Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Menyelamatkan Silvia


__ADS_3

...BAB 61...


...Menyelamatkan Silvia...


Setelah menyeret kasar dan paksa tubuh Cathrine hingga ke lantai bawah. Devan tak berhenti mencaci maki istrinya. Suaranya menggelegar nyaring hingga membangunkan seluruh penduduk rumah besar bak istana itu.


"Mas ampun Mas... Aku benar-benar minta maaf padamu..." teriak Cathrine memohon, bibirnya terisak-isak merasakan penyesalan yang teramat dalam. "Aku menyesal Mas..." lirihnya bergetar.


Cathrine bersimpuh di bawah kaki Devan dan meraih tangan suaminya untuk dia kecup.


"Aku tidak butuh maaf darimu!" hardik Devan yang lekas menghempas kasar tangan Cathrine yang hendak memegang tangannya.


Tubuh Cathrine pun tersungkur lagi dan jatuh ke lantai, wajahnya benar-benar kacau, dengan kedua pipinya yang telah bersimbah air mata.


"Cepat beritahu padaku, dimana kekasih gelapmu itu membawa Silvia pergi?!" bentaknya lagi dengan nafas yang naik turun.


Devan tak bisa lagi menahan gejolak amarahnya, setelah tahu siapakah istrinya yang selama ini selalu ia puja dan bela di depan kedua orangtuanya sendiri. Tak sangka ternyata dia tak lebih dari seorang wanita ular berhati iblis.


Indra dan Dini yang mendengar teriakan keras putranya bergegas keluar kamar dan menghampiri mereka.


"Ada apa ini, Devan-Cathrine?!" tanya Indra dengan raut panik dan tegang.


Begitupun dengan Dini, ikut tercenang melihat Devan yang tak biasanya marah seperti itu apalagi membentak kasar kepada Cathrine. Wanita yang teramat di cintai putranya itu.


Devan menarik nafas dalam-dalam lantas menatap nanar kedua orangtuanya yang terheran-heran dengannya. "Pa, Mama.. Maafkan Devan..." lirihnya tersedu, matanya bertambah merah dan berkaca-kaca.


Devan melangkah cepat menghampiri kedua orangtuanya lalu bersimpuh di depan kaki mereka.


"Devan akui, Devan telah salah memilih istri. Devan menyesal yang tak mendengar perkataanmu Ma..." ucap Devan mengutarakan penyesalannya di depan Mamanya lalu meraih tangan Dini dan mengecupnya beberapa kali.


Dini mengernyit bertambah bingung, lantas menatap Cathrine yang menangis tergugu sambil menundukkan wajahnya.


"Ada apa Dev? Kenapa memangnya dengan istrimu?" tanyanya lembut.


"Wanita itu sudah melakukan banyak kejahatan Mah Pah...! Dia dan kekasih gelapnya telah menculik Silvia!" ungkap Devan.


"Apa?!" Indra dan Dini kembali tercengang.


"Silvia di culik?!" pekik Dini yang kembali mere-mas dadanya yang tiba-tiba sesak.


Cathrine semakin menundukkan kepalanya. Rasa takut dan malu bercampur menjadi satu.


****


Di sebuah ruangan yang gelap hanya berukuran 4x4 meter. Silvia baru saja tersadarkan dari bius yang panjang. Silvia terkejut melihat keadaan tangan dan juga kakinya yang sudah terikat kencang. Bahkan mulutnya pun tertutup dengan kain. Sehingga tubuhnya tak bisa bebas untuk bergerak.


Silvia ingin berteriak meminta tolong, namun apa daya mulutnya terbungkam rapat dan hanya bisa mengerang sebisanya.

__ADS_1


Mendengar Silvia telah sadar. Andy pun masuk ke ruangan itu dan lekas menyalakan lampunya. Silvia terkejut, lantas menyipitkan matanya akibat sinar lampu yang sangat menyilaukan pupil matanya.


Andy! pekiknya dalam hati. Silvia terbelalak melihat Andy yang berdiri di depan pintu ruangan itu.


"Akhirnya kau sudah bangun Silvia. Maaf membuatmu menjadi takut. Tapi sekarang, aku berjanji padamu tak akan membuatmu ketakutan lagi untuk yang kedua kalinya..." ujarnya tersenyum penuh arti.


Andy berjalan mendekat lalu berjongkok di depan Silvia dan membuka tali ikatan pada kakinya. "Ayo ikut denganku!" ajaknya, membantu Silvia berdiri dan membawanya pergi keluar dari rumah kecil itu.


Silvia menggeleng cepat dan bertanya-tanya dalam pikirannya. "Lepaskan aku! Kau mau bawa aku kemana Andy? Dimana ini?!"


Silvia mengerang dengan suara yang masih tertutup kain, berusaha untuk melepaskan diri namun tenaganya sangat lemas saat itu, hingga tubuhnya dengan mudah di seret oleh Andy pergi ke suatu tempat yang sunyi di sebuah hutan belantara yang jarang terjamah oleh manusia, pada tengah malam itu.


Kini Andy dan Silvia telah sampai di tepi jembatan yang tinggi dan di bawahnya terdapat danau yang sangat luas juga terlihat sangat dalam.


Silvia menggeleng kepalanya dengan cepat, matanya melotot ketakutan melihat ke bawah danau di atas jembatan itu. Angin dingin pun berhembus sangat kencang, menembus ke dalam kulitnya hingga menusuk ke tulang.


Andy menatap sendu Silvia dan mengusap pipinya sembari tersenyum lirih. "Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini padamu... Tetapi, ini demi hidup di masa depanku bersama Cathrine, dan juga anak kami. Silvia kamu pasti kangen sama Ayahmu kan? Kamu bahkan bisa bertemu dengan Ibumu di sana... Berdoalah agar kamu cepat bertemu dan menyusul mereka. Tenang saja, aku pasti akan mendoakanmu setiap hari disini. Agar kau bisa tidur tenang di alam sana..."


"Emmm... Emmm..." Silvia menggeleng cepat dengan sorot mata ketakutan hingga jantungnya berdetak sangat kencang. Silvia memohon pada Andy, agar tak nekad melenyapkan nyawanya.


Andy menghela nafasnya dalam dan menghembuskannya kasar, lantas ia menyeret cepat Silvia dan hendak melempar tubuh Silvia ke dalam danau itu.


Namun terlambat di lakukan seketika peluru tembakan meluncur lebih cepat dan tepat mengenai betis kanan Andy.


Doorrrrr


"Berhenti disitu! Atau kami akan menembakmu lagi!" teriak seseorang.


Silvia pun terbelalak lantas menoleh cepat ke belakang. Sontak matanya berkaca-kaca haru. Melihat Devan bersama rombongan polisi yang sudah ada di sana.


Setelah tadi Devan memaksa Cathrine untuk bicara dan memberitahukan keberadaan Andy. Dengan gerak cepat Devan pergi menyusul Andy untuk menyelamatkan Silvia.


"Silviaa..." lirih Devan, dengan cepat ia berlari menghampiri lalu menarik tubuh Silvia dalam dekapannya. "Maaf, maafkan aku yang nyaris terlambat menyelamatkanmu..." ucapnya.


Devan mengurai pelukannya, untuk melepas dulu ikatan tali yang mengikat tangan Silvia juga kain yang menutupi mulutnya.


Setelahnya ia menangkup kedua belah pipi Silvia dengan menatap dalam dan sendu lalu kembali memeluknya dengan erat.


"Mas... Mas Devan..." isak Silvia tersedu-sedu, lantas membalas pelukan Devan. Silvia tak berhenti bersyukur. Karena Tuhan masih menyelamatkan nyawanya.


Para polisi pun buru-buru meringkus Andy dan membawanya ke kantor polisi. Namun sebelumnya Devan lebih dulu menghajar dan memukul beberapa kali wajah Andy. Memberi pelajaran pada lelaki biadab itu.


****


Setelah Devan dan Silvia sampai rumah kembali, Devan pun segera mentalak tiga Cathrine di hadapan kedua orangtuanya dan juga Silvia.


"Tidak! Aku tidak mau bercerai Mas..."jeritnya.

__ADS_1


Cathrine menggeleng kepala dengan bercucuran air mata, ia lekas bersimpuh di depan kakinya Devan. "Apa kau tega pada anak kita kalau nanti dia tak punya seorang Ayah..."


Devan tertawa sinis lantas bersedekap tangan. "Apa kau yakin sekali Cath, jika kau tengah mengandung anakku?" sindirnya keras.


Sontak Cathrine menelan ludahnya kasar. Wajahnya pucat pasi. Tiba-tiba saja bibirnya kelu untuk bicara.


"Em tentu ini adalah anakmu sayang..." gelagapnya dengan suara bergetar.


"Cathrine, Andy telah mengungkapkan semuanya padaku. Jika kamu sedang mengandung anaknya. Lebih baik kamu berkata jujur dari sekarang daripada nanti kamu bertambah malu, karena telah banyak menipu orang..." ucap Silvia


Dini menghampiri lantas menampar keras kedua pipi Cathrine.


Plaaakk


"Dasar wanita tak tahu malu. Berani sekali kau menjebak putraku dengan mengatakan sedang hamil anaknya! Pergi kau dan jangan lagi menampakkan wajahmu di rumah ini!" usir Dini.


"Pilihlah salah satu, mau kami laporkan pada polisi tentang semua kejahatanmu. Atas kasus penipuan dan penculikan. Ataukah lebih memilih pergi sejauh mungkin dan jangan mengusik lagi keluarga ini?" Indra pun ikut bicara dengan lantang dan tegas,


Cathrine pun semakin tersudut. Mau tak mau akhirnya dia menyerah dan mengaku salah.


"Tidak, Om Tante... baiklah, aku-aku akan pergi dari sini..."


Devan pun memanggil dua pelayan yang sudah membereskan pakaian dan barang-barang Cathrine di dalam koper, lalu menyuruh mereka untuk membantu membawakannya sampai gerbang rumah.


"Pergilah yang jauh dan semoga kita tak bertemu lagi... Selamat tinggal..." ucap Devan dingin, tanpa melihat wajah Cathrine sama sekali.


Cathrine menatap Devan dengan getir lantas ia terpaksa berdiri dan mengangkat kakinya dari rumah itu.


Indra dan Dini pun saling berpelukan dengan perasaan penuh haru yang tak terbendung lagi, karna menantu mereka sudah terselamatkan.


Devan menghela nafasnya panjang, lantas tersenyum seraya melangkah mendekati Silvia, menatapnya dengan dalam. "Silvia, mulai sekarang kita rujuk kembali. Berjanjilah padaku... Kamu tidak akan pernah meninggalkan aku lagi..."


Silvia berkaca-kaca lantas mengangguk dengan cepat. "Iya Mas, aku berjanji padamu..." jawabnya tersenyum lebar, dengan mata semakin berkaca-kaca.


Devan mendekap erat tubuh Silvia, mengecup beberapa kali puncuk kepalanya. "Aku mencintaimu Silvia Lestari... Sangat mencintaimu, sungguh aku takut kehilanganmu... Maaf, maafkan karena cinta ini datang terlambat dan maaf... Karena aku sempat tak mempercayai kata-katamu... Aku berjanji akan selalu menjaga hatiku untuk setia mencintaimu hingga akhir hayat memisahkan kita..." ucapnya lembut dan di balas anggukan Silvia.


"Aku juga Mas sangat mencintaimu... Dan aku sudah memaafkanmu dari dulu..."


Dini dan Indra tersenyum mengembang melihat putra dan menantunya berakhir bahagia. Begitupun Bi Sari yang tak tahan terus menitikkan air mata harunya, ikut bahagia melihat Silvia dan anak majikannya telah bersatu kembali.


Bersambung ...


Hallo... Semuanya untuk kisah Silvia dan Devan insyaallah tak ada lagi konflik yang berat.. Jadi hanya tinggal cerita-cerita manisnya saja dan nanti ada selingan menceritakan nasib Cathrine dan Andy ke depannya...


Oke btw, terimakasih banyak ya, yang selalu setia meninggalkan jejak like dan komentar... Jangan lupa beri hadiah dan votenya juga ya... buat selalu dukung novel author supaya level karyanya juga bisa meningkat 🥺🤧 aamiin...


Dadaah sampai ketemu episode berikutnya...

__ADS_1


__ADS_2