
...BAB 40...
...Dua-Duanya Sama Penting...
Dini terheran-heran melihat mobil putranya yang sudah terparkir di depan pelataran rumah mereka.
"Bi! Lho kok ada mobilnya Devan di depan? Memangnya ada apa dia pulang jam segini?" tanya Dini pada Bi Sari setelah masuk ke dalam rumahnya.
Karena Dini tahu jadwal pulang putranya pukul lima sore, dan ini masih pukul setengah dua siang yang seharusnya Devan masih berada di kantornya.
"Em, saya juga kurang tahu jelasnya, Nyah? Tapi_ kayaknya tadi Den Devan sama Non Silvia habis dari pulang belanja. Hanya saja_ Emm..."
Bi Sari terbata-bata, menggantung perkataannya sambil menggaruki pipi tembemnya yang tak gatal, ragu untuk bercerita karna dia takut salah bicara.
"Hanya saja, apa Bi?!" Dini mengerutkan dahinya bertanya lagi, dibuat penasaran dengan cerita ART nya yang belum di lanjutkan itu.
"Hanya saja tadi mereka berdua pulangnya sendiri-sendiri, Nyah..." jawab Bi Sari pelan, yang kini wajahnya berubah serius menatap lekat majikannya.
"Pulang sendiri-sendiri, kok bisa Bi?!" Dini tersohok, kaget.
Bi Sari mengangguk cepat. "I-iya Nyonya, pertama-tama Non Silvia pulang duluan tuh naik taksi. Terus, tak lama si Den nya nyusul pulang.. Eh bawain barang belanjaan. Bibi sebelumnya kan tanya sama si Non, kenapa pulangnya sendirian? Bukannya ngejawab Non Silvia malah diem aje. Kayak sedih gitu Nyaah..." terangnya dengan comel.
"Terus-terus?" Dini masih mendengar antusias cerita Bi Sari sambil membenarkan tas cangklong di bahunya yang melorot ke bawah.
Keingin-tahuannya begitu besar pada perkembangan hubungan antara putra dan menantunya tersebut. Berharap semoga akan ada benih-benih cinta yang tumbuh di hati putranya terhadap Silvia.
"Terus Den Devan pulang buru-buru nanyain si Non, udeh pulang ape belum? Kayaknya sih dilihat-lihat, Den Devan khawatir sama Non Silvia." lanjut Bi Sari yang begitu serius menceritakan mereka.
Dini termangu, bertanya-tanya dalam pikirannya. Lantas wanita berusia kurang lebih lima puluh tahunan itu melirik ke atas kamar mereka yang pintunya tertutup dengan rapat.
"Kenapa ya? Apa mereka sedang bertengkar?" gumamnya sendiri. Bi Sari yang mendengar pertanyaan Dini hanya menggeleng tak tahu sambil mengangkat dua bahunya bersamaan.
Sontak Dini mengangkat sudut bibirnya ke atas lalu ia menepuk sebelah bahu Bi Sari, yang ikut terbengong di sana, hingga Bi Sari terperanjat kaget lalu mengusapi dadanya.
"Ini awal yang bagus Bi, dari pertengkaran kecil bisa jadi mereka akan saling suka..." celoteh Dini tiba-tiba wajahnya berubah sumringah.
__ADS_1
Bibi Sari melongo, lantas mengangguk-anggukkan kepalanya ikut senang.
"Bener, Nyah!"
"Ayo Bi, kita ke dapur! Kita berdua siapkan makanan untuk makan malam mereka. Kita akan rayakan hari kebahagiaan ini, semoga saja tak lama lagi aku punya cucuuu!" ajak Dini dengan girang.
"Aamiin Nyah...." Bi Sari mengangguk dan mengaminkannya, lalu mengikuti majikannya ke dapur. Menyiapkan makan malam yang spesial untuk mereka berdua.
*****
"Tak seharusnya kamu lakukan ini padaku?" ucapnya datar seraya menatap kosong ke atas plavon kamar mereka.
Lantas, Silvia menutup rapat tubuh polosnya dengan selimut sebatas dada. Lalu memiringkan tubuhnya memunggungi Devan. Di wajahnya masih menampakkan rona merah, malu bercampur kesal sebab ia belum siap sama sekali untuk melakukannya. Tapi Devan seakan tak memberinya kesempatan untuk melepaskan diri.
Setelah Devan puas menggaulinya untuk kesekian kalinya tadi, beberapa kali meneguk rasa manisnya bercinta. Tubuh Silvia seakan remuk redam bagaikan di keroyok masa. Sebab ini, adalah pertama kali dalam seumur hidupnya Silvia rasakan, apa itu yang namanya malam pertama. Yahh, walau mereka melakukannya tidak di malam hari sih. Tapi di siang-siang bolong, dan tak terasa aktivitas mereka di atas ranjang telah menghabiskan waktu hingga memasuki sore hari.
Kegiatan suami-istri itu benar-benar menguras habis tenaga mereka berdua, hingga tubuh keduanya basah bermandikan air keringat. Walau di kamar mereka terpasang AC, tapi tak jaminan jika tubuh mereka akan kedinginan. Justru sebaliknya suhu badan mereka terasa panas bergelora. Karena keduanya sama-sama merasakan nikmat yang tiada tara dari setiap sentuhan yang tak biasa itu.
Walau awalnya Silvia memang bersikeras menolaknya. Tapi lama-kelamaan naluri dewasanya muncul juga dengan sendirinya, yang akhirnya Silvia pasrah, dan ikut terbuai mengimbangi setiap permainan yang diberikan Devan.
"Maafkan aku, tapi dengan cara inilah. Kamu tidak akan pernah meninggalkanku Silvia. Berjanjilah padaku kamu tidak akan meminta cerai lagi..." ucapnya tersengal-sengal berat. Devan pun menoleh pada punggung Silvia. Menatap sendu juga iba.
"Tapi kau memaksaku barusan, dan aku belum siap untuk melakukannya!" isaknya, seraya mere-mas lagi selimut yang ia genggam kuat di dadanya.
Devan berbalik ke sampingnya Silvia. Perlahan tangannya terulur membelai puncuk kepala Silvia, menyingkap rambut yang menutupi leher putih itu. Devan beranjak duduk menyamping dan mendaratkan kecupan sayang di sisi kening Silvia. "Sekali lagi aku minta maaf, telah menyakitimu..." bisiknya pelan, yang lalu bibirnya kembali mengecup lembut pada bahu dan juga leher jenjang putihnya bergantian.
Sehingga Silvia bergidik merasakan geli dan merinding disana.
"Hentikan Mas, ku bilang hentikan! Sudah jangan lakukan itu lagi!" tolak Silvia yang masih risih dan marah, lalu ikut beranjak duduk dengan tatapan kesal pada suaminya. Silvia menutup lagi rapat-rapat seluruh tubuhnya dengan selimut.
Pipi-pipinya kembali memerah panas seperti kepiting rebus. Walaupun hati kecilnya ia sangat menyukainya, tapi tetap saja Silvia masih kesal. Menyesali setiap kebodohannya. Silvia masih tetap cemburu karena itu bukan pertama kalinya yang Devan lakukan. Devan sudah pernah menyentuh Cathrine, rasanya... Hatinya tak sepenuhnya ikhlas melayani suaminya itu.
"Kenapa? Apa kamu tidak menyukainya? Tapi sayangnya... Aku suka melakukannya, terimakasih banyak sudah memuaskanku pada hari ini, Silvia." ucap Devan, terus terang ia sangatlah puas dengan aktivitas mereka di atas ranjang.
Pipi Silvia semakin bersemu merah lalu mengangguk kecil. Ya, walaupun belum ikhlas sepenuhnya, tapi Devan masih sah suaminya dan Silvia juga berkewajiban untuk mentaati perintahnya. Dosa hukumnya menolak keinginan suami.
__ADS_1
"Tapi, jangan di ulang lagi seperti yang tadi, karena aku tidak suka yang namanya pemaksaan!" ucapnya pelan.
Silvia lekas turun dari kasur memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. "Aku mandi duluan..." pamitnya.
Devan mengangguk kecil, matanya tak berkedip memandangi Silvia yang berjalan terseok-seok seperti merasakan sakit di kedua pangkal pahanya, memasuki kamar mandinya.
Ada rasa sesal di hati Devan, seharusnya tadi ia lakukan lebih lembut lagi pada Silvia. Namun tubuh Silvia membuatnya gemas dan candu sehingga tak bisa menahan lagi hasrat yang bergejolak dalam dadanya.
Lantas Devan mengusap wajahnya dengan pelan, hingga tak sengaja manik gelapnya melihat ada bercak darah bercampur sisa air maninya di atas sprei.
Devan tertegun lama menyentuh sisi noda itu, sekelebat ia mengingat lagi kejadian saat tidur bersama Cathrine di kamar apartemen, tapi ia tak melihat sedikit pun noda seperti itu di kain sprei kasur milik Cathrine, dan anehnya jika memang ia pernah melakukan hubungan badan bersama Cathrine seharusnya ia merasakan tubuhnya lelah, seperti yang ia rasakan saat ini setelah berhubungan dengan Silvia.
Devan menggeleng cepat menepis semua pikiran buruknya terhadap Cathrine, yang lalu ia mengusap lagi wajahnya dengan kasar.
Ahh tidak, itu tidak mungkin. Catherine tidak mungkin sampai membohongiku. Sebaiknya aku temui dia nanti, dan aku harus minta maaf padanya. Ya aku harus meminta maaf, karena aku tidak bisa memenuhi keinginannya untuk menceraikan Silvia. Sekarang posisi mereka berdua sama-sama penting di hatiku, dan aku tidak ingin kehilangan keduanya... gumamnya yakin dalam hatinya.
Satu jam lebih setelah membersihkan diri dan berpakaian. Keduanya pun turun ke lantai bawah setelah ada panggilan dari pelayan bahwa makan malam mereka telah siap.
Kedua mata Dini berbinar cerah, memancarkan rasa haru di hatinya. Sesaat melihat penampilan berbeda dari putra dan menantunya tersebut. Rambut mereka yang sama-sama basah dengan aroma bunga shampo yang mereka pakai, baunya meliputi hingga ke indra penciumannya.
Tak hanya itu, ada yang aneh dengan cara jalan Silvia yang sedikit terseok. Walaupun kakinya masih pincang tapi Dini masih dapat membedakannya, mana jalan yang kaku dan mana jalan seperti biasanya. Silvia seperti menahan rasa sakit saat berjalan. Dini kembali mengulum senyumnya mengerti. Lalu ia buru-buru menarik kursi dan menuntun Silvia untuk duduk di sampingnya.
"Ayo kemari duduklah, Silvia...! Kamu pasti merasa capek sekali 'kan siang ini... Makanya sekarang, waktunya kamu untuk makan yang banyak biar bertenaga lagi..." titahnya dengan wajah yang sumringah.
Sontak mata Dini membulat lebar, sekilas melihat jelas jejak-jejak merah di leher Silvia. Dini pun bertambah yakin dengan dugaannya kali itu.
"Ahh dan kamu juga Dev, cepat makan yang banyak dan habiskan lagi waktu berduaan kalian bersama. Bersenang-senanglah..." Dini tertawa riang seraya mendelik penuh curiga pada putranya yang kini jadi salah tingkah.
Silvia terheran dengan sikap mertuanya yang aneh, dan tak biasanya itu, lantas bertanya pada Devan dengan kode matanya. Devan hanya tersenyum kikuk lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Bersambung....
...****...
Yuk mampir kemari, readersss....
__ADS_1