Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Mengunjungi Rumah Mertua


__ADS_3

...BAB 15...


...Mengunjungi Rumah Mertua...


Setelah panggilan dari sang Mama, Devan cepat-cepat menghabiskan makanannya. "Bersiaplah..." ucapnya datar, lalu Devan meneguk habis minumannya hingga tandas.


"Ha, bersiap apa?" tanya Silvia membulatkan matanya tak mengerti. Menatap heran pada lelaki yang bergelar suaminya itu, yang kini sudah beranjak dari kursinya.


"Bersiaplah kau mandi dan bergganti pakaianmu, Silvia. Papa dan Mamaku menyuruh kita berdua untuk datang ke rumah mereka!" titahnya lagi.


"Eh memangnya ada hal apa?" tanyanya lagi seraya memasang wajah penuh kepolosan. "Mereka juga menyuruhku datang?"


"Tak perlu banyak tanya, lakukan saja perintahku!" sungutnya kesal.


"Tapi kan aku sudah mandi?" renggutnya.


Devan berdecak kesal sambil berkacak pinggang. "Kalau sudah mandi, ya gantilah pakaianmu. Pakai yang lebih bagus! Aku tunggu kamu di depan!" titahnya yang langsung melengos pergi meninggalkan Silvia di meja makan.


"Okey!" Silvia pun lekas menghabiskan makanannya yang tinggal sedikit itu. Lalu hendak membereskan piring kotor bekas makan dirinya dan juga Devan. Bibi Sari yang baru saja selesai berjemur pakaian majikannya, lekas menaruh keranjang cuciannya di sisi mesin cuci lalu bergegas menghampiri Silvia yang sedang kesulitan menaruh piring kotornya di atas wastafel.


"E-eeh Non Silvia, udah-udah biar Bibi saja yang beresin!" serunya menghentikan pekerjaan Silvia.


"Eh, makasih banyak ya Bi..." ucap Silvia. "Oh ya Bi, pagi ini Silvia mau bersiap pergi bersama Devan ke rumah orangtuanya. Bibi, nggak papa kan di tinggal sendirian di sini jagain Villa?"


"Oke siap Non! Jangan khawatir Bibi pasti jagain Villa ini. Bibi udeh biase kok di tinggal-tinggal sendiri!" sergapnya dengan logat betawi, sambil mengancungkan jempol tangan keriputnya di atas dadanya. Silvia menggelengkan kepalanya dengan diiringi kekehan geli melihat tingkah Bibi Sari yang sudah berumur itu, namun tubuh gendutnya masih terlihat tetap energik.


Silvia berjalan tertatih-tatih dengan kruk yang masih setia di tangannya, masuk ke dalam kamarnya lalu membuka lemari baju dan memilih-memilih pakaian yang cocok untuk bertemu dengan kedua mertuanya tersebut. Setelah memperhatikan penampilan Dini kemarin, Silvia jadi terinspirasi untuk memakai pakaian yang lebih tertutup. Walau Silvia memang belum pernah mengenakan hijab seumur hidupnya. Untungnya saja pakaian-pakaian yang ia miliki tak ada satupun yang kekurangan bahan.


"Kalau di lihat-lihat dari orangnya sih, Mamanya Devan tak menyukai tipe perempuan-perempuan seperti Cathrine. Makanya itu, dia begitu tegas untuk memutuskan hubungan mereka. Kalau begini aku tak perlu lagi capek-capek untuk menarik perhatian Devan, toh Mamanya juga sudah restui pernikahan ini." gumamnya sendiri di depan kaca.

__ADS_1


Setelah Silvia mendapatkan baju yang sesuai hatinya, ia lekas memakainya. Lalu Silvia menepuk-nepukkan wajahnya dengan sedikit bedak padat serta olesan warna pink natural di bibir tipisnya. Rambut panjang hitamnya ia biarkan tergerai dan memakai jepit merah di satu sisi atas kepalanya. Silvia tersenyum puas di depan cermin, sambil memuji kecantikannya sendiri.


"Cathrine memang cantik, tapi kalau aku berdandan kayak gini. Aku juga nggak kalah cantik kok sama dia!" celotehnya lagi sambil terus mengagumi penampilannya sendiri. Hingga akhirnya dia di sadarkan oleh pemilik suara yang sudah bosan menunggunya di luar Villa.


"SILVIAA!!!" teriaknya memanggil. "Mau sampai kapan kamu berganti pakaian?!"


Silvia melonjak kaget mendengar suara bariton yang menusuk tajam hingga ke pendengarannya. "Iya, sebentar lagi!!" balas teriaknya. "Huh, dasar tidak sabaran sekali sih tuh orang! Oh maklum lah dia kan lagi sensi, karna sebentar lagi dia harus memutuskan kekasihnya itu. Hahaha... Kasihan-kasihan..." ledeknya sambil geleng-geleng kepala dengan gaya upin-ipin, lalu ia tertawa cekikikkan dengan puasnya.


Lima menit kemudian...


"Lama sekali, kau sedang melakukan apa sebenarnya di dalam kamarmu hah?!" tanya Devan dengan nada sedikit membentak. Lekas ia membuka pintu mobil untuk Silvia.


"Maaf-maaf, tadi kan kamu suruh aku pakai pakaian yang bagus. Ya, aku bingung 'kan harus pakai yang mana?! Soalnya semua pakaianku nggak ada yang jelek-jelek!" timpal Silvia sambil mengerucutkan bibirnya ke depan. Sedang Devan menatap sinis penampilan Silvia dari atas kepala hingga bawah kakinya.


"Oh ya, lama memakai bajumu, atau memang lama berdandan di depan cermin, hm? Sudahlah mau di dandan seperti apapun, Cathrine itu jauh lebih cantik darimu. Dan aku tidak akan pernah tertarik padamu!" ledeknya dengan sindiran pedas. Melihat penampilan Silvia yang berbeda hari itu, Devan berpikir kalau wanita yang sudah menjadi istrinya itu hanyalah ingin mencari perhatiannya saja.


"Terserah apa katamu, nggak cantik juga nggak papa, tapi yang terpenting Mamamu menyukaiku, iya 'kan?!" telak Silvia tersenyum seraya membusungkan dadanya jumawa, dan ucapannya berhasil membuat Devan jadi kehabisan kata-kata lagi.


Selama dalam perjalanan menuju kediaman Alvandra. Keduanya saling diam tak ada obrolan lagi yang memancing emosi keduanya. Biasanya mereka memang selalu bertengkar jika sudah saling bicara . Mereka berdua bagaikan musuh dalam selimut, saling berperang dalam hatinya masing-masing. Hanya sekali dua kali saja mereka saling lirik dengan tatapan sinis dan juga dingin. Lalu kembali fokus dengan pikirannya sendiri-sendiri. Devan yang fokus ke arah jalan raya di depannya sedangkan Silvia membuang mukanya ke arah jendela samping kirinya. Melihat pemandangan pohon-pohon dan rumah-rumah yang terlewati.


Dasar cewek sok kepedean sekali! Awas saja kalau sampai tahu dia cari perhatian lagi di depan orangtuaku! Aku tak segan-segan lagi untuk menghukumnya lebih berat lagi. gumam Devan di dalam hatinya, bibirnya tersenyum menyeringai menyusun siasat yang akan ia susun nantinya.


****


Satu jam lebih akhirnya mobil yang di kendarai Devan telah sampai rumah mewah milik kedua orangtuanya. Setelah membunyikan klaksonnya. Pak Muklis seorang penjaga sekaligus supir pribadinya Dini bergegas membuka pintu pagar besi dengan lebar. Perlahan Devan memasuki mobilnya ke dalam dan memarkirkannya di pelataran rumah.


Devan lekas turun dan keluar dari mobilnya, lalu berjalan cepat ke arah pintu utama tanpa memperdulikan Silvia yang masih duduk di bangku mobil. "Ish, menyebalkan sekali dia! Kok tidak sekalian sih bukain pintu untukku!" sungutnya kesal.


Silvia pun menyusul keluar mobil dengan wajah cemberut. Lalu menghampiri Devan dan dengan sengaja menabrak bahunya yang kokoh. Devan menoleh ingin marah, Silvia membalasnya dengan tatapan menantang.

__ADS_1


Namun setelah melihat Dini dan Indra membuka pintu, wajah mereka berubah menjadi manis.


"Devan, Silvia... Kalian baru sampai? Ayo masuk ke dalam Nak..." sambut Dini semringah.


"Iya Tante Om..." angguk Silvia, jujur saja dia memang sangat gugup karna itu adalah pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di rumah mertuanya.


"Ya Allah kok masih panggil Tante dan Om sih?! Sekarang kamu adalah menantu kami jadi panggil kami dengan sebutan Papa dan Mama juga ya..." ujar Dini pada Silvia, dan Silvia pun mengangguk mengerti.


"Baik Tan, eh Mama Papa... Hehehe..." ralatnya lagi tersipu malu. Dini menggeleng tersenyum.


"Ya sudah, ayo masuk, masuk! Ada yang ingin Mama dan Papa bicarakan dengan kalian berdua di dalam. Tapi sebelumnya kalian berdua sudah sarapan?" tanya Dini.


"Sudah Ma, sebelum kesini kami sarapan dulu." jawab Silvia.


Lalu mereka berempat pun masuk ke dalam rumah, dan dudukkan di ruang keluarga. Mereka pun mulai membicarakan hal serius dan penting pada intinya.


"Bagaimana Dev, apa kau sudah siap untuk bertemu Cathrine dan keluarganya?" tanya Papa Indra yang memulai pembicaraan itu. "Kemarin Mamamu sudah menceritakan masalahmu pada Papa. Papa sih semua terserah pada keputusanmu, hanya saja apa yang Mamamu sampaikan itu ada baiknya."


Devan menghela nafasnya berat dan panjang. Lalu mengusap wajahnya bimbang.


"Pa, Ma... Bisakah beri Devan waktu? Sebenarnya ini sulit sekali bagi Devan. Devan tak ingin mengecewakan hati Cathrine. Setahun lamanya kami sudah serius menjalin hubungan ini." terangnya. "Devan mohon, restuilah kami. Mah, Pa... Devan yakin, Devan pasti bisa membuat Cathrine merubah penampilannya." bujuk lagi Devan, dia berharap Dini mau mempertimbangkannya lagi.


Dini tetap menggeleng tegas. "Sekali Mama tak setuju. Mama tetap tak setuju, Dev! Jujur saja Mama tuh masih ragu sama dia."


"Apa sih yang Mama ragukan dari Cathrine? Dia cantik Ma dan juga berpendidikan, hanya saja dia terpaksa harus menjual suaranya karna Ibunya sudah tua dan sedang sakit-sakitan di luar kota. Mama harusnya bisa mengerti kondisinya." lirih Devan dengan wajah memelas ia memohon pada Dini agar mau merestui hubungannya dengan Cathrine untuk terakhir kalinya. Sedang Dini masih berwajah masam sambil membuang mukanya.


Silvia pun menoleh terkejut pada Devan. Keningnya mengerut tanya. Apa, bukankah Cathrine sudah tak punya lagi Ibu? Aneh, setahuku dia dulu tinggal di rumah sendirian, sedangkan Ayahnya pergi menikah lagi. Apa yang di maksud Devan adalah Ibu tirinya Cathrine?! gumamnya di dalam hati.


"Telepon dia sekarang dan suruh dia kemari menemui Mama dan Papamu. Jika kau tidak mau menyampaikannya. Biar Mama saja yang akan memberinya pengertian. Cathrine harus sadar bahwa cinta tak harus di paksakan. Dan Mama tetap tak akan menyetujuimu untuk menikahi dua wanita sekaligus!" tegas Dini.

__ADS_1


Bersambung....


...****...


__ADS_2