Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Bermain Bilyard Yang Sebenarnya


__ADS_3

...BAB 62...


...Bermain Bilyard Yang Sebenarnya...


Tiga minggu berlalu setelah kasus penculikan Silvia selesai, dan Andy telah di jatuhkan hukuman penjara selama lima belas tahun lamanya. Juga resminya perceraian Devan dan Cathrine. Kini Devan telah kembali menikahi Silvia dan akan menggelar resepsi pernikahan yang sangat mewah nan meriah seperti keinginannya Dini selama ini.


Sebenarnya Devan dan kedua orangtuanya sudah memberikan pilihan untuk memenjarakan Cathrine seperti halnya Andy pada Silvia. Namun Silvia menolak hukuman itu untuk Cathrine, Silvia yakin Cathrine akan jera dan bertaubat dari kesalahannya walaupun tidak harus mendekam di dalam penjara, Silvia tak tega dengan keadaannya yang tengah hamil itu.


"Emm, pantesan aja sebelum Mama ke Malasyia kok tiba-tiba minta ukuran badannya Silvia... Eh ternyata diam-diam Mama udah bikinin gaun pengantin disana." ujar Silvia menyindir Mama Mertuanya.


Dini pun tertawa renyah mendengar celotehan menantunya. "Terkejut kan? Terkejut? Ini suprise untuk kalian berdua tahu!" seru Dini sumringah.


"Ayo berdirilah, sekarang lihatlah dirimu di depan kaca..." Dini membantu Silvia berdiri dengan hati-hati setelah selesai menghiasnya secantik mungkin. Dan menyuruhnya untuk berkaca di depan cermin. Sontak Silvia pun terpana melihat perubahan yang ada pada dirinya.


"Woow, gaunnya pas sekali dan cantik banget dipakai kamu Silvia..." takjub Dini. "Tak sia-sia Mama kesana minta bntuan desainer terkenal."


Silvia tersipu malu. Pipinya bersemu merah. "Masa sih Ma...?!"


"Iya sayang, ngeliat kamu dandan dan pakai gaun pengantin kayak gini. Rasanya Mama jadi kepengen muda lagi!" celetuk Dini tertawa.


Silvia terkekeh geli mendengarnya. "Gak papa Ma... Pakai aja gaun pengantin juga, terus sekalian tuh adain acara anniversary pernikahan Mama dan Papa di sana..." ledek Silvia dan Dini kembali tertawa.


"Bisa saja kamu Sil-Sil! Mama dan Papa udeh tue udah nggak pantes lagi kayak gituan... Oh ya, Mama bahagia sekali kalian sudah rujuk kembali. Tetap disini ya sayang, temani hari-hari tua Mama..." pintanya dengan lembut, Dini menatap dalam menantunya di depan cermin. "Dan beri Mama dan Papa cucu yang banyak dari kalian berdua..." pintanya lagi. Silvia tersenyum tersipu lalu mengangguk lagi.


"Iya Ma, Insha Allah Silvia akan selalu menemani Mama... Dalam suka maupun duka..." ujarnya.


Dini pun mengecup kedua pipi Silvia dan juga keningnya dengan cepat dan sayang. "Ayo cepat, kita sudah terlambat. Papa dan Devan sudah menunggu kita di mobil..."


"Iya Ma..."


Silvia dan Dini pun keluar dari kamar hias, dan berjalan menuju halaman rumah. Bi Sari dan kedua pelayan lain pun sudah bersiap dari tadi, untuk ikut pergi ke acara resepsi pernikahan Silvia dan Devan.


Devan keluar dari mobil Pajero-nya dan menghampiri sang istri lalu meraih tangannya. "Mari Tuan Putri..." ucapnya manis, membuat kedua pipi Silvia bertambah merah merona.


"Apaan sih?! Lebay banget..." gerutunya sambil mengulum senyumnya. Silvia refleks mencubit pelan pinggang Devan yang langsung meringis geli.


Devan bergegas membuka pintu mobil depan dan meminta Silvia untuk duduk di samping kemudinya. Dini dan Indra memakai mobil khusus yang di kendarai oleh Nori sang Asisten. Sementara para asissten rumah tangga bersama mobil yang di kendarai oleh Pak Muklis.


Tiga mobil rombongan pun melaju beriringan keluar dari Rumah Mewah itu. Hingga selang beberapa menit kemudian. Tibalah mereka semua di sebuah hotel berbintang lima.


Disana telah banyak tamu undangan yang hadir di pesta. Bahkan Rafa dan Nana pun sudah berada di sana.


Devan pun turun duluan untuk mengandeng sang istri.


Melihat kedatangan sepasang pengantin, semua berdecak kagum melihat kecantikan Silvia juga ketampanan yang di miliki Devan, di pandangan mereka, keduanya adalah pasangan pengantin yang sangat serasi.


Tanpa disuruh semua bertepuk tangan menyambut kedatangan mereka dengan wajah sumringah seraya mengucapkan selamat dan mendoakan kebahagiaan juga kelanggengan untuk pernikahan mereka berdua. Dan beberapa kameramen sewaan Indra pun telah bersiap merekam moment yang penting itu.

__ADS_1


"Silviaaa..." seru Nana yang tak jauh berdiri bersama para tamu yang lain. Tangannya melambai-lambai ke atas seraya tersenyum lebar memandanginya.


Silvia membalas senyumnya pada teman baiknya itu. Begitupun dengan Rafa yang ikut tersenyum bahagia melihatnya.


"Aku sudah tak sabar menunggu nanti malam..." bisik Devan singkat, di tengah-tengah mereka berjalan menapaki sebuah karpet panjang membentang berwarna merah. Menuju sepasang kursi pelaminan yang berada di depan mereka dengan iringan musik merdu dan juga syahdu.


Silvia menoleh dan memincingkan matanya pada suaminya.


"Memangnya mau ngapain nanti malam?!" tanya Silvia pura-pura bodoh.


"Emm..." Devan tampak berpikir lalu mengerling matanya dengan genit. "Bermain bilyard denganmu di atas ranjang!" celetuknya pelan.


Silvia pun mengerut bingung. "Main bilyard, di atas kasur? Mana bisa?!" ucapnya polos.


Devan pun tersenyum gemas melihat kepolosan sang istri.


"Bisa... Kamu pasti bisa, nanti aku akan ajarin! Aku yakin sekali, nanti kamu bakal ketagihan dengan permainanku..." ujarnya percaya diri.


"Ada-ada aja kamu ini, masa main bilyard di atas kasur..." cicit Silvia sambil menutup mulutnya, terkikik geli.


"Ini bukan sekedar permainan biasa. Nanti kau akan segera tahu..."


Silvia semakin penasaran dengan perkataan Devan. Dia pun jadi tak sabar menunggu hingga malam tiba.


*****


Sementara itu di sebuah Rumah Makan kampung yang tak begitu jauh berada di kota Jakarta. Cathrine terpaksa bekerja menjadi buruh cuci untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Semenjak bercerai dengan Devan dia benar-benar sulit mencari pekerjaan yang cocok untuk ibu hamil sepertinya. Devan hanya memberinya uang lima juta rupiah saja dan itu hanya cukup untuk membayar kontrakan rumahnya selama satu tahun.


"Iya-iya ini juga sudah cepat kok!" kesalnya. Cathrine menghela nafasnya dengan kencang. Menatap kesal pada piring-piring kotor yang tak pernah ada habisnya ia cuci.


Walau Rumah Makan sederhana, tapi ramainya seperti ada di Restoran. Cathrine akui pekerjaan ini adalah pekerjaan terberat dalam hidupnya yang ia tahu. Dari semenjak masih remaja dia memang tak pernah sekalipun melakukan pekerjaan itu. Karena semuanya apa-apa di lakukan oleh pembantu rumah tangganya.


"Jangan bisanya bantah saja kamu. Kalau pengen kerja di sini harus yang gesit dan bersih. Ayo cepat, atau kalau tidak aku pecat saja kamu! Ngapain juga punya anak buah tapi malasnya minta ampun!!"


"Aku bukannya malas bu... Aku ini sedang hamil, ibu harusnya lebih mengerti dengan kondisiku saat ini dong..." timpalnya dengan memasang wajah melasnya, agar si pemilik rumah makan itu iba kepadanya.


"Alaah alasan saja kamu ini. Dulu aku juga hamil nggak malas-malas amat kayak kamu! Rupanya aja yang cantik. Tapi kerjaan rumah aja kok nggak bisa!" umpatnya lagi. Lalu ibu berbadan gemuk itu pergi meninggalkan Cathrine seorang diri di dapur.


"Huuh sampai kapan penderitaanku ini akan berakhir?!" gerutunya semakin kesal dengan nasibnya yang tak pernah berujung bahagia.


Cathrine pun terpaksa mempercepat pekerjaannya, khawatir kalau pemilik Rumah Makan itu akan benar-benar memecatnya. Walau pergelangan tangannya saat ini sudah merasa pegal sekali, seakan mau copot. Tapi untuk bisa bertahan hidup. Cathrine menyampingkan gengsinya lebih dulu.


Setelah empat jam selesai mencuci, akhirnya Cathrine dapat istirahat dan mendapat jatah makan siangnya. Cathrine memasukan makanannya ke dalam mulut dengan lahap sekali, seperti tak makan selama seminggu. Cathrine akui selama kehamilannya ini dia selalu merasakan lapar.


Malam pukul tujuh Cathrine pun pulang setelah di beri upah selama seminggu sekali. Ya, walaupun tak seberapa. Tapi Cathrine bisa membeli kebutuhan dapurnya.


"Uuhh hari ini lelah sekali, apa aku berhenti bekerja saja ya jadi tukang cuci piring..." keluhnya.

__ADS_1


Cathrine pun termangu sendiri di tempat tidurnya yang sangat sempit, lantas ia punya ide untuk menyanyi saja di sebuah diskotik.


"Lebih baik aku menjual suara saja dari pada harus mencuci sepanjang hari. Si*alan tanganku sampai kasar begini! Kuku-ku jugaa yaah... patah-patah semua deh..." keluhnya seraya mengusapi jari dan kuku-kukunya yang sudah rusak.


Untuk menghilangkan kekesalannya, Cathrine pun membuka ponselnya lalu menyelam ke dunia medsos. Merasa bosan karena tinggal sendiri di tempat yang jauh tanpa teman. Cathrine berharap dirinya dapat berkenalan dengan salah satu akun pengusaha kaya di medsos itu.


Namun karena penasaran, Cathrine ingin dulu membuka akun mantan suaminya. Catherine pun melotot, wajahnya berubah muram seketika melihat deretan foto-foto Devan yang tengah bersanding dengan Silvia di atas pelaminan.


*****


Setelah selesai menggosok gigi dan mencuci muka. Silvia bergegas memakai piyama tidurnya. Dia sudah tak sabar sekali dengan janji Devan tadi untuk mengajarkannya bermain bilyard.


Silvia tersenyum mengembang lalu membuka pintu kamar mandi. Di kamar Devan sudah duduk manis di tempat tidur mereka, sambil meneguk jus buahnya.


"Loh, katanya mau main bilyard. Mana bola dan mejanya?" Silvia merenggut dengan memincingkan matanya kesal.


Devan tertawa geli, ternyata Silvia benar-benar menganggap serius perkataannya tadi. Lantas Devan menepuk-nepuk tempat tidur di sampingnya duduk.


"Duduklah, akan kuberitahu padamu, bagaimana bermain bilyard yang sebenarnya..." ujarnya mengerlingkan matanya penuh arti.


Silvia mengerutkan dahinya, perasaannya tiba-tiba saja jadi tak enak. Pelan ia pun memundurkan langkahnya ke belakang.


"Aah emm, tiba-tiba saja aku kok jadi sakit perut ya..." celetuknya menyengir kikuk.


Jantungnya berdegup sangat cepat. Silvia sekarang tahu maksud suaminya itu apa.


"Silviaa... Apa kau tidak mendengar perintah suamimu?!" teriak Devan kesal karena Silvia lagi-lagi kabur mencari alasan.


Silvia buru-buru masuk ke kamar mandi lagi. Tapi dengan gerak cepat Devan turun dari kasur dan berlari mengejarnya. Menahan pintu kamar mandi yang ingin di tutup Silvia.


"Jangan coba-coba kabur lagi dariku yaa..." kesalnya.


"Uuh dasar pembohong!" Silvia mengerucutkan lagi bibirnya kesal. Devan pun terkekeh geli.


"Ayo kita buat baby secepatnya agar Mama dan Papa senang..." Devan menarik pelan tangan Silvia agar keluar lagi dari kamar mandi. Lalu tersenyum lembut memandanginya. Silvia pun terpaksa menuruti.


"Apa kau tidak ingin, ada anak kecil yang menangis dan berlarian mengelilingi kita berdua setiap hari?"


Silvia mengulum senyumnya dengan wajah sudah memerah malu. "Tentu saja aku mau..." angguknya pelan.


"Ya sudah tunggu apalagi... Ayo kita buat baby..." rayunya lagi.


Bersambung....


...****...


Bonus visual Tokoh Silvia dan Devan dulu ya... 😘😘😘 yang lainnya nanti bisa menyusul...

__ADS_1




__ADS_2