Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Bertekad Mempertahankan Pernikahan


__ADS_3

...BAB 25...


...Bertekad Mempertahankan Pernikahan...


Setelah Dini mendengar kejadian pembegalan itu di Villa dari Bibi Sari. Pagi-paginya Dini menyuruh Pak Muklis untuk menjemput Silvia dan ART nya tersebut. Kedua orangtua Devan tentu menjadi khawatir lantas meminta mereka agar tinggal di rumahnya saja. Agar lebih aman.


Malam setelah kejadian itu Silvia buru-buru harus mengantarkan Andy ke sebuah klinik terdekat untuk mengobati lukanya Andy. Karena ambulance tak bisa datang menjemputnya dikarenakan ada sebagian jalanan yang rusak juga pepohonan yang roboh akibat angin kencang dan hujan lebat. Sedangkan ponsel Silvia yang tak sengaja ia tinggalkan pada Bibi Sari. Saat itulah entah kenapa Dini punya firasat tak enak dan ingin menghubungi Silvia lagi, dan Bibi Sari yang mengangkat teleponnya lalu akhirnya keceplosan bicara dan menceritakan semua detail kejadiannya.


"Kenapa saat kejadian itu kamu tidak menghubungi kami Silvia?" Dini mengerutkan dahinya menatap Silvia dengan mimik cemasnya seraya menangkup sisi wajah menantunya tersebut.


"Ma-maafkan Silvia Ma, kami hanya tak ingin membuat Mama dan Papa jadi mengkhawatirkan kami..." alasan Silvia, seraya melirik dengan gemas pada Bibi Sari yang seharusnya tak usah memberitahukan itu pada mertuanya tersebut. Silvia memang tak ingin membuat mertuanya shock dan jadi cemas.


Bibi Sari hanya menyengir menundukkan kepala, sambil me-remas gelisah ujung baju kebaya coklatnya yang ia pakai. Merasa bersalah pada Silvia yang seharusnya meminta pendapatnya dahulu boleh tidaknya ia ceritakan itu pada majikannya. Tetapi karena kejadian semalam sudah membuat jantungnya Bibi Sari ingin copot, lantas Bibi Sari tak bisa menahan diri untuk tidak menceritakannya pada majikannya tersebut.


"Lalu kenapa juga kau tak menghubungi Devan saat itu?" Dini kembali mendesak Silvia dengan pertanyaan yang membuatnya bingung dan terpaksa harus berbohong.


"Em, sudah Ma... Silvia sudah hubungi Mas Devan. Tapi ponselnya saat itu sedang tidak aktif. Mungkin ponselnya Mas Devan sedang kehabisan baterainya." dusta Silvia. Padahal sebenarnya dia sudah beberapa kali menghubungi Devan malam itu, tapi malah Cathrine-lah yang mengangkat teleponnya dan tak mengijinkannya untuk bicara dengan Devan.


"Kalau Devan tak ada jawaban, seharusnya kau menelepon kami saja, sayang..." ucapnya yang lagi-lagi merasa kesal karena dirinya dan suaminya tak di beritahukan, seakan keberadaan mereka tak ada artinya untuk Silvia.


Dengan isakan tangis yang kencang, Dini kembali memeluk erat tubuh Silvia. Takut-takut kalau akan kehilangan menantunya tersebut, karena Dini sudah terlanjur menyayangi Silvia dan sudah menganggapnya seperti putri kandungnya sendiri, dan cukuplah ia kehilangan satu kali saja putri kecilnya sepuluh tahun lalu. Jangan sampai hal itu terjadi lagi pada Silvia.


Silvia tersenyum haru seraya mengusap lembut punggungnya Dini. Menyenderkan dagunya ke pundak Dini. Kembali ia rasakan perasaan hangat di hatinya, ketika melihat rasa empati yang begitu besar dari sang mertua. Dia merasa bahwa kehadirannya di keluarga Devan sangatlah berarti. Silvia seolah menemukan lagi keluarga baru. Ia bersyukur sekali telah di pertemukan dengan Dini dan Indra.


Keinginan menyerah untuk menjadi istrinya Devan kemarin, seolah sirna begitu saja dan dia kembali bersemangat dan bertekad untuk mempertahankan lagi rumah tangganya dengan Devan.


"Sudah Ma, sudah tidak apa-apa... Yang terpenting sekarang Silvia dan Bibi Sari baik-baik saja. Iya 'kan Bi?" tanyanya menoleh pada Bibi Sari yang duduk di sampingnya, meminta bantuannya untuk menenangkan hati ibu mertuanya yang masih shock, padahal kejadiannya sudah sepuluh jam yang lalu.


"Iya Non! Nyonya Dini tak perlu khawatir lagi. Untungnya saja ada lelaki yang menolong Non Silvia saat itu. Kalau saja lelaki itu datang terlambat menolong, mungkin saat ini Non Silvia-lah yang akan terluka parah Nyonya..." ungkap Bibi Sari menggebu-gebu, lagi-lagi wanita tua yang memiliki tubuh gemuk dan pipi tembem itu tak mengontrol bicaranya, hingga membuat Dini berteriak histeris.

__ADS_1


"Apa terluka parah?!"


Lantas ia melepas pelukannya dan berganti memegang pundak Silvia. Menatap penuh emosi pada Art-nya tersebut dan Silvia secara bergantian. Emosi yang ia siratkan bukanlah marah kepada mereka melainkan penyesalan pada dirinya sendiri karena saat itu dirinya dan suaminya tak berada di dekat sang menantu. Padahal mereka tahu jika kaki menantunya belum-lah sembuh betul pasca di tabrak oleh putra mereka sendiri. Harusnya mereka-lah yang menjaganya.


"Benarkah itu?! Ya Tuhan Silviaa...." pekiknya dengan suara bergetar dan menekan dadanya yang nyaris saja jantungan. "Lalu, lalu dimana sekarang orang yang sudah menolongmu itu? Mama ingin bertemu dengannya dan mengucapkan terimakasih banyak padanya!" ucapnya antusias.


Silvia tersenyum kecut kala mengingat lagi siapa orang yang telah menolongnya malam tadi. Dia tak sangka jika orang itu adalah Andy, mantan kekasihnya dulu.


...~Flashback on~...


"Kau sudah sadar 'kan? Kalau begitu aku pamit pulang!" ketus Silvia yang lantas beranjak dari kursinya hendak pergi, setelah beberapa jam lamanya ia menemani Andy yang masih tidak sadarkan diri di ruang rawat sebuah klinik, Andy pun terbangun dan cepat-cepat meraih tangan Silvia.


"Tu-tunggu, kau mau pergi kemana?" tanyanya yang seraya menggenggam erat tangannya Silvia. Seolah tak ingin wanita di masalalunya itu pergi meninggalkannya.


Silvia melirik sekilas tangan pria yang pernah ia cintai, lekas menarik kasar tangannya dari genggaman Andy, rasanya ia jijik sekali di sentuh oleh pengkhianat sepertinya. Walaupun kejadian itu memang sudah lama terjadi.


"Ya pulang ke rumah-lah... Ngapain juga aku lama-lama disini?!" ketusnya lagi dengan sinis. "Kau tak perlu khawatir, semua biaya pengobatanmu sudah aku bayar. Sekali lagi aku ucapkan banyak-banyak terimakasih padamu. Sungguh aku tersentuh sekali dengan pengorbananmu tadi..." ucap Silvia seraya memaksakan sedikit senyumnya di bibir, dengan nada sedikit meledek. Entah mengapa Silvia tak sedikitpun terkesan dengan pertolongan Andy saat itu.


"Kenapa bicaramu seperti itu? Aku memang tulus ingin menolongmu tadi, saat melihat pembantu rumah tanggamu berteriak meminta tolong di jalanan. Aku buru-buru masuk ke Villa besarmu itu. Aku tak sangka ternyata orang yang ku tolong adalah dirimu..." ucapnya dengan tatapan sendu. "Aku terkesima melihatmu, lama sekali tak berjumpa dan ternyata kau bertambah cantik, Silvia..." ucapnya yang tiba-tiba memuji kecantikan Silvia.


Silvia menoleh tajam padanya lantas mengerutkan keningnya heran, ya walaupun dulu Andy baik dan perhatian padanya. Tapi tak pernah sekalipun ia memujinya.


"Maksudmu, apa berkata seperti itu padaku? Itu sangat tidak lucu Andy, bukankah selama ini kau hanya mengagumi Cathrine?" sindirnya.


Andy menggeleng tersenyum. "Aku dan Cathrine sudah lama putus dan sudah lama kami juga tidak bertemu lagi..." sahutnya berdusta, merapatkan bibirnya seraya matanya menghindari tatapan Silvia.


Silvia sedikit tersohok dengan ucapan Andy, yang jelas sekali ucapannya itu berbeda dengan foto kiriman Nana yang di lihatnya kemarin. Dia menatap lekat-lekat pada mata Andy mencari kebohongan di dalamnya.


"Oh ya, benarkah kalian berdua sudah putus?" tanya Silvia menyunggingkan sedikit senyumnya belum percaya.

__ADS_1


Andy mengangguk lagi. "Ya, s-sejak tiga tahun lamanya..." ucapnya lagi sedikit terbata dan sukses membuat Silvia mengangkat satu alisnya ke atas yang Andy pikir, Silvia dapat di bodohinya lagi.


"Oh ya?!" tanyanya pura-pura tak tahu padahal Silvia sudah tahu dari Nana yang pernah dua kali melihat Andy bertemu Catherine.


Andy mengangguk lagi, memandangi Silvia yang masih berdiri di hadapannya. "Sebenarnya sudah lama aku ingin meminta maaf padamu..." perlahan Andy mengambil lagi tangan Silvia. "Aku benar-benar minta maaf dan aku menyesal karena telah menghianatimu dulu. Aku menyesal karna ternyata Cathrine tak sebaik yang pernah aku pikirkan... Silvia maukah kau kembali dan menjalin hubungan denganku?" pintanya tiba-tiba, dengan raut sendu dan suara lirihnya, Andy mencoba untuk merayu mantan calon istrinya dulu. Andy berharap rencananya dengan Cathrine untuk memisahkan Silvia dan Devan akan berhasil demi keuntungan mereka bersama.


Silvia tersenyum manis pada Andy, lantas melepas lagi tangannya yang di pegang oleh Andy. "Andy, ya aku sudah mencoba untuk memaafkan kalian berdua. Kau dan Cathrine, walaupun hatiku masih terasa sakit. Karena ulah kalian berdua, Ayahku meninggal. Dan itu tidak bisa membuatnya kembali hidup. Dan maaf, selain aku tak bisa kembali padamu, aku juga sudah menikah, dan aku sangat mencintai suamiku..." ucapnya lagi tersenyum. "Selamat tinggal Andy, ku harap kita berdua tidak bertemu lagi..." Lalu Silvia meninggalkan Andy dan melenggang pergi dari klinik itu.


Di dalam hatinya Silvia berdoa semoga dia tak di pertemukan lagi dengan pengkhianat itu. Entah mengapa firasatnya mengatakan Silvia bahwa Andy saat itu tengah bersandiwara untuk mengelabui dirinya, Silvia merasa yakin jika Andy masih berhubungan dekat dengan Cathrine.


...~Flashback of~...


"Dia... Sedang di rawat di klinik dekat Villa Ma... Tenang saja Mama tak perlu khawatir, lelaki yang menolongku itu baik-baik saja. Silvia sudah mengucapkan terimakasih padanya..." terang Silvia pada Dini yang masih tegang.


Sedangkan Dini yang masih meluapkan segala emosinya pada Silvia dan Bibi Sari di ruang tamu tersebut. Indra yang sejak tadi berjalan mondar-mandir gelisah sambil melihat jam tangannya di teras menunggu putranya yang belum juga kunjung pulang ke rumah. Setelah tadi Indra meneleponnya yang katanya putranya semalam lembur di kantornya.


"Kemana anak itu? Heran, semalam istrinya dalam bahaya tapi dia malah lebih mementingkan dirinya sendiri di kantornya." geram Indra seraya mengepal kencang ponsel di tangan kanannya.


Tak berapa lama. Mobil pajero milik Devan pun memasuki pekarangan rumah yang luas itu, setelah penjaga rumah membuka pagar yang tinggi dengan lebar.


Devan mengklasonnya sekali dan memarkirkannya perlahan di sana. Indra yang hendak memasuki rumahnya, kembali berbalik ke belakang.


"Akhirnya pulang juga, anak itu!" ucapnya, bergumam kesal.


Bersambung....


...****...


Silakan mampir ke novel temanku... ceritanya sangat seru readers...☺️☺️☺️

__ADS_1



__ADS_2