
...BAB 30...
...Di Selamatkan Kedua Kalinya...
Malam itu, di tengah perjalanan menuju gedung kantor besar, tempat dimana perayaan hari ultah perusahaan milik keluarga besarnya Alvandra di gelar.
Dini tampak asyik sekali mengobrol bersama Silvia di bangku belakang kemudi serta di selingi tawa riang oleh keduanya. Indra pun sekali dua kali kerap menyahuti dan ikut tertawa bersama mereka, yang tanpa Devan sadari Silvia telah berhasil menjalin keakraban bersama kedua orangtuanya.
Di dalam mobil, hanya Devan sajalah yang tidak ikut serta dalam pembicaraan menyenangkan itu. Namun diam-diam ia terlihat memperhatikan Silvia di kaca depan mobil yang ia kemudikan. Ada aura terpancar di wajah Silvia yang manis, seolah ada daya tarik tersendiri yang membuat manik Devan tak ingin berhenti memandanginya.
Apa dia benar-benar Silvia? Dia berubah, kuakui malam ini dia sangat cantik! gumamnya di hati lantas Devan menggeleng cepat kepalanya seraya memenjam matanya sejenak.
Ah, lupakan. Mana mungkin aku bisa menyukai wanita bar-bar seperti dia?! kilahnya seraya mencebikkan bibirnya.
Secepat mungkin Devan membuang perasaan aneh yang bergumul di hatinya pada wanita yang hampir tiga bulan menjadi istrinya tersebut, tak terlintas dalam pikirannya untuk menyentuh Silvia sedikit pun. Sebab Devan memang tak punya hati padanya.
Devan sangat yakin kalau perubahan Silvia hanya karna ada maunya, dia hanya merubah penampilannya saja tetapi tidak dengan sifat buruknya yang sok pintar dan si tukang caper.
Bibir Devan menyeringai kecil, terbesit dalam pikirannya untuk mengerjai Silvia nanti. Lalu ia pun kembali fokus ke depan jalan, dan mempercepat laju mobilnya agar cepat sampai.
Tak lama kemudian, mobil mereka telah sampai di tempat tujuan. Dini dan Indra pun turun duluan.
"Papa dan Mama duluan ya, kalian berdua nanti bisa menyusul. Karena Papa harus melakukan pidato sambutan dulu, sudah di tunggu dari tadi..." sahut Dini setelah keluar dari mobil sambil menggandeng lengan suaminya yang masih terlihat gagah dengan pakaian resminya.
"Iya Ma,." jawab mereka serempak. Dini pun tersenyum lalu melangkah pergi bersama Indra.
Devan menoleh ke belakang. "Mau turun sekarang atau nanti saja?" tanyanya pada Silvia dengan nada ketus.
Silvia mendongak melihat Devan, setelah dari tadi menundukkan kepalanya masih dengan perasaan yang gugup, kedua tangannya saling me-remas bercampur keringat dingin.
"Em, terserah kamu saja..." jawabnya.
Terus terang saja Silvia tampak canggung malam itu. Karena harus ikut serta di perayaan pesta orang-orang kaya tersebut. Dulu ia pun pernah melakukannya bersama mendiang Ayahnya dan rekan bisnisnya. Tapi tidak pernah secanggung ini.
Apakah karena malam ini statusnya lain. Ya, sekarang statusnya adalah seorang istri. Istri dari seorang putra pemilik perusahaan tambang terbesar di kota ini. Sepintas ada kekhawatiran dalam hatinya, khawatir akan bertemu banyak reporter disana. Dan memberinya banyak pertanyaan tentang pernikahan mereka yang belum pernah di publikasikan sebelumnya. Lalu apa kabarnya dengan hubungan Devan dan penyanyi itu? Terus terang, Silvia belum siap untuk memberikan jawaban.
"Apa kau salah makan sesuatu? Tiba-tiba saja penampilanmu berubah drastis seperti itu. Pakaian itu sangat tidak cocok dengan sifat aslimu. Apa jangan-jangan kau hanya ingin cari muka saja di depan kedua orangtuaku? Agar mereka semakin terkesan dan menyukaimu?" sindir Devan dengan nada sinisnya.
"Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untukmu dan juga keluargamu, apa salah ya jika aku ingin berubah menjadi lebih baik? Bukankah menutup aurat itu wajib bagi seorang muslimah?" timpalnya dengan tatapan santai.
Silvia tak peduli dengan perkataan pedas Devan padanya. Yang pasti dia ingin menghormati kedua mertuanya. Apalagi melihat Dini yang selalu berpakaian tertutup kemana pun beliau pergi, rasanya Silvia jadi malu dan tahu diri bagaimana dia harus berpenampilan.
"Ya, mudah-mudahan saja. Kau melakukan semua ini dari lubuk hatimu yang terdalam, dan tidak untuk mencari simpati dan dukungan keluargaku." sindirnya lagi blak-blakkan.
__ADS_1
Silvia menghela dalam nafasnya. "Terserah apa yang ingin kau ucapkan padaku, yang pasti perubahanku ini tidak merugikanmu..." ucapnya tersenyum santai.
Lantas Silvia keluar dari mobil duluan. Rasanya malas sekali meladeni omongan Devan. Padahal tadi ia ingin sekali bersikap baik padanya, demi perubahannya yang sekarang dan demi permohonan Dini padanya kemarin. Sikap Devan yang selalu ketus padanya khawatir Silvia membalasnya dengan kasar. Lebih baik ia diam dan mengalah saja.
Devan pun ikut keluar lalu menarik kasar lengan istrinya. Merapatkan sisi tubuh mereka. "Apa kau ingin di lihati banyak orang kalau kita ini sedang tidak akur. Jangan pergi-pergi jauh dariku! Dengar Silvia aku melakukan ini karena permintaan kedua orangtuaku, dan bukan atas kemauanku sendiri. Jadi bekerja samalah agar kita terlihat baik-baik saja di depan oranglain..." bisiknya dengan nada tegas.
Silvia memutar matanya dengan malas. "Siapa juga yang tidak ingin akur, kau saja yang dari tadi memancing-mancing amarahku terus.." kesalnya.
Keduanya pun terpaksa berjalan bergandengan tangan, demi menjaga imejnya masing-masing. Lalu keduanya menghampiri Dini dan dua tantenya Devan yang sudah berada duluan di pesta tersebut.
"Eh, itu Devan sama istrinya kan mbak?" tanya Intan pada Dini saat melihat keponakannya yang sedang berjalan menghampiri. Dini mengangguk tersenyum.
"Silvia, kemarilah Nak..." panggil Dini.
Silvia mengangguk dan menghampiri mereka, lalu bersalaman dengan kedua tantenya Devan, setelah Devan yang mengawalinya lebih dulu.
"Malam Tante Intan, Tante Isna bagaimana kabar kalian?"
"Kami baik Dev.... Wah lama tak jumpa kau terlihat gagah sekali... Makin dewasa kau semakin mirip dengan Papamu waktu masih muda, tampan dan berwibawa..." celoteh Intan.
"Bisa saja Tante?" Devan menggaruk tengkuknya tersipu.
Lalu Dini pun memperkenalkan Silvia pada kedua adik kandungnya Indra. Intan yang tinggal di Brunnei karena memang pekerjaan suaminya ada di sana sebagai operator alat berat. Sementara Isna yang tinggal di Malaysia bersama suaminya yang memiliki profesi yang sama sebagai seorang Dosen.
"Terimakasih Tante..." ucapnya tersipu malu.
Setelah mereka saling mengenal, mereka lalu menyantap makan malam bersama. Sebelumnya Dini memang pernah menceritakan kepada dua adik iparnya itu lewat telepon jika pernikahan Devan dan Silvia belum sempat di rayakan karena sebuah musibah. Tetapi Dini berjanji akan menggantinya lain hari jika kaki Silvia sudah benar-benar sembuh kembali.
****
Waktu pun berlalu, di tengah pesta yang belum usai. Tiba-tiba Silvia mendadak ingin buang air kecil. Tapi tak ia temukan Devan disana. Karena dia belum tahu tempat kamar kecilnya dimana. Silvia sangat bingung untuk bertanya pada siapa? Semuanya tampak sibuk sekali. Kedua mertuanya yang terlihat asyik mengobrol dengan keluarga besar Alvandra, tak enak rasanya bila ia mengganggunya.
Karena sudah tak tahan lagi, Silvia pun terpaksa bertanya pada seorang pelayan yang melewatinya yang sedang mendorong troli minuman. Lalu pelayan itu menunjukkan arah dimana tempat kamar kecilnya berada. Silvia lekas berjalan menuju kamar kecil di ujung gedung itu dengan langkah tertatih-tatih, biasanya dia akan ada yang memegangi tangannya. Tapi sekarang dia harus berjalan pincang seorang diri.
"Kemana sih dia? Pas lagi di butuhin orangnya malah gak ada!" gerutunya kesal pada Devan.
Silvia membuka pintu kamar mandi lalu lekas menuntaskannya disana. Rasanya lega sekali setelah lama menahan kantung kemih yang sudah penuh. Setelah selesai, Silvia pun mencuci kedua tangannya dan bergegas keluar dari kamar kecil.
Tapi saat ingin kembali ke tempat pesta Silvia malah di cegat oleh dua pemuda urakan. Wajah mereka menyeringai menatap nakal pada Silvia sembari berjalan mengelilinginya.
"Hai cantik... Sendirian aja nih?" goda salah satu dari mereka.
"Siapa kalian dan mau apa mendekatiku?" tanya Silvia dengan jantung berdebar takut.
__ADS_1
Takut-takut jika mereka akan melukainya seperti perampok dulu saat di Villa. Sebenarnya Silvia punya keberanian diri untuk bisa melawan para penjahat itu, hanya saja melihat kakinya yang masih belum sembuh total, dia pun berpikir ulang untuk menghajar mereka.
"Mau godain kamu lah,.." jawab satunya lagi seraya menyentuh dagu lincip Silvia yang lekas Silvia menepis tangan pemuda itu dari wajahnya.
"Berani kalian macam-macam padaku. Aku akan berteriak kencang!" bentaknya.
"Hahaha. Apa kau yakin jika mereka akan mendengar teriakanmu? Suara musik itu lebih kencang dari suaramu. lagipula mereka sedang sibuk dan tidak ada waktu untuk melihat kesini. Ayo lebih baik kau ikut bersama kami, temani kami semalam ini.."
Tanpa panjang lebar, kedua pemuda itu lantas menyekal kedua lengan Silvia lalu menyeretnya paksa ke arah mobil yang tidak jauh dari mereka.
"Lepaskan aku! Kalian mau apa? Toloooong!!"
Silvia berteriak histeris hingga seseorang tiba-tiba saja datang dan menyelamatkannya. Pria itu lantas memberikan bogeman mentah pada kedua pemuda nakal itu. Sontak Silvia tercengang kaget melihatnya.
"A-Andy?!"
"Kamu tidak apa-apa?"
Andy menghampiri Silvia setelah berhasil menumpas dua pemuda itu yang kini mereka tergeletak di tanah. Menahan rasa sakit yang mendera di bagian wajah dan perut-perut mereka.
"Kau, sejak kapan kau ada disini?" tanya Silvia, terheran dengan kehadiran Andy yang selalu datang tepat waktu dimana ia sangat membutuhkan pertolongan dan ini adalah kedua kalinya ia di selamatkan oleh Andy.
Silvia benar-benar di buat bingung apakah ini cuma kebetulan saja ataukah hanya sebuah sandiwara Andy padanya. Tetapi melihat lengan Andy yang masih memakai perban, menandakan bahwa lukanya belum sembuh betul maka itu artinya Andy tidak sedang menipunya.
"Sejak barusan. Tapi syukurlah aku tidak terlambat datang kan?" ucapnya tersenyum puas. Menatap lekat pada wajah Silvia yang kini berbalut dengan hijab. "Kamu terlihat pangling sekali dengan memakai jilbab itu..." ucapnya lagi terkesima.
"Em, terimakasih sudah menolongku lagi. Tapi aku harus segera kembali." alihnya yang tak ingin berbasa-basi dengan Andy.
Silvia bergegas ingin pergi, namun langkahnya tak seimbang hingga nyaris ia terjatuh, jika saja Andy tak cekatan menahan pinggangnya.
"Eh, hati-hati!" refleksnya. Sontak Silvia menoleh padanya. Membulatkan matanya lebar menatap Andy.
"Silvia! Apa yang sedang kau lakukan dengan pria itu disini?" pekik Devan yang sekarang pria itu sudah berdiri di depan mereka.
Keduanya terkejut. Andy lekas melepas lagi tangannya yang melingkar di pinggang Silvia.
Bersambung...
...****...
yuk mampir ke cerita temenku
__ADS_1