
...BAB 63...
...Walau Selera Sama, Tapi Kami Berbeda...
Dua hari kemudian. Devan dan Silvia tengah sibuk mempersiapkan bulan madu mereka ke Jepang.
Melihat sang istri yang fokus mengemasi pakaian ke dalam koper. Devan menghampiri dan memeluk pinggangnya dengan erat dari belakang. Menyenderkan dagu di bahu istrinya. Memerhatikan setiap pergerakan tangan istrinya yang lihai melipat pakaian dengan rapi.
Silvia menoleh ke samping, mengusap pipi suaminya dengan lembut. "Ayo cepat bersiaplah... Kamu mandi duluan, terus nanti kita sarapan bareng..." titahnya pada suami manjanya.
Semenjak mereka kembali rujuk, sikap Devan berubah manja dan semakin lengket pada Silvia, seakan tak ingin menjauh barang sedetik pun.
"Kamu ngebet sekali sih, honeymoon di negara itu! Kenapa tidak memilih di Swiss atau di Paris saja. Disana juga tak kalah indahnya dengan di Jepang?!" tanya Devan memincingkan matanya heran.
Silvia tersenyum dan menggeleng tegas. "Em em... Aku suka Jepang, aku suka dengan suasananya disana. Tak hanya indah dan bersih... Disana aku bisa lihat bunga sakura dari dekat!" ungkapnya singkat dengan senyuman yang semakin lebar.
"Kenapa tanya begitu, apa kamu tidak suka pergi kesana?" tanyanya yang tiba-tiba saja perasaannya jadi tak enak, seketika melihat mimik wajah suami yang terlihat gelisah.
Devan menghela nafas pelan lalu duduk di samping koper mereka yang masih terbuka dengan beberapa tumpukan baju yang akan mereka bawa.
"Suka, ya aku juga suka kesana..." Setengah hati Devan menjawab, dengan anggukan pelan.
"Lalu kenapa ekspresimu begitu? Kalau kamu nggak suka ya tinggal bilang saja, kita bisa kok, nggak jadi pergi kesana? Tapi sayangkan tiketnya jadi mubazir!" renggut Silvia jadi kesal, karena Devan tak ingin terus terang padanya. Kalau tak mau kesana seharusnya katakan itu dari jauh-jauh hari.
Devan menoleh pada istrinya, lalu tersenyum tipis. Bukan, bukannya ia tak suka dengan tempat bulan madu pilihan Silvia. Hanya saja, Devan jadi teringat lagi dengan keinginan Cathrine saat menjadi istrinya dulu.
Dulu, Cathrine juga memintanya untuk berbulan madu di Jepang. Namun tak sempat pergi karena pekerjaannya di perusahaan saat itu sangat banyak dan Devan tak bisa begitu saja meninggalkannya.
Kenapa mereka bisa memiliki selera yang sama? Apakah karena dulu hubungan persahabatan mereka sangat begitu baik?! batin Devan.
Entah mengapa Devan tak suka bila mengingat lagi hal apa pun yang berhubungan dengan Cathrine. Sekalipun hanya sebuah hobinya. Devan sudah terlanjur sakit hati dan kecewa yang begitu dalam pada wanita itu. Cinta yang tadi begitu besar tersemat di dalam hatinya seketika berubah menjadi sebuah kebencian.
Seketika Devan pun teringat pada hadist Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam, yang mengatakan bahwa;
“Cintailah orang yang engkau cintai seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai.” (HR: Al-Tirmidzi)
Begitupun dulu sikap Devan kepada Silvia, kini rasa tak suka itu berubah menjadi cinta yang tak ia duga-duga.
__ADS_1
Silvia semakin mengerutkan keningnya. "Kok jadi diem?" tanyanya yang masih memasang wajah kecewanya.
"Sini, aku ingin mengatakan yang jujur padamu..." Devan menarik tangan Silvia dan membawanya untuk duduk di pangkuannya di tepi kasur. Menyingkap anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya, lalu Devan membelai pipi sang istri dengan menatap dalam dan lembut.
"Kamu tahu kenapa tiba-tiba aku bertanya begitu?!" tanya Devan mengangkat dua alisnya seraya menatap lamat-lamat sang istri.
Silvia sejenak terpaku, lalu menggeleng dengan pelan. "Tidak..."
"Karena dulu pun... Cathrine pernah memintaku untuk berbulan madu disana. Apakah begitu dekatnya hubunganmu dulu dengannya, sampai-sampai kalian sama-sama menyukai negara khas negri sakura itu?"
Silvia menelan cepat salivanya. "Oh jadi karena itu, alasan kamu memintaku agar tak jadi pergi berbulan madu ke Jepang?" selidiknya.
Devan tersenyum simpul. "Ya, bukan begitu juga sih....Aku hanya tak suka saja jika kamu memiliki selera yang sama dengannya... Bisakah kau tak membuatku kembali teringat padanya."
"Kenapa, apa kamu masih mencintai dia?" tanya Silvia lagi penuh selidik, ada sedikit rasa cemburu di hati ketika Devan menyebut nama mantan sahabatnya itu lagi, walau Silvia sudah berusaha untuk melupakan kisah mereka.
Silvia pun beranjak berdiri dari pangkuan Devan lalu berjalan menghadap jendela kamar. Bohong kalau dirinya tak merasakan cemburu. Tentu saja Silvia cemburu, karena dia pernah melihat sendiri suaminya bercumbu dengan Cathrine. Walau tahu dari awal, Devan memang tak pernah mencintai dirinya. Tapi benarkah, saat ini cinta Devan hanya untuknya seorang?! Silvia jadi ingin tahu kedalaman hati Devan yang sesungguhnya.
Devan menelan cepat salivanya, resah melihat diamnya istrinya. Lalu berdiri dan berjalan mengikuti Silvia, kembali memeluk pinggangnya yang ramping itu dari belakang.
"Cinta?! Dulu aku memang setengah mati mencintainya sebelum aku mengenal siapa dia sebenarnya... Catherine adalah masalalu-ku yang harus aku lupakan dan ku kubur dalam-dalam... Sekarang dan untuk selamanya, aku hanya ingin bersamamu dan mencintaimu Silvia..." ungkap Devan.
"Jika memang Cathrine masalalumu dan aku adalah masa depanmu. Jangan biarkan hal sekecil apapun merusak hubungan kita berdua. Hanya karena selera kami sama. Tapi kami memiliki sifat yang jauh berbeda Mas... Aku bisa memahami Cathrine kenapa dia bisa berubah seperti itu sekarang. Sebenarnya dulu Cathrine adalah gadis yang baik dan pemalu. Hanya saja setelah meninggalnya Mamanya, dan Papanya yang menikah lagi. Cathrine jadi kehilangan arah dan kurang kasih sayang dari kedua orangtua, tanpa ia sadari dia berubah menjadi manusia yang egois dan berambisi untuk merebut kebahagiaan oranglain..." terang Silvia dengan senyuman miris di bibirnya.
Devan pun tersohok mendengar Mama Catherine yang telah meninggal dari cerita Silvia.
"Apa?! Mama Cathrine sudah meninggal? Bukankah waktu itu Tante Tuti adalah Ibunya?!" pekik Devan melongo.
Silvia pun tertawa geli melihat ekspresi kaget suaminya.
"Beliau bukan Ibunya Cathrine, berarti kamu sudah berhasil ditipu oleh dia Mas..." Silvia tertawa miris lagi, merasa prihatin karena selama ini suaminya sudah di bohongi sedemikian rupa oleh mantan sahabatnya itu.
"Lalu siapa dia?" tanyanya lagi.
"Dia itu, dulunya adalah pembantu rumah tangganya Cathrine. Karena dulu Papa Cathrine sempat bangkrut dan sudah tak bisa lagi menggajinya. Rumah Cathrine di Bogor sampai di sita oleh pihak Bank. Makanya itu kenapa Cathrine bisa ketemu kamu di Jakarta ya kan?!" terang Silvia menebak-nebak cerita berikutnya.
Sontak Devan pun menganggukkan kepalanya mengerti.
__ADS_1
"Ooh... Jadi selama ini, dia_?" Devan menepuk-nepuk jidatnya tak percaya.
Devan berdecak kesal, bagaimana tak kesal? Dua tahun lebih dia sudah ditipu habis-habisan oleh wanita yang ia cintai.
"Cathrine penipu yang ulung. Dia pintar sekali berakting..." cebiknya.
"Sudah ya ngobrolnya keburu telat tuh! Cepetan Mas, kamu mandi duluan gih..." titah Silvia setelah melirik jam di dinding ternyata sudah pukul delapan lebih, sedang pesawat akan terbang pukul sembilan.
Devan menarik istrinya yang ingin melengos pergi darinya untuk melanjutkan beres-beresnya yang terjeda. "Tunggu dulu, kita mandi bareng saja..." bisiknya di telinga sambil tersenyum-senyum menggoda.
Silvia melototkan matanya. "Tidak mau ah, nanti malah lama lagi di kamar mandi!" tolak Silvia.
"Tidak apa-apa... Juniorku sudah kebelet sudah kangen sama sangkarnya..." celetuknya lagi.
"Ya ampun Mas..." Silvia menutup matanya dengan tangannya sendiri seketika Devan buru-buru membuka piyama tidurnya di depan matanya. Sehingga tak satupun kain yang kini menutupi tubuh Devan saat ini.
"Ayo cepat, katanya nanti takut ketinggalan pesawat..." Devan menarik cepat sang istri dan masuk ke dalam kamar mandi. Dengan pasrah Silvia pun kembali menuruti suami untuk melayaninya hingga benar-benar dia merasakan puas.
*****
Malam itu Cathrine sudah menemukan lokasi tempat bar malam di daerah itu. Ternyata tempatnya tak terlalu jauh dari kontrakan ia tinggal.
Cathrine berusaha ketat, untuk menutupi perutnya yang sedikit membuncit dengan pakaiannya, karena sekarang usia kandungannya sudah menginjak empat bulan. Kalau tak begini ia khawatir pemilik bar itu tak akan mengijinkan wanita hamil untuk bekerja di sana.
Tak lupa Cathrine merias wajahnya secantik mungkin. Agar ada yang memberinya uang tips saat ia menyanyi untuk menghibur para penonton.
"Perfect, aku memang selalu cantik. Huh jika saja si bodoh Andy itu lebih cepat menghabisi wanita sok pintar itu, aku yakin sekali Devan selamanya akan menjadi milikku..."
"Sabar... Sabarlah Cathrine, ini belum saatnya kamu kalah dan menyerah dan aku pasti akan kembali lagi padamu Dev, tapi tidak untuk saat ini..." gumamnya sendiri sambil melihat dirinya di depan cermin. Bibirnya menyungging senyum kelicikan.
Bersambung....
...****...
Bonus visual Cathrine dan Andy yah... Maaf tadinya mau ku double up, tapi karena si bungsu rewel terus jadi nggak fokus nulis... 🤧🙏
__ADS_1