
...BAB 53...
...Bertemu Teman Seperjuangan...
Silvia terkekeh geli mendengar cerita teman kampusnya. Tak sangka ia dapat bertemu dengan Rafa lagi di Jakarta selama beberapa tahun tak bertemu. Teman seperjuangannya dulu semasa kuliah di Bogor.
Kebetulan Rafa juga punya usaha di dekat pasar abang itu. Usaha Cafe yang ia dirikan tiga tahun lalu dan kebetulan juga Cafe milik Rafa berada bersebrangan dengan tokonya Silvia.
Awalnya Rafa tak tahu jika pemilik toko sepatu dan tas itu adalah milik Silvia temannya. Diam-diam Rafa terus mengamatinya tak jauh dari tokonya Silvia, tak tega melihat Silvia yang melayani para pembeli seorang diri. Rafa pun memberanikan diri menghampiri.
Tapi setelah Rafa melihat dari jarak yang sangat dekat. Rafa terkejut, ternyata wanita berhijab pemilik toko itu adalah Silvia.
"Jadi kamu sudah menikah? Wah tak sangka ku pikir kamu jadi tak mau menikah setelah di khianati oleh mantan tunanganmu dan teman yang kau anggap baik itu..." ucapnya hati-hati.
Setelah keduanya istirahat siang dan Rafa mengajak Silvia untuk makan gratis di Cafenya sebagai tamu spesialnya. Silvia memilih duduk di meja cafe outdoor agar bisa melihat tokonya dari seberang.
"Ya, aku menikah pun karena saat itu aku kecelakaan dan suamiku lah yang tak sengaja menabrakku. Jadi dia merasa bersalah dan akhirnya dia bertanggung jawab padaku..." jelas Silvia tersenyum tipis lalu dia kembali menyeruput jus mangganya. Dia menyangkal, kalau sebenarnya dialah yang memaksa Devan untuk menikahinya
"Oh jadi begitu ceritanya... Yah... berarti aku udah keduluan dong sama suamimu..." cebiknya agak kecewa.
Silvia mendelik, dan mengerutkan keningnya tak mengerti. "Maksudnya?"
"Aku terlambat melamarmu jadi istriku..." celotehnya blak-blakkan yang seketika membuat Silvia jadi tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya.
Silvia tahu Rafa hanya bercanda saja padanya. Dari dulu sifat Rafa memang begitu, senang bercanda, tapi walau begitu dia selalu perhatian padanya. Namun sayangnya cinta Rafa bukanlah untuk Silvia. Maka itu Silvia tak terlalu serius menanggapi celotehan usilnya.
"Beneran? Bukankah dulu kamu sukanya sama Cathrine ya, sampai dulu kamu memohon-mohon memintaku untuk comblangin ke dia!" ledek Silvia. "Silviaa pleasee... Bantu aku berikan kado valentine buat teman bule mu itu, aku cinta mati sama dia Sil...." cibir Silvia seraya meledek suara Rafa yang di imut-imutkan waktu itu. Masih ingat di benaknya, akan kekocakan mereka bersama semasa kuliah.
Rafa tertawa miris jika mengingat lagi masa remaja mereka dulu, dia sebenarnya sangat sakit hati dengan penolakan Cathrine karena dia bukanlah anak orang kaya. Tapi dia lebih sakit hati lagi setelah tahu Silvia, di hianati oleh Cathrine dan juga tunangannya saat itu.
"Huh lupakan wanita matre itu. Aku malah suka wanita yang apa adanya sepertimu. Wah lama tak bertemu, penampilanmu benar-benar berubah drastis ya, seperti bukan Silvia yang tomboy yang pernah ku kenali dulu..." ungkapnya terkekeh geli. "Jujur saja sekarang kau terlihat anggun dengan gamis yang kamu pakai..."
"Kan aku udah nikah, masa masih kayak anak laki?! Rubah dikit kan gak papa, biar ditambah sayang sama suami... Kalau masih bar-bar kayak dulu nanti suamiku bisa kabur lagi, ninggalin aku!" celetuknya sendiri.
__ADS_1
"Oh jadi itu artinya, kamu sangat mencintai suamimu?" ledeknya.
Silvia sedikit tertegun dengan pertanyaan Rafa, lalu dia mengangguk kecil dan tersenyum. "Iyalah tentu saja aku mencintainya Fa, mana mungkin aku juga mau menikah dengannya kalau nggak cinta..." ucapnya tersipu malu-malu.
Namun sekilas Rafa seperti melihat ada kesedihan di raut wajah Silvia. Entah mungkin hanya perasaannya saja.
"Ya syukurlah jika memang begitu, semoga kau selalu hidup bahagia bersama suamimu..." Rafa lantas mengusap lembut atas kepala jilbab Silvia, seperti dulu yang sering ia lakukan mengusap kepalanya dengan penuh perhatian. Rafa memang salah satu teman Silvia yang paling care dari teman yang lainnya.
"Aamiin..." jawab Silvia.
Mereka pun saling menatap dalam dengan melempar senyum yang akrab dan hangat seperti layaknya dua saudara yang sudah lama terpisah dan di pertemukan kembali.
Namun keakraban mereka ternyata di salah artikan oleh seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari arah samping mereka.
"Oh, jadi begini rupanya! Kau diam-diam bekerja tanpa ijin dariku. Karena memang ingin bebas berduaan dengan teman priamu disini?!"
Silvia dan Rafa terkejut, saat kedatangan Devan tiba-tiba disana.
"Mas Devan?" pekiknya pelan.
"Mas kok ada disini? Memangnya nggak masuk kerja?" tanyanya tergugup. Kenapa Devan bisa tahu kalau ia ada di pasar sini. Apakah Bi Sari yang sudah bilang padanya? pikir Silvia dalam hati.
Devan menarik tangan Silvia dengan kasar. "Jelaskan padaku di rumah. Ayo kita pulang sekarang!" bisiknya, dengan tegas.
Rafa yang melihat Devan mengasari Silvia sontak menahan tangannya. "Hei Mas, tolong lembutlah sedikit pada istrimu..." ujarnya.
Devan memincingkan matanya. "Siapa kau berani memerintahku? Dia istriku dan aku berhak melakukan apapun padanya!" tegasnya pada Rafa.
"Mas, sudah... Dia ini adalah tem_." Silvia ingin menjelaskan Rafa pada Devan, tetapi Devan tak mau mendengarkan dia malah langsung menarik lagi tangan istrinya dan membawanya ke mobil.
"Ayo cepat pulang!" perintahnya.
"Mas, tapi tokoku belum di tutup!" sahut Silvia setengah berteriak. Meminta di lepaskan dulu tangannya yang terus di tarik-tarik.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo cepat tutup dulu tokonya." titahnya lagi, masih dengan bernada ketus.
Devan menunggu di depan Toko Silvia, tatapannya masih melihat pada Rafa yang juga sedang memperhatikan di sebrang jalan. Di sana Rafa terlihat mencemaskan Silvia jika suaminya akan memarahinya. Mungkin pertemuan mereka membuat suaminya Silvia jadi salah paham.
Silvia terpaksa menuruti perintahnya Devan. Sebenarnya ini masih jam setengah dua siang. Sementara Silvia biasa menutup tokonya pukul empat sore satu jam sebelum suaminya pulang dari bekerja.
Tapi karena sudah ketahuan Devan, bahwa ia diam-diam telah bekerja, dan sepertinya dia juga marah besar karena melihatnya bersama pria. Akhirnya Silvia mau tak mau harus menutup tokonya.
Silvia bingung, dia juga membawa mobilnya. Jadi tidak mungkin dia ikut masuk mobil suaminya. Yang akhirnya Devan menyuruh Silvia untuk menaiki mobilnya pulang duluan, dan Devan akan mengikuti mobilnya dari belakang. Seperti halnya tadi di lakukan saat ia menjemput Cathrine di apartemen.
Setelah selesai membantu istri keduanya mengambil barang-barang yang tertinggal di apartemen. Devan bergegas pergi untuk mencari Silvia di pasar abang saat itu, seperti yang di katakan Bi Sari bahwa Silvia membuka tokonya di dekat pasar sana.
Ternyata tidak begitu sulit untuk mencari Silvia. Namun sontak hatinya bergejolak panas, di bakar api cemburu. Ketika melihat pria lain yang menyentuh kepala sang istri di depan mata kepalanya sendiri. Devan tak terima dan lekas turun dari mobil menghampiri mereka.
"Mas! Pelan-pelan dong kakiku masih sakit..." Silvia memekik kesakitan, karna Devan yang terlalu kasar menariknya masuk ke dalam rumah.
Cathrine yang mendengar suara rintihan Silvia, lantas menengok keluar kamarnya.
Hingga mereka sampai dalam kamar. Devan menutup kencang pintu kamarnya. Lalu Devan menghempas kasar tubuh Silvia ke atas kasur.
"Mas!! Kamu ini apa-apaan sih?! Marah-marah nggak jelas begitu. Malu Mas dilihatin orang!!" Silvia meringis menahan sakit di bagian lengan dan juga kakinya. Nafasnya naik turun, menahan emosi juga lelah karena terus berjalan cepat menyeimbangi jalan Devan.
Selama lima bulan menikah, baru kali ini ia melihat suaminya yang begitu marah dan kasar kepadanya.
"Kamu yang kenapa? Berani sekali bekerja tanpa seijin suamimu Silvia. Kau sudah mulai tak menuruti suamimu rupanya, hah?!" bentaknya.
Di luar kamar Cathrine buru-buru menguping percecokan mereka, dengan menempelkan telinganya ke daun pintu kamar Suami dan kakak madunya. Bibirnya menyeringai kecil sangat puas, karna inilah yang ia tunggu-tunggu selama ini. Silvia di marahi habis-habisan oleh Devan.
Menyerahlah dari pernikahan ini Silvia, aku yakin suatu saat kau tak kan pernah tahan dengan perlakuan Devan yang posesif. Rasakanlah itu! umpatnya dalam hati.
Cathrine pun kembali masuk ke kamarnya dengan hati yang puas dan senang.
Bersambung....
__ADS_1
...****...