
...BAB 14...
...Di Pertemukan Lewat Musibah...
Hari ini sebenarnya hari pertama Devan untuk mengambil cuti pernikahannya bersama Cathrine dalam tiga minggu ke depan, tetapi semuanya mendadak jadi kacau gara-gara permintaan sang Mama yang harus membatalkan pernikahannya dengan Cathrine. Padahal acara akan di langsungkan dua hari lagi. Devan sangat bingung, apa yang harus ia jelaskan nantinya pada Cathrine? Bahwa semuanya atas permintaan Mamanya sendiri. Kalau Devan tetap bersikeras menikahi Cathrine maka dia tidak akan di anggap lagi sebagai putra satu-satunya keluarga Alvandra, sekaligus seluruh aset perusahaan yang sudah jatuh atas namanya setahun lalu akan di tarik kembali oleh mereka. Cathrine pasti akan bertambah shock berkali-kali lipat dari pertama kali saat tahu Devan menikahi Silvia.
Pagi-pagi sekali Devan sudah di kamar mandi. Lelaki frustasi itu mengacak-ngacak kasar rambut basahnya di bawah kucuran air dingin dengan perasaan yang masih gusar. Semalam suntuk itu dia tak bisa tidur karna terus memikirkan nasib Cathrine, bertambah lagi tingkah Silvia yang membuatnya naik darah. Gara-gara tendangan bringasnya itu, benda pusakanya harus merasakan cenat-cenut linu yang luar biasa.
Bukan karena itu saja, Devan juga memikirkan sikap Mamanya yang tak pernah mau mengerti dirinya, juga tak mau memberinya kesempatan untuk menikahi Cathrine.
...~Flashback on~...
Setelah hari jadi hubungannya bersama Cathrine setahun lalu, dengan hati yang gembira Devan memberanikan diri membawa sang kekasih di hadapan kedua orangtuanya. Nyaris dua tahun lamanya Dini dan Indra selalu menanyakan dirinya kapan untuk menikah? Dan kapan Devan akan membawakan calon menantu untuk mereka? Karena sudah dua-tiga kali Devan selalu menolak di jodohkan dengan putri-putri dari sahabat terbaiknya Dini dan juga Indra, sebab tak ada satu pun dari wanita-wanita itu yang menarik di hatinya Devan. Itu karna Devan masih berharap pada seorang perempuan di masalalunya.
Semasa ia duduk di bangku SMA dulu. Devan begitu sangat mengagumi sosok Cathrine Angela. Sang primadona kelas di sekolah elit mereka.
Bagaikan pungguk merindukan bulan. Devan akhirnya di pertemukan lagi dengan cinta pertamanya di saat acara perayaan ulangtahun temannya di sebuah club malam. Dengan hati yang berdebar-debar kencang Devan pun memberanikan diri untuk mendekati Cathrine dan mengajaknya bicara. Awalnya Cathrine sangat terkejut karena dia sempat tak mengenali Devan. Lelaki yang dulu sering mendapatkan bullyan nyaris oleh beberapa siswa di sekolah mereka untuk di jadikan bahan tertawaan. Karena sifat kekanakkannya dan juga postur tubuhnya yang sangat gemuk.
"Kau, kau Devan yang gendut itu? Ups i'am sorry, aku tidak mengenalimu Dev... Kamu tampan sekali. Sumpah, kamu berubah!" Cathrine ternganga, lantas ia membekap mulutnya sendiri. Tak percaya dengan sosok lelaki tampan yang sedang mengajaknya bicara itu. Ternyata dia adalah teman satu sekolahnya dulu, yang selalu mengejar-ngejar dirinya. Namun Cathrine selalu tak pernah menganggapnya bahkan pernah selalu ikut menertawakan Devan seperti anak-anak lain.
Devan mengangguk kecil dengan senyuman tipis di bibirnya. Ya, Devan sangat mengakuinya dulu, bahwa dirinya memang bukanlah lelaki yang menarik. Sehingga Cathrine pernah terang-terangan menolak cinta Devan karena bentuk fisiknya. Pantaslah jika Cathrine memang tak menginginkannya.
Tetapi tak sangka setelah beberapa hari pertemuannya itu, Devan terkejut dengan perkataan Cathrine bahwa ia sangat menyukainya dan berharap Devan mau menjadi pasangan hidupnya.
Hati Devan sangat berbunga-bunga kala itu. Dia bahagia sekali karna akhirnya cintanya di terima Cathrine walau itu butuh waktu yang sangat lama, tetapi cinta Devan pada Cathrine tidak berubah.
"Dia pacarmu Dev?" kata Dini saat itu. Matanya mendelik sedikit tak suka dengan penampilan Cathrine yang memakai pakaian terbuka. Membuatnya risih sekali untuk melihatnya. Sangat jauh sekali dengan penampilan Dini yang tertutup dengan hijab.
"Iya Ma, Catherine ini seorang penyanyi baru. Dia sebenarnya teman sekelas Devan saat SMA dulu..." ungkap Devan dengan senyuman lebar dia menerangkannya terhadap kedua orangtuanya. "Dan Devan, sangat mencintainya... Devan ingin Catherine menjadi istri Devan..." ucapnya kala itu.
"Hallo Tante Om... senang bisa berkenalan dengan Om dan juga Tante..." ucap Cathrine sumringah seraya mengecup pipi kanan kiri Dini dan di saat ingin melakukannya pada Indra. Dini buru-buru mencubit pinggang suaminya agar menolaknya.
__ADS_1
Setelah di pertemukan dengan wanita pilihan putranya. Jujur, Dini tak menyetujuinya lalu meminta Devan agar berpikir ulang untuk menikahi Cathrine.
"Pikir-pikir dulu dong Dev kalau nyari bini, masa calon istri pakaiannya buka-bukaan kayak gitu? Mau di taruh dimana muka Mama dan Papamu ini, hmm?!" berang Dini seraya menyilang tangannya di atas dada dengan nafas naik-turun. Ia berjalan sambil mondar-mandir di depan suami dan putranya yang tengah duduk di sofa ruang keluarga.
"Tolong Mama jangan melihat penampilannya. Cathrine itu baik Ma.. Devan yakin setelah Catherine menjadi istri Devan. Dia akan merubah penampilannya. Saat ini Cathrine begitu, karena masih terikat dengan pekerjaannya sebagai seorang artis penyanyi. Jadi wajarlah pakaiannya begitu Ma karena memang harus serasi dengan pekerjaannya..." jelas Devan.
"Alaah Mama pokoknya tidak mau tahu, walau gak berhijab pun yang penting pakaiannya itu sopan. Mama masih bisa mentolerirnya. Nah ini, udah wajahnya menor pakai make-up terusan pakaiannya kurang bahan lagi! Aduuh gak kebayang dia bakal jadi menantunya Mama. Malu-maluin saja!" racau Dini menggeleng-geleng cepat seraya mere-mas sisi kepalanya.
"Mama yakin sekali, kalau dia itu nggak bisa ngapa-ngapain, yang bisa hanyalah dandan dan ngabisin duit aja! Kelihatan banget dari orangnya, kalau dia itu suka kamu karena melihat kamu yang sekarang! Seorang Pria pemilik perusahaan terbesar di kota ini."
Devan menghembus nafasnya panjang. Dia tak bisa lagi untuk mendebat perkataan Mamanya, yang bisa ia lakukan hanyalah sebuah pembuktian. Bahwa Catherine tidak seperti yang selalu Mama sangkakan. Devan yakin dengan pilihannya. Jika Catherine pasti akan lebih penurut bila menjadi istrinya kelak.
...~Flashback of~...
Tetapi sekarang perjuangan cintanya untuk Cathrine seolah sia-sia saja, setelah ia di pertemukan dengan Silvia lewat musibah. Devan harus berlapang dada menerimanya karena kecelakaan yang menimpa Silvia memang adalah murni dari kesalahannya sendiri.
Devan bergegas turun ke lantai bawah setelah selesai memakai pakaiannya. Pagi itu dia sudah di tunggu oleh Papa dan Mamanya di rumah mereka. Untuk membicarakan soal pembatalan pernikahan mereka.
Devan berjalan cepat hendak keluar Villanya setelah mengambil.kunci mobil, tapi langkahnya terhenti setelah ujung matanya melirik Silvia di dekat meja makan. Wanita yang berwajah tanpa dosa itu tengah sibuk menata sarapannya di atas meja. Terkadang Devan terheran terhadap wanita yang telah sah menjadi istrinya tersebut. Kenapa Silvia selalu menyuguhkan makanan yang enak-enak sementara dirinya tak pernah memberikan uang sepeserpun pada Silvia.
Lantas Devan pun bertanya-tanya sendiri dalam pikirannya. Hingga dia tak menyadari jika Silvia tengah memperhatikannya dari tadi. Perlahan Silvia mendekati Devan yang tengah melamun lalu meniup kencang di telinganya.
"Fuuuuhhh!!"
Devan terperanjat kaget, Silvia pun tertawa geli di buatnya. "Heh pagi-pagi udah melamun aja! Dasar!" ledeknya terkekeh renyah.
Devan mengusap kasar telinganya, wajahnya memerah kesal terhadap Silvia. "Kau selalu saja menggangguku!" cebiknya dengan ketus.
"Yee... Siapa juga yang mengganggumu? Aku hanya ingin mengingatkanmu saja, kalau ini waktunya sarapan bukan untuk melamun. Ayo kita makan, aku sudah siapkan makanan kesukaanmu lagi!" ujarnya dengan wajah yang sumringah.
Karena hari ini adalah hari kebahagiaan bagi Silvia, sebab sebentar lagi Devan akan memutuskan untuk membatalkan pernikahannya bersama Cathrine. Tetapi sebaliknya justru ini adalah hari terberat dan tersulit bagi Devan sendiri. Sekuat hati dia mempertahankan Cathrine namun jika dia tidak ditakdirkan berjodoh dengan Cathrine maka Tuhan tidak akan menyatukan mereka berdua.
__ADS_1
Devan menghela nafasnya berat dan panjang seraya menutup kedua matanya dengan rapat.
"Yang sabar ya... Aku yakin sekali jika pilihan Mamamu itu adalah pilihan yang terbaik!" celoteh Silvia yang semakin membuat Devan menggertakkan giginya jengkel.
"Cerewet!" ketus Devan yang malas mendengar perkataan Silvia, yang lalu ia berjalan melewati Silvia. Mengedari setiap pandangannya pada beberapa makanan di atas meja makan. "Oh ya aku mau tanya padamu, darimana kau mendapatkan uang untuk membeli banyak bahan makanan sehingga kau bisa memasak makanan enak-enak setiap hari?" alihnya bertanya seraya mengerutkan keningnya curiga.
Silvia tersenyum menyungging. "Kau ingin tahu?" tanyanya.
"Tentu saja aku khawatir. Jangan-jangan kau menjual barang-barang yang ada di Villaku?" tuduhnya.
"Enak aja, aku tak sehina itu, tahu! Aku punya tabunganku sendiri. Bahkan uangku itu cukup untuk menghidupiku selama sepuluh tahun lamanya." imbuh Silvia
"Kau, punya uang darimana? Bukankah kau sudah tak lagi bekerja?"
"Aku kan pernah katakan padamu, bahwa aku hidup sebatang kara. Namun aku masih menyimpan banyak uang hasil menjual rumah orangtuaku di Bogor. Aku memang sengaja tak memakainya karena dulu aku punya keinginan untuk membeli rumah yang ku impikan. Tetapi karena kau sudah membawaku tinggal di Villa yang indah dan mewah ini, ya aku ikhlas deh memakai uang itu untuk kita makan sehari-hari, anggap saja kalau aku sedang mencicil Villa ini padamu." jelasnya panjang lebar dengan senyuman lebar.
"Enak saja, Villa ini milik Cathrine bukan untukmu! Aku akan memberikannya setelah kami menikah! Jelas!" sungut Devan tak terima. Lima tahun Villa ini dia bangun dengan penuh kebanggaan, Devan berjanji pada dirinya sendiri kelak ia akan memberikannya pada wanita yang di cintainya.
"Haha, tapi nyatanya kan aku duluan yang tinggal di sini?!" ledek Silvia. "Dan belum tentu dia dapat menempatinya." lanjutnya diiringi tawa yang puas.
"Hah, dasar wanita licik!" cebiknya.
Silvia mengangkat kedua bahunya tak acuh. Lalu ia duduk di kursi dan bersiap mengambil nasi untuk dirinya sarapan. "Ayo sarapan, mumpung masih panas, humm ini baunya enak looh..." ajak Silvia lagi pada Devan, menggodanya.
Devan hanya mendengus kasar, tapi pada akhirnya dia pun ikut duduk dan makan bersama Silvia. Selang di tengah keduanya makan. Suara dering ponsel milik Devan pun berbunyi.
Devan lekas mengangkat teleponnya karena itu panggilan dari Mamanya. "Iya Ma, Devan lagi sarapan dulu. Sebentar lagi ke rumah Mama." sahutnya.
[........]
"Apa, mengajak Silvia?! Uhuk-uhukk!" Devan terbatuk lantas membelalakan matanya, menatap Silvia di depannya. Silvia yang menatapnya pun ikut terkejut dan menghentikan makannya.
__ADS_1
Bersambung....
...*****...