Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Kemarahan Cathrine


__ADS_3

...BAB 5...


...Kemarahan Cathrine...


"Sudah cukup-cukup aku kekenyangan!" Devan menyandarkan punggungnya di kursi makan sambil mengusap perutnya sendiri. "Haaah... Bisa-bisa nanti aku tidak bisa jalan sangking perutku penuh!" ocehnya, yang tiba-tiba ia bersendawa nyaring di depan Silvia, sontak wajahnya jadi memerah malu.


Silvia pun tertawa geli melihat ekspresi wajah Devan yang terlihat lucu.


Ya, setelah menghabiskan dua piring nasi goreng buatan Silvia, Devan menyerah karna perutnya sudah tak mampu lagi menampung makanan. Lelaki itu segera berangkat ke kantor dan berpamitan pada Silvia lalu mengucapkan terimakasih banyak atas sarapan yang di buatnya dan Silvia menanggapinya dengan senyuman termanisnya, seolah ia memang bahagia telah bersuamikan Devan.


Di dalam mobil, Devan kembali tersadar bahwa pantangan makan nasi di pagi hari telah ia langgar tanpa sepengetahuan Cathrine. Calon istrinya itu memang protektif sekali bahkan hal-hal yang di sukai Devan sebelumnya pun harus di hindari. Demi menjaga tubuh Devan agar tidak melar lagi. Tadinya Devan ingin mencicipi satu piring saja nasi goreng buatan Silvia, tapi ternyata perutnya masih ingin menambah lagi. Sungguh, masakan Silvia membuatnya ketagihan sampai mulutnya tak ingin berhenti mengunyah.


"Huuuh.." Devan menghembus nafasnya cukup kencang. "Ku akui masakan Silvia benar-benar sangat lezat, kalau begini terus aku bisa gemuk lagi, karena tidak bisa menahan n*fsu makanku sendiri..." keluhnya seraya menggelengkan kepalanya. "Ah sebaiknya nanti aku tolak saja jika dia menawariku makan lagi!" tekadnya bulat sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Devan pun melajukan kendaraan roda empatnya cukup kencang setelah tahu kalau jam kerjanya sudah lumayan telat. Setelah sampai, dia bergegas masuk ke dalam kantor perusahaan miliknya. Sontak ia terkejut karna sekretarisnya memanggilnya dan memberitahukan bahwa Cathrine sudah menunggunya dari tadi di ruangannya.


Devan merogoh ponselnya ia melihat ada panggilan lima kali tak terjawab dari Cathrine. Ternyata nada dering ponsel Devan masih silent dan lupa mengaturnya lagi. Devan bergegas masuk ke ruangannya. Di sana Cathrine sudah berdiri gelisah di dekat meja kerjanya.


"Sayang... Maaf aku baru tahu jika kamu telepon barusan, ponselku ku silent sejak semalam..." sahutnya.


Devan menutup pintu ruangannya dan melangkah cepat menghampiri Cathrine. Saat Devan ingin memeluk calon istrinya itu, Cathrine malah mendorong kasar dada lebar Devan. Menatap kesal pada wajah tampan pria yang empat hari ini akan menjadi suaminya.


"Kenapa, ada apa sayangku?" tanyanya terheran karena Cathrine menolak di peluk.


"Kenapa?!" sentaknya mengulang perkataan Devan dengan nada meninggi, seraya melipat tangan di dadanya. "Aku yang seharusnya tanya sama kamu, kenapa kamu bohongi aku, Dev?!" kesalnya. Cathrine mengepal tangannya kencang, dia sudah tak bisa menahan lagi amarah pada Devan.

__ADS_1


Devan mengerutkan dahinya dengan tatapan tak mengerti. "Bohongi kamu? Bohongi apa? Sejak kapan aku bohongi kamu sayang?!" kilahnya yang belum menyadari jika Cathrine sebenarnya sudah mengetahui pernikahan Devan.


"Jangan bersandiwara lagi di depanku Dev! Aku tahu kalau kamu diam-diam sudah menikah dengan wanita lain, benar kan?!" sembur Cathrine, nafasnya tersengal-sengal berat, sangking kesalnya karna Devan seolah mempermainkan pernikahan yang sudah mereka rencanakan dari dulu.


Devan terbelalak, wajahnya seketika berubah pucat pasi. Ba-bagaimana mungkin Cathrine bisa tahu jika aku sudah menikah? gelagapnya dalam hati.


"Em, sa-sayang a-apa maksudmu?!" tanyanya gugup seraya meraih tangan Cathrine. Namun dengan cepat Cathrine menepisnya lagi.


"Ini! Lihatlah ini! Ini foto-fotomu semua bukan?" Cathrine memperlihatkan foto yang di kirim ke ponselnya tadi malam kepada Devan. Devan kembali terkejut dengan menelan susah payah ludahnya.


Ke-kenapa bisa ada foto pernikahanku dengan Silvia di ponsel Cathrine? Siapa yang mengirimnya? Apakah Silvia sendiri yang melakukannya?? tanyanya di dalam batin, semakin resah. Tetapi itu tidak mungkin, aku kan sudah melarangnya untuk tidak menyebarkan pernikahan ini! Devan semakin tegang, keningnya bercucur keringat dingin.


"Sekarang jelaskan semua ini padaku! Kalau foto-foto pernikahan ini tidak benar 'kan Dev? Jawab aku!!" sentaknya lagi. Cathrine merebut lagi ponselnya di tangan Devan, mendesaknya untuk berkata jujur. Cathrine berharap semua foto-foto itu hanyalah keisengan netizen saja yang menginginkan karir dan nama baiknya turun.


Devan menatap nanar wajah Cathrine lalu kedua tangan kekarnya perlahan menyentuh pundak Cathrine. Dengan sekali tarikan nafas yang dalam dan menghembusnya perlahan, Devan meminta Cathrine untuk duduk dulu dan membicarakannya bersama dengan kepala dingin. Devan memang di lahirkan dari keluarga baik-baik, dan bohong itu adalah perbuatan yang tercela. Sekalipun kita menutupi rapat kebohongan itu, pasti semua akan terungkap juga pada akhirnya entah itu dalam jangka waktu yang lama ataupun dekat. Jadi tak ada salahnya jika Devan berkata jujur dari mulai sekarang, daripada nanti dia harus merasa gelisah terus sepanjang harinya karna menyimpan kebohongan.


"Sekarang sudah lebih tenang kan?" tanya Devan seraya menyelipkan anak rambut Cathrine ke telinganya. Cathrine mengangguk-angguk, hatinya sedikit tenang namun dia masih mengganjal rasa penasaran dengan kebenaran foto-foto itu.


"Ayo jawab Dev, kamu belum menjelaskan foto-foto itu padaku..." desaknya lagi namun suaranya sekarang lebih pelan dan tak setegang tadi.


Devan menunduk perlahan lalu meraih jemari tangan Cathrine. "Tapi kamu harus janji padaku, kamu harus tetap yang tenang ya sayang..." pinta Devan dengan tatapan nanarnya.


Cathrine menghembus kencang nafasnya. Lalu mengangguk sebagai jawaban setuju.


"Sekarang kamu dengarkan apa yang akan aku jelaskan." ujar Devan dengan nada pelan dan terkesan serius. Cathrine pun ikut serius menanggapinya. "Aku, aku memang sudah menikah..." lirihnya

__ADS_1


"Jadi, jadi di foto itu semua benar, Dev??" Cathrine membulatkan matanya sangking tak percaya. Matanya memerah panas.


"Iya, Cath..." angguk Devan nyaris suaranya tak terdengar. Cathrine pun beranjak dari duduk, namun tangannya segera Devan tahan.


"Cath, sayang..."


"Kamu bohongi aku! Aku benci sama kamu, Dev!" kesalnya lagi, yang kini suara Cathrine terdengar bergetar.


Devan memeluk erat tubuh calon istrinya. "Dengarkan aku Cath, ini semua tidak seperti sangkaanmu. Wanita yang aku nikahi adalah orang yang tak sengaja aku tabrak dua minggu lalu. Kamu harus percaya padaku sayang, aku tak berniat mengkhianatimu. Tapi wanita itu sudah tak memiliki siapa-siapa lagi. Maka itu aku mencoba untuk bertanggung jawab padanya, selain itu kakinya juga terluka hingga tak bisa berjalan gara-gara aku..." sesalnya mengakui semua kesalahannya. "Aku minta maaf karna sebelumnya tak merundingkan ini dulu denganmu. Aku hanya takut kalau kamu tidak akan menyetujuinya, aku mohon maafkan aku ya..." ucapnya lagi dengan jantung berdebar. Berharap Cathrine mau memaafkannya, serta merta menerima pernikahannya itu dan tak akan meninggalkan dirinya karna telah lebih dulu menikahi wanita lain.


Cathrine melepas pelukan Devan. "Kau jahat sekali padaku Dev! Harusnya kamu tanya dulu padaku! Sekarang dimana wanita itu tinggal? Apa dia tinggal bersama orangtuamu? Bagaimana tanggapan kedua orangtuamu setelah tahu kamu menikahinya?" cecarnya melontar banyak pertanyaan.


"Papa dan Mamaku juga belum tahu kalau aku sudah menikah dengan wanita itu."


"Apa? Mereka juga belum tahu Dev?!" Cathrine melongo.


Devan mengangguk lesu. "Iya sayang, aku belum siap mengatakannya dengan jujur. Karena awalnya wanita itu memang memaksaku untuk di nikahi. Dan aku pun juga tak punya pilihan lain lagi selain bertanggung jawab yang sudah aku perbuat. Di sisi lain, aku memang kasihan padanya." terang Devan seraya menghela nafasnya panjang, sedikit lega karna sudah berkata jujur pada calon istrinya.


Cathrine mendengus kesal. Memalingkan wajah amarahnya dari Devan. Tangannya mengepal kencang-kencang di atas pahanya, menahan amarah yang sudah memuncak.


Dasar brengsek, tidak tahu malu, berani sekali wanita itu memaksa calon suamiku untuk menikahinya. Aku penasaran sekali seperti apa sih rupanya itu? Rasanya ingin sekali aku menampar wajahnya, atau menarik rambutnya hingga akar-akarnya terlepas dari kepalanya. Sudah jelas-jelas Devan Alvandra adalah calon suami dari Cathrine Angela yang sebentar lagi, namaku akan semakin terkenal di seluruh penjuru dunia. geram Cathrine di hatinya. Dadanya bergejolak panas membara.


Bersambung...


...*****...

__ADS_1


 


__ADS_2