
...BAB 55...
...Demi Sahabat, Aku Mundur...
"Mas Devan. Ayo kita bercerai..." ucapnya dingin.
Sontak Devan menoleh terkejut mendengar ucapan Silvia padanya. Devan langsung berdiri, menatap tajam sang istri dengan wajah yang sudah memerah padam.
"Sekali lagi mengatakan itu padaku, aku tidak akan pernah memaafkanmu Silvia!" ucap Devan tegas, jujur dadanya sesak sekali ketika Silvia mengungkit lagi kata perceraian itu padanya.
Apakah karena tadi Silvia melihatnya tengah bercumbu dengan Cathrine di halaman belakang rumah? Hingga dia tak kuat lagi menahan rasa cemburu. Sebenarnya Devan ingin sekali berlaku adil kepada dua istrinya yang dia cintai. Hanya saja dia belum bisa membagi waktu untuk mereka. Memang benar jika ingin berniat berpoligami, kita harus siap dengan menanggung resikonya apapun itu. Disini Devan juga bersalah, tak seharusnya dia bermesraan di depan salah satu istrinya karena itu akan menyakiti perasaannya. Atau paling tidak kedua istrinya tidak tinggal satu rumah.
Silvia menatap datar suaminya. Dia sama sekali tak bereaksi apapun walau Devan benar-benar marah kepadanya. Saat ini Silvia hanya di liputi rasa bersalah dan menyesal pada dirinya sendiri, karena telah memaksa Devan untuk menikahinya dulu. Hingga harus mengorbankan kebahagiaan Cathrine.
Padahal Silvia tahu sendiri bagaimana nasib Cathrine dahulu, hidupnya lebih menderita di bandingkan dirinya. Tak satupun Silvia kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya seperti Cathrine.
Walau dulu Cathrine juga terlahir dari keluarga kaya seperti dirinya. Tapi tak pernah sekalipun ia mendapatkan perlakuan baik dari Papanya sendiri. Mamanya meninggal dunia, Papanya malah bertambah acuh. Entah terbuat dari apa hati Papanya Cathrine itu?
Lantas dulu Papanya menyerahkan seluruh tanggung jawabnya pada pembantu rumah tangganya tersebut untuk merawat Cathrine di usianya yang masih belia. Papa Cathrine hanya menggaji pembantunya saja tanpa memberikan sepeserpun biaya kuliah Cathrine. Catherine hanya di biayai hingga sampai sekolah menengah. Kuliah dan menyandang gelar sarjana adalah impian Cathrine sejak kecil. Tapi tak sedikitpun Papanya mendukungnya baik moril maupun materil. Miris memang, Papanya lebih memilih menikah lagi dan memenuhi keinginan sang istri barunya. Daripada ia memperhatikan putri semata wayangnya sendiri.
Silvia tetaplah Silvia, yang memiliki hati lembut juga rasa kasih sayang yang lebih besar dari pada kebenciannya. Cathrine pernah mengisi hari-harinya. Walau memang sudah membuatnya menderita karena kehilangan dan di benci Ayahnya tercinta. Hingga ajal menjemput beliau.
Silvia sadar dan tawakal bahwa semua itu juga kehendak yang di Atas. Ini adalah bentuk ujian hidup baginya, yang patut Silvia sabari dan ikhlaskan. Karena setiap kejadian pasti akan ada hikmah di baliknya. Silvia tak ingin menaruh dendam yang berkepanjangan, yang hanya akan menambah penyakit di dalam hatinya.
Devan menggeleng kepalanya, dan mencoba untuk meredam amarahnya. Devan tak ingin jika mengatakan hal menyakitkan lagi pada Silvia.
Perlahan Devan berjongkok di depan Silvia. Meraih tangan lentik dan putih itu lalu mengecupnya dengan lembut. Berusaha memahami bagaimana perasaan istrinya.
"Kenapa, apa kau juga cemburu melihat aku yang memperlakukan Cathrine sama seperti aku memperlakukan dirimu?" tukasnya dengan suara yang lebih pelan. Mimik wajahnya berubah sendu. Devan tersenyum tipis.
"Dalam agama kita, poligami itu di perbolehkan. Asalkan selalu bersikap adil pada kedua istrinya. Aku sama sekali tak pernah membeda-bedakanmu dengan Cathrine. Kalian sama-sama berarti dalam hidupku. Bahkan sebenarnya kamulah yang lebih beruntung dari Cathrine, Silvia... Kamu itu beruntung. Karena kamu di terima di keluarga ini dengan suka hati. Sedangkan Cathrine, dia hanya menikah siri denganku, dan kamu tahu sendiri kan bagaimana sikap Mama padanya?" terang Devan. "Mama lebih menyukaimu..."
__ADS_1
"Ya, justru karna aku yang lebih beruntung dari dia. Seharusnya kamu juga berpikir. Tanpa sadar, sebenarnya kamu telah berlaku tak adil untuk istrimu yang lain, Mas!" Silvia menimpali dengan wajah seriusnya.
Silvia menghela nafas berat dan panjang. "Maka itu, lebih baik kita akhiri pernikahan ini saja..." pintanya lagi sangat yakin.
Demi sahabat yang pernah memberikan senyuman juga luka, Silvia lebih baik mengalah dan mundur. Silvia lebih bahagia, sebab ia tak kekurangan materi sedikitpun dalam hidupnya. Sedangkan Cathrine sendiri, dia hanya bisa mengandalkan Devan seorang. Karena setelah resign di dunia hiburan dia tak memiliki apa-apa lagi.
Devan menarik nafasnya panjang, lantas menggeleng dengan cepat. "Tidak! Sudah berapa kali kubilang padamu tidak akan ada perceraian diantara kita berdua!" sentaknya lagi.
Devan kembali berdiri dan membelakangi Silvia, mengusap wajahnya dengan kasar dengan perasaan yang kalut.
Silvia turut berdiri lalu menarik pelan tangan suaminya untuk berbalik menghadapnya lagi.
"Buat apa?! Buat apa kamu terus mempertahankan pernikahan ini Mas?! Kau tahu sejak awal pernikahan ini akulah yang memaksamu. Kau hanya ingin bertanggung jawab saja padaku kan?! Bila kau terus mempertahankan aku, itu artinya kau akan terus berbuat dzolim pada istrimu yang lain, Mas..." Silvia melirih. Kini dia memohon agar Devan menceraikannya.
Devan memincingkan matanya tajam. "Terlambat, semua sudah terlambat kau lakukan Silvia! Jika pada akhirnya kau berniat meminta cerai dariku, seharusnya sejak dulu kau tidak memaksaku untuk menikahimu! Apa kau tahu kau sudah mempermainkan hatiku?! Dulu kau datang seolah ingin memberikan cinta padaku... Kau berusaha mengalihkan hatiku untuk tak menikahi Cathrine, kau memang penjahat hati Silvia. Setelah kau berhasil merayuku sekarang kau ingin pergi begitu saja dariku?! Hah!" Devan menimpali dengan nafas yang memburu cepat. Rahangnya mengeras. Tatapannya menyorot tajam.
Kini Devan memadai wajah Silvia dengan tatapan yang menyelidik.
"Oh, aku tahu sekarang kenapa kau tiba-tiba saja bicara seperti ini padaku?! Kau hanya berpura-pura peduli pada Cathrine. Karena sebenarnya diam-diam di belakangku kau telah berhubungan dengan pria lain! Aku benar kan?! Kau tak terima karna aku melarangmu bekerja di luar rumah, sebab kau akan kesulitan untuk menemui selingkuhanmu itu lagi kan Silvia?!" tudingnya asal.
"Iya, kau benar. Aku memang sudah berselingkuh dengan pria lain..."
Biar, biarlah ia di tuduh seperti itu, Silvia terpaksa berbohong agar memudahkan Devan untuk menalaknya. Ini yang terbaik, ya terbaik untuk Cathrine dan juga dirinya.
Devan tercengang, matanya membulat lebar. Dia tak percaya kalau ternyata tuduhannya itu adalah benar. Jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar pengakuan Silvia padanya.
"Kau, kau hanya berpura-pura padaku, kan?!" gelagapnya, yang kini wajah Devan terlihat frustasi. Hatinya seolah terhempas jatuh ke dasar jurang yang paling dalam.
"Aku tidak berpura-pura Mas. Kau bisa periksa isi chatku..." ucapnya datar
Dengan sedikit gugup Silvia membuka ponselnya lalu membuka isi chatnya bersama Rafa barusan. Kebetulan sejak dulu Rafa memang selalu bersikap perhatian padanya.
__ADS_1
Agar memudahkan Devan percaya jika ia berselingkuh, Silvia memperlihatkan isi chat Rafa yang menyuruhnya untuk istirahat.
Met Bobo Sisil imut.. Sampai ketemu lagi besok... 😇
Pesan Rafa dengan di akhiri gambar emoji senyuman mengembang dengan lingkaran malaikat di atas kepalanya. Dan Sisil adalah nama panggilan akrab Rafa padanya dulu.
Devan kembali terperangah menatap pesan chat yang dikirim oleh pria lain pada Silvia. Dengan mudahnya Devan percaya, lantas ia melayangkan tamparan keras pada pipi Silvia.
Plaaakk
Tubuh Silvia pun terhuyung dan jatuh ke sofa. Perih dan panas sekali yang ia rasakan di area pipi mulusnya. Ini adalah tamparan pertama kalinya yang di berikan Devan kepadanya. Tapi Silvia puas, ya dia puas sekali karna dia telah berhasil membuat suaminya marah dan percaya akan ucapannya itu.
"Jadi benar, kalau kau bekerja hanya ingin bebas menjalin hubungan dengan Pria itu?!" pekiknya keras. Devan mengepal kuat-kuat tangannya. "Kau_ a-aku tak sangka, ternyata kau sangat mura-han Silvia. Pantas saja kau di khianati mantan calon suamimu dulu. Karena kau juga tak lebih dari seorang wanita mura-han, jadi jangan salahkan mereka karena menghianatimu, dan Ayahmu meninggal karena memang ulahmu! Baiklah aku akan kabulkan keinginanmu. Kita berdua akan bercerai..." tegasnya dengan tatapan yang getir dan sesak di hati.
Tangan Devan bergetar, lekas ia melangkah cepat keluar kamar meninggalkan Silvia, lalu menutup kasar pintu kamar mereka. Malam itu dia lebih memilih tidur di lantai bawah sendirian. Untuk menenangkan hati dan pikirannya. Entah apakah keputusannya itu sudah benar atau tidak. Hati Devan benar-benar hancur.
Maaf, maafkan aku yang terpaksa berbohong padamu Mas... Aku tahu kau sudah mulai mencintaiku... Aku juga sama, sangat mencintaimu Mas... Tapi Cathrine lebih membutuhkanmu daripada aku. Dia sedang mengandung anakmu, dan aku juga tak ingin bermusuhan lagi dengannya. Aku ikhlas. Ya aku sudah ikhlaskan kalian hidup bersama... lirihnya dalam hati. Hatinya teriris perih.
Seketika tangisannya pecah, bulir-bulir air mata pun berhamburan keluar dengan deras membasahi kedua pipi merahnya. Silvia tak peduli bila suaminya menghujatnya seperti itu. Yang terpenting dia sudah bisa ikhlas untuk tak lagi dendam pada Cathrine.
Keputusannya sudah bulat. Ini adalah jalan yang terbaik bagi semuanya. Dan Silvia akan kembali menjadi Silvia yang tegar dan mandiri seperti dulu.
*****
Pagi pukul sembilan, Rafa mondar-mandir dengan gelisah. Melihat toko Silvia dengan nama Lestari Collections belum juga buka hari ini.
"Kemana dia? Apa dia tidak buka hari ini?" gumamnya bertanya sendiri.
Rafa membuka ponselnya ia ingin sekali menghubungi Silvia namun dia takut akan mengganggunya dan membuat suaminya salah paham lagi.
Semalam itu, Rafa memberanikan diri mengirimkan pesan whatsapp untuk Silvia karena ingin meminta maaf soal gara-gara dia yang mengajak makan siang dan ngobrol di Cafenya, yang akhirnya suaminya jadi marah padanya. Kebetulan Rafa tahu nomer ponsel Silvia dari banner yang terpampang di atas tokonya itu.
__ADS_1
Bersambung....
...****...