Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Bertanggung Jawab


__ADS_3

...BAB 43...


...Bertanggung Jawab...


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Tak lama Cathrine pun tersadar. Devan bernafas lega sebab sedari tadi ia terus menunggunya dengan perasaan yang gelisah, tak sabar ingin sekali menanyakan tentang kehamilan kekasihnya itu.


"Syukurlah, kamu sudah sadar, Cath..." ucapnya masih memasang kecemasan di wajahnya.


"Dimana aku Dev? Kenapa kepalaku pusing sekali...?" lirih Cathrine setelah membuka matanya, Cathrine terkejut dirinya sudah ada di sebuah ruangan bercat putih bersih dengan aroma bau obat yang menyengat hingga ke penciumannya.


"Kamu berada di Rumah Sakit." jawabnya datar, tanpa melihat wajah kekasihnya itu. Devan lalu duduk di samping Cathrine sambil kembali menatap nanar ke arah perut kekasihnya.


Cathrine menatap kekasihnya dengan pandangan heran. "Apakah, kamu yang membawaku kemari?!" tanyanya yang lekas di angguki oleh Devan.


"Iya tadi kamu pingsan, Cath..." jawabnya, yang langsung membuat Cathrine tersohok


"Em... Pi-pingsan?!" gugupnya.


Devan mengangguk lagi. Lalu Devan menoleh menatap serius pada wajah kekasihnya. "Apa selama ini, kamu sudah tahu jika kamu tengah mengandung Cath? Katakan padaku dengan jujur?" tanyanya sedikit mengintrogasinya.


Cathrine tercengang, ternyata Devan telah mengetahui kehamilannya yang sengaja ia sembunyikan dulu demi mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Cathrine meyakini pasti Dokter di sanalah yang telah menyampaikan kehamilannya itu pada Devan.


Cathrine menegak cepat salivanya dan berpura-pura terkejut saja.


"A-apa aku hamil?! itu tidak mungkin!" gelagapnya, Cathrine membekap mulutnya sendiri, seraya menggeleng cepat kepalanya.

__ADS_1


Devan mengangguk lemah. "Ya, kamu hamil..." ungkapnya dengan suara yang lirih, Devan kembali mengusap wajahnya sangat gusar.


Ternyata ia percaya begitu saja, jika Cathrine pun baru mengetahui kalau dirinya tengah hamil. Keringat dingin kembali mengucuri sekujur tubuhnya. Devan semakin tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.


"Ini tidak mungkin! Tidak, aku tidak mau hamil Dev.. Aku ini belum menikah!" Cathrine kini terduduk dan menutup wajahnya yang langsung tergugu menangis.


"Lihatlah, sekarang siapa yang akan mau menanggung hasil perbuatanmu ini, Dev?!Jika kau pun tak mau menikahiku!" pekiknya.


Cathrine lantas memukul pundak Devan, mendorong-dorong bahunya, Cathrine sengaja memasang wajahnya sesedih mungkin seolah tersakiti, agar Devan percaya bahwa dirinya saat ini memang tengah mengandung anaknya.


Devan menahan tangan Cathrine yang terus memukuli pundaknya, yang tak terima. Dia lekas menarik dan memeluk tubuh Cathrine dengan erat. Hatinya benar-benar ikut terguncang melihat kesedihan Cathrine. Sebab Devan yang telah merusak masa depan kekasihnya sendiri.


Sementara Cathrine pun seolah belum siap menerima kenyataan ini, padahal sebenarnya dia sudah tahu semuanya. Sejak dulu Cathrine memang pandai sekali berakting.


"Tenanglah Cath, kumohon tenangkan dirimu! Aku benar-benar minta maaf padamu... Kamu jangan khawatir aku pasti akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu secepatnya..." ucapnya lirih.


Devan bukanlah tipe lelaki yang lepas tanggungjawab. Apapun kesalahannya sebisa mungkin dia akan menanggung semua resikonya. Dulu pun ia begitu pada Silvia, mana tega ia menelantarkan wanita itu. Walau awalnya Devan menolak untuk menikahinya, tetapi dia akhirnya mau menyetujui keinginan Silvia. Kali ini dia juga akan bertanggung jawab untuk kekasihnya yang tak sengaja ia nodai.


"Bertanggung jawab? Bagaimana caranya? Kau bahkan hanya ingin menikahiku secara siri. Dan tadi kau bilang tak akan ada pernikahan diantara kita berdua kalau kita tidak menikah siri! Lalu, aku harus katakan siapa suamiku nanti, jika ada orang yang menanyakannya? Aku malu sekali Dev... Aku malu jika semua orang tahu tentangku kalau aku hamil tanpa seorang suami..." isaknya yang semakin menjadi-jadi. "Kau tega padaku Dev, kau jahaat sekali!" teriaknya memukul-mukul lagi dadanya Devan.


Ini adalah kesempatan yang baik bagi Cathrine, untuk terus mendesak Devan agar menikahinya secara resmi. Tiba-tiba saja rencana-rencana berikutnya mulai bermunculan dalam benaknya untuk menyingkirkan Silvia.


Cathrine terus bersikap memberontak. Sedang Devan terus mencoba menenangkannya. Lalu ia melepas pelukannya dan menangkup kedua belah pipi Cathrine, menatapnya dengan dalam dan lembut.


"Lupakan perkataanku yang barusan Cath... Besok, kita berdua bertemu kedua orangtuaku. Mau tak mau kita harus berkata jujur pada mereka, masalah di terima atau tidaknya itu hal belakangan. Aku akan bilang kalau aku akan menikahimu... Iya secepatnya kita berdua harus menikah!" tegasnya, dengan menghela nafas yang berat, Devan kali itu pasrah dengan semua keputusannya.

__ADS_1


Dia tak mau bila status Cathrine nantinya tak di akui negara. Apalagi saat ini ada darah dagingnya yang sekarang tumbuh di rahimnya Cathrine. Devan harus siap menerima apapun konsekuensinya. Kedua orangtuanya pasti akan shock mendengarnya. Tapi jika terus dia sembunyikan masalah besar ini, lambat laun mereka juga pasti akan mengetahui kehamilan Cathrine.


Cathrine pun menyeringai senang dalam hatinya. Dia membodohi dirinya, kalau tahu akan semudah ini menjebak Devan. Seharusnya dia katakan sejak kemarin kalau dia tengah hamil anaknya Devan.


Malam setelah Cathrine di antar pulang kembali ke apartemennya. Devan bergegas pulang ke rumah dan memasuki kamar melempar jaketnya sembarang ke sofa.


Silvia yang langsung tergugah di tempat tidur, setelah tahu kedatangan Devan. Dia melirik jam di ponselnya dan waktu menunjukkan pukul setengah dua malam. Silvia lantas menghembuskan nafasnya dengan kasar, matanya memincing tajam ke arah Devan yang sedang membuka sepatunya.


"Mana janjimu tadi? Katanya tidak akan pulang larut malam..." sindirnya pelan. Devan melirik Silvia sebentar, lantas berjalan setelah melepas sepatunya, menghempaskan tubuhnya tertelungkup di atas kasur di sisi Silvia.


"Aku capek sekali malam ini. Tidurlah dan jangan banyak bicara padaku!" ketusnya.


Lelah hati dan pikiran yang kini Devan rasakan. Tanpa menghiraukan perkataan Silvia, ia lekas memenjamkan matanya ingin segera terlepas dari masalah yang memberatkan beban pikirannya.


Silvia menarik nafasnya panjang, yang lalu ikut tertidur di sisi suaminya. Sebelumnya dia menutupi tubuh Devan dengan selimut.


Silvia berbaring menatap punggung Devan.


Apa yang sebenarnya kamu lakukan malam-malam begini bersama Cathrine, Mas? Sehingga kamu betah sekali berlama-lama di apartemennya... resahnya dalam hati.


Bersambung....


...****...


Yuk readers mampir di karya temanku. Siapa tahu suka juga... Oke makasih yang masih setia membaca Devan dan Silvia... 🥰🥰🥰

__ADS_1



__ADS_2