
...BAB 31...
...Demi Sebuah Misi...
"Em, terimakasih sudah menolongku lagi. Tapi aku harus segera kembali." alihnya yang tak ingin berbasa-basi dengan Andy.
Silvia bergegas ingin pergi, namun langkahnya tak seimbang hingga nyaris ia terjatuh, jika saja Andy tak cekatan menahan pinggangnya.
"Eh, hati-hati!" refleksnya. Sontak Silvia menoleh padanya. Membulatkan matanya lebar menatap Andy.
"Silvia! Apa yang sedang kau lakukan dengan pria itu disini?" pekik Devan, yang sekarang dia sudah berdiri di depan mereka.
Keduanya terkejut. Andy lekas melepas lagi tangannya yang melingkar di pinggang Silvia.
"Dari tadi aku mencarimu, sampai-sampai Mama memarahiku lagi. Ternyata kamu sedang berduaan dengan pria asing!" Devan mengerutkan dahinya lantas mendekati mereka berdua. Menatap bergantian pada Silvia dan juga Andy. Devan pun mengerutkan keningnya melihat seksama pada penampilan Andy dengan memakai seragam supir.
"Kau, bukankah kau itu supir baru yang di rekrut dari perusahaan Papa kemarin?" Devan baru teringat jika Andy kemarin yang terpilih menjadi supir pribadi perusahaan milik Indra.
"Iya Pak Devan!" angguk Andy sedikit menundukkan kepalanya menghormati putra atasannya kini. "Maaf, tadi saya melihat istri anda sedang di ganggu oleh dua berandalan maka itu saya_" terangnya yang ingin menjelaskan namun segera di potong oleh Devan.
"Ya sudah, terimakasih banyak sudah menolong istri saya. Sekarang kau boleh pergi dan tinggalkan kami berdua." titah Devan setelah melihat dua pemuda berandalan itu pergi tunggang langgang menjauhi mereka.
"Baik Pak!" Andy pun mengangguk lagi, dan sebelum pergi, Andy menoleh lalu menyempatkan tersenyum pada Silvia dan hanya di balas anggukan kecil dan tatapan dingin dari Silvia.
Devan yang melihat mereka saling menatap pun mendelik tak suka. Lantas Devan mendengus kasar lalu memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana.
"Kau mengenal lelaki itu?" tanyanya to the point setelah kepergian Andy. Sebab, ia melihat tatapan Andy yang berbeda pada Silvia tadi.
Silvia mendelik kesal, lalu menyedekapkan tangan di dadanya. "Kenal atau tidak aku padanya, itu bukan urusanmu! Sekarang aku tanya padamu. Kemana saja saat aku lagi butuh kamu, tadi?" gerutunya.
Devan menelan ludahnya susah payah, sedikit tergugup. "Em, tadi_ aku bertemu sahabat baikku dan kami berbincang sebentar..." jawabnya seraya mengusap kasar tengkuk lehernya agak gelisah.
Silvia mendelik lagi dengan tatapan tak percaya. Wajah Devan terlihat aneh seperti tengah menyembunyikan sesuatu padanya. "Benarkah, dimana kalian bertemu dan mengobrol? Kok, aku sampai nggak melihat kamu dan temanmu itu?" tanyanya menyelidik curiga.
"Tentu saja kami mengobrol di tempat yang sunyi. Tahu sendiri kan disana berisik sekali, mana kami bisa mengobrol dengan nyaman dan tenang disana. Sudah jangan bertanya lagi, sebaiknya kita kembali dan bersiap-siap untuk pulang!" alihnya seraya menarik lengan Silvia
"Lho emangnya pestanya sudah selesai?" tanya Silvia heran karena melihat orang di pesta itu masih terlihat ramai.
"Mama dan Papa menyuruh kita pulang duluan, karena Mama tadi melihatmu seperti kecapean lalu meminta kita untuk segera pulang dan istirahat..." ujarnya dengan sedikit perhatian Devan menuntun lengan Silvia lalu berjalan menghampiri keluarga besar mereka untuk pamitan.
"Pulanglah duluan Silvia. Kamu pasti capek kan semalaman ini..." titah Dini seraya mengusap bahu Silvia.
Silvia mengangguk pelan membenarkan perkataan Dini. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, dan sebenarnya Silvia memang sudah sangat letih dan mengantuk. "Kalau begitu Silvia pamit pulang duluan ya Ma, Pa... Tante dan Om... Maaf tidak bisa menemani Tante-tante dan juga Om untuk ngobrol-ngobrol lebih lama lagi." sapa Silvia pada mereka satu-persatu untuk berpamitan.
__ADS_1
"Iya Silvia tidak apa-apa, pulang dan lekaslah istirahat.. Kami memakluminya kok, kalian berdua ini kan masih pengantin baru. Jadi wajar jika kalian memang masih menikmati malam-malam kebersamaan..." celetuk Tante Intan yang diiringi kekehan renyah oleh mereka semua.
"Iya Sil, cepet-cepet kamu juga kasih cucu buat Mama dan Papa mertuamu biar suasana rumah jadi rame." celetuk mereka lagi, dan sontak celotehan mereka membuat Silvia dan Devan menjadi grogi.
Silvia hanya tersenyum kikuk menanggapinya, sementara Devan acuh tak acuh saja. Seolah tak mendengarnya.
Setelah mereka berdua berpamitan, lalu mereka hendak memasuki mobil, namun dari jauh Andy tiba-tiba saja berlari menghampiri Silvia dan memanggilnya.
"Apakah ini kepunyaanmu Sil, oh maaf maksud saya punya anda Nyonya?" ralat Andy yang pura-pura tergugup di depan Devan, dan Andy memang benar-benar sengaja melakukannya.
Sekilas perkataannya tadi terdengar jelas di telinganya Devan yang sedang berdiri memperhatikan mereka di sisi pintu mobil yang ia buka untuk Silvia.
Andy lekas menyodorkan bros bunga cantik yang ia genggam ke arah Silvia. Silvia pun mengambil brosnya itu di tangan Andy. "Oh iya, ini memang punyaku..." sahutnya yang baru tersadar telah kehilangan bros yang tadi menempel jilbabnya. Mungkin karena dua pemuda berandal tadi yang menyeretnya paksa hingga bros itu terlepas dari jilbabnya tersebut.
"Barusan aku melihatnya di tempat tadi. Aku rasa itu adalah milikmu Nyonya..." terang Andy lagi.
"Sekali lagi aku ucapkan terimakasih banyak pada anda..." ucap Silvia mengangguk tanpa tersenyum.
Andy menyungging senyum manisnya lagi pada Silvia, walaupun ia tahu Silvia tak pernah mau membalas senyumannya. Tetapi dia akan berusaha untuk menarik perhatian Silvia dan membuatnya jatuh cinta lagi padanya seperti dulu. Demi sebuah misinya bersama Cathrine akan berhasil. Andy akan terus mendekati Silvia dan membuat Devan salah paham terhadapnya, sehingga Devan menceraikan Silvia. Itulah rencana terbesar Andy dan juga Cathrine yang selama ini buat.
Setelah Andy pulang dari klinik saat itu, Andy memang berencana untuk membuntuti Silvia kemanapun ia pergi, dan berpura-pura menjadi supir pribadi Indra hanya untuk bisa mendekati lagi Silvia.
Andy pun kembali pergi setelah menundukkan sedikit kepalanya hormat ke pada Devan.
"Ya, aku memang mengenalnya kok, bahkan sangat-sangat mengenalnya..." ungkap Silvia dengan pandangan tajam ke arah punggung Andy yang sudah menjauh pergi. Dia sama sekali tak pernah takut untuk mengatakan sejujurnya pada Devan.
"Jadi tebakanku benar kan. Siapa dia?" tanyanya lagi penasaran.
Silvia menoleh ke belakang, menatap sinis pada Devan. "Kau ingin tahu?" Devan menyedekapkan tangan sambil menyenderkan punggung di sisi mobilnya.
"Ya!" ucapnya singkat.
"Dia adalah mantan kekasihku yang pernah mengkhianatiku..." ucap Silvia terus terang. Lalu ia tersenyum miring menatap Devan yang sudah membelalakan matanya sedikit terkejut.
"Kau serius?"
Silvia mengangguk lagi. "Ya, buat apa aku bohongi kamu. Bohong hanya akan membuat hati tak tenang. Lebih baik aku jujur dari sekarang supaya kamu tidak salah paham padaku nantinya."
Devan tertawa sinis mendengar kejujuran Silvia padanya.
"Huh buat apa aku harus salah paham, itu urusanmu dengannya. Jangan terlalu kege-eran, mau kau di dekati banyak pria pun aku tetap tak akan pernah cemburu padamu!" ledeknya. "Ayo masuk, aku ingin segera pulang dan mengganti pakaianku ini! Rasanya gerah sekali memakai jas ini semalaman!" ocehnya mengalihkan pembicaraan.
Silvia mencebikkan bibirnya kecewa, padahal sebenarnya Silvia berharap akan di tanya lebih oleh Devan agar dia bisa mengungkapkan sebenarnya bahwa mantan kekasihnya itu dulu pernah berselingkuh dengan kekasihnya Devan.
__ADS_1
Hingga di perjalanan pulang mereka tak banyak bicara suasana begitu dingin dan canggung. Selang beberapa waktu kemudian mobil mereka telah sampai rumah. Silvia yang berjalan pelan di belakang Devan hendak masuk ke rumah, tiba-tiba langkahnya mendadak terhenti karena Devan buru-buru mengangkat ponselnya yang berdering nyaring.
"Hallo! I-iya sebentar, kalian tunggu dulu di sana." Devan lekas mematikan lagi teleponnya dan memasukannya di saku dalam jasnya yang ia pakai.
"Aku keluar dulu sebentar." ujar Devan dengan tak menatap pada Silvia yang sudah memasang raut tanya padanya.
"Kau mau pergi kemana?"
"Masuklah ke dalam duluan, aku ada urusan sebentar, tak lama." sahutnya lagi yang bergegas lari keluar gerbang melewati Silvia di depan pintu.
Di sana Devan meminta pada penjaga rumah untuk membukakan lagi pagar gerbangnya dan keluar halaman tanpa mobilnya. Silvia melihatnya dari jauh lantas mengernyitkan keningnya penasaran. Entah kenapa Silvia jadi ingin tahu apa yang sedang Devan lakukan disana.
Dia pun bergegas melangkah dengan pincang mengikuti kemana Devan pergi. Silvia meminta penjaga rumah agar tak bersuara dan bertanya padanya seraya menutup bibirnya dengan jari telunjuknya. Pak penjaga rumah itu pun mengangguk menuruti perintah Silvia.
Silvia perlahan mengendap-ngendap di balik dinding beton halaman rumah Devan dan mencuri dengar sebuah obrolan yang mengejutkannya.
"Bodoh, kenapa kalian berdua bisa kalah dari lelaki itu!" suara Devan samar terdengar sangat marah dan kesal.
Lantas Silvia yang berdiri di balik dinding pun mengintip dari celah pagar tinggi itu. Silvia kembali terbelalak melihat dua pemuda berandalan tadi yang mengganggunya kini tengah berbicara dengan Devan. Silvia membekap mulutnya tak percaya yang ia lihat sendiri.
"Ma-maaf Pak, kami nggak tahu kalau bakalan ada yang nyelamatin istri anda!" jawab salah satu lelaki dari mereka. Wajahnya terlihat ketakutan karena aksi mereka tadi gagal.
"Kalian itu aku suruh buat nakutin istriku! Tapi tak ada hasilnya. Heran katanya kalian pintar beladiri tapi lawan satu lelaki saja tidak bisa!" decaknya kesal.
"Mana kami tahu Pak, kalau lelaki itu juga pandai berkelahi. Lalu bagaimana dengan luka kami Pak, kami juga butuh uang untuk biaya pengobatan kami..." pinta salah satu dari mereka. Sambil menunjukkan wajah memar mereka pada Devan. Devan yang melihatnya hanya mendengus kasar.
"Pergilah, dan jangan tampakkan wajah kalian lagi di depanku!" tegas Devan setelah memberi bayaran untuk mereka.
"Ba-baik Pak Devan terimakasih banyak!" ucap mereka yang segera pergi dengan sebuah motor bebeknya, setelah mendapatkan uang yang mereka mau.
Devan pun kembali berbalik dan masuk ke gerbang halamannya. Dengan wajah di tekuk kesal karena rencananya ingin membuat Silvia ketakutan gagal total gara-gara Andy.
Saat melangkah masuk, Devan terkejut matanya membulat lebar karna Silvia sudah berdiri sambil bersedekap tangan di pinggir pagar.
"Oh, jadi rupanya dua berandal itu adalah suruhanmu?!" desisnya dengan memincingkan tajam menatap Devan yang sudah pucat pasi.
Bersambung....
...****...
Yuk mampir ke novel teman ku ya readers
__ADS_1