Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Ratu Drama


__ADS_3

...BAB 17...


...Ratu Drama...


Silvia menghela nafasnya beberapa kali, setelah melirik jam di dinding rumah mertuanya agak cemas. Sudah pukul tujuh malam, tetapi Devan juga belum pulang sejak tadi pagi setelah bertengkar dengan Mamanya. Bahkan Devan sama sekali tak memberitahu kemana dia akan pergi.


"Kemana dia? Apa dia masih marah atas keputusan dari Mamanya?" gumam Silvia sambil merenung seorang diri di sofa keluarga. "Ah kenapa aku jadi mikirin dia sih? Masa bodoh dengannya, dia mau pergi kemana kek, ngapain aja kek?! Itu bukan urusanku!" gerutunya sambil mengetuk-ngetuk pelan pelipisnya dengan kepalan tangannya sendiri.


Tak lama Dini pun keluar dari dapur dan menghampiri Silvia.


"Sayang, Silvia!" seru Dini. "Ayo kita makan, makanannya baru saja mateng. Sebelum kamu pulang ke Villa, kita makan dulu bersama ya.." ajaknya.


"Ah, iya Ma! T-tapi jam segini, em... Mas Devan kok belum pulang ya, Ma?" tanyanya terheran. Terpaksa Silvia menyebut nama Devan dengan embel-embel Mas di depan Ibu mertuanya. Demi menghormati sang mertua agar hubungannya dengan Devan terlihat baik-baik saja. Dini mengernyitkan kening dan ikut melirik jam di dinding rumahnya yang lalu menghela nafasnya dengan panjang.


"Biarkan saja jika dia tak ingin pulang. Mama sudah tak peduli lagi dengannya. Kalau kamu nanti ingin pulang ke Villa, nanti biar Pak Muklis saja yang antarkan kamu pulang, Silvia..." ucap Dini tersenyum.


Silvia membalas tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Iya Ma..."


"Kamu jangan mengkhawatirkan dia, Silvia. Mama melakukan ini semua demi kebaikan putra Mama sendiri. Mama hanya tak ingin jika oranglain memanfaatkannya saja. Entah mengapa firasat Mama mengatakan jika Cathrine adalah wanita yang gila harta." resahnya.


"Eh, kenapa Mama bisa berpikir begitu tentang wanita itu?" Silvia pun terkejut dengan perkataan Dini.


"Ah, maaf Mama kok jadi gibahin dia sih?!" Dini mengibas-ngibas tangannya di udara. Untuk menghentikan pembicaraan yang tidak berguna itu. Lantas ia mengalihkan pembicaraannya lagi sambil tertawa. "Sudahlah lupakan saja perkataan Mama tadi. Sudah mau malam, ayo mending kita makan dulu yuk!" ajaknya lagi.


Silvia menggaruk pelipisnya yang sedikit gatal. Sepertinya ada hal yang di sembunyikan dari Dini yang tak ingin Silvia ketahui, yang sebenarnya Silvia juga sudah sangat mencurigai Cathrine sejak lama.


"Iya Ma..." jawab Silvia yang lekas berdiri dengan kruk di tangannya dan Dini dengan cepat membantu memegang tangan Silvia, berjalan menuju ruang makan.

__ADS_1


"Oh ya, Mama dan Papa tadi sempat bicara tentang kamu dan Devan. Jika nanti kamu sudah sembuh dan bisa berjalan lagi... Mama dan Papa akan menggelar resepsi pernikahan kalian berdua di gedung. Karena kemarin kalian menikah secara sembunyi-sembunyi, jadi saatnya semua orang tahu jika kalian sudah menikah." ungkap Dini. Silvia membulatkan matanya berbinar.


"Wah Mama serius nih? Terimakasih banyak ya Mah. Tapi... Apakah tidak apa-apa ya, tidak membicarakannya dulu dengan Mas Devan?" ragunya. Silvia yakin Devan pasti akan menolaknya lagi.


"Anak itu, tak perlu kamu pikirkan. Dari sejak kecil dia pasti akan kalah debat sama Mamanya!" celotehnya, seraya menertawakan putranya yang tak ada di sana. Silvia pun ikut tertawa mendengar gurauan Dini. Ya, terlihat sekali bila Devan sudah berhadapan dengan Mamanya sendiri, pasti dia akan menyerah dan tak mampu lagi berkata-kata.


"Tidak Tante! Aku tidak akan pernah setuju!" tiba-tiba terdengar teriakan kencang dari arah belakang mereka berdua.


Sontak Silvia dan Dini pun berbalik badan, mereka terkejut karena Devan ternyata sudah pulang mengajak serta Catherine dan juga ibunya yang duduk di kursi roda.


Cathrine melangkah cepat menghampiri Dini dengan air mata buayanya. Lalu bersimpuh di kakinya Dini. Kepalanya mendongak ke atas dengan tatapan mengiba. "Kenapa Tante tega sekali sama Cathrine? Tante tahu kalau aku dan Devan saling mencintai dan sudah dua tahun ini kami berpacaran Tan, Tante harusnya menerimaku yang menjadi menantu Tante. Bukan wanita ini yang baru saja Tante kenal!" isaknya. Dia memeluk erat kedua kaki Dini.


Demi masa depannya yang cerah, Cathrine rela merendahkan harga dirinya di depan Dini dan Silvia. Dia akan melakukan apa saja agar Mama Devan luluh padanya dan mau menerimanya, sampai kali itu Cathrine merubah penampilannya dengan memakai gamis berwarna merah cerah juga selendang yang ia pakai untuk menutupi kepalanya. Walau tidak tertutup rapat.


Dini menghela nafasnya dalam lalu beralih menatap tajam pada putranya yang masih berdiri memegangi pegangan kursi roda ibunya Cathrine.


Bu-bukankah itu Bi Tuti? Itu kan pembantu rumah tangganya Cathrine dulu? batinnya. .


Tentu saja Silvia masih ingat, karena semenjak dia dan Cathrine masih kuliah dulu. Dia selalu menyempatkan waktu untuk mampir ke rumah Catherine bila ingin mengerjakan tugas bersama.


Devan dan Cathrine baru saja sampai Jakarta dari Bogor malam itu. Setelah Devan dan Cathrine mengajak seorang wanita tua yang di anggapnya sebagai Ibunya Cathrine


"Devan apa-apaan ini?" gelagap Dini tak sangka jika putranya benar-benar serius mengajak Ibunya Cathrine untuk menemuinya.


"Ma... Sekarang Ibunya Cathrine sudah ada di sini. Seperti permintaan Mama pada Devan tadi pagi, Mama yang akan sampaikan pada beliau. Tapi apakah setelah Mama melihat kondisi beliau seperti apa? Apa Mama masih tetap tak merestui pernikahanku bersama Cathrine? Apa Mama tega membiarkan Ibu Cathrine terluka hatinya, karena putri satu-satunya harus menanggung bebannya sendirian? Devan tulus pada Cathrine Ma, Devan ingin membahagiakan Cathrine dan juga Ibunya..." lirih Devan dengan suara paraunya. Berharap sang Mama akan mempertimbangkan lagi keputusannya untuk membatalkan pernikahannya dengan Cathrine yang sudah di rancang rapi sedemikan rupa.


Dini tampak menghela nafasnya panjang dan dalam. Dia tiba-tiba jadi bimbang seketika melihat sosok Ibunya Cathrine yang sudah renta dengan wajah keriputnya. Rasa prihatin seolah mengetuk hatinya, Dini memang paling tak bisa melihat kesengsaraan orang di depan matanya sendiri. Sungguh ini adalah pilihan yang sulit untuk Dini.

__ADS_1


"Devan, ayo ajak Ibunya Cathrine ke ruang makan. Kita makan bersama dulu. Barulah kita membicarakan ini lagi..." ucap Dini setelah cukup lama ia berpikir, lekas Dini membalikkan tubuhnya, berjalan ke ruang makan duluan.


Devan dan Cathrine saling memandang dari jauh. Mereka melempar senyum penuh harapan. Devan pun dengan senang hati mendorong kursi roda Ibunya Cathrine dan masuk ke ruang makan menyusul Dini.


Cathrine yang masih berdiri di hadapan Silvia pun memiringkan bibirnya. Menatap sinis pada mantan sahabatnya. Lalu berbisik tajam di telinganya Silvia. "Sampai kapan kamu akan terus berpura-pura memainkan peranmu sebagai istrinya Devan, Silvia? Secerdik apapun dirimu, kau tetap tidak akan bisa menyaingiku. Dari dulu, semua lelaki pasti akan takluk padaku hanya dengan melihat kecantikanku saja. Jadi menyerahlah dan jangan pernah berani bertanding melawanku, Silvia Lestari..." tekannya lagi.


Silvia pun tersenyum dengan mimik yang sangat tenang sekali. "Oya? Kita lihat saja siapa yang akan menang, Cath? Devan dan orangtuanya mungkin saja bisa kau tipu serapi mungkin. Tapi aku tidak sama sekali, Cath! Ibumu sudah meninggal dunia dan Ayahmu pergi menikah lagi. Lalu bagaimana bisa pembantu rumah tanggamu menjadi Ibumu? Kau pandai sekali bersandiwara. Kau memang artis yang berbakat, seharusnya kau itu ikut syuting film saja daripada harus casting menjadi seorang penyanyi. Kau lebih cocok di juluki si Ratu Drama, daripada seorang Diva." sindir Silvia membalas senyuman sinis. Cathrine melipatkan tangannya di dada dengan angkuh.


"Ya, sekarang kau baru tahukan bagaimana kemampuanku ini?" ucapnya bangga yang sama sekali tak merasa dirinya bersalah ataupun malu terhadap Silvia.


"Iya dong, makanya itu kenapa aku begitu yakin sekali bahwa video yang kau perlihatkan pada mendiang Ayahku dulu adalah video hasil rekaanmu sendiri. Tebakanku itu tepat kan, Cath?!" lagi Silvia berhasil membuat Cathrine mati kutu.


Entah mengapa wajah Cathrine berubah pucat dan takut bila Silvia menyinggung soal itu.


"Ayahmu meninggal, itu karna kesalahanmu sendiri, dan bukan karna diriku!" sangkalnya. Cathrine pun hendak meninggalkan Silvia. Tapi segera Silvia tahan tangannya dan Cathrine kembali berbalik menatapnya dengan tajam.


"Ingat itu Cath, aku tidak akan pernah memaafkan orang yang sudah menyebabkan Ayahku meninggal dunia! Aku berjanji akan membawa masalah ini ke jalur hukum, bila aku temukan orang yang sudah mencemar nama baikku!" ancam Silvia.


Catherine melepas kasar genggaman tangan Silvia. "Silakan saja, tapi aku pastikan kau tidak punya bukti untuk menuduhku yang melakukannya!" tantang Cathrine. Silvia menatap punggung Cathrine yang sudah berlalu. Nafasnya naik turun, dia benar-benar yakin sekali bahwa itu adalah perbuatan Cathrine.


Bersambung...


...****...


Buat readers yang suka cerita romantis lainnya, sini jangan lupa mampir d karya temanku yaaa... 😍😍😍


__ADS_1


__ADS_2