
...BAB 42...
...Cathrine Hamil...
"Terserah apa katamu. Tetapi aku tetap tak mau menikah siri, titik! Pokoknya aku tidak mau!" sentaknya, Cathrine tetap menolak keputusan dari Devan.
Devan menelan ludahnya kasar. Lalu menarik nafasnya dengan berat dan dalam, menahan dirinya agar tak tersulut emosi. Lantas Devan mengangguk dengan pasrah, dia beranjak berdiri dan menatap serius wajah kekasihnya, sebelum bicara.
"Baiklah, kalau itu maumu aku juga tidak bisa memaksamu lagi. Kalau kau tak mau kunikahi dengan siri, maka sudah ku putuskan! Tidak akan ada pernikahan diantara kita berdua." ucapnya tegas.
Devan menatap tajam kekasihnya, ia berharap dengan sedikit ancaman Cathrine akan mau menurutinya.
Cathrine melotot. "Kau_ tidak seriuskan Beb?!" gelagapnya, menggeleng-geleng kepalanya lagi. Wajahnya kian memucat saja. Tubuhnya seketika melemas dan kembali terduduk di sofa.
Pernikahan yang selalu ia impi-impikan selama ini, menjadi seorang istri dari seorang putra pemilik perusahaan pertambangan terbesar di kota itu. Haruskah lenyap begitu saja dan terkubur dalam tanah tanpa bisa ia menggalinya lagi.
Devan mengangguk kecil. "Aku serius Cath, karna itu satu-satunya jalan agar kita bisa hidup bersama. Jika kau memang mencintaiku, aku yakin kau tak kan pernah keberatan walau aku menikahimu secara siri. Apa kamu pikir aku juga mau seperti ini?! Kau tahu Mamaku itu tidak suka sekali jika keinginannya itu di bantah, dan aku tidak mau menjadi anak yang durhaka Cath,..." tukasnya lagi. "Sekali lagi maafkan aku, yang belum bisa membahagiakanmu..." sesalnya dengan nada yang sangat lirih, matanya ikut berkaca-kaca. Perih dan sama-sama kecewanya seperti Cathrine.
Cathrine mendengus kasar, kedua tangannya mencengkram kencang pinggiran sofa.
"Mamamu itu memang keterlaluan. Hanya karna putranya ingin menikah dengan wanita yang di cintainya, tapi tak seharusnya dia mengekangmu sampai seperti ini! Dan dia juga tak perlu ikut campur dengan hubungan kita, Dev!" sungutnya. Devan tersohok kaget dengan ucapan kasar Cathrine, lantas ia tak terima.
"Jangan menjelekkan orangtuaku Cath, dia adalah Ibuku yang mengandung dan melahirkanku, membesarkanku menjadikanku seperti ini. Aku tidak suka ada yang menjelekkan Mamaku, mesti kau adalah kekasihku!" timpal Devan, keningnya mengkerut tak suka apa yang kekasihnya katakan mengenai orangtuanya termasuk Mamanya sendiri.
Cathrine menunduk dalam, rasa kesal pun terpaksa harus ia pendam sendiri, demi tidak ingin membuat Devan tersinggung. "Bukan begitu sayang... Aku tidak bermaksud menjelekkan Mamamu, aku hanya tidak suka saja dengan sikap_"
"Stop, sudah Cath! Apapun alasanmu aku tetap tak menyukainya bila ada orang yang menjelekkan Mamaku, titik!" selanya, dengan nada sedikit membentak.
Kali itu, Devan benar-benar tidak bisa menahan amarahnya terhadap Cathrine. Tak sangka wanita yang selama ini ia puja-puja, akan berani berbicara kasar mengenai kedua orangtuanya di depannya sendiri.
Sontak wajah Cathrine mendongak. Matanya membulat lebar, tak sangka jika Devan akan berani membentaknya hanya soal sepele menurutnya.
"Sebaiknya aku pulang! Aku tidak mau kedua orangtuaku sampai curiga jika aku pulang terlalu malam!" Devan mengambil kunci mobilnya di atas meja tamu, lalu berbalik melangkah keluar pintu.
__ADS_1
"Dev, aku minta maaf... Maaf aku tak bermaksud untuk_" Cathrine mencegah Devan yang ingin pergi, menahan lengannya. namun Devan segera menepis tangannya lagi.
"Tidurlah Cath, ini sudah malam! Besok aku harus berangkat pagi karena ada pekerjaan penting." titahnya dingin.
"Tidak Beb, Bebbb... Dengarkan dulu perkataanku, Devaan tunggu!!" teriaknya lagi.
Namun ketika Cathrine ingin mengejar Devan, Tiba-tiba ia merasakan kepalanya teramat pusing. Pandangannya menjadi gelap, lalu seketika tubuhnya ambruk ke lantai.
Devan yang pura-pura tak mendengar teriakan kekasihnya, dia terus saja melangkah pergi dari apartemen Cathrine.
Namun tak lama ia terkejut mendengar suara berat yang terjatuh, langkahnya yang belum terlalu jauh pun, lekas menghentikannya dan membalikkan perlahan tubuhnya ke belakang.
Devan tercengang, saat melihat tubuh kekasihnya yang sudah tergeletak pingsan di lantai depan pintu apartemennya.
"Cath! Cathrinee!!" teriaknya.
Devan berlari, lalu berjongkok dan memangku kepala Cathrine ke atas pahanya, mengusap lembut pipi Cathrine yang sudah menutup matanya, wajahnya terlihat sangat pucat dan lemah.
****
Waktu menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Di kamar, Silvia belum juga mau memenjamkan matanya. Devan berjanji padanya tidak akan pulang hingga larut malam. Dan dia benar-benar menunggu kepulangannya. Tetapi yang di tunggu pun tak kunjung pulang juga.
Silvia mendesah dalam. "Bodoh, kenapa juga aku harus percaya dengan ucapannya? Dia tak akan pulang Silvia... Jadi percuma saja kau terus menunggunya!" Silvia bergumam pada dirinya sendiri. Mengingatkannya agar dia tak terlalu berharap lebih pada Devan yang akan memperdulikannya.
Silvia semakin yakin, Devan hanya berpura-pura saja mencintainya. Lelaki itu tak benar-benar serius dan tulus padanya. Demi agar tak di benci oleh kedua orangtuanya dan Devan hanya merayunya agar tak pergi saja dari rumahnya.
"Aku tahu kau hanya memberatkan Cathrine ..." gumamnya lagi. Lantas Silvia mengusap wajahnya resah. "Oh, ya Tuhan... Kenapa aku harus terjebak dengan cinta segitiga ini? Seandainya saja aku dipertemukan lebih dulu dengan Devan. Jalan ini pasti tak akan sulit ku tempuh..."
Silvia lantas membuka lagi foto Devan yang di kirim Cathrine beberapa waktu lalu, ketika suaminya itu menginap di apartemen mantan sahabatnya.
Entah mengapa ia jadi kepikiran dengan perkataan suaminya tadi siang, bahwa ia tak mengingat sama sekali kejadian waktu tidur bersama kekasihnya itu. Apakah perkataan suaminya itu benar? Silvia masih penasaran, seraya menajamkan pandangannya pada foto itu di layar pipihnya, menelisiki keseluruhan gambar suaminya yang Cathrine potret dengan sengaja. Siapa tahu ia melihat ada hal yang aneh di dalam foto tersebut.
Di dalam foto itu, Devan tampak tertidur dengan pulas, namun dia masih memakai pakaian lengkapnya, hanya saja di bagian depan kemeja kerjanya memang sudah terbuka. Cathrine mengambil foto Devan dari bagian sisinya, dan terlihat ada sebuah cangkir terbaring miring di atas lepek di meja nakas.
__ADS_1
Silvia menzoom foto itu lebih besar sehingga terlihat jelas cangkir itu hanya bersisa ampas kopi hitam.
"Mungkinkah, Mas Devan habis minum kopi?!" pikirnya bertanya sendiri. Silvia lagi-lagi mengernyitkan dahinya, penasaran. "Tapi kenapa cangkirnya sampai terjatuh miring begitu?"
Tak lama berpikir, Silvia kembali membelalakkan kedua matanya. Sebenarnya ia sudah tak ingin mencurigai terus mantan sahabatnya itu. Tetapi, semakin hari ia merasa ada yang aneh dan ganjil. Dimana saat Cathrine menunjukkan foto Devan yang tertidur di apartemennya, bersamaan itu pula ia bertemu Andy yang datang menolongnya ketika ada perampok yang menodongnya saat malam itu.
Silvia kembali teringat foto Cathrine dan Andy yang di kirimkan Nana, sahabatnya. Tiba-tiba saja firasatnya jadi tak enak. "Apakah mereka berdua tengah bersekongkol untuk mensiasatiku dan Mas Devan?" Silvia meneguk pelan salivanya. Kekhawatirannya semakin mendalam.
****
"Bagaimana keadaannya Sus?" tanya Devan pada seorang suster wanita yang sudah memeriksa Cathrine di sebuah Rumah Sakit terdekat dekat apartemen. Karena itu malam hari, jadi tak ada Dokter yang bekerja untuk menangani kondisi pasien.
"Anda tak perlu cemas ya Pak, istri anda hanya kelelahan saja, dan ini sangat wajar terjadi di usia kehamilan trimester pertama." terangnya. Suster itu mengira Devan dan Cathrine adalah suami istri karena Cathrine yang memang sedang kondisi hamil.
Devan tercengang dengan ucapan suster itu. "Apa? Hamil suster?" gelagapnya tak percaya.
Suster yang sudah pengalaman dan tahu itu, mengangguk lagi dan tersenyum. "Iya Pak, istri anda sedang hamil muda. Hanya saja usahakan Bapak juga membantu menjaga kondisi kesehatan istrinya, agar tak terlalu tertekan dan stress karna itu akan mempengaruhi faktor kesehatan pada bayinya juga..." jelasnya lagi, yang lalu suster itu pamit keluar karna masih ada pasien lain yang harus ia rawat.
Devan menelan perlahan ludahnya yang sulit masuk itu. Lantas menatap Cathrine yang masih terbaring lemah di atas brangkar. Melangkah mendekatinya, menatap dengan nanar bagian perutnya yang belum terlihat membuncit.
"Apakah, Cathrine sedang hamil anakku?!" gumamnya dengan tenggorokan yang tercekat.
Devan seolah tak bisa bernafas. Dia masih tak percaya dengan kenyataan di depannya, dari kejadian semalam yang tak ia sadari tak sangka telah membuat Cathrine mengandung benihnya.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku katakan pada orangtuaku... Aku sudah membuat kesalahan yang fatal... Aku telah menghamili kekasihku sendiri..." Devan meraup wajahnya frustasi seraya menyenderkan punggungnya ke dinding kamar rawat itu.
Bersambung....
...*****...
Sambil nunggu lanjutannya readers boleh mampir ke cerita temanku...
__ADS_1