Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Pria Misterius


__ADS_3

...BAB 23...


...Pria Misterius...


Pagi berganti siang, dan siang pun berganti sore. Silvia tengah menikmati pemandangan hijau juga langit senja di sore hari sembari menyirami tanaman bunga di halaman Villa yang begitu luas itu.


Sesekali matanya melirik ke arah jalanan untuk memastikan jika Devan akan pulang hari itu juga. Tapi nihil, orang yang di tunggu-tunggu sama sekali tak pulang dari semalaman tadi.


"Apa seharian ini dia tidak pergi bekerja? Pergi malam sampai mau ketemu malam lagi, dia belum juga pulang... Bukankah semua pakaian kerjanya ada di sini? Tapi kenapa dia lama sekali di apartemennya Cathrine? Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka berdua? Semalam kulihat dia begitu panik saat menelepon Cathrine..." banyak sekali pertanyaan yang mengusik pikiran Silvia saat itu, raut wajahnya menggambarkan kecemasan yang mendalam. "Apa sebaiknya ku telepon saja dia ya?!" gumamnya sendiri.


Saat Silvia ingin melangkah masuk ke dalam Villa, Bibi Sari juga keluar memanggilnya sembari berjalan cepat menghampiri Silvia.


"Non, Non Silvia ada telepon, Non!" panggilnya.


Bibi Sari lekas menyerahkan ponsel milik Silvia yang terus berdering nyaring di meja ruang televisi tadi.


"Dari siapa Bi?" tanya Silvia seraya mengambil ponselnya yang ada di tangan ARTnya itu.


"Itu kayaknya dari Nyonya Dini..." jawab Bibi Sari.


Silvia melihat nomer panggilan WhatsApp dan benar saja telepon itu memang dari Mama mertuanya. Bibir Silvia mengulum senyum tatkala melihat foto WhatsApp yang di jadikan foto profilnya Dini, adalah foto dirinya dan Dini ketika mereka duduk berdua di kursi teras Villa waktu itu. Tangan kanan Dini merangkul bahu Silvia, seraya menyentuhkan pipinya dengannya.


Ada kehangatan yang Silvia rasakan saat berdekatan dengan Mama mertuanya itu, seolah Silva sedang bersama mendiang ibunya lagi. Dini memang sosok ibu yang bijaksana dan lembut. Jujur saja Silvia begitu kagum padanya, beliau memang benar-benar salah satu kriteria Ibu mertua idaman semua menantu di dunia ini.


Silvia lekas menggeser gambar gagang hijau di layar sentuh itu ke kanan, lalu benda pipihnya ia lekatkan ke telinganya. "Hallo Ma, apa kabar?" sapa Silvia.


["Hallo Silvia, sayang apa Mama mengganggumu?"]


"Tidak Ma, memangnya kenapa?"


["Silvia, apa sabtu besok kamu dan Devan bisa ke rumah Mama? Ada acara penting di perusahaan milik keluarga besarnya Papa, kamu dan Devan wajib datang ya. Sekalian Mama juga pengen ngenalin kamu ke semua kerabat Papa Devan di sana nantinya..."]


"Em, e aku... Nunggu jawaban dari Mas Devan dulu ya Ma..." ucap Silvia terbata-bata


["Nggak perlu nunggu keputusannya, kalau dia nggak mau. Dia harus di paksa ikut. Oh ya, sekarang di mana dia? Biar Mama aja yang ngomong sama dia sekarang..."]


"Em itu anu Mah, Mas Devan-nya belum pulang..." gelagap Silvia.


["Belum pulang?! Ini sudah jam berapa kok belum pulang. Biasanya 'kan dia pulang jam empat sore?"]


"Iya Mah, tapi Mas Devan memang belum pulang. Mungkin Mas Devan lagi sibuk-sibuknya di kantor soalnya dia kan baru saja pulang dari Paris rabu kemarin..."


["Oalah, Mama baru inget! Ya udah kalau gitu biar nanti saja Mama yang telepon dia."]


"Em, b-baik Ma..."

__ADS_1


["Ya udah Mama tutup lagi teleponnya ya sayang, Assalamualaikum..."]


"Iya Ma... Wa'alaikum salam..."


Setelah keduanya menutup sambungan telepon. Silvia menggenggam ponselnya erat di tangan dan mendekapnya di dada. Lalu Silvia menatap lagi kearah luar pagar besi putih di depannya. Tapi masih belum ada tanda-tanda Devan akan pulang hari ini. Lalu Silvia mendongak ke atas langit. Cuacanya berubah mendung dan sepertinya malam itu akan turun hujan. Angin kencang pun mulai bersahutan mengusik pepohonan yang rimbun, hingga dedaunan kering terhempas ke udara dan bertebaran mengotori seluruh halaman hingga ke teras Villa.


Silvia pun bergegas masuk ke dalam dan menutup rapat lagi pintu juga jendela Villa, karena angin kencang itu mulai memberontak memaksa untuk membukanya lagi.


"Kayaknya bakalan hujan lebat nih Non..." sahut Bibi Sari dari belakangnya dan buru-buru membantu Silvia menutup semua jendela ruangan.


"Iya Bi, jemuran di halaman belakang sudah di ambil kan Bi, terus pintu dan jendela dapur juga udah di tutup?" tanya Silvia lumayan panik.


"Udeh Non dari tadi,"


"Syukurlah, aku khawatir angin kencang ini akan merusak semuanya." resahnya


"Iya Non... Duh mana kita cuma ada berdua lagi di sini..." ucap Bibi Sari yang mulai mencemaskan sesuatu, sembari mere-mas-re-mas tangannya sendiri.


"Kenapa memangnya Bi? Kok kayak ketakutan gitu? Silvia malah udah terbiasa sih tinggal sendirian di Bogor. Jadi nggak terlalu takut."


"Bu-bukannya gitu sih Non. Bibi hanya takut aje kalau tiap malem-malem lagi hujan lebat gini ada orang iseng. Banyak kejadian rumah-rumah mewah di kawasan sini jadi sasarannya orang jahat yang nyari kesempatan di dalam kesempitan untuk melakukan aksinya. Villa ini kan lumayan jauh dari rumah-rumah penduduk. Jadi Bibi khawatir sekali kalau terjadi sesuatu pada kita Non, apalagi kita ini perempuan, mana bisa kita berdua melawan mereka!" terangnya dengan penuh kekhawatiran di wajahnya.


"Ah Bibi jangan nakutin gitu dong, kita berdoa saja moga aja tidak terjadi apa-apa dengan kita ya..." ucap Silvia mencoba menenangkan hati wanita setengah baya itu. "Kalau Bibi takut, Bibi bisa tidur di kamarnya Silvia..." sarannya yang lekas di angguki setuju oleh Bibi Sari.


"I-iya Non, iya!"


*****


Silvia dan Bibi Sari saling berpencar untuk menyalakan semua lampu di setiap ruangan itu, karena hari mulai gelap. Dan benar saja tak lama kemudian, hujan pun turun dengan derasnya di iringi oleh kilatan api yang menyala dari langit juga gemuruh guntur yang saling bersahutan.


Di saat semua lampu menyala, sekelebat ada bayangan hitam yang berlari cepat di luar jendela dapur. Keduanya terperanjat kaget dan saling menatap dengan mimik wajah ketakutan.


"Bi, apa Bibi barusan lihat sesuatu?" bisik Silvia pada Bibi Sari panik. Tubuhnya mendadak jadi gemetaran. Bibi Sari mengangguk-angguk juga tak kalah takutnya.


"I-iye Non, Bibi lihat..." lirihnya pelan.


Tiba-tiba suara ketukan keras di pintu belakang mengagetkan keduanya, dan mereka spontan saling berpelukan.


"Siapa itu Bi?" Silvia bertanya lagi, sedang Bibi Sari menggeleng tak tahu.


Silvia buru-buru mengambil teplon di gantungan sisi rak piring lalu memberikannya pada Bi Sari. "Pegang ini Bi, untuk jaga-jaga..." titahnya dengan suara pelan setengah berbisik. Bibi Sari pun mengangguk menuruti. Di pegangnya erat-erat teplon itu di tangannya lalu berjalan pelan ke arah dalam dapur.


Sedang Bibi Sari siaga di sana. Silvia merogoh ponselnya di saku depan baju tidurnya, dan memanggil nomer Devan untuk meminta bantuan. Berharap Pria yang bergelar suaminya itu akan datang secepatnya ke Villa dan tepat waktu menolong mereka. Namun sayangnya nomer Devan tak ada jawaban sama sekali walau nomernya telah tersambung. Hingga Silvia memanggil lebih dari tiga kali panggilan. Tetapi belum juga ada jawaban.


Silvia tetap tak menyerah dia terus memanggil nomer Devan sampai teleponnya benar-benar terangkat. Ia tak peduli kalau memang teleponnya sudah mengganggu aktivitas Devan disana, yang ia pedulikan saat ini adalah nyawa dirinya dan juga Bibi Sari yang tengah terancam bahaya.

__ADS_1


"Hallo! Kamu dimana sih, kenapa tak pulang-pulang juga?! Tolong kami..." lirih Silvia setelah teleponnya terangkat.


"Hallooo..." Silvia mengernyitkan keningnya terheran karena tak terdengar suara apapun di sana. Hingga tak lama terdengarlah jelas suara wanita yang ia kenal selama ini.


["Ada apa kau telepon kekasihku, hmm? Apa kau sedang rindu padanya?"] timpalnya dengan sinis. Silvia sedikit terkejut karena yang mengangkat teleponnya adalah Cathrine.


"Cathrine! Dimana Devan?" tanya Silvia tanpa berbasa-basi lebih dulu


["Dia, emmm dia sedang tidur di ranjang apartemenku... Memangnya kenapa tanya-tanya dia?"] lagi perkataan Cathrine membuat Silvia terkejut. Mulutnya sedikit terbuka sangking tercengang mendengarnya.


"Apa?! Tidur di ranjangmu?"


["He'em..."] Cathrine mengangguk tersenyum seolah kini ia tengah berhadapan dengan Silvia.


"Benarkah dia sedang tidur? Kalau benar dia sedang tidur tolong kau bangunkan dia. Ini penting buatku!" perintah Silvia mendesaknya.


"Heh, siapa kau berani memerintahku, hah?! Dia memang sedang tidur, dan baru saja tertidur. Aku tidak ingin mengganggunya. Karena sepulang dari tempat bekerja, kami sudah menghabiskan waktu yang indah bersama. Jika kau tak percaya akan ku kirimkan fotonya sebagai bukti untukmu!" ucapnya dengan senyum menyeringai licik.


Silvia kembali melebarkan matanya. "A-apa katamu?" pekiknya.


Cathrine lekas memotret Devan di atas pembaringannya dengan dada lebar Devan yang setengah terbuka. Tiga kancing depan kemejanya Devan, sengaja Cathrine membukanya, agar Silvia tahu jika Devan adalah miliknya seorang.


Setelah foto itu terkirim. Cathrine pun menutup kasar telepon Silvia tanpa pamitan. Silvia lagi-lagi di buat terperangah, melihat pemandangan foto suaminya yang tertidur pulas di tempat tidurnya Cathrine.


"Ya ampun, apa mereka sudah melakukan hal terlarang?" lirihnya seraya menyenderkan punggungnya di dinding. Silvia menunduk menutupi mulutnya yang tak bisa berkata-kata lagi. Matanya berkaca-kaca, rasa kecewa di dalam hati karena pernah mengagumi dan mencintai Devan. Silvia pikir Devan bukanlah lelaki seperti itu, setelah melihat kedua orangtuanya yang agamis.


Sementara suara gedoran semakin keras terdengar. Silvia melonjak kaget dari lamunan. Silvia pun mencoba memberanikan diri menyahutinya.


"Siapa kau?! Mau apa kau ganggu kami?!" teriaknya, dan berjalan mendekati daun pintu belakang.


"Hahaha, keluar kalian jika mau selamat, serahkan semua barang-barang berharga kalian padaku!" jawab suara lelaki dengan suara berat dan kasar di sana. "Atau tidak aku dobrak pintunya hingga rusak!" ancamnya lagi


Silvia menoleh cepat pada Bibi Sari yang tampak semakin ketakutan di pojokan pintu. "Bagaimana ini Non?" tanya Bibi Sari bertambah cemas, terlihat sekali dari tubuh gendutnya yang bergetar.


Silvia menunduk lemas, menatap ponsel di tangan kanannya. Lalu menoleh lagi pada Bibi Sari dan mengangguk tegas, memberi kode pada ARTnya untuk membuka pintunya, bahwa dia telah siap menghadapi orang itu.


Bibi Sari menggeleng pelan, tanda ia tak siap. Tapi Silvia dengan tegas memintanya lagi untuk membukanya.


Bibi Sari pun perlahan membukanya dan terlihatlah seorang pria tinggi besar dan berambut gondrong membawa celurit di tangan kanannya. Mata merahnya menyalang menatap Silvia dan juga Bibi Sari bergantian. Lantas ia tertawa menyeringai kencang.


"Hahaha bagus-bagus... Akhirnya kalian menurut juga padaku. Sekarang, keluarkan barang berharga kalian dan serahkan semuanya padaku!" pintanya lagi.


Bersambung....


...*****...

__ADS_1


Sambil menunggu part selanjutnya boleh mampir di karya temanku nih, seru loh



__ADS_2