Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Hubungan Yang Kandas


__ADS_3

...BAB 16...


...Hubungan Yang Kandas...


Devan menyerah tak bisa lagi menentang keputusan bulat dari sang Mama, sesulit inikah dia mempertahankan cintanya pada Cathrine. Apakah ini akhir perjuangannya selama ini? Walau seandainya Devan tetap nekad akan menikahi Cathrine, Dini tetap dengan pendiriannya yang tak akan pernah merestui hubungan mereka. Untuk itu, Devan lebih baik mengalah dan memilih pergi untuk menemui sang kekasih sendirian daripada terus-terusan menanggung dosa karena mendebat Ibu kandungnya yang sudah melahirkannya. Devan tak ingin dirinya di cap sebagai anak durhaka.


Dengan berat hati, Devan harus menyampaikannya pada Cathrine soal pembatalan pernikahan mereka. Dan memohon maaf atas semua janji-janjinya yang tak bisa ia tepati.


Di dalam kamar apartemennya, Cathrine terkesiap membuka matanya, karena suara ponselnya yang tiba-tiba saja berbunyi nyaring mengganggu di tengah tidur nyenyaknya.


"Aah!! Siapa sih yang telepon pagi-pagi sekali, mengganggu saja!!" sungutnya kesal. Cathrine menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku dan pegal-pegal. Lalu setelahnya ia mengusap kasar wajahnya yang kusut


Saat Cathrine ingin bangun dari posisi tidur ke duduk, sontak ia terkejut menatap tubuhnya yang sudah tak lagi memakai pakaian sehelai pun. Matanya membulat lebar dan baru saja menyadari, kalau semalam tadi Andy datang dan memaksanya untuk tidur bersamanya. Jika saja Andy tak mengancamnya dengan video itu, sebenarnya Cathrine sudah malas untuk berhubungan lagi dengannya.


"Akhhh si*lan! Kalau begini terus, aku tidak bisa melepaskan diri darinya..." teriaknya sangat geram seraya mengacak-ngacak rambutnya frustasi.


Tak lama kemudian, Cathrine meraih ponselnya di atas nakas yang masih terus berdering nyaring. Nomer Devan terpampang jelas di layar sentuh itu. "Devan?!" gumamnya. Lekas Cathrine pun mengangkat panggilannya.


"Ah, ha-hallo Beb?" sapanya tergugup sambil mere-mas- re-mas ujung selimut di dekat dadanya, dengan rasa cemas.


["Hallo Cath, bisakah pagi ini kita ketemu? Aku sedang dalam perjalanan menuju apartemenmu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu, namun sebelumnya kita temui Ibumu di Bogor..."] ujar Devan dengan suara terdengar sendu dan serius.


"Menemui aku dan Ibuku? Ada apa sayang? Kok mendadak seperti ini?" tanya Cathrine mengernyitkan keningnya penasaran.


["Aku tidak bisa menceritakannya di telepon, nanti aku akan jelaskan semuanya setelah kita bertemu. Oke bersiaplah, sebentar lagi aku sampai... Bye sampai ketemu nanti..."] ucapnya di seberang telepon.


"Ah ba-baiklah, bye..." balasnya.


Devan pun menutup lagi sambungan teleponnya, sedang Cathrine mendadak hatinya gelisah tak tenang mendengar perkataan serius dari Devan barusan.


"Apa yang ingin di bicarakannya padaku?" tanyanya semakin penasaran.


Catherine pun segera menepis pikiran buruknya lantas ia beranjak dari ranjang. Ketika Cathrine ingin beranjak dari kasur tiba-tiba ada secarik kertas terjatuh mengenai kaki putih dan polosnya. Kertas itu jatuh saat ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya barusan. Catherine meraih lembaran tipis berwarna putih itu. Tulisan tangan milik seseorang yang ia kenal, goresan tinta hitam dengan rangkaian kata-kata yang mencengangkan hatinya.

__ADS_1


"Apa?!" Cathrine terbelalak lantas ia buru-buru membuka laci nakasnya. Matanya kembali melotot. "Brengsek, si*laan!!" teriaknya yang lalu *******-***** kertas itu dan membuangnya sembarang dengan kesal. "Berani sekali dia mengambil kalung berlianku! Andyyy!!!" jeritnya lagi.


Ya, semalam tadi setelah mereka berdua melakukan pergulatan panasnya di atas ranjang apartemen milik Cathrine. Sebelum pulang, pagi-pagi sekali Andy meninggalkan pesan lewat tulisan tangannya pada Cathrine di sebuah kertas. Setelah ia puas menikmati tubuh mantan kekasihnya itu, Andy mengambil kalung berlian milik Cathrine, kalung hadiah pemberian dari Devan kemarin. Semenjak menjalin hubungannya dengan Cathrine dulu telah banyak uang yang ia habiskan untuk kekasihnya tersebut. Hingga usahanya lama-lama bangkrut. Andy pun tak lagi di akui oleh kedua orangtuanya hingga ia menganggur lama.


Selain ingin menghukum Cathrine karena telah berani menipu dirinya dan mencampakkannya. Andy juga berencana akan memoroti semua harta milik Cathrine perlahan-lahan hingga tak bersisa, jika Cathrine menolaknya maka Andy dengan sigap akan membeberkan semua video m*sum mereka berdua pada Devan atau pada semua penggemar Cathrine. Agar Cathrine kehilangan citranya sebagai publik figur.


Setelah keluar dari apartemen Cathrine, Andy memakai helm ke kepalanya lalu menaiki motor mogenya yang terparkir di basement, satu-satunya harta kendaraan miliknya sendiri. Dalam hatinya ia tersenyum puas sambil memasukkan kalung berlian seharga satu unit mobil mewah ke dalam saku jaket kulitnya. Tak usah lagi ia repot-repot untuk mencari pekerjaan. Cukup memberi Cathrine sedikit ancaman, maka uang akan mengalir deras ke kantongnya. Anggap saja kalau Cathrine sedang membayar hutangnya pada Andy.


Sedang Andy telah melesat pergi dengan mogenya, mobil mewah milik Devan Alvandra pun baru saja sampai di sana. Devan memarkirkan mobilnya dengan cepat. Lalu keluar dan berlari kecil ke dalam lift. Jantungnya berdebar tak karuan, rasanya kakinya teramat lemas untuk di gerakkan. Namun ia harus tegar untuk menyampaikannya pada sang kekasih.


Cathrine membuka pintu apartemennya dengan lebar menyambut kedatangan Devan. Tetapi Devan menatapnya dengan raut sendu. Lalu menghambur memeluk tubuh Cathrine dengan erat.


"Maafkan aku sayang..." lirihnya.


"Dev!"


"Tolong maafkan aku Cath!" pintanya lagi, dengan wajah memelas. Jujur Devan tak berdaya bila melihat Cathrine yang marah karena kecewa.


"Ma-maaf kenapa?" tanya Cathrine semakin di buat bingung.


Cathrine tercengang di pelukan Devan, sejenak tubuhnya membeku setelah mendengar apa perkataan calon suaminya itu padanya. Lantas ia melepas cepat pelukan Devan dan menatapnya tajam.


"Kau, kau tidak lagi bercanda kan Beb? Apa maksudmu pernikahan kita harus di batalkan, hah? Kenapa?! Ayo jawab aku Dev? Apa ini semua gara-gara wanita itu?!" teriaknya seraya menggoyang-goyangkan pundaknya Devan.


Devan menggeleng cepat. "Bukan, bukan karna Silvia, Cath. Tapi ini atas permintaan Mama sendiri. Mama tak ingin aku menikah dengan dua wanita sekaligus."


"Kalau begitu kenapa kau tidak ceraikan saja dia, Dev! Kenapa kau pertahankan pernikahanmu dengan wanita itu tanpa adanya cinta, dan mengorbankan kita yang sudah dua tahun menjalin hubungan serius ini!" Cathrine benar-benar shock dia tak terima dengan keputusan Dini yang tak memikirkan perasaannya dan lebih memilih Silvia sebagai menantunya.


"Sayang tenangkan dirimu, aku tahu kamu masih kecewa dengan keputusan ini. Sungguh ini bukan kemauanku." tegas Devan.


"Pokoknya aku tidak mau tahu, Dev! Aku tidak rela kalau kau memperistri wanita itu untuk selamanya. Ceraikan dia, aku bilang ceraikan dia! Mau di taruh mana mukaku ini jika pernikahan kita di batalkan, Dev! Semua orang sudah tahu jika kita akan menikah!" teriak kencang Cathrine, isakannya benar-benar menyayat hati Devan.


Devan menganggukkan kepala, berusaha menenangkan kekasihnya di dalam pelukan, seraya mengusap-ngusap punggung Cathrine agar bersabar.

__ADS_1


"Baiklah aku akan berusaha sayang... Aku akan bicara pada Silvia nanti agar dia mau aku ceraikan..." ucapnya. "Setelah ia setuju maka aku akan segera menikahimu..."


"Kamu janji kan Dev tak akan pernah meninggalkanku?" isaknya. Devan menggeleng cepat.


"Tidak akan sayang, asalkan kamu bersabar menungguku. Dan kamu juga harus berusaha agar membuat Mamaku menyukaimu..." titah Devan memberikan saran untuk Cathrine agar ia bisa mengambil hati Mamanya.


Cathrine menghembus kasar nafasnya, di dalam pelukan Devan, wajahnya memerah padam seraya mencengkram kuat baju depan Devan. Hati kecilnya masih diliputi oleh amarah yang kapan saja bisa meledak-ledak jika tak mengontrol dirinya. Secepatnya dia harus mencari cara agar Silvia segera di ceraikan Devan.


****


"Kamu yakin tidak ingin menginap di rumah Mama saja, Silvia?" tanya Dini setelah mereka menghabiskan waktu bersama di rumah kediaman keluarga besar Alvandra.


Silvia menggeleng tersenyum. "Tidak Ma, terimakasih. Silvia takut merepotkan Mama. Dengan keadaan kaki Silvia masih begini, Nanti malah Mama kewalahan


"Justru jika kamu tinggal di sini. Mama jadi bisa ikut merawatmu... Supaya kau cepat sembuh..." saran Dini. "Betul begitu kan Pa?!" tanyanya yang meminta persetujuan pada Indra.


Indra yang sedari tadi fokus menonton berita sore. Lalu menoleh mengangguk msngiyakan. "Ya benar, apa yang di katakan Mama, Papa setuju Silvia. Sebaiknya kamu tinggal di sini saja hingga kakimu sembuh kembali. Kami sebagai orangtuanya Devan juga ikut andil atas musibah yang menimpamu karena kesalahan Devan." jelas Indra tersenyum.


Silvia membalasnya dengan senyuman terkesan sungkan. Sebenarnya dia juga betah sih, tinggal di rumah Devan. Apalagi di perlakukan baik oleh kedua orangtuanya Devan. Hanya saja, dia jadi tak bebas melakukan apapun sesuka hatinya. Seperti kegiatan memasak, Silvia yakin sekali jika Dini akan melarangnya untuk melakukan pekerjaan rumah. Tapi Silvia sudah terbiasa melakukan itu sendiri. Jadi sehari saja tak melakukan apapun. Rasanya badan menjadi sakit.


Dan semenjak perlakuan kasar Devan semalam tadi padanya, jujur saja membuat Silvia ketakutan. Khawatir lelaki itu akan mengulanginya lagi. Bertambah lagi, Silvia dan Devan pasti akan tidur di satu kamar yang sama di rumah itu. Tidak mungkin kalau Dini membiarkan mereka tidur terpisah, kan?


"Dengarkan Mama, Silvia. Kamu tahu sejak pertemuan pertama denganmu. Mama sudah menyukaimu, Nak... Mama berharap suatu saat Mama bertemu kamu lagi. Dulu, Mama juga punya anak perempuan, dia adik kandungnya Devan. Tapi saat usianya delapan tahun, putri Mama meninggal dunia karena sakit leukimia. Mungkin jika putri Mama masih hidup dia seusia dirimu." lirihnya dengan tatapan sendu. Dini mengusap pundak Silvia.


Dengan tergugu, Dini menceritakan kisah sedihnya saat kehilangan putri tercintanya pada Silvia, sembari memperlihatkan foto album lamanya. Silvia tersenyum sendu dan memuji kecantikan adiknya Devan. Silvia pun tanpa sungkan lagi, ikut menceritakan tentang hidupnya semasa orangtuanya masih hidup hingga kembali pada Sang Khaliq. Dini pun ikut terenyuh mendengar cerita miris yang ia dengar dari menantunya.


Hingga lambat laun keduanya semakin akrab dan hangat. Dini begitu cocok dengan pribadi Silvia yang santun juga rendah hati. Berbanding terbalik dengan kepribadian Catherine yang terlihat angkuh, saat beliau sering melihatnya di layar televisi maupun kenyataannya. Dini tahu karna saat itu pernah tak sengaja memergoki Cathrine sedang memarahi para pembantu di rumahnya.


Bersambung....


...****...


Di karenakan novel ini sedang ikut event 🙏🙏🙏🙏 tinggal beberapa hari lagi lomba nya akan berakhir.

__ADS_1


Tanpa pembaca, penulis pun tak ada artinya tapi saya berterimakasih sekali pada readers yang sudah fav cerita ini... I Love You All.... ❤️❤️❤️


__ADS_2