu merapikan dan menutupnya lagi rapat-rapat bungkusan cemilan itu ke dalam toples kosong.
Setelahnya Devan kembali menatap lamat-lamat pada wajah teduh Silvia. Devan akui, Silvia semakin cantik dengan hijab yang ia pakai. Kontras dengan wajah putih bersihnya. Seperti ada pancaran cahaya yang menyinari wajah alaminya yang tanpa make up itu.
Apakah ini yang disebut bidadarinya di dunia? gumam Devan dalam hatinya. Bibirnya menyungging tipis, sungguh Devan mulai menikmati perubahan Silvia akhir-akhir ini. Anggun dan cantik hanya dua kata itu yang tersemat di hatinya kini untuk sosok Silvia, si gadis tomboy.
Perlahan Devan mengulurkan jari-jarinya ke atas kepala Silvia, untuk membetulkan hijabnya yang sedikit tersingkap hingga memperlihatkan beberapa helai rambut di keningnya. Namun gerakan tangannya malah membuat Silvia terbangun dari tidur. Hingga Devan menarik lagi tangannya dan menyembunyikannya di belakang, dengan tergugup.
"Mas, rapatnya sudah selesai? Kenapa tidak membangunkanku dari tadi?" kesalnya yang lekas duduk seraya membenarkan pakaian dan hijabnya yang sudah tak rapi.
"Em, barusan saja aku mau membangunkanmu. Tapi, kamu sudah bangun duluan..." sangkal Devan, dengan sedikit memalingkan wajahnya yang sudah memerah, malu.
__ADS_1
"Oh, ya sudah kalau gitu ayo kita pulang!" Silvia bergegas mengambil tasnya di meja, lalu memasukkan ponsel yang tadi ia pegang ke dalamnya.
"Iya ayo..." angguk Devan.
Lalu keduanya berdiri dan pergi dari perusahaan itu. Namun sebelum menaiki mobil. Silvia meminta Devan untuk mengantarkannya dulu ke pasar swalayan.
"Cuma sebentar kok, palingan nggak lebih dari dua jam! Lagian kan kamu juga nggak pernah nemenin istrimu ini pergi keluar begini." rengeknya lagi.
Devan menghela nafasnya berat dan panjang, namun pada akhirnya dia mengangguk menuruti ajakan istrinya tersebut.
"Nah, gitu dong..."
Silvia melebarkan senyumnya senang, akhirnya ia dapat merasakan jalan-jalan berduaan bersama Devan walau hanya belanja kebutuhan dapur.
Awalnya mereka berdua terlihat canggung dengan kebersamaan yang tak biasa ini. Tapi lama-kelamaan dengan alaminya mereka dapat menyesuaikan dirinya sendiri. Di sela-sela memilih sayuran dan juga ikan yang hendak di beli, keduanya saling berdebat kecil mempertahankan kesukaan mereka. Tapi pada akhirnya mereka membeli semua yang mereka suka. Tawa dan canda mengiringi setiap langkah mereka. Kecanggungan tadi dan sikap dingin yang dulu mereka miliki kini seakan hilang tak bersisa.
"Silvia..." panggil Devan, setelah mereka berdua selesai berbelanja kebutuhan dapur. Hendak berjalan menghampiri mobil Devan yang terpakir di halaman parkiran.
"Hem?!" Silvia menoleh ke belakang. Menaikkan dua alisnya menatap suaminya.
"Aku_ minta maaf padamu..." ucapnya sedikit terbata-bata.
"Meminta maaf, soal apa?" Silvia mengernyit, tanda tanya.
"Soal~ berandalan yang telah mengganggumu malam itu. Aku menyesali semua perbuatanku. Maaf~ tak seharusnya aku melakukan itu padamu. Kelakuanku memang tak bisa dimaafkan..." Devan menundukkan kepalanya dengan perasaan bersalah dan menghentikan langkahnya di depan Silvia seraya memegang dua kantung besar belanjaan di tangannya dengan erat.
Silvia melebarkan matanya. Lantas ia tersenyum jahil menatap suaminya yang masih tertunduk malu. "Emm... gimana ya? Kalau soal itu sih..." Silvia lantas menyedekapkan kedua tangannya di depan dada, lalu memincingkan kedua matanya seraya berpikir. "Aku akan maafin kamu, asalkan ada syaratnya!" ucapnya dengan tegas.
Devan mengangkat kepalanya sedikit terperangah. "Syarat?! Baiklah apa syaratmu agar kamu mau memaafkanku." tanyanya penuh semangat.
"Syaratnya ada dua." pinta Silvia lagi.
"Apa itu?!" tanya Devan, yang kini wajahnya tampak serius.
"Pertama kamu harus mau dan siap bila aku ingin jalan-jalan dan makan di luar bersamamu..." pintanya.
Devan mengerutkan dahinya, sedikit menimbang-nimbang syarat permintaan Silvia yang pertama. "Oke, tidak masalah. Bukankah kau memang istriku, jadi wajar bila kita keluar rumah berduaan..." angguk Devan sembari menghela nafasnya dalam. "Lalu apa syarat yang kedua?" tanyanya lagi.
"Lalu yang kedua_" Silvia menjeda ucapannya seraya berpikir, kemudian melangkah perlahan mendekati suaminya, yang kini posisi mereka berada di samping mobil pajero milik Devan.
"Yang kedua adalah... Kamu tidak akan pernah menceraikanku..."
Devan pun membelalakkan matanya terkejut dengan permintaan syarat kedua dari Silvia, yang justru itu adalah tujuan utamanya bersama Cathrine yang sempat ia lupakan.
Bersambung...
Akankah Devan memenuhi permintaan syarat yang kedua dari Silvia?
Yuk like dan komen ceritanya... Biar author semangat atuh. Yang udah unfav... Terimakasih banyak atas kunjungannya yang sesaat. Semoga pembaca yang lain tetap setia ya aamiin... ( ╹▽╹ )(≧▽≦)(≧▽≦)(≧▽≦)
__ADS_1
Buat readers ayo yang suka boleh mampir ke cerita ini..