Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Siapa Yang Lebih Dulu Di Campakkan?


__ADS_3

...BAB 8...


...Siapa Yang Lebih Dulu Di Campakkan?...


"Hallo apakabar Cath? Senang bertemu lagi denganmu. Sudah berapa lama ya kita tidak berjumpa?" ucap Silvia, seraya melemparkan senyum manisnya kepada mantan sahabatnya itu.


Silvia yakin sekali saat ini hati Cathrine tengah bergejolak marah. Namun Cathrine tak kuasa untuk meluapkannya, sebab dia tak ingin membuka kedoknya sendiri di hadapan Devan.


Setelah Devan memperkenalkan mereka berdua, lelaki itu pamit pergi ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian dahulu sebelum mereka makan malam bersama, yang Silvia tawari tadi. Devan sangat tergiur dengan sekali melihat beberapa menu makanan yang terhidang cantik di meja makan. Jakunnya naik turun, menelan air ludahnya beberapa kali, dan perutnya tiba-tiba mendadak lapar sekali. Rasanya dia sudah tidak tahan ingin segera menyantap masakan Silvia yang menggoyang lidahnya.


Sekarang kedua wanita yang ada di masalalu itu tengah duduk saling berhadapan, sehingga Silvia dapat melihat jelas wajah si pengkhianat itu di depannya. Cathrine terus melotot tajam dan sinis pada Silvia, hatinya berkecamuk ingin sekali ia memberi perhitungan pada Silvia, tapi dia takut kalau tindakannya akan di ketahui oleh Devan, dan sandiwaranya jadi terbongkar karna Cathrine harus berpura-pura tak mengenal Silvia.


"Apa kau ingin minum, sepertinya kamu sedang kehausan, Cath?" sindir Silvia, yang lalu Silvia meminta Bibi Sari untuk menuangkan air minumnya Cathrine.


Bibi Sari menuruti perintah Silvia, yang lalu meletakkan pelan gelas berisikan cairan bening itu di meja makan dekat Cathrine.


"Silakan di minum dulu Nona Cathrine..." ucap ART sepuh itu.


"Terimakasih Bi, sekarang Bibi boleh pergi dulu. Nanti aku panggil lagi jika perlu." perintah Silvia pada Bibi Sari.


"Baik Non Silvia..." angguknya lalu ART sepuh itu pergi meninggalkan keduanya di meja makan.


Setelah cukup lama di dalam keheningan, mereka kembali saling menatap. Silvia memandangi Cathrine yang hanya terdiam saja. "Minumlah Cath, tenangkan hatimu dulu. Aku yakin saat ini kamu sedang tegang melihat kenyataan ini bukan?!" celetuk Silvia, lalu ia meneguk minumannya duluan, dengan santainya seraya matanya yang terus melirik ke arah Cathrine

__ADS_1


Braak


Cathrine menggebrak meja cukup kencang dan beranjak dari kursinya. Sepertinya dia sudah tak tahan lagi ingin memperingati Silvia, bahwa kehadirannya itu sudah mengganggu hidupnya yang sebentar lagi namanya akan berubah menjadi Nyonya Alvandra.


"Jangan memancing emosiku dasar wanita gila! Aku yakin semua ini pasti sudah kau rencanakan sebelumnya, itu benar kan?!" sentaknya menuduh, dengan suara yang di tekan, seraya menunjuki kasar wajah Silvia dengan telunjuknya.


Dia khawatir jika suaranya akan terdengar oleh pembantu di sana juga Devan. Walau Devan memang berada di kamarnya. Tapi Cathrine tetap harus mawas diri. Untuk menjaga imejnya sebaik mungkin di depan calon suaminya tersebut.


Silvia tertawa sinis. "Rencana apa yang kau maksud itu? Apa aku begitu bodohnya sampai harus mau mencelakakan diriku sendiri di depan mobilnya Devan? begitu maksudmu?!" sanggah Silvia dengan mimik tenangnya. Raut wajah Cathrine sontak bertambah merah padam.


"Dasar licik, aku tahu saat ini kau sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan pernikahanku dengan Devan! Katakan saja jika kau ingin membalas dendam terhadapku, Silvia!" geramnya lagi dengan alis menukik tajam, nafasnya tersengal berat dengan kedua tangan terkepal kencang di atas meja, kulit tangannya memutih sangking kesalnya ia terhadap Silvia.


Silvia lantas menanggapinya dengan senyuman elegan lalu menopang daguku dengan satu tangannya. Memperhatikan setiap inci wajah Cathrine yang ia kuakui, Cathrine semakin cantik dengan penampilannya yang sekarang. Silvia sangat yakin sekali Cathrine sudah banyak menguras harta dari banyak lelaki, buktinya rumahnya dulu sampai di sita oleh Bank, mungkin dia memang sudah kehabisan uang. Maka itu dia nekad merebut Andy dari Silvia. Entah dimana sekarang Andy berada? Apakah Andy sudah di campakkan Cathrine karna akhirnya Cathrine dapat menemukan Pria yang lebih kaya darinya? Silvia mengangkat satu alisnya ke atas, berpikir.


"Apa katamu balas dendam?! Rasanya itu membuatku ingin tertawa kencang." Silvia terkekeh pelan. "Eh ngomong-ngomong kemana calon suamiku dulu, ups maaf maksudku mantan kekasihku yang sudah kau rebut lima tahun lalu?" ralatnya seraya kembali menyindir Cathrine dengan bibir menyeringai.


"Dengarkan aku baik-baik Silvia! Kau jangan bangga dulu, mungkin saat ini kau sedang ada di atas angin. Asal kau tahu saja, Devan menikahimu karna kau yang memaksanya sendiri bukan?! Aku yakin sekali jika Devan tak ada rasa kasihan terhadapmu dia tak akan mungkin menikahimu. Dia hanya mencintaiku seorang. Lihatlah Villa yang kau tempati saat ini. Villa ini sebenarnya adalah milikku, dia sudah katakan padaku kalau dia akan memberikannya untukku nanti setelah kami menikah. Dan sebentar lagi mungkin kau akan di usir olehnya dari sini. Karena dia pernah berjanji padaku hanya akan menjadikanku satu-satunya wanita yang akan menjadi istrinya." Cathrine mengancam Silvia bahwa ia yakin kalau pernikahan mereka hanyalah sementara waktu saja. Bibirnya tersenyum sinis membalas sindiran Silvia.


"Oh ya?!" cebik Silvia dia sama sekali tak takut dengan ancaman Cathrine. "Mari kita buktikan siapa yang lebih dulu di campakkan, aku atau kau?! Aku yakin sekali Tuhan itu Maha Adil... Dia akan menolong hambaNya yang terdzolimi. Aku akan selalu mengingat fitnah yang kau sebar lima tahun lalu, hingga merenggut nyawa Ayahku!" tekan Silvia, matanya memincing tajam pada Cathrine yang tampak sedikit gugup. "Kau tahu sendiri 'kan jika Ayahku itu memiliki penyakit jantung, Cathrine!" ungkapnya lagi membuat Cathrine semakin gelagapan dan mati kutu.


"Huh, apa buktinya kalau aku yang melakukannya? Jadi jangan asal kau menuduhku!" timpal Cathrine menyangkali. Ia tak terima jika di tuduh sebagai penyebab kematian Ayah Silvia.


"Aku tahu itu hanya alibimu saja agar hubunganku dan Andy hancur. Alasan yang sebenarnya Ayahmu bangkrut, dan memiliki banyak hutang di Bank lalu tak sanggup lagi membayarnya, hingga rumah orangtuamu terpaksa harus di sita. Pantas saja saat itu kau berhenti kuliah tanpa memberitahuku, dan tahu-tahu kau menjalin hubungan dengan Andy. Kau begitu licik Cathrine, sampai harus menghalalkan segala cara untuk merebut calon suamiku! Agar kau bisa dengan mudah menguras hartanya!" pekik Silvia, kali itu dia benar-benar membeberkan perbuatan Cathrine di depannya.

__ADS_1


"Cukupp!!" jerit Cathrine. Kedua tangannya menutupi telinga tak ingin lagi mendengar Silvia yang menyudutkannya.


"Ada apa ini?"


Cathrine terperanjat kaget mendengar suara Devan, lalu menoleh kebelakangnya. Ternyata Devan baru saja muncul di ruang makan. Lelaki itu tampak terheran melihat kedua wanita yang duduk di meja makan seperti serius tengah membicarakan sesuatu.


Tenggorokkan Cathrine tercekat, kekhawatirannya semakin menjadi. Dia benar-benar takut jika Devan akan mendengar obrolannya dengan Silvia barusan.


"Cathrine kamu kenapa? Kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Devan terheran.


Cathrine menghela berat nafasnya lalu berdiri perlahan dan tiba-tiba saja dia menjatuhkan dirinya dengan lemas.


"Cath! Ya Tuhan!!" Devan berlari menghampiri tubuh Cathrine yang sudah pingsan di lantai. Menepuk pelan pipinya tapi tak ada reaksi dari Cathrine. Lalu dengan gesit tangan kekar Devan memangku kekasihnya tersebut.


"Ada apa ini sebenarnya? Kau apakan kekasihku, Silvia?" Sebelum Devan membawa Cathrine ke kamarnya untuk di baringkan, dia menoleh pada Silvia yang terlihat biasa saja melihat Cathrine yang mendadak pingsan di depannya.


"Mana ku tahu. Dia tiba-tiba saja pingsan. Aku kan dari tadi duduk di sini!" ketus Silvia, seraya meneruskan makan cemilannya di toples kecil dengan santai.


Devan berdecak kesal karna Silvia seolah menyembunyikan sesuatu darinya. Lalu cepat-cepat dia membawa Cathrine ke kamarnya untuk di baringkan.


"Ada apa denganmu? Ku dengar tadi kamu menjerit sayang?" tanya Devan setelah Cathrine kembali tersadar. Devan mengusap dahi kekasihnya yang terus berkeringat dengan sapu tangan miliknya.


Cathrine menggenggam tangan Devan dengan erat. "Dev..." Cathrine menatap lekat mata Devan dengan tatapan senduny. "Berjanjilah padaku, kau akan segera menikahiku dan menceraikan wanita itu. Aku benar-benar tak sanggup jika harus di duakan olehmu..." lirihnya tersedu.

__ADS_1


Bersambung...


...*****...


__ADS_2