
...BAB 20...
...Kehadirannya Sedikit Menghibur...
Tiga minggu berlalu setelah pembatalan pernikahan itu. Sikap Devan berubah lebih dingin dan acuh pada Silvia. Bahkan dia tak lagi tertarik dengan makanan yang selalu Silvia suguhkan di meja makan. Biasanya Devan akan langsung tergiur dengan sekali mencium aroma masakan Silvia saja, dan Devan akui masakan Silvia tak kalah enak dari makanan-makanan di restoran. Namun sekarang Devan tak lagi berselera pasca putus hubungannya dengan Cathrine. Setelah kedua orangtuanya Devan, terlebih Dini Mamanya melarangnya untuk tak lagi menemui atau berhubungan lagi dengan Cathrine karna mereka bukanlah mahram. Dan demi untuk menjaga nama baik keluarga sekaligus perasaannya Silvia, sebagai istri sahnya Devan.
"Kamu tidak sarapan dulu?" tanya Silvia ketika Devan masuk ke dapur menuangkan air minumnya di gelas. Silvia yang saat itu tengah mencuci peralatan masak, menoleh terkejut melihat Devan yang mengambil air minumnya sendiri.
Hari itu Devan kembali bekerja, setelah dua minggu lamanya ia meliburkan dirinya ke Paris. Untuk menenangkan hati juga pikirannya yang tengah kalut karena tak jadi menikahi sang kekasih. Dan dua hari lalu ia baru saja kembali pulang ke Indonesia.
Devan mendelik sinis ke arah Silvia, lalu melengos pergi tanpa membalas sepatah katapun padanya setelah meneguk habis minumannya. Silvia menghembus nafasnya kasar dan menghentikan aktivitasnya. Lalu berjalan mengikuti Devan yang hendak keluar Villa setelah menghabiskan minumnya.
"Sampai kapan kamu akan bersikap dingin padaku? Apa kamu masih ingin menyalahkanku atas semua ini? Dengar ya, aku sama sekali tak pernah memaksa Mamamu untuk memutuskan hubunganmu dengan kekasihmu itu!" ucapnya seraya berjalan mengimbangi Devan. Silvia berusaha sabar dengan sikap Devan padanya akhir-akhir ini. "Ayolah, makanlah dulu sarapanmu sebelum berangkat. Aku sudah buatkan tumis udang pedas manis dan opor ayam kesukaanmu. Kata Bibi Sari itu adalah makanan terfavoritmu, ya 'kan!" tawar Silvia lagi dengan senyuman tulus di bibirnya. Mesti Devan begitu, tapi Silvia tetap akan berjuang membuat Devan jatuh hati padanya, dan melupakan Cathrine
Devan pun berbalik, menatap dengan pandangan sinis pada Silvia.
"Berapa kali harus ku katakan padamu, berhentilah menawariku makan, Silvia! Mau sebaik apapun dirimu memperlakukanku. Aku tidak akan pernah tertarik padamu!" ketusnya. Lalu menatap tajam pada Silvia, bola mata gelapnya bergerak-gerak memadai wajah sok polosnya itu sembari menunjukkan jari telunjuknya di depan Silvia. "Dan satu lagi yang harus kau ingat! Pernikahan kita hanyalah sementara saja. Setelah kakimu benar-benar sembuh. Kita akan bercerai. Ku harap, nanti kau tidak mengganggu hidup dan ketenanganku lagi." ucap Devan, mengingatkannya lagi.
Ya, sehari sebelum keberangkatan Devan ke Paris. Cathrine memaksa Devan agar menceraikan Silvia secepatnya, tetapi Devan meminta waktu hingga kaki Silvia benar-benar sembuh kembali. Agar dia merasa tenang kalau seandainya nanti Devan benar-benar akan menceraikannya. Lama berpikir akhirnya Cathrine pun setuju dengan saran Devan, dan dia akan bersabar menunggu itu terjadi. Menunggu hingga waktunya tiba, mantan sahabatnya itu di campakkan lagi.
"Dan sudah ku katakan berapa kali, aku juga tidak mau bercerai denganmu!" lantang Silvia. Menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menatap serius wajah Devan di depannya. Devan pun membeliakkan matanya, terkejut.
"Pernikahan bukanlah main-main... Agama melarang kita sebagai suami-istri bercerai tanpa alasan yang di benarkan! Aku ikhlas berbakti dan melayanimu setiap hari. Mesti aku ini sedang sakit..." ucap Silvia lagi dengan suara lirihnya.
Akhirnya Silvia berani berterus terang juga, setelah lama ia harus menutupi gengsinya. Ini adalah kedua kali dalam hidupnya, Silvia mengungkapkan perasaannya lebih dulu pada seorang Pria. Dan Devan adalah Pria keduanya yang ia cintai setelah Andy. Silvia berharap Devan adalah Pria terakhir yang singgah di hatinya dan selamanya menjadi suaminya. Walaupun Silvia tahu, Devan tidak lah mencintainya. Tapi Silvia akan terus berjuang hingga Devan mencintainya.
Devan sesaat terpaku, menatap lamat-lamat wajah Silvia yang kini menundukkan kepalanya. Pipi mulusnya terlihat memerah, setelah mengucapkan itu pada Devan. Lantas Devan mendengus dengan sinis. Lalu tertawa terbahak-bahak, menganggap semua perkataan Silvia hanyalah lelucon belaka.
"Hahaha, kau mencoba untuk menipuku lagi dengan kata-katamu itu?" ledeknya tak percaya yang semua Silvia katakan. Devan menyedekapkan kedua tangan di dadanya, seraya menertawai wanita yang pura-pura polos itu.
Silvia mendongak, lalu menggelengkan kepala. "Aku tidak lagi menipumu, aku sungguh-sungguh ingin menjadi istrimu... Kalau tidak, ngapain juga aku memintamu untuk menikahiku!" ungkapnya serius. Silvia ingin meraih tangan Devan, namun Devan segera menepisnya lagi.
__ADS_1
"Jangan mencandaiku lagi, Silvi! Kita tidak saling mencintai. Dan kau harus sadar itu, bahwa aku hanya mencintai kekasihku!" tegasnya. "Dari dulu Cathrine lah yang ingin aku nikahi, dia belahan jiwaku... Sedangkan kau!" Devan kembali menunjukinya wajah Silvia dengan tegas. "Kau hanyalah wanita asing yang baru saja ku kenal." tekannya lagi. Silvia lantas mengambil telunjuk Devan, dan menggenggamnya erat dengan telapak tangannya.
"Kita sudah sering bertemu, kau saja yang tidak menyadarinya. Bahkan aku lebih dulu bertemu dengan Mamamu sebelum kamu. Berarti kita ini bukan orang asing lagi 'kan?! Apa kau tidak merasa kalau Tuhan mempertemukan kita dengan cara ini? Itu artinya kita berdua memang di takdirkan berjodoh..." ucap Silvia tersenyum yakin pada dirinya.
Sejenak Devan terdiam lalu tak lama ia terkikik kecil, menahan tawanya.
"Aku yakin itu hanya sebuah kebetulan." ledek Devan. "Apa jangan-jangan kau saja yang memang sedang mengejar-ngejarku?" memincingkan matanya, kini menatap mencurigai.
Silvia membulatkan matanya, tergugup. "Siapa yang mengejar-ngejarmu?! Ih ge-er banget sih?!" sewotnya. Cepat Silvia memalingkan wajahnya. Sesaat menyadari kedua pipinya telah menghangat.
Terlambat, Devan sudah melihat kegugupan di wajah Silvia dan ia bisa menebaknya bahwa wanita di depannya memang sangatlah menyukainya. Tetapi sayang, Devan sama sekali tak ada hati untuknya. Walau jujur kehadiran Silvia telah membuat Devan sedikit terhibur.
"Ya aku akui, aku memang sangatlah tampan. Tapi maaf sekali lagi, kau bukanlah tipe wanita yang ku sukai, Silvia!" ucapnya blak-blakkan. "Baiklah aku harus segera pergi, karena ini sudah terlambat!" Devan pun mengakhiri pembicaraan mereka, lalu membalikkan badannya dan pergi.
"Ih sok banget, dia!" cebiknya pelan. "Hei, apa kau benar-benar yakin tidak ingin sarapan dulu?" setengah berteriak Silvia kembali memanggilnya dari jauh. Tetapi Devan tetap melangkah pergi menaiki mobilnya yang terparkir di halaman tanpa menjawab panggilan Silvia.
Silvia menghembuskan nafasnya dengan kencang. "Ya sudah, nggak mau makan juga nggak papa. Aku bisa menghabiskannya sendiri..." Silvia mengangkat bahunya singkat, lalu kembali berjalan ke ruang makan dan memanggil Bibi Sari untuk ikut makan bersamanya.
"Den Devan nggak mau makan lagi, Non?" tanya Bibi Sari setelah melihat kepergian mobil Devan.
"Yang sabar ya Non, jangan di ambil hati... Bibi sudah sangat mengenal siapa Den Devan itu. Den Devan sebenarnya orangnya baik. Hanya saja cintanya itu terlalu besar buat pacarnya." rengkuh Bibi Sari seraya mengusap lembut punggungnya Silvia. "Bibi yakin sekali suatu saat, Den Devan pasti akan menyadarinya. Mana wanita baik-baik dan mana yang tidak!" hiburnya menyemangati Silvia.
Silvia mengangguk pelan, membenarkan perkataan Bibi Sari.
****
Siang itu tak ada aktivitas lain lagi yang Silvia kerjakan selain rebahan dan menonton televisi. Rasanya sangat membosankan di dalam Villa seharian. Seandainya saja kakinya sudah pulih. Silvia pasti sudah pergi jalan-jalan untuk refreshing. Lantas ia jadi teringat dengan Nana, sahabatnya. Kebetulan sekali itu adalah waktunya jam istirahat bagi Nana. Silvia tahu karena dulu pun ia bekerja di sana.
"Nana gimana kabarnya ya?" gumamnya, lekas Silvia mengambil ponselnya di atas meja. Lalu menghubungi Nana. Tak lama Nana mengangkat telepon Silvia.
"Hallo, Na? Gimana kabarmu?" tanya Silvia sumringah.
__ADS_1
["Hey, Sil! Kemana aje? Baru telepon. Udah nikah. Blas deh kamu nggak pernah ngabari aku lagi! Mentang-mentang sekarang punya suami. Kamu jadi lupain sahabatmu ini!"] cerocos Nana agak kesal karna sahabatnya itu seakan telah melupakannya.
"Maaf, bukannya lupa Na. Tapi aku memang sedang fokus untuk menarik hatinya Devan agar dia lupa sama Cathrine." jelas Silvia.
["Cie cieee yang lagi narik perhatiannya suami... Tapi kau berhasil loh, buat pujaan hatimu nggak jadi nikahin pacarnya? Pinter banget sih, gimana caranya tuh?"] tanya Nana penasaran. Silvia hanya mengulum senyumnya.
"Ada deh... Rahasia!" ucap Silvia terkekeh renyah dan membuat Nana menggerutu kesal karena Silvia tak ingin memberitahukannya.
["Oh ya, emangnya sekarang kamu tinggal dimana sih, Sil? Aku kangen nih pengen ketemu..."] tanya Nana.
"Aku di Villa Na... Mungkin sekitar satu jaman lebih perjalanan di tempat kontrakanmu..."
["Wah jauh amat ya capek lah kalau aku naik motor... Em, lalu kapan tuh, kita bisa ketemu lagi?"] keluh Nana yang sudah rindu rasanya ingin bertemu sahabat. ["Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan sesuatu sama kamu. Tapi rasanya gak seru kalau ngomongnya di telepon."]
"Ngomongin apa?"
["Aku pernah ngeliat dua kali mantan sahabatmu itu lagi berduaan ma cowok yang sama di tempat berbeda, tapi dia bukan Devan."]
"Siapa?" tanya Silvia mengernyitkan keningnya penasaran.
["Tunggu sebentar, aku kirimkan dulu fotonya. Siapa tahu kau mengenalnya. Karena kayaknya ku lihat-lihat cowok itu sedang ngejar-ngejar dia!"] jelas Nana lagi. Nana pun lekas mengirimkan foto mereka pada Silvia.
Setelah terkirim masuk ke ponsel Silvia. Silvia buru-buru mengunduh fotonya. Sontak matanya tercengang. Lantas ia menutup cepat mulutnya. "Dia?!"
["Kau kenal dia Sil?"] tanya Nana yang memang telepon mereka masih tersambung.
"Ya, aku kenal dia. Sangat mengenalnya bahkan..." ucap Silvia pelan.
Bersambung...
...****...
__ADS_1
Silakan yang mau mampir di story temanku... Ceritanya seru loh...