Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Kenekatan Rafa


__ADS_3

...BAB 58...


...Kenekatan Rafa...


Ting Ting Ting


Suara notifikasi pesan berbunyi, mengejutkan Silvia yang hendak memejamkan matanya. Silvia pun terbangun lagi untuk mengambil ponselnya di dalam tasnya di samping bawah tempat tidur kontrakan Nana.


"Siapa?" tanya Nana yang barusan juga berbaring di samping Silvia. Ikut terganggu dengan suara benda pipih milik temannya itu. Keduanya memang tidur di kasur yang sama, karena kontrakan Nana hanya terdapat satu kamar tidur saja.


Silvia terpaku sesaat membuka foto-foto Devan dan Cathrine yang Rafa kirimkan barusan. Mereka berdua terlihat bahagia sekali. Dan dalam foto itu, Devan terlihat sedang mengelus dan mengecup lembut perut Cathrine yang sudah terlihat membuncit di depan sebuah butik, malam itu.


Ting


Ting


Ting


Jadi, selama ini dialah alasanmu bercerai dengan suamimu?


Kau hutang penjelasan padaku Silvia Lestari...


Kenapa kau tak menceritakan semuanya padaku?


Apa kau akan diam saja melihat dia terus merusak kebahagiaanmu?!


Ingatlah, dulu dia pernah merebut calon suamimu hingga Ayahmu meninggal dunia. Lalu sekarang, dia kembali ingin merebut suamimu! Jangan jadi pengecut Silvia, kau harus sadarkan suamimu itu, bahwa Cathrine Angela bukanlah wanita yang baik-baik!


Silvia menelan kasar ludahnya membaca pesan beruntun dari Rafa. Bulir bening pun lolos berjatuhan tanpa aba. Mengabaikan pesan dari Rafa yang memintanya agar memperjuangkan haknya untuk bahagia. Silvia kembali menatap nanar pada foto mereka.


Aku tahu kau akan bahagia tanpa aku Mas... Seharusnya dulu aku tidak memaksamu untuk menikahiku. Sehingga aku menghancurkan impianmu bersama Cathrine. Semoga kalian hidup bahagia... gumam Silvia, dalam hatinya melirih.


"Ada apa Sil?"


Nana beranjak duduk, dahinya mengerut melihat Silvia yang tiba-tiba saja menangis. Mengusap air matanya yang terus merembes keluar.


Lantas Nana merebut ponsel Silvia yang masih menyala di tangannya. Melihat isi chat itu. Nana pun memutar bola matanya sangat jengah.


"Ya ampun Silvia! Lupakan pria bodoh itu, bila kau sudah benar-benar ikhlas berpisah darinya seharusnya kau tak menangisinya lagi! Itu hanya akan membuang-buang waktu berhargamu saja!" gerutu Nana sangat kesal dengan sikap Silvia yang jadi tidak pendirian itu. "Biarkan saja lelaki itu yang akan merasakan ruginya sendiri. Membuang wanita baik-baik sepertimu demi wanita sampah seperti Cathrine yang hanya bisanya tukang merebut kebahagiaan oranglain saja!" umpatnya pada Cathrine.


Sangking kesalnya ia pun mematikan ponsel Silvia dan menaruhnya di atas meja yang berada di samping tempat tidurnya.


"Ayo cepat kita tidur, besok pagi kan aku mulai bekerja di tokomu." sahut Nana yang lekas kembali membaringkan tubuhnya. Memiringkan tubuhnya membelakangi Silvia.


Silvia mengangguk tersenyum pahit. Mengusap lagi pipinya dan menyusul Nana tidur. Melupakan hal yang akan membuatnya menangis pilu.


Tadi sore Nana sudah memutuskan untuk berhenti bekerja di toko sepatu yang ada di Mall. Lalu akan pindah bekerja di toko Silvia. Nana merasa tak tega melihat Silvia yang bekerja melayani pembeli sendirian. Walau katanya ada Rafa yang membantu di toko itu. Namun Nana juga ingin ikut mengembangkan bisnis teman baiknya itu.


****


Pagi pukul delapan, Silvia dan Nana telah sampai toko. Rafa pun bergegas menghampiri Silvia yang sudah turun dari mobilnya.


"Kita perlu bicara berdua!" sahutnya seraya menarik pelan lengan Silvia.


"Rafa! Ini masih pagi untuk mengobrol, aku harus buka tokoku dulu..." sahutnya, melepas tangan Rafa yang menyekal erat tangannya.


Silvia sebenarnya sudah tak ingin membicarakan masalahnya bersama mantan suami atau pun mantan sahabatnya itu. Silvia tahu pasti Rafa tak akan pernah diam saja melihat ketidak-adilan ini di depan matanya.

__ADS_1


Karena lima tahun lalu, Rafa pernah memergoki Andy yang menjemput pulang Cathrine dari kampus mereka. Lalu pergi jalan-jalan malam ke sebuah tempat hiburan. Padahal Andy belum putus dengan Silvia waktu itu.


Rafa geram, dan menghajar wajah Andy hingga babak belur karena dia telah menghianati sahabat baiknya.


Hingga tak berapa lama Rafa mendengar kabar meninggalnya Ayah Silvia, sebelum Rafa memberitahukan Silvia bahwa Andy dan Cathrine sebenarnya berselingkuh di belakangnya. Tetapi Silvia lebih dulu menceritakan semuanya pada Rafa tentang fitnah yang di sebarkan oleh Andy dan Cathrine mengenainya. Hingga Ayahnya meninggal karena serangan jantung.


Rafa semakin marah dan pernah berjanji pada dirinya sendiri, jika nanti Rafa bertemu Andy lagi. Rafa akan menghajarnya tanpa ampun dan akan memberikan pelajaran untuk Cathrine.


Rafa melirik Nana yang masih berdiri di depan toko yang masih tertutup itu, sambil memperhatikan mereka dengan tatapan heran.


"Itu karyawan barumu?" tanya Rafa.


"Iya itu Nana temanku. Dia sekarang yang akan bekerja membantuku melayani para pembeli. Jadi kamu tak usah repot-repot lagi membantuku..."


"Sil, aku tidak merasa di repotkan olehmu. Aku ikhlas bantu kamu..."


Rafa pun mengambil kunci toko yang sejak tadi di pegang Silvia lalu menghampiri Nana.


"Ini bukalah sendiri, kamu bisa masuk ke dalam duluan. Aku ada urusan penting dulu dengan temanmu, Silvia. Hanya beberapa jam saja. Tolong bantuannya ya..." titahnya seraya menyerahkan kunci toko kepada Nana. Nana pun mengangguk kikuk dan mengerti maksud Rafa.


"I-iya baiklah... Biar aku yang jaga tokonya..." gelagapnya.


"Terima kasih banyak atas pengertiannya..." ucapnya tersenyum seraya menepuk pelan bahunya Nana. Lalu Rafa pun kembali berbalik menghampiri Silvia dan menarik tangannya.


"Ayo ikut denganku!" ajaknya.


"Eh, mau kemana sih, Fa!" tanyanya dengan raut wajah semakin cemas.


Rafa tak menjawab pertanyaan Silvia, lantas ia memasangkan helmnya dan satunya lagi ke kepala Silvia. Kemudian memaksa Silvia untuk naik ke motornya.


Setelah di paksa akhirnya Silvia pun menurut. Rafa pun menyalakan motornya dan membawa Silvia pergi ke suatu tempat.


Hingga tak lebih dari setengah jam Rafa telah sampai tempat yang ia tuju. Silvia terperanjat kaget. Matanya tercengang.


"Kenapa kau bawa aku kemari?!" pekik Silvia bertanya. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang.


"Ayo kita jelaskan berdua di dalam!" Rafa bergegas memarkirkan motornya di samping pohon besar di sebrang depan kantor besar milik Devan.


"Tidak Fa! Lepaskan aku!" Silvia menarik tangannya lagi dan meminta Rafa untuk balik lagi ke toko.


"Dia harus tahu semuanya, Sil! Apa kau akan diam saja!" sentak Rafa.


"Kenapa kau jadi ikut campur masalah pribadiku sih?! Ini masalah hidupku. Biarkan saja Cathrine melakukan sesuka hatinya! Yang penting aku sudah ikhlaskan suamiku dengannya!" timpal Silvia.


"Tidak bisa begitu Sil! Suamimu harus tahu kebenarannya, siapa Cathrine itu sebenarnya! Wanita yang telah menghancurkan hidupmu, membuat Ayahmu meninggal dunia! Kalau kau tak mau mengatakannya biar aku saja yang akan mengatakannya sendiri!" tegas Rafa dengan nafas yang memburu penuh emosi.


Rafa lalu berjalan cepat menuju gerbang kantor Devan tanpa peduli Silvia yang memohon padanya untuk mengurungkan niatnya.


"Rafaa, kau jangan nekad! Faa..." teriak Silvia memanggilnya tapi Rafa tetap acuh dan terus melangkah cepat ke dalam gedung kantor besar itu.


Di luar Silvia menunggu Rafa dengan perasaan gelisah. Dia menangkup mulutnya dengan kedua tangan, hatinya benar-benar tak tenang.


Apa yang akan terjadi kalau seandainya Devan tahu soal masalalunya bersama Cathrine? Karena ia telah menyembunyikan kebohongan ini sejak lama. Kalau dirinya sudah mengenal lama Cathrine darinya. Apakah Devan akan semakin membenci dirinya?


Di sisi lain, Silvia juga merasa kasihan dengan nasib Cathrine. Apalagi saat ini Cathrine sedang mengandung anaknya Devan. Silvia khawatir Devan akan menceraikan Cathrine setelah tahu siapa Cathrine sebenarnya. Karna kecurigaan Silvia tentang kehamilan Cathrine waktu itu belumlah cukup untuk membuktikan bahwa anak dalam kandungan Cathrine bukanlah anak Devan. Silvia takut kalau prasangkanya salah, dan menjadi dosa besar karena telah menuduh Catherine yang tidak-tidak.


Rafa masuk ke dalam lobby kantor dan lekas menanyakan Devan pada recepsionis apakah hari ini atasannya tersebut bisa di temui atau tidak. Namun sayangnya atasan mereka baru saja pergi keluar.

__ADS_1


Rafa pun kecewa dan dia kembali keluar kantor Devan dengan langkah lunglai karena usahanya sia-sia. Silvia yang masih berdiri gelisah di samping motor Rafa lantas menghela nafas lega melihat Rafa keluar lagi dari kantor mantan suaminya itu.


Tapi tak jauh beberapa meter mobil Devan terlihat kembali melaju pelan menuju gedung kantor. Devan yang sedang fokus menyetir sontak melihat Silvia dan Rafa berada di depan gedung kantornya. Devan sengaja balik ke kantornya lagi karena telah melupakan beberapa berkasnya untuk di bawa meeting di kantor Papanya pagi ini.


"Rafa... Kenapa sih kamu ini nekad sekali?" gerutu Silvia mencemaskan kenekatan Rafa.


"Ini tidak bisa di biarkan Sil... Aku sayang padamu dan aku tak mau kau terus di sakiti oleh wanita gila itu!" Rafa mengusap pipi Silvia yang tampak kurus itu, apakah mungkin karna banyak pikiran. Silvia jadi terlihat kurus.


"Terimakasih atas perhatianmu. Tapi biarlah ini menjadi urusanku bersama mereka. Sudah yuk kita balik lagi ke toko!" Silvia lekas menarik tangan Rafa untuk menaiki motornya.


Devan pun keluar dari mobil dan bergegas menghampiri mereka berdua tanpa mereka sadari.


"Apa kalian berdua memang sengaja ingin memamerkan kemesraan di depanku?" sindirnya dengan nada sinis. Devan berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam sakunya.


Silvia dan Rafa berbalik, mereka sontak terkejut melihat Devan ada di belakangnya.


Rafa tersenyum senang lalu melangkah maju ke depan mendekati Devan. Akhirnya dia bisa bertemu dengan Devan dan ini adalah kesempatannya untuk mengatakan tentang Cathrine itu siapa padanya.


"Baguslah akhirnya aku bisa bertemu dengan anda Pak Devan Alvandra, karena ada sesuatu hal penting yang harus ku sampaikan pada anda..." ucap Rafa.


Namun Silvia segera menarik tangan Rafa lagi. Mencegahnya untuk tak mengatakan semuanya.


Silvia menggeleng memohon, agar Rafa tak berkata apapun pada Devan tentang Cathrine.


"Rafa, ayo kita pergi dari sini. Aku harus jaga tokoku!" titahnya cepat.


"Sil, tapi_" Rafa menoleh pada Devan yang terus memperhatikan gelagat mereka yang aneh.


"Rafaaa!" perintah Silvia lagi keras. Menarik lengan temannya yang keras kepala itu.


"Ada apa ini? Apa yang ingin kau bicarakan padaku?!" Devan akhirnya bersuara melihat keduanya seperti tengah menutupi sesuatu.


Silvia tergugup wajahnya mendadak pias.


"Em, tidak ada apa-apa Mas... Kami hanya tak sengaja lewat kantormu saja. Ayo Rafa, kasihan Nana sedang menungguku!


"Tidak Silvia! Suamimu harus tahu soal Cath!"


"RAFAA CUKUP KATAKU!" bentak Silvia, dia benar-benar tak habis pikir. Kenapa sahabatnya itu keras kepala sekali.


Silvia memburu nafasnya dengan cepat menahan emosi. Rafa sontak terdiam, begitupun Devan yang terkejut.


Silvia pun menoleh pada Devan lalu melangkah cepat mendekatinya.


"Mas, kenapa Mas belum memberitahu Mama dan juga Papa kalau kita ini sudah bercerai?" tanyanya dengan wajah kesal.


Devan berdecak sinis, dan memalingkan wajahnya dari Silvia. "Kenapa tidak kau saja yang menjelaskannya pada mereka?" ketusnya.


Silvia tercekat, menelan ludahnya susah payah.


"Tapi aku_" Silvia tertunduk wajahnya berubah gelisah. Devan memincing matanya dengan sinis menatap kecemasan Silvia.


"Kaulah yang memutuskan untuk bercerai dariku kan?! Jadi kaulah yang harus menyelesaikan masalahmu ini sendiri. Jika sampai terjadi sesuatu pada orangtuaku. Termasuk pada Mamaku nantinya. Itu semua karenamu Silvia. Ingat itu!"


Devan memperingati Silvia. Karena ia selalu saja bertindak sesuka hati. Yang pada akhirnya, dia sendirilah yang terjebak dengan masalahnya sendiri.


Lantas Devan pergi meninggalkan Silvia yang masih termangu berdiri di sana.

__ADS_1


Bersambung....


...*****...


__ADS_2