
...BAB 19...
...Di Kejar Paparazi...
Tiga minggu berlalu...
Hari menjelang siang, tinggallah seorang lelaki pengangguran di sebuah kontrakan yang sempit. Baginya, terbangun lebih dari jam sembilan pagi adalah hal biasa di lakukan karena memang tak ada aktivitas lain yang mengikatnya. Selain makan dan tidur, malamnya Andy keluar hingga sampai dini hari, menghabiskan waktunya untuk minum-minuman bersama teman sejawatnya di salah satu club malam di kota besar itu.
Andy Darmantian adalah lelaki berperawakan tinggi, memiliki hidung mancung juga kumis dan janggut yang tipis. Lelaki yang berusia hampir kepala tiga itu telah menganggur nyaris lima tahun lamanya setelah hubungannya putus dengan Silvia, mantan calon istrinya dulu. Kedua orangtua Andy marah besar setelah tahu Andy putus dengan Silvia dan mendadak membatalkan pernikahan mereka. Sebab, Ayah Andy dan Silvia, dulunya pernah memiliki hubungan bisnis. Maka sangat di wajarkan kala itu Ayahnya Andy marah dan mengusir putranya karna kebodohannya.
Hidup Andy kini melarat karna seluruh harta yang ia kumpulkan mati-matian untuk mengelola bisnisnya sendiri, telah raib oleh wanita yang selalu dia agung-agungkannya selama ini. Wanita dari sahabat mantan calon istrinya dulu.
Andy mengambil handuk di gantungan pintu depan kamar mandi. Lalu membersihkan dirinya, mengguyur seluruh badannya dari sisa-sisa bau alkohol yang menempel semalaman tadi. Setelah tiga minggu terakhir pertemuannya dengan Cathrine, lelaki itu tak lagi di beri kesempatan untuk menemuinya. Karena dua pengawal suruhan Cathrine selalu siaga berada di depan apartemennya. Sehingga dia sulit sekali untuk membuntuti Cathrine lagi. Dan sayangnya Andy pun tak memiliki nomer Cathrine.
Setelah mandi, Andy membuat kopinya sendiri agar tak lagi mengantuk. Lalu ia mengambil satu batang rokok di meja ruang televisi, dan menyalakan api di pemantikan lalu menyulutkan apinya ke ujung rokoknya. Hanya kopi dan rokoklah yang selalu menemani paginya.
Andy mengisap dalam-dalam gulungan panjang berisi daun tembakau itu, lalu membuang asapnya pelan ke udara. Baginya, tak ada yang lebih nikmat selain di temani rokok dan kopi pahit di pagi hari.
Satu jam menghabiskan tiga putung rokok, rasa bosan dan suntuk mulai menyerang harinya. Andy pun mengambil remote lalu menyalakan televisi tabungnya dengan merebahkan tubuhnya di sofa, yang sebagian pinggiran busa sofanya telah rusak di makan usia juga hama yang berkeliaran di rumah kecil itu.
Televisi tabung itu menyala, dan kebetulan beberapa statsiun televisi tengah menayangkan sebuah berita hangat. Berita infotainment yang tengah memperbincangkan kandasnya percintaan seorang pengusaha muda dengan seorang penyanyi baru hingga gagal menikah, yang di kabarkan seorang pengusaha muda tersebut ternyata diam-diam telah menikahi wanita lain.
"Cathrine? Kenapa dia tak jadi menikah?!" sontak Andy membulatkan matanya, terkejut. Lantas ia segera menegakkan lagi tubuhnya di sofa. Menatap lamat-lamat wajah calon suami Cathrine yang sedang di wawancarai oleh beberapa wartawan.
****
Waktu bergulir dengan cepat, dan siang pun berganti malam. Cathrine baru saja selesai merilis lagu terbarunya. Sontak ia dikejutkan oleh para reporter televisi yang sudah lama menunggunya di depan pintu studio musik.
"Malam Mbak Cathrine, apa benar pernikahan anda dan Pak Devan telah di batalkan?" tanya salah satu reporter yang sudah berkerumun di sana.
__ADS_1
"Kami dengar-dengar Pak Devan telah menikah diam-diam dengan wanita lain? Apa itu betul, Nona?" celetuk yang lain seraya menyodorkan mikrofon ke arah Cathrine.
Cathrine yang di serang pertanyaan bertubi itu pun, lagi-lagi harus menutupi sebagian wajah malunya bercampur kesal yang luar biasa. Cepat-cepat ia memakai kacamata hitamnya untuk menghindari sorotan lampu kamera ke arahnya. Dua pengawal kekar pun membantu untuk melindungi tubuh tinggi semampainya Cathrine, dari desakan para paparazi yang selalu mencari keuntungan lewat beritanya.
Dengan langkah cepat dan panjang-panjang, Cathrine bergegas menaiki mobilnya yang sudah di persiapkan oleh asistennya tersebut. Dia malas sekali untuk menjawab serangkaian pertanyaan mereka, yang semakin hari semakin mengusik hidupnya saja.
"Nona, Nona! Anda belum menjawab pertanyaan kami!!" teriak para reporter itu berlarian sambil mengikuti mobil yang di naiki Cathrine yang sudah melaju pergi.
"Aaaahhh sialan! Kenapa mereka terus saja mengikutiku dengan pertanyaan itu!" pekiknya seraya memukul kencang jendela mobil di sampingnya dengan kesal.
"Sabar Cath, sabar... loe harus menahan emosi loe..." sahut asisten Cathrine sekaligus temannya yang selama ini selalu menghandle pekerjaan Catherine.
"Sabar gimana sih Ren?! Loe tahu 'kan tinggal dua hari lagi impian gue terwujud untuk menikah dengan Devan! Tapi semua hancur gara-gara kehadiran wanita itu!" sungutnya mendengus kasar. Lantas ia menyenderkan kepalanya di kursi samping kemudi. "Oh ya mana obat gue?" tanyanya seraya memijat pelan keningnya. Rasa sakit di kepala pun mulai kembali menyerangnya.
"Ah ini..." Reni lekas mengambil obat aspirin yang selalu di konsumsi Cathrine akhir-akhir ini. Lalu tak lupa Reni juga memberi sebotol air mineralnya pada Cathrine. Reni mengerti masalah yang di hadapi Cathrine sangat berat, sehingga kondisi kesehatannya jadi terganggu.
"Sudah agak baikan?" tanya Reni. Cathrine mengangguk pelan, setelah meneguk air mineral di botol.
"Ya lumayan lah, tapi kenapa ya sudah tiga hari ini kepala gue sering sakit. Sebaiknya gue cancel dulu pekerjaan gue dalam minggu ke depan sampai gue benar-benar sembuh." keluhnya.
"Okey, tak perlu khawatir. Gue nanti sampein ke Maria untuk menundanya dulu..." sambung Reni.
Cathrine pun mengangguk, lalu menoleh pada jendela di sampingnya. Sekilas ia melihat lapak penjual sate madura yang aroma asapnya menguar masuk hingga ke mobilnya. Memang Catherine sengaja membuka setengah jendela mobilnya supaya angin segar masuk untuk menghilangkan rasa penatnya.
"Ren, stop! Berhenti di sini dulu!" titahnya tiba-tiba.
"Ada apa?" Reni lantas menepikan mobil milik Cathrine.
"Tolong loe beli dua porsi sate madura itu. Kok rasanya malam ini gue kepengen makan sate ya..." gumamnya. Reni mengangkat satu alisnya terheran.
__ADS_1
"Lah tumbenan, biasanya kan malas makan gituan?!" celetuk Reni.
"Iya nggak tahu deh, kayaknya dilihat satenya enak itu!" sahut Cathrine yang matanya masih fokus memperhatikan si pedagang yang sedang mengipas-ngipasi ratusan tusukan sate yang di bolak-balik di atas arang. Cathrine terus menjilat bibirnya, air liur seolah terus menetes di sana.
"Kayak yang lagi ngidam aja loe!" celetuk Reni terkekeh nyaring.
"Hah, ngawur loe! Memang lagi laper aja hawanya!" timpal Cathrine mendengus kesal.
Reni pun keluar dari mobil dan membeli yang Cathrine minta. Sambil menunggu Reni memesan satenya karena harus mengantri lama. Cathrine pun mengambil ponselnya di tas lalu mencoba menghubungi seseorang yang sangat ia rindukan. Tetapi ternyata panggilan di luar jangkauan. Cathrine kecewa. Semenjak pembatalan pernikahannya dengan Devan. Devan seakan mengasingkan diri darinya dan tak lagi berniat menghubunginya duluan.
"Kemana dia? Apa dia sudah melupakan aku?" tanyanya dengan hati yang bergemuruh panas. Cathrine mencengkram erat-erat ponsel di tangannya. "Aah, ini semuanya gara-gara wanita sialan itu. Impianku menjadi istri seorang pengusaha, harus sirna begitu saja karna kau Silvia. Aku tak akan tinggal diam, pokoknya aku harus bisa merebut Devan kembali padaku!" geramnya.
Tiba-tiba suara ketukan di jendela mobil mengagetkannya. Cathrine menoleh terkejut, matanya membulat sempurna melihat seorang pria pengendara motor besar sudah berjejer di samping mobilnya, ia tersenyum smirk ke arahnya.
"Andy!" pekiknya pelan. "Kau, mau apa kau mengikutiku terus, ha?!"
Andy menyenderkan dua sikut di atas stang motornya, dan sedikit membungkukkan punggungnya. "Ada apa denganmu Cath? Kenapa kau tiba-tiba membatalkan pernikahanmu? Apa karna lelaki pujaanmu itu sudah beristri?!" ujarnya tertawa meledek.
Cathrine geram, wajahnya memerah padam. Tak lama Cathrine pun keluar dari mobilnya. Berdiri di hadapan Andy dan menatap lamat-lamat lelaki itu, lalu membalas dengan senyuman menyeringai.
"Oh kebetulan sekali kau ada di sini. Sepertinya kau memang harus tahu masalah ini!" tegas Cathrine seraya menyedekapkan tangannya. Andy pun mengernyitkan keningnya tak mengerti, yang lalu ia menegakkan lagi posisi duduknya.
Bersambung....
...*****...
Yuk readers silakan mampir ke novel temanku, siapa tahu suka.. 😍
__ADS_1